My (Step) Mother Part 5

My (Step) Mother Part 5

image

Cast: Kim Kibum, Lee Hyukjae, Han Gaeun (OC), Lee Myunghee (OC)

Genre: Romance, Married life

Rating: PG-15

————

Hari-hari berjalan seperti biasa. Keluarga Lee juga makin hari makin bahagia meski berbeda dengan keluarga lainnya. Hanya saja ada sedikit perubahan pada Lee Kibum, putra tunggal di keluarga itu. Makin hari makin ceria, dan makin sering menggantikan posisi ayahnya dalam menjaga Lee Myunghee, ibu tiri yang dia sayangi secara berlebihan.

© queensarap.wordpress.com

Mengantar jemput Myunghee ke sekolah yang tadinya salah satu rutinitas Hyukjae setiap hari kini diambil alih olehnya, yang kebetulan juga satu sekolah dan satu angkatan dengan Myunghee. Hyukjae tak merasa curiga. Toh itu lebih efektif, pikirnya. Kibum senang dengan hal ini, karena itu akan mempermudah jalannya rencana merebut hati Myunghee. Well, mungkin ini terdengar kejam, tapi bukankah seperti kata pepatah: ” all is fair in love and war ” ??

Begitu juga pagi ini. Lagi-lagi Kibum menggantikan peran Hyukjae. Dia akan kencan dengan Myunghee, pergi ke pesta ulang tahun salah satu teman gadis itu. Kibum hanya mengantar saja sebenarnya, tapi menurutnya itu kencan.

” Noona. ” panggilnya begitu ia masuk ke apartemen Myunghee. Dia sudah biasa datang dan masuk sendiri; Myunghee memberitahunya password apartemennya demi kepraktisan.

” Ne sebentar. ” sahut Myunghee dari kamarnya. Kibum lantas ke dapur dan mencari sesuatu untuk diminum sambil menunggu Myunghee.

Lima belas menit berselang tapi noonanya itu belum muncul juga.

‘Apa yang dia lakukan? Lama sekali! ‘ keluhnya dalam hati. Dia beranjak menuju kamar Myunghee.

” Ya Noona! ” panggilnya.

Tak lama kemudian pintu terbuka, menampilan sosok Myunghee yang (menurutnya) terlalu cantik. Blazer putih, tas tangan keperakan, stilleto dan dress simple warna hitam yang dikenakannya dipadu dengan riasan yang natural menambah penampilannya makin sempurna. Rambut hazelnya yang sedikit bergelombang dibiarkan tergerai, di kepalanya terpasang bando pemberian Kibum. Kibum menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki terpesona.

” Waeyo Kibummie? ” tanya Myunghee heran. Seperti tersadar, Kibum menggeleng cepat.

” Aniyo. Tak ada apa-apa. Kajja kita pergi. ”

Kali ini Kibum membawa mobilnya, dan ini pertama kalinya ia memboncengkan seorang gadis. Hal itu cukup membuatnya tak tenang, ditambah lagi gadis ini adalah orang yang dia sukai. Dia bersenandung pelan seraya memainkan kunci untuk menutupi rasa gugupnya.

***

Kibum dan Myunghee pulang setelah seharian jalan-jalan. Mereka pergi ke beberapa tempat selain ke pesta. Kibum benar-benar ingin menghabiskan waktu seharian bersama Myunghee rupanya. Mereka baru sampai rumah sekitar pukul sepuluh malam.

” Noona, apakah hari ini menyenangkan? ” tanya Kibum. Myunghee menjawab antusias.

” Ne, benar-benar menyenangkan. ”

” Baguslah kalau begitu. Lain kali kita jalan-jalan lagi berdua. ” desah Kibum lega.

