FIRST LOVE : LAST LOVE Part 3

First Love: Last Love Part 3

image

Main cast:  – Lee Hyukjae

-Lee Myunghee (OC, anggap aja readers)

Support cast: -Lee Donghae

                          -Find by yourself

Length: continued

Genre: Romance, a little bit humor.

© queensarap.wordpress.com

Rating: PG-13

Tag: Eunhyuk, Lee Hyuk Jae, Lee Donghae

 

Akhirnya setelah lamaa banget gak nerusin ff nya muncul juga ide author bwt bikin cerita selanjutnya.. maklum sibuk kekeke

Oke daripada author banyak bacot keburu dikangenin ma Hyukie-ah my yeobo #disambit Jewels~ let’s see the scene…

————————————-

 

“ Kumohon. Kumohon, Myunghee-ya..” pintaku lirih. Myunghee hanya menatapku tak percaya, lalu pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun. Aku mengikutinya perlahan; menahan diri untuk tidak berlutut-memohon lagi.

Selama berhari-hari aku berusaha mendapatkan perhatiannya, tetapi selalu saja dia mengacuhkanku. Seperti pagi ini. Myunghee baru keluar kamar saat aku sedang membuat segelas susu di dapur.

“ Hee-ya, kau mau susu? Aku sedang bikin. Kubuatkan sekalian ya? “ aku menawarinya. Myunghee melirikku tajam dan masuk kamar mandi tak peduli. Aku hanya bisa menghela napas. Namun aku tetap membuatkannya segelas susu juga, barangkali nanti dia luluh dan mau meminumnya. Kutaruh susu di meja rias di kamar yang dia tempati.

Satu jam kemudian, aku melihatnya membawa susu yang tadi ke halaman belakang. ‘ Pasti dia mau meminumnya! Yeah! ‘ sorakku dalam hati. Diam-diam dia kuikuti, dan betapa kagetnya aku. Dia membuangnya begitu saja ke tanah! Oh my God!

Apa-apaan itu? Menyebalkan! Tak bisakah ia menghargai usahaku?

Tapi, yah, memang semua sumber masalah ini memang aku. Jadi, kurasa wajar kalau aku dibencinya. Meski begitu, aku ini Lee Hyukjae. Hanya karena hal begini apa lantas aku akan menyerah? Tentu saja, tidak.

———————————————–

Hari ini kami sudah mulai berangkat sekolah lagi. Setelah melewati masa berkabung, akhirnya aku bisa bertemu dengan teman-temanku. Setidaknya, kesedihanku (dan juga Myunghee) bisa berkurang.

“ Hyuk, apa kabar? Lama tak bertemu. “ sapa Donghae si ikan. Dia teman terbaikku. “ Kau sudah tahu siapa guru pengganti Jihyun-songsaengnim? Dia cantik sekali! Neomu jeongmal yeppo! “

“ Oh ya? “ aku menyahut tak berminat.

“ Uh oh, jeongmal mianhe Hyukjae-ya.. Aku tak bermaksud membuatmu bersedih. “ sesalnya. Itu membuat wajahnya terlihat konyol.

“ Nan gwaenchana, Nemo-ya. “ kataku. Yah, aku tak boleh terpuruk dalam kesedihan. Kata Freddie Mercury, “… the show must go on. “

“ Hei! Siapa yang Nemo! ” protesnya, tapi dia segera menyambung. “ Eh, tapi kau benar-benar harus melihatnya. Dia sungguh, amat, sangat, cantik! “

“ Aku sedang tidak berminat, Nemo-ya. Sudahlah. “ potongku. “ Dibanding itu, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu. “

“ Aish, kapan sih, kau bisa berpaling dari kakak iparmu itu? “ dia mencibir. “ Dan memangnya apa yang mau kau tanyakan? “

“ Aku ingin mendapatkan hatinya lagi. Seperti dulu saat ia mencintaiku dengan sepenuh hati. Tapi semua yang kulakukan seperti tak ada artinya. Dia mengacuhkan semuanya; membuang susu yang kubuatkan dengan santainya, makanan yang kusiapkan tidak disentuh bahkan seujung jari pun. Yang kulakukan dia anggap sebagai hal yang menjijikkan. Apa yang harus kulakukan agar dia mau melihatku? Ini benar-benar memusingkanku. “

“ Yeah, sebenarnya ini hanya kasus biasa. “ jawab Donghae sok detektif. Aku mengernyit. Aku merasa, masalah ini menyita pikiranku sampai aku tak bisa tidur dan dia bilang, euhm, ‘ kasus biasa’ ?

“ Kau hanya perlu bersabar. Lakukan terus. Sampai hatinya agak luluh. Nanti kalau sudah begitu…          CUT! ” whuff, dia menghentak. Mengagetkan saja.

“ Lalu? ”

“ Setelahnya, dia akan mencari-cari perhatian yang selama ini kau berikan. Itulah poinnya! Itu!”

———————————— —

Aku mencoba saran Donghae. Aku memberi perhatian khusus, yah mungkin agak berlebihan juga. Dari mencucikan sepatunya sampai membuatkan bekal. Dan itu kulakukan setiap hari.

Seperti biasa, aku meletakkan kotak bekal berisi nasi, telur dadar, udang goreng tepung, dan sayur-sayuran di lokernya diam-diam .Tapi rupanya dia memergokiku.

“ Hyukie, ige mwoya? ” tanyanya. Matanya tak lepas dariku yang baru mau menaruh kotak bekal.

“ Eum, jangan salah paham, oke? Aku akan jelaskan semuanya… ” ucapku grogi.

“ Jadi selama ini, itu kau? Bekal, susu, sepatu, makan malam, sarapan, kamar yang tiba-tiba rapi, dan yang lain-lain? Semuanya? ” kejarnya. Aku mengangguk tanpa suara.

