My (Step) Mother Part 2

My (Step) Mother Part 2

Image

Cast: Kim Kibum, Lee Hyukjae, Han Gaeun (OC), Lee Myunghee (OC)

Genre: Romance

Rating: PG-15

#Kibum PoV#

Aku akan jelaskan semuanya agar kalian tidak bertambah bingung. Myunghee-noona adalah istri kedua ayahku. Mereka sudah sekitar 2 tahun ini menikah. Kalian kaget? Tentu saja, sudah kuduga sebelumnya. Awalnya ayahku punya masalah dengan hobinya yang,yeah, mengerikan. Dia harus menonton video yadong minimal setiap 15 menit. Kalau tidak, dia bisa depresi dan berhalusinasi. Aku dan Eomma membawanya ke psikiater. Berbagai cara kami coba, tapi hasilnya nihil. Bahkan makin hari Appa makin parah saja. Dia jadi lebih cepat ‘sakaw’.

©queensarap.wordpress.com

” Dok, cara apa lagi yang harus kami coba? Semua tak ada hasilnya. Kami sudah lelah Dok. ” kata Eomma putus asa. ” Apa tak ada cara yang lebih ampuh? “

” Yah… “

” Tolonglah Dok! Tak bisakah Anda bayangkan? Ayah yang Anda banggakan mengigau tiap saat seperti orang gila hanya gara-gara video menjijikkan? ” tanyaku frustasi.

” ‘Oh Kagami cantikku!’ ‘Sayangku Moritaka! Kemarilah bersenang-senang dengan Oppa!’ Ayah macam apa itu? Aku bahkan tak percaya ada sindrom seabstrak itu. Dokter! Pasti ada win win solution, bukan?! “

” Ada satu cara yang tersisa. Tapi ini akan menyakitkan bagi kalian. Untuk sementara, jika bisa me-manage-nya dengan baik. Untuk selamanya, jika tak cukup kompeten melakukannya. ” jelas dokter. Dia terlihat lelah dan bosan melihat kami.

” Apa itu? ” tanyaku dan Eomma berbarengan. Dokter menghela napas panjang.

” Carikan lagi seorang istri untuknya. Itu akan menyembuhkannya. “

” MWO?! Jangan bercanda Dok! ” bentakku. Apa-apaan ini! Istri kedua? Dokter ini pasti sudah gila. Tapi kenapa Eomma hanya diam saja? Dan tak terlihat kaget sedikit pun.

” Ini cara terakhir. Kalau sindrom ini ada sejak sebelum Anda menikah dengannya, Nyonya, dan sampai sekarang dia belum sembuh juga, itu artinya dia butuh lebih dari satu pendamping. Karena satu saja masih belum cukup. Buktinya dia belum juga sembuh bahkan setelah semua cara dicoba. ” 

Di rumah kami menceritakan hasil pertemuan tadi pada Appa, yang tadi tidak bisa ikut karena ada meeting penting di perusahaan yang dikelolanya. Dia menolak pada mulanya, tapi kami katakan bahwa itulah cara terakhir, dan tak ada pilihan lain.

” Haah… Ya sudah. Tak apa. Akan Appa jalani cara ini. Semoga saja ini bisa membawa efek yang baik bagi kita. Jangan dikira hanya kalian yang merasa tertekan. Appa juga. Seumur hidup Appa tidak ada keinginan untuk menambah istri lagi. Tapi mau bagaimana lagi? Kalian sajalah yang mencarikan istri untuk Appa. ” katanya pasrah. ” Tapi meskipun nantinya ada dua wanita di sisi Appa, Appa tidak akan bersikap memihak salah satu saja. Semua akan Appa sayangi secara adil, Appa akan berusaha agar kita semua bahagia. “

Begitulah asal muasalnya. Setelah itu, kami mulai mencari pendamping kedua untuk ayahku. Berbagai macam pertimbangan ditentukan untuk memilih siapa yang tepat dan bisa masuk ke keluarga kami. Sebelum Noona terpilih, sudah banyak wanita yang lolos seleksi dan menjadi kandidat. Ada yang seusia dengan Appa, ada yang sebaya dengan Eomma–yang terpaut 5 tahun di atas Appa, bahkan ada juga yang usianya jauh di atas mereka. Seorang wanita yang cantik, kaya, terhormat, dan baik budinya; yang belum lama menjanda. Dia menolak pinangan kami dengan halus. Ingin menikmati masa tua bersama anak cucu, katanya.

Tak satu pun berhasil. Kami kebingungan, lalu kami putuskan untuk mencari di kalangan dekat saja. Saudara jauh, rekan bisnis, klien, juga sahabat-sahabat semasa sekolah. Noona adalah salah satu dari yang lulus penilaian Eomma. Anak itu baik, cantik, berprestasi, reputasi di sekolah bagus, dan dia juga dekat dengan keluarga kami. Dia putri sahabat Appa ketika SMA, dan teman satu sekolahku sejak SMP sampai sekarang.

