FIRST LOVE: LAST LOVE Part 1

First Love:Last Love Part 1

image

Cast:

–          Lee Hyukjae

–          Lee Myunghee (readers)

–          Lee Jihyun (unknown)

Genre: Romance, Sad (nyempil dikit)

Rating: PG-13

Length: continue

Tag: Eunhyuk, Lee Hyukjae, Super Junior

Annyeong readers!!

Setelah sekian lama cuma bisa jadi pengamat, akhirnya saia memutuskan untuk menyusul jejak author-author lain. Dan jeng jeng!! Inilah ff pertama saia.. castnya uri Hyukie, maklum dia ‘kan suami saia hahah #dilempar sandal ma jewels…

Yah berhubung ff ini masih abal-abal mohon kritik dan sarannya ya. Buat yg ngerasa pernah baca,, well, author emg pernah ngirim ff ini 2 part ke sjff2010,, jd jgn berpikir ini ff hasil plagiat. No! Ini bukan hasil plagiat, ini copyan dr otak saia hahahah!!
n buat readers, gomapta udh mau baca.. OK enjoy!!

——————————————————————

Aku menyesal sudah menolak cintanya enam bulan yang lalu. Myunghee,  gadis manis putri teman ayahku yang sudah kukenal selama 10 tahun terakhir. Sekarang baru aku sadar bahwa selama ini aku juga menyukainya. Namun semua sudah terlambat. Dia sudah jadi istri kakakku.

© queensarap.wordpress.com

Masih teringat jelas bagaimana dulu kami berkenalan. Saat itu kami masih kelas 2 SD; aku ke rumahnya untuk belajar gitar dengan kedua kakak kembarnya. Lee-ahjussi  muncul sambil berkata, “ Hyukie, ini putri Paman. Namanya Myunghee; dia sebaya denganmu. “

Myunghee melangkah malu-malu. Kami saling membungkuk memberi salam, kemudian menyebut nama masing-masing.

“ Lee Hyukjae imnida.”

“ Lee Myunghee imnida. “

“ Myunghee-ya, Appa pergi dulu. Eomma dan adikmu sedang belanja. Appa rasa kalian akan cepat akrab; kalian ‘kan seumuran. “ pamit Lee-ahjussi. “ Hyukjae, ajak Myunghee mengobrol ya; dia agak pemalu. “

Lalu pergilah Lee-ahjussi. Kulihat Myunghee diam, aku juga tak tahu harus bicara apa. Pada akhirnya kami hanya duduk diam begitu selama 30 menit. Sebenarnya aku senang duduk dengannya (meski entah kenapa hatiku berdebar tak karuan). Saat itu rambutnya yang masih sebahu dibiarkan tergerai. Dia terlihat manis. Sayangnya kami sama-sama canggung. Dan karena aku masih bingung mau bicara apa, aku undur diri.

“ Eumm, aku ke kamar Jungmin-hyung dan Minho-hyung ya? Annyeong.” kataku.
“ Ah, ne. “ dia menjawab. Mukanya merah, sepertinya dia sangat malu padaku.

Itu 10 tahun yang lalu. Setelah itu, kami tak pernah berbincang lagi meski tiap hari bertemu. Aku hampir selalu ke rumahnya  bermain gitar, dia juga tiap hari ke rumahku mempelajari sastra bersama Nenek.

Ketika SMA kebetulan kami mendaftar di sekolah yang sama, dan kebetulan juga kami sama-sama diterima. Hanya saja kami beda kelas. Aku di Science, dia di Social. Jadilah frekuensi pertemuan kami bertambah. Meski begitu, tetap saja kami jarang mengobrol. Cuma sesekali, saat aku lupa membawa buku materi dan di kelasnya ada pelajaran yang sama, lalu bukunya kupinjam sebentar. Dia tak pernah menolak jika aku meminjam bukunya, padahal terkadang jam pelajarannya berbarengan dengan guru berbeda.

“ Tak apa-apa, aku bisa gabung dengan teman sebangku. PR juga semalam sudah kusalin di buku tulis. “ jawabnya selalu.

Entahlah. Aku senang dia perhatian padaku. Aku juga tahu kalau dia sering memandangiku, kemudian pura-pura menengok ke arah lain saat kulihat. Yah, aku juga sering memandanginya diam-diam. Tapi jika kami berpapasan, kami tetap tak saling bertegur sapa. Kikuk rasanya.

Suatu ketika, teman akrabnya—Sunny, datang ke kelasku tanpa dia.

“ Hyukjae-ssi ada? “ tanyanya. Aku berjalan menghampirinya.
Ye? “

“ Aku diminta Myunghee menyerahkan ini padamu. Dibaca ya? Dia sudah memberanikan diri menulisnya. “ kata Sunny sambil menyodorkan sepucuk surat berwarna biru muda bergambar Forever Friends.

“ Oh. Mana Myunghee? Dia tak ikut? “ tanyaku celingak-celinguk.

“ Dia malu. “

“ Oke, gomapta. “

Aku berjalan ke mejaku dengan penasaran.  Beberapa teman sekelas mengerubungi ingin tahu isi suratnya, tapi dengan sigap kulambaikan tanganku.

“ Ini privasi, Kawan! “

Secara perlahan kubuka amplop surat yang bertuliskan namaku, kuambil kertas di dalamnya dan kubaca kata demi kata.

                                                                                                                                                17  November 20xx

Kepada

Lee Hyukjae

 

Annyeonghaseyo.