“ Aish, sudah kuduga itu kau! ” katanya lagi, putus asa. ” Dengar, Hyuk-ah, aku tak suka kau berlebihan begini. Hentikan sekarang juga atau aku tak akan pernah memaafkanmu! ”

“ Myunghee-ya, aku harus bagaimana lagi? ”pertanyaan yang kulontarkan membuatnya mengedikkan kepala, tak mengerti.

“Mwo?”

“ Sebenci itukah kau padaku? Seburuk itukah aku di matamu? Bahkan kau menghindari bercakap-cakap denganku seolah aku ini monster yang paling kau takuti. Kau bahkan tak mau mendengarkan keinginanku. Aku hanya ingin kau…..” ucapanku terhenti.

Tunggu. ’ Kau ’ apa? Apa yang mau kukatakan? Arrgh! Berpikir Hyukjae! Berpikir!

“ Ingin aku, apa? ”

“ Kau… Ah, aku hanya ingin kau memaafkanku! ” lanjutku yang mendadak ada ide.

“ Kalau begitu berhentilah melakukan hal yang tidak kusukai. ” timpalnya. Aku menggangguk cepat.

“ Aku ingin kau memaafkanku, dan juga ingin kau berada di sisiku seperti yang seharusnya…. ”

“ Oke, bye. ” katanya sambil melangkah pergi. Dia tak menanggapi omonganku barusan, karena aku mengucapkannya dalam hati saja. Yeah, aku memang pengecut.

“ Ya Hyukjae! ”sapa seseorang yang suaranya kukenal baik. ” Hum? ” aku menoleh tapi tapi tak ada orang. Aish, dasar si ikan, pasti dia mau main-main denganku. ” Nemo-ya, untuk apa kau sembunyi? Aku tahu itu kau. ”

Benar saja. Dia muncul di balik loker sebelah.

“ Ah tidak seru! ” ujarnya. Aku hanya tersenyum geli. ” Eh, kau sudah lihat belum? Namanya Hwang Mi Young. Dia tinggi, cantik, komunikatif, pintar, lalu… ”

“ Sudahlah, buatmu saja. Aku cukup kakak iparku. ”

“ Aku sudah menduga kau pasti akan berkata begitu. Well, setia itu bagus. Aku salut. ”

——————————

Di rumah, aku tetap melanjutkan perhatianku ke Myunghee. Dia protes terus pada awalnya, namun  kurasa sekarang dia mulai luluh. Kini susu, makanan, dan sepatu yang selalu kusiapkan untuknya tak lagi disikapinya dengan dingin. Meski tak selalu sih.

Hal itu membuatku gembira. Aku jadi ingin mengajaknya pergi jalan-jalan. Tapi, ke mana ya?

Saat makan malam kuutarakan keinginanku, dan aku memberinya tiga pilihan tempat rekreasi. Habis, mau bagaimana lagi? Aku tak tahu dia suka tempat seperti apa. Selama ini aku menyukainya secara… eum… secara, murni. Yah katakanlah begitu. (#jujur,waktu nulis ini author juga bingung gimana ngungkapin perasaannya si Hyukie). Melihatnya tiap hari, melihat senyumnya sekilas, atau dengan tahu bahwa ia baik-baik saja, semua itu sudah cukup bagiku.

“ Hee-ya, bagaimana kalau akhir pekan ini kita jalan-jalan? Kau ingin ke mana? Lotte World, Waterboom, atau ke kebun binatang? Kalau kau ingin ke kebun binatang, kebetulan, aku ingin menjenguk salah satu kembaranku di sana kekeke.. “ tawarku antusias. Eomma dan Appa sampai terheran-heran.

“ Ya, Hyukie. Eomma perhatikan, akhir-akhir ini kau perhatian sekali pada noona-mu ini. Waeyo? “ tanya Eomma. Appa mengangguk dan melengkapi.

“ Eo. Appa juga merasa begitu. Sampai mengajak kencan segala. “

Aku memandang Myunghee sebentar, lalu orang tuaku, lalu ke Myunghee lagi.

“ Mwo. Barangkali saja aku bisa mengisi tempat Hyung. “ jawabku cuek. Eomma, Appa, dan Myunghee tertegun. Sejurus kemudian Appa terlihat seperti memikirkan perkataanku.

“ Ya! Hyuk-ah! Apa maksudmu? “ seru Myunghee tersadar dari keterkejutannya.

Aku diam saja sambil menatapnya dalam-dalam. Suasana lengang.

“ Appa pikir, itu boleh juga. “ kata Appa akhirnya.

“ MWO??!” teriak Eomma dan Myunghee bersamaan.

“ Abonim? Mwoya? Chamkamman! “ Myunghee terlihat menenangkan diri. “ Ini bukan candaan yang lucu, Abonim. Sama sekali tidak lucu. “

Myunghee memonyongkan bibirnya, Eomma masih terbengong-bengong. Aku menatap Appa tak percaya.

“ Appa… “ panggilku.

“ Appa tidak sedang melucu. Appa serius. “ katanya mantap.

“ Wae? Abonim wae? “ tolak Myunghee dengan bibir bergetar. “ Animida! Abonim! Andwae! “

Appa berusaha menjelaskan tapi dia sudah keburu lari ke kamarnya. Aku menghela napas panjang. Woah, Appa langsung menseriusi perkataanku yang agak sembrono. Well, tidak juga. Aku sebenarnya juga tidak sedang sembarang bicara. Walau aku tak tahu kenapa Appa setuju dengan pernyataanku, tapi ini benar-benar bagus. Aku punya pendukung.

Myunghee, tunggu aku. Aku pasti akan mendapatkan janjimu di altar nanti!

 

–TBC–

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s