Awalnya aku tak setuju. Bagaimana pun, jarak usia antara Appa dan Noona terlalu jauh, 20 tahun. Terlebih, dia adalah orang yang kuinginkan menjadi istriku, bukan ibu tiriku. Aku sudah menyukainya sejak dulu, sejak kami bertemu untuk yang pertama kali. Sejak kami masih kelas 3 SD.

” Eomma! Apa tak ada calon yang lain?! Haruskah itu Nona Lee?! ” protesku.

” Hei, apa kau tak ingin Appa sembuh? ” tanya Eomma lembut.

” Bukan begitu! Hanya saja… Eomma! Tak bisakah Eomma lihat? Dia bahkan seusia denganku. Tak adakah orang lain yang usianya lebih dekat dengan Eomma dan Appa? Aku tak bisa menerima ini! “

Eomma tersenyum.

” Apa Eomma tidak merasa sakit? Akan ada orang lain di hati Appa selain Eomma! ” tembakku langsung.

” Tidak Kibum-ah. Eomma sudah tahu hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Sejak sebelum Eomma memutuskan untuk menikah dengan Appa. Eomma sudah tahu Appa mengidap sindrom ini. Eomma berharap, Appa bisa sembuh cukup dengan Eomma saja. Tapi kalau kenyataan berkata lain, Eomma sudah siap. ” jelas Eomma. Aku tercengang.

” Eomma sudah menyiapkan diri bertahun-tahun. Dan demi kesembuhan Appa, apa pun tidak menjadi masalah buat Eomma. “

Aku tercekat. Aku baru tahu, aku punya ibu sehebat dan sekuat ini.

” Apa kau mau, mendengar igauan Appa tiap saat? Apa kau mau melihat Appa terus menonton video yadong setiap detik dan membuat hidup kita semakin tidak tenang? “

” Tentu saja tidak… “

” Ini demi Appa, juga demi kebahagiaan kita. Nona Lee anak yang baik, dia tak akan menyakiti kita. Eomma tahu itu. Jadi, kita sukseskan ini, ‘kay? Orang tuanya sudah setuju. Nona Lee juga sudah bersedia membantu kita. “

” Nan arayo, Eomma. ” jawabku lemah. ‘ Geurae, nan arayo… ‘

Singkat cerita, mereka pun menikah. Tidak dirayakan besar-besaran, hanya pernikahan yang sederhana. Tamu undangan pun sebatas keluarga dan orang-orang terdekat saja. Awalnya keluarga kami menentang. Tapi setelah semua tahu alasannya, akhirnya mereka mendukung.

Mula-mula memang kami sulit beradaptasi; bagaimana pun kondisi kami tidaklah sama dengan dulu. Eomma sering melamun, dan juga agak sensitif. Itu wajar. Meskipun Appa tidak mengurangi perhatiannya pada Eomma; bertambah malahan. Jika kau tanya tentang Myunghee, well, dia tak serumah dengan kami. Kurang nyaman rasanya kalau serumah. Masing-masing orang butuh privasi, bukan? Jadi Appa menempatkannya di apartemen tak jauh dari rumah. Sesekali kami saling berkunjung dan pergi rekreasi bersama.

Tapi jangan kau pikir, kami lantas tak akur, saling bersaing, dan yang semacamnya. Eomma dan Myunghee lebih dari akrab. Seperti kakak-adik saja. Eomma senang karena Myunghee seperti jadi anak perempuannya, Myunghee juga gembira karena mendapat kasih sayang seorang ibu. Yeah, ibunya sudah meninggal saat ia masih kecil. Bukankah keluarga kami sangat sempurna?

Ya. Sangat sempurna.

Namun, apakah kalian tahu, saat aku bahagia dan bersyukur atas kehadiran Myunghee di keluarga kami, pada saat bersamaan aku juga merasakan sakit yang tak terkira?
Melihatnya bermesraan tiap hari dengan orang lain, bercanda dan bercengkrama. Harusnya aku yang ada di sisinya, aku! Bukan Appa dengan sindrom aneh bin sialan itu! Aargh!

Dia sudah terlarang bagiku. Selamanya.

Tenang, Kibum. Jernihkan pikiranmu. Pasti ada cara lain, pasti ada. Agar perasaan ini terwujud, ada banyak cara tanpa harus memilikinya secara ragawi.

Kurasa aku harus mencari cara agar aku bisa memiliki hatinya. Raganya boleh jadi milik Appa, tapi hatinya akan jadi milikku!

–TBC–

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s