Hai, Hyukie. Apa kabar? Kuharap kau sehat-sehat saja, sama sepertiku.

Maaf bila suratku yang tiba-tiba ini mengejutkanmu. Aku tak tahu bagaimana caranya bicara padamu selain lewat surat ini. Kau tahu sendiri aku ini pemalu, dan kita juga jarang sekali mengobrol. Hampir tak pernah, malah. Hanya sesekali saat kita saling meminjam buku. Padahal kita selalu bertemu tiap hari, selama 10 tahun ini.

Ada hal yang ingin kusampaikan, namun aku tak bisa mengatakannya secara langsung padamu.

Joahe; sarangheyo Hyukjae-ya. Sejak pertama kali kita bertemu dan berkenalan. Aku tak tahu persisnya mengapa aku begitu menyukaimu. Ingin rasanya aku menjadi pendamping hidupmu kelak jika kita dewasa.

Sudah 10 tahun lamanya aku menyimpan perasaanku rapat-rapat. Aku takut kau tahu, lalu kau menjauh dariku dan membenciku. Aku tak mau hal itu terjadi. Tapi di sisi lain aku sudah tak kuasa menahan perasaanku yang semakin lama semakin kuat.

Aku hanya ingin kau tahu bagaimana hatiku yang sebenarnya. Tapi aku juga tak memaksamu untuk menerima perasaanku. Bagaimana perasaanmu padaku? Apakah kita punya perasaan yang sama?

Aku senang jika kita sehati. Kutunggu jawabanmu.

 

                                                                                                                                                                Regards,

                                                                                                                                                Lee Myunghee

 

Apa? Dia menyukaiku?

Tunggu dulu. “Perasaan” ? Apa maksudnya dengan “perasaan” ? Aku tak mengerti. Sebaiknya kutanyakan ke Ayah.

“ Aku dapat surat cinta, Appa. Ada seorang gadis yang menyukaiku. Menurut Appa? “

“ Lho, memangnya bagaimana kau membalas suratnya? “ tanyanya balik.

Molla. “ jawabku seraya mengangkat bahu. “ Belum kubalas. Aku agak bingung harus menjawab apa. Maka dari itulah aku bertanya, menurut Appa, apa yang harus kukatakan? “

Appa hanya menatapku tajam, lalu menjelaskan segala sesuatunya padaku. Bahwa orang berpacaran itu harus siap menikah: siap bertanggung jawab lahir batin. Juga bahwa pacaran di jaman sekarang tidaklah aman; terbukti dengan maraknya kasus hamil di luar nikah.

“ Sudah tahu ‘kan apa yang harus kau tulis di dalam surat jawaban untuk gadis itu? Lagipula kau masih terlalu kecil. “

Ne.. “ jawabku kecewa.

Kemudian dengan enggan kutuliskan jawabannya secara singkat. Intinya aku tidak bisa berpacaran dengannya, alasannya sama seperti  yang sudah dijelaskan Appa. Tapi aku tak mengatakan bagaimana perasaanku padanya, dan inilah awal dari rasa sesalku.

Setelah dia menerima surat balasanku, dia membenarkan penjelasanku. Katanya di dalam surat:

….

Baiklah, aku mengerti. Tapi aku tak bisa menghapus rasa sukaku. Aku akan memendamnya sampai kita cukup umur untuk menikah. Aku tak akan mengganggumu lagi. Anggap saja aku tak pernah menyatakan cintaku.

——————————————————–

Dua minggu kemudian, Myunghee bercerita bahwa dia sudah menemukan cinta yang baru, jadi aku tak perlu khawatir. Mendengar itu, entah mengapa aku emosi, dan penasaran dengan cinta barunya.

Ingin tahu, saat jam istirahat aku ke kelasnya dan kuminta dia memperlihatkan laki-laki yang sekarang dia taksir. Dia menunjuk seseorang berperawakan tinggi kurus dengan kulit sawo matang. Dan oh ya, laki-laki itu NORAK sekali! ‘ Tak lebih tampan dariku. ‘pikirku.

“ Namanya Kim Sang Woon. “

“ Oh. “ ujarku cuek. Aku menatap Myunghee sebentar, lalu aku pamit. Di dalam hati aku berteriak kegirangan. Mau dibilang ada cinta baru lah, tetap saja Myunghee menyukaiku; hanya aku. Bisa kulihat dari sorot matanya. Jadi, dia hanya bermaksud membuatku cemburu.

Setelah hari itu kami menjalani rutinitas seperti biasa. Dengan intensitas bertemu yang cukup tinggi, namun frekuensi obrolan rendah. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Hingga datang suatu kabar yang mengejutkanku.

“ Hyuk, kau tahu? Aku akan menikah pekan depan! “ ujar Jihyun-hyung.

Jjinja? Aku belum dengar rencana ini! “ tukasku kaget bercampur senang. “ Dengan siapa? Waah kasihan calon istrimu Hyung, Jihyun-hyung kan payah hehehe. “

“ Haish, gadis itu beruntung punya calon suami sepertiku.” Sergahnya. “ Kau kenal dia kok, satu sekolah denganmu malah. “

“ Siapa? “

Hatiku berdebar keras. Aku tak tahu kenapa mendadak aku merasakan firasat buruk. Jangan-jangan…

“ Itu, putri Lee-ahjussi. Myunghee. Kau tahu dia, ‘kan? “ jawab Jihyun-hyung santai.

MWO?!! Myunghee?! Anak itu?! “

Oh God no!! What the hell it is!

-TBC-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s