‘ Mwo? Berdua? Maksudnya kencan? ‘ batin Myunghee sedikit berdebar. ” Tunggu! Tidak lagi! Tidak dengan debaran ini lagi! “

” Oh ya, apakah aku merepotkanmu? ” tanya Myunghee yang mendadak khawatir sudah menjadi beban. ” Akhir-akhir ini kau terus menemaniku menggantikan Hyukie-oppa. Apa kau tidak lelah menemaniku? ”

” Aniyo. ” jawabnya santai. ” Hei, memang kenapa kalau aku menemanimu? Kau tak suka? Apa aku kurang menyenangkan? ”

Mendapat pertanyaan seperti itu, Myunghee merasa tak enak. Dia bukannya tidak suka bersama-sama Kibum; dia hanya takut kalau sudah banyak merepotkan. Apalagi, akhir-akhir ini dia mulai ketagihan berada di dekat ‘anak tunggal’nya tersebut. Entahlah. Dia merasa aman dan nyaman. Hatinya terasa ringan. Mungkin juga karena seumuran. Sementara dengan Hyukjae dia belum bisa sepenuhnya mengikuti selera dan jalan pemikirannya. Yah, bagaimana pun, perbedaan usia tetap menyisakan sedikit jarak di antara mereka meskipun mereka suami istri. Adanya Kibum membuat ruang kosong di hatinya–yang ingin didampingi oleh orang yang seusia dengannya–jadi terisi, dan itu menyenangkan. Hal ini menjadikan ia lebih senang menghabiskan waktu bersama Kibum.

” Gomawo Kibummie. Hari ini benar-benar hari yang menyenangkan. ” ucap Myunghee di depan pintu apartemennya.

” Ah, jangan sungkan. Untukmu, semua hal bukanlah masalah bagiku. ” jawabnya seraya tersenyum. Pandangan mata mereka bertemu.

DEG!

‘ Apa ini? Matanya itu, mata beningnya itu, menyedot seluruh oksigen yang bisa kuhirup! ‘ pikirnya tak mengerti. Debaran di hatinya makin cepat. ‘Seolah aku adalah hartanya yang paling berharga. Seolah dia menyayangiku dengan segenap jiwa dan raganya. ‘

Kibum terlihat cemas mendapati Myunghee mencengkeram dadanya sendiri dengan tatapan shock.

” Noona, gwaenchanayo? ” tanyanya khawatir. Dia mendekat dan mengelus kepala Myunghee.

” A… Ah, ne. Gwaenchana. Jangan cemas. ” sahut Myunghee, agak tergagap.

” Aaah, syukurlah. Aku benar-benar takut telah terjadi sesuatu pada Noona. Aku pulang dulu. Noona hati-hati. Kalau Noona butuh sesuatu hubungi aku, oke? ”

Myunghee mengangguk cepat. Sekali lagi Kibum mengelus kepalanya dengan lembut, lalu mengecup dahinya singkat.

” Jaljayo chagiya… ” pamitnya pelan.

” Jaljayo… ”

Setelah Kibum pergi, Myunghee segera menutup dan mengunci pintu. Dia menuju sofa dan terduduk lemas.

” Apa yang terjadi? ” tanyanya bingung pada diri sendiri. Di sentuhnya puncak kepala dan dahinya, terlintas bayangan Kibum mengelus kepala dan mencium dahinya. Dengan segera pipinya memerah dan terasa panas. Kedua tangannya beralih ke pipi.

” Apa yang terjadi? ” katanya lagi. Lalu terngiang ucapan pamit Kibum.

” Jaljayo chagiya… “

” MWO?! ‘Chagiya’ ?! ” teriaknya kaget.

” Chagi, kenapa kau berteriak? Apa ada sesuatu? ” suara khas seseorang menggema di ruang tamu apartemennya. Sontak Myunghee menoleh terkejut dan mendapati Hyukjae berjalan ke arahnya. Ia membawa dua cangkir coklat panas.

” Kau lama sekali, jadi aku ke sini lebih dulu tanpa memberitahumu. ”

” O… Oppa… ” sahutnya. Dia tiba-tiba merasa gelisah. Antara kaget, takut ketahuan, merasa bersalah, dan sedih. Segera dia mengalihkan bahan obrolan.

” Kapan Oppa datang? ” dia menghampiri Hyukjae yang sedang meletakkan cangkir-cangkir yang di bawanya di meja, lalu memeluknya mesra. Berusaha mati-matian agar pikirannya tentang Kibum bisa dia lupakan. ” Bogoshippo. ”

” Jinjja? ” tanya Hyuk dingin.

” Oppa! ” rajuknya. Hyukjae terkekeh.

” Hahaha aku tahu. Aku hanya bercanda. ” katanya. ” Nado bogoshippo. ”

***

in the morning…

Myunghee sudah mulai lupa dengan kejadian kemarin malam. Dia menyiapkan sarapan dan keperluan sekolah serta pakaian untuk Hyukjae sambil berdendang kecil. Hyukjae tersenyum bahagia melihatnya. Apa yang lebih membuat seorang suami merasa bahagia selain melihat senyum cerah istrinya, benar, bukan?

” Chagi… ” panggilnya seraya berjalan mendekat dan memeluk Myunghee dari belakang.

” Ne, Oppa… ”

” Beberapa bulan ini pekerjaanku menumpuk, banyak proyek besar yang harus kami tangani. Maafkan aku, gara-gara hal itu aku jadi tak banyak menghabiskan waktuku bersamamu. Kibum juga jadi kerepotan menemanimu. ”

” Gwaenchanayo Oppa. Aku paham. Asalkan Oppa masih memikirkanku dan memperhatikanku, itu cukup. ” kata Myunghee lembut. Hyuk tersenyum. Betapa beruntungnya dia mendapatkan istri penyabar seperti Myunghee.

” Hari ini aku juga harus masuk pagi. Kau berangkat bersama Kibum lagi tak apa, ‘kan? ”

” Ne gwaenchana. ”

Dalam hati, dia mulai gelisah lagi. Bayangan Kibum kembali mengusik benaknya. Kibum yang tersenyum, Kibum yang sedang merajuk, Kibum yang sesekali menjahilinya, dan Kibum yang menatapnya penuh rindu.

‘ Kenapa kau tak mau pergi dari pikiranku, Kibum-ah? Tak tahukah kau bahwa itu menyiksaku? ‘ pikirnya.

” Chagi, aku berangkat dulu. Annyeong. ” pamit Hyuk yang sudah menhabiskan sarapannya secepat kilat. Myunghee tersadar dan memaksakan diri tersenyum. Setelah Hyukjae menghilang dari pandangan dia segera menutup pintu, dan bersiap-siap dengan tas dan sepatunya. Diteguknya segelas susu sampai habis sepertiga gelas, kemudian menggigit sandwich sarapannya.

Dia sedang menelan suapan terakhirnya saat tiba-tiba matanya tertutup. Dugaannya mengarah pada seseorang.

Dirabanya tangan yang bertengger di kedua matanya.

” Kibummie! ” katanya. Tepat seperti yang ia duga, Kibum memang sudah datang.

” Jawabanmu salah! ” tukas Kibum, melepaskan tangannya dari mata bening Myunghee. Gadis itu tak mengerti. Salah? Memangnya pertanyaan yang mana yang dia maksudkan?

” Seharusnya kau bilang ‘ Kibum, pemuda paling tampan dengan senyum mautnya yang mampu membuat semua wanita jatuh hati, termasuk aku. ‘ begitu. ” katanya penuh percaya diri. Myunghee melongo, lalu cepat-cepat mencibir.

” Omong kosong. Nyatanya sampai sekarang kau tak punya seorang pun yeojachingu. ” ejek Myunghee.

” Ya! Kau pikir ini salah siapa? ” balasnya seraya duduk di kursi di depan Myunghee.

” Siapa memang? ”

” Kau! ” jawab Kibum spontan, berhasil membuat Myunghee terdiam.

” Aku? ” katanya akhirnya.

” Ne, kau. ” ujar Kibum tenang. Dia pun mulai menjalankan rencananya. ” Kau masih ingat ucapanku waktu itu? Saat kita berada di depan kelasmu? Kau pasti tak pernah mengira bahwa aku tidak bercanda mengatakan hal itu. ”

” Apa maksudmu? ”

” Jangan pura-pura bodoh, Lee Myunghee. ” dia menukas. ” Aku memang tidak serius saat itu, tapi aku hanya BENAR-BENAR serius. ”

Myunghee tercengang tak percaya. Dia shock. Tubuhnya panas dingin dan bergetar hebat.

” Aku benar-benar menyukaimu. Benar-benar mencintaimu, Lee Myunghee. Sejak sebelum kau menikah dengan Appa. ”

–TBC–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s