REGRET #11

Hening. Rumah besar dengan sebagian besar dindingnya digantikan kaca transparan itu terlihat sepi. Tak heran, hari memang sudah larut. Pemilik rumah tampaknya sudah terlelap dalam tidurnya. Atau tidak? Entahlah. Karena mau sudah tidur atau belum, Kei memang terbiasa membiarkan seluruh lampu rumahnya menyala saat malam hari. Tidak, sebenarnya Kei belum tidur. Atau lebih tepatnya, dia…

REGRET #10

Pertengahan 2009 – 4 Rabu malam. Kei baru saja habis mandi, dan sedang duduk di depan komputernya. Dia hendak membenahi cerpen buatannya yang sedang memasuki part akhir. Sembari menunggu komputer booting, gadis itu meraih novel super tebal bersampul merah-hitam. Di sampulnya tertulis judul novelnya, ‘Nagasasra dan Sabuk Inten II’ karya SH Mintardja. Dia benar-benar penasaran…

REGRET #9

Pertengahan 2009 – 3 Putih. Suara deru motor dan orang-orang bercakap-cakap heboh. Juga tubuh yang penuh keringat. Kei duduk perlahan. Dia masih lemas, tapi tubuhnya sudah sedikit lebih segar daripada tadi. Pusingnya sudah hilang dan mampet di hidungnya berkurang banyak. Kemudian dia menyadari bahwa tiga kancing atas bajunya terbuka, jilbabnya juga tak menutupi kepalanya. Malah…

REGRET #8

Pertengahan 2009 – 2 Hari makin siang. Cuaca makin panas. Begitu pun Kei, tanpa ia sadari suhu tubuhnya makin panas saja. Kepalanya masih pening, tapi ia masih harus menemui Riri dan Waka Kesiswaan untuk minta tanda tangan. Habis itu menemui Kepala TU untuk mencairkan dana yang akan dipakai untuk class meeting. ” Ini hari yang…

REGRET #7

Pertengahan 2009 – 1 Ini hari keempat Braze dan kawan-kawan PPL di sekolah Kei. Salah satu tugas mereka adalah bergiliran jaga di ruang piket depan lobi menggantikan para guru. Semalam mereka sudah membagi jadwal, dan pagi pertama ini giliran Braze dan Nana bertugas. Braze sudah di sekolah sekitar pukul enam seperempat. Menurutnya, datang sedikit kepagian…

REGRET #6

Hari-hari berlalu. Sudah tujuh hari sejak makan siang bertiga dengan Ryuu dan Braze. Dan sekarang–seperti pekan kemarin–lagi-lagi Ryuu mengosongkan jadwalnya seharian penuh. Kei mendengus sebal membaca pesan dari Sofyan. ” Anda tidak ada jadwal apa pun hari ini, Miss. Semua data sudah selesai dikerjakan, dan sudah Anda cek kemarin sore. Bapak Direktur berpesan Anda tak…

REGRET #5

Gelap. Napas Kei berkejaran. Dia terperangkap. Silau lampu, kaca retak, semuanya terbalik–entahlah–suara samar memanggil namanya. “…ei… Kei…” Pandangannya mengabur. Pelipisnya terasa dialiri sesuatu yang dingin. Tangannya lengket. Tenaganya habis. Dia ingin menyentuh sosok di sampingnya tapi tak bisa. “…Mas… Mas…” Haikal… Wajahnya berdarah… TIDAK! Mata Kei membelalak terbuka. Badannya penuh keringat, dia masih terengah. Langit…

REGRET #4

2022 ” Kakak nggak nyangka kalian saling kenal. Eh, tapi malah jadi lebih gampang dong? ” Ryuu menyeletuk sambil melahap ingkung miliknya. Kei cuma tersenyum tak menanggapi. Yah, mau menanggapi apa juga? Menceritakan riwayat pertemuannya dengan Braze? Mengoceh, mungkin, tentang, bagaimana keputusan sepihak Ryuu membuat mereka berdua– Kei menggeleng cepat-cepat. Tidak, tidak boleh, dia sudah…

REGRET #3

First Meet 2 Pertemuan dengan para mahasiswa PPL bisa dikatakan lancar. Mereka orang-orang yang cukup asyik menurut Kei. Termasuk Braze yang tadinya dia kira kaku. Sudah hampir dzuhur saat Kei, anggota OSIS, juga PPL menyusuri koridor di depan studio musik. Sembari berjalan, mereka bercakap-cakap ringan. ” Oh ya, gimana kalau bertukar nomor hape? Biar lebih…

REGRET #2

Pertengahan 2009 First Meet Hari sudah agak siang ketika Braze dan teman-temannya keluar dari ruang guru untuk menyapa para guru di sekolah itu. Di sampingnya ada Pak Purwono, guru mata pelajaran geografi sekaligus guru pembimbing kesiswaan. Usianya bisa dibilang masih muda, baru sekitar tiga puluh lima tahun. Perawakannya sedang, sedikit berisi, dengan kulit sawo matang…