FIRST LOVE : LAST LOVE Part 4

image

Main cast:  – Lee Hyukjae

-Lee Myunghee (OC, anggap aja readers)

Support cast: -Lee Donghae

                          -Find by yourself

Length: continued

Genre: Romance, a little bit humor.

Rating: PG-13

Tag: Eunhyuk, Lee Hyuk Jae, Lee Donghae, Kim Kibum

————————————————————-

Myunghee berlari ke kamarnya tanpa mau mendengarkan penjelasan dari  Appa.

“ Kenapa, Suamiku? Dia bahkan belum pulih benar emosinya karena Hyun-ah meninggal. “ Eomma bertanya pelan. “ Ini bahkan baru dua bulan. “

“ Kalian dengarkan aku dulu. “ Appa mengawali penjelasannya.

© queensarap.wordpress.com

“ Aku tahu emosinya masih labil. Tapi dia butuh pendamping. Agar kesedihannya terobati. Dan Hyukjae cocok untuknya. Terlalu sulit jika kita mencari orang lain. Anak muda jaman sekarang susah dipercaya kalau bukan orang yang dekat dengan kita. Kita tak tahu karakter mereka bagaimana, track record nya bagus atau tidak, dan apakah mereka bisa memikul tanggung jawab menjadi kepala keluarga. Daripada repot mencari, bukankah lebih baik anak kita sendiri? Myunghee bisa tetap jadi anak perempuan kita. Selain itu, karena Hyukjae adalah anak kita, dia jadi lebih mudah diawasi. “

“ Tapi, bagaimana dengan besan kita? Apa kau sudah mendiskusikan hal ini? “ tanya Eomma lagi. Appa mengangguk.

“ Mereka bahkan berpikiran sama. Sekarang cobalah kau bujuk Myunghee dan jelaskan duduk perkaranya. “

Eomma mengiyakan lalu segera bangkit menyusul Myunghee. Aku hendak pergi juga (maksudku sih, ingin menguping pembicaraan mereka), namun Appa memegang lenganku.

“ Chamkamman. Appa ingin bicara denganmu. “

Aku duduk lagi sambil melipat tangan di dada. Ah sial! Gagal sudah rencanaku.

“ Ada yang ingin Appa tanyakan. “

“ What things? “ jawabku simple. