FIRST LOVE: LAST LOVE Part 2

First Love:Last Love Part 2

image

Main cast:  – Lee Hyukjae

-Lee Myunghee (OC, anggap aja readers)

                     – Lee Jihyun (OC)

Length: continued

Genre: Romance

Rating: PG-13


© queensarap.wordpress.com

Tag: Eunhyuk, Lee Hyuk Jae, Lee Donghae

————————————————————————————

 

“ Dia?? Myunghee?? “ ulangku.

“ Kenapa kau kaget begitu? Aneh ah. “ katanya heran. Aku buru-buru menggeleng; takut dia curiga.

“ Tak apa-apa, cuma kaget. Yah, anak itu cocok juga denganmu. “ aku menyahut pelan.

Ada segores luka di hati saat kubilang mereka cocok. Hahaha, Hyung benar; aku memang aneh. Dengan tergesa aku berpamitan untuk ke kamar.

Di kamar aku hanya berbaring sambil merenung. Baru dua bulan yang lalu aku menolak cintanya, tiba-tiba saja dia akan menikah dengan Jihyun-hyung.  Nae jeongmal paboya; pasti dia mengira tak ada harapan lagi untuk aku dan dia gara-gara tak kuungkapkan perasaanku padanya. Juga aku yang salah langkah. Seharusnya kuminta Appa agar melamarnya untukku. Meski kami masih sekolah, tapi lebih baik kunikahi dia daripada keduluan orang lain seperti ini. Terlebih lagi, orang itu adalah hyungku sendiri. Aish bodoh benar! Mau menggagalkan juga tak mungkin, tinggal seminggu lagi. Lagipula, lamaran sudah diterima. Tak ada yang bisa kulakukan selain pasrah.

 

Hari H; acara berjalan lancar. Kusadari sesekali Myunghee melirikku dengan sorot mata yang tak wajar. Seperti campuran antara rasa bersalah dan perasaan ‘apa-boleh-buat’. Seolah dia berkata, “ Aku hanya bisa menerima pinangan ini; kau sudah menolak cintaku dan kurasa tak ada lagi harapan untuk kita berdua. “ . Aku berlagak tak tahu apa-apa.

Myunghee mulai tinggal di rumah Jihyun-hyung yang terletak di samping rumah kami. Pada bulan-bulan awal pernikahan mereka, Myunghee terlihat masih agak canggung dengan Jihyun-hyung. Wajar saja, tadinya Hyung adalah sosok yang sangat dia hormati dan dia segani karena Hyung adalah salah satu guru di sekolah kami, tiba-tiba jadi suaminya. Namun perlahan, atmosfer di antara mereka berdua berubah romantis. Hebat juga Hyung, bisa membuat Myunghee melupakanku.

——————————————————–

Tak terasa, sudah sekitar satu tahun mereka menikah. Tapi belum ada tanda-tanda bahwa mereka akan dapat momongan. Padahal keduanya sering pergi jalan-jalan, punya banyak waktu senggang, dan sangat mesra.

“ Kapan rencana kalian punya anak? Kami ingin segera menimang cucu. “ tanya Eomma suatu kali. Jihyun-hyung dan Myunghee berpandangan sementara aku pura-pura tak dengar; memilih es krim di kulkas dengan headset terpasang di telinga. MP5 kunyalakan tapi tak satu pun musik atau video yang kumainkan.

“ Kami ingin menunda itu dulu, Eomma. “ jawab Hyung. “ Memang sih sudah satu tahun, kami juga ingin punya keturunan. Tapi kami ingin ‘pacaran’ dulu; besok kalau sudah punya anak kami ‘kan tak mungkin sering-sering berduaan. Mungkin tahun depan. “
“ Begitu ya? Yah itu juga bagus, kalian juga masih muda. Wajar lah kalau masih ingin berdua-dua. Apalagi kalian masih terhitung pengantin baru. “ ujar Eomma mendukung. Aku berlalu dari situ dengan dua cup es krim di tangan.

Esoknya, aku dan Jihyun-hyung pergi ke Bandara Incheon. Kami diminta menjemput Appa yang pulang dari kunjungan bisnis di Macau. Setelah kami bersiap-siap dengan tergesa, kami pun berangkat.

Di jalan, Jihyun-hyung menyetir mobil dengan kecepatan tinggi. Aku agak tegang jadinya. Kulirik Hyung. Omo!! Dia tak tampak khawatir sedikit pun!

Hyung!! Pelan sedikit tak bisa? “ tegurku. Jihyun-hyung hanya menoleh sambil tersenyum. Ah jjinja bagaimana bisa dia tersenyum dengan tenang saat dia ngebut begini?!

  Ya, Hyuk. “ katanya lirih.

Mwoya?! “ aku menjawab sedikit berteriak.

“ Tak perlu panik begitu. Tak percayakah kau pada hyungmu sendiri? “ejeknya. “ Aku punya satu permintaan untukmu, dan mau tak mau kau harus mengabulkannya. Wajib! “

“ Aku harus tahu dulu apa permintaannya ‘kan? “

“ Dengarkan. Aku tahu kau mencintai Myunghee.” lanjutnya tanpa peduli. Aku menatapnya shock. Dari mana dia tahu isi hatiku? Aku tidak menceritakan hal ini pada siapa pun!

“ Aku bisa melihat arti tatapan matamu padanya. Semua hal yang menurutku aneh—ekspresimu saat kau tahu bahwa aku akan menikah dengannya, kecanggunganmu ketika kita bertiga mengobrol, juga kata-kata yang kau gunakan sewaktu berbincang-bincang—membuatku mengerti sekarang. Kau menyukainya. Sejak lama. “

“ Apa maksudmu, Hyung? Aku tak mengerti. “ aku pura-pura bodoh.

Geojimal hajima. Aku tahu semuanya. “ dia menukas. “ Aku titip dia, Hyukie. Jaga dia, bahagiakan dia, cintai dia dengan sepenuh hatimu. Yaksokhae? 

“ Jihyun-hyung? Apa yang kau bicarakan? Kata-kata barusan, seperti kau mau mati sa…” ucapanku spontan terhenti. “ Wait a second! Hyung? Kau bercanda ‘kan? “

Gamsahamnida, uri dongsaeng. Aku bahagia bisa jadi kakakmu. Aku juga minta maaf. Untuk Myunghee, dan untuk semuanya. See you in the next part of life.

Hyung neo… “ aku kembali mengarahkan pandanganku ke depan. Pada saat yang sama, ada seorang bocah laki-laki melintas di depan kami. Mataku seketika melebar. “ Hyung awas!! “

                                CKIITTT!!

JDUARR!!

“ Aaaargh! “ teriakku. Dahiku membentur dashboard mobil, lalu semuanya gelap.

——————————————–

Ugh. Kepalaku pusing.

“ …kie… ukie… “ samar-samar kudengar suara seseorang. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, tapi yang kulihat dari tadi hanyalah bayang-bayang.

“ Hyukie, kau sudah sadar? “ panggil seseorang. “ Cepat panggil dokter! “

“ Humm?? “ gumamku. Perlahan bayang-bayang tadi menjadi semakin jelas. Dua orang perempuan dan seorang laki-laki, yang kukenali sebagai Eomma, Myunghee, dan Appa. Aku mencoba bangkit.

“ Ouch! “ kupegangi kepalaku dengan dua tangan. Rupanya aku terburu-buru mengangkat kepala, karena rasanya kepalaku seperti diputar-putar lalu dilempar ke angkasa. Aku kembali berbaring.

Gwaenchana? “ ujar Eomma cemas.

“ Jangan buru-buru. “ Appa menasehati. Aku tak mempedulikan ucapannya; pikiranku sibuk menyusun kembali ceceran-ceceran ingatan yang sempat terbengkalai. Apa yang terjadi?

Eomma, ini di mana? Kenapa aku? Mana Jihyun-hyung? “ tanyaku bingung. Alih-alih menjawab, Eomma malah diam dan memandangi Appa dengan sorot mata yang sedih. Sementara Myunghee menunduk membuang muka. Dia terisak pelan.

Waeyo? Museun iriya? Hyung neun eodi? “ tanyaku lagi. Appa diam saja. Eomma menangis hebat, sedangkan Myunghee berlari keluar ruangan sambil menutup mulutnya.

Eomma please tell me… what happened? “

——————————————————————

Hari ini aku keluar dari rumah sakit setelah genap seminggu aku diopname. Kepalaku sudah tidak diperban lagi, dan aku juga sudah boleh berjalan-jalan meski hanya di sekitar rumah. Kondisi tubuhku pun mulai fit. Semuanya senang aku sudah sehat seperti sedia kala.

Kini Myunghee tinggal bersama kami. Sebenarnya ayahnya meminta dia untuk kembali bersama keluarganya, tapi Eomma yang sudah lama ingin punya anak perempuan keberatan, dan memohon agar Myunghee tetap bersama kami. Eomma senang sekali ayah Myunghee memberikan ijin.

Namun, rumah kami belum pulih dari duka. Kecelakaan tempo hari menewaskan kakakku. Selama berhari-hari saat di rumah sakit aku tak bisa menahan tangis. Jihyun-hyung, kakakku satu-satunya, pergi untuk selamanya. Dan yang lebih membuatku sedih adalah kondisi Myunghee sekarang.

 “ Tadi aku melihatnya, Hyuk. Oppa tadi lewat jalan itu. “ igaunya suatu ketika. Dia sedang menemaniku jalan-jalan, tiba-tiba saja dia menarik lengan bajuku dan menunjuk-nunjuk ke jalan. “ Kenapa Jihyun-oppa tidak pulang? “

“ Myunghee-ya, Hyung tidak di situ. “ sahutku lirih. Dia menatapku dan merengek-rengek.

“ Tapi aku benar-benar lihat! Nan geojimal anayo! Aku melihatnya, namun mendadak dia hilang Hyukie! Oppa pergi ke mana? Ayo kita cari! “

“ Hee-ya sadarlah! “ aku mengguncang bahunya pelan. “ Dia sudah pergi. Dia tak ada lagi di dunia ini. “

Oppa! Jihyun-oppa kajima! “ tangisnya. Spontan aku memeluknya,; berusaha memberikan ketenangan baginya. Dia terlalu shock atas kepergian Hyung. Mendengar tangisannya, aku jadi iba, sekaligus sedih juga mengingat Hyung. Air mata perlahan menetes dari kedua mataku.

“ Ada apa Hyukjae? Kenapa kakak iparmu menangis? “ Eomma muncul dari dalam rumah. Kulepaskan pelukanku cepat-cepat.

“ Dia berhalusinasi, Eomma. Dia bilang dia melihat Hyung melewati jalan depan. “

Ani! Eommonim, aku memang melihatnya. Aku tidak berhalusinasi! “ Myunghee menyanggah. Eomma memandang Myunghee dengan prihatin, lalu merangkulnya dan menggandengnya masuk.

“ Sudah. Ayo kita masuk. Aku memasak bulgogi dan kimchi untukmu. Kau pasti lapar, Menantu. “

Myunghee menurut. Aku benar-benar sedih melihat keadaan psikisnya. Aku jadi ingat pesan terakhir Hyung padaku.

“ ….Jaga dia, bahagiakan dia, cintai dia dengan sepenuh hatimu… “

Aku harus menyembuhkan luka dan kesedihannya.

————————————————————————

“ Myunghee, kita ke bioskop yuk? Ada film baru yang bagus. Aku punya dua tiket. “ ajakku saat akhir pekan. Dia melihatku antusias.

“ Film apa? “

“ Batman serial terakhir. Mau ‘kan? “

Ne! Kajja! “

Kami pun berangkat. Setelah dari bioskop kuajak dia ke game center. Myunghee terlihat senang dan sesaat lupa akan kesedihannya. Hatiku terasa agak lega.

Pekan berikutnya, kami bermain ice-skating. Dia pemain yang payah. Aku harus mengajarinya berkali-kali dan berkali-kali pula dia jatuh.

Aigoo payah sekali kau. Sudah berapa kali kau terjatuh? “ ejekku. Dia hanya mencibir.

“ Biar saja! Bwee! “

Aish jjinja! Ya! Kau berani sekali pada pelatihmu ini! “ aku pura-pura marah. Kugelitiki ia yang masih terduduk. “ Rasakan balasanku! “

“ Ahahaha ampun! Ampun Tuan Lee! “ pintanya sambil menangkupkan tangan. Aku berhenti dan bangkit, lalu kubantu ia berdiri. Kami meluncur pelan (dia kugandeng) keluar dari arena. Setelah minum kopi untuk menghangatkan badan, kami pulang.

Sebelum sampai di rumah, kami mampir sebentar di taman. Mengobrol dan bercanda ringan. Entah kenapa aku jadi teringat waktu kami masih SD dulu.

Ya Myunghee. Apa kau masih ingat waktu kita pertama kali berkenalan? “ tanyaku.

“ Memang kenapa? “ sahutnya sambil tertawa. Aish anak ini benar-benar tidak peka; pasti dia mengira aku sedang melucu.  “ Kau mau bilang kau terpesona padaku? “
Geurae. Neo jeongmal yeppo. “ aku berkata serius, dan itu sukses membuatnya terdiam. “ Yeah, itu sudah lama sekali, tapi aku masih ingat pasti bagaimana kita berkenalan. “

“ Kenapa kau mengungkit hal ini, Hyukie? “

Aku tak peduli dengan apa yang dia ucapkan. Kukeluarkan semua rahasia hati yang selama ini kujaga agar tak ketahuan oleh siapapun.

“ Aku datang ke rumahmu untuk bertemu dengan kedua kakakmu, lalu ayahmu memperkenalkan kita. Kita ditinggalkan berdua di ruang tamu, namun tak ada satu pun yang kita obrolkan. Waktu itu aku gugup sekali sekaligus senang, walau aku tak tahu kenapa. “

“ Hyukjae-ya. “

“ Kau terlihat manis sekali dengan rambutmu yang sebahu itu. Aku bahkan bingung, kata-kata apa yang harus kuucapkan untuk memujimu. Kau juga cuma diam saja. Jadi aku bilang padamu bahwa aku ada urusan dengan kedua kakakmu. “

“ Beberapa tahun kemudian kau mengirimiku surat. Katamu kau mencintaiku; kau ingin menjadi pendamping hidupku. Dan aku benar-benar bodoh. Aku membalas suratmu dengan penjelasan ayahku, aku bahkan tak mengungkapkan isi hatiku yang sesungguhnya. Bahwa aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu, bahwa aku tenang hanya dengan melihat senyum ceriamu. Akibatnya aku kehilanganmu. Kau dicuri dariku, oleh hyungku sendiri. Itu penyesalanku yang terbesar dalam hidup. “

“ Hyukie hajima..” katanya lagi tapi aku pura-pura tuli.

“ Aku tak bisa berhenti Myunghee. Tak bisakah kau menolongku mengatasi sesalku ini? “

“ Stop Hyukie, stop! Jangan dilanjutkan! “

“ Myunghee-ya… “

“ Apa kau tahu betapa sakitnya aku saat membaca surat balasan darimu? Setelah sekian lama aku mencintai dan menyayangimu, dan melihat sikapmu yang membuat aku berharap banyak. Dan kau menolakku karena kau bilang kita terlalu kecil dan bla-bla-bla! “ kulihat ada kristal-kristal bening terjatuh perlahan dari matanya. Aku tercekat. Aku menatapnya dengan hati berdebar karena rasa bersalah yang membludak. Kenapa tadi tak kukendalikan omonganku?! Hyukjae, kau idiot!!

U-uljimarayo Hee-ya… “ gagapku.

“ Tepat pada saat itu Jihyun-oppa melamarku. Aku langsung menerimanya tanpa berpikir. Aku mencoba melupakanmu dan belajar mencintai hyungmu dengan segenap hatiku. Sekarang hyungmu yang sudah kucintai melebihi nyawaku sendiri sudah tiada, lalu kaupikir kau bisa semudah itu merebut hatiku kembali? Kau ingin perasaanku padamu sama seperti dulu?! Kau kira pernyataanmu tadi bisa mengubah segalanya? Jangan bermimpi, Tuan Lee! “

Dengan segera kutarik tangannya dan kupeluk dia.

Uljimarayo. Uljimara Hee-ya. Aku tak tahan melihatmu menangis. “ ucapku pelan. “ Tak bisakah kau menerimaku kembali? Tak adakah peluang bagiku untuk mendapatkanmu? Apakah sudah tak tersisa ruang lagi di hatimu? Jebal, Hee-ya, beri aku kesempatan. Aku tak mau kehilanganmu untuk yang kedua kali. “

“ Lepaskan aku! “ berontaknya, tapi kueratkan lagi dekapanku sehingga dia tak bisa kabur.

“ Dengarkan aku. Aku mencintaimu, Myunghee. Sangat mencintaimu. Kumohon, beri aku kesempatan meskipun sudah terlambat. “

“ Tapi..”

“ Kumohon! Kumohon… “

———————————————————————-

 

–TBC–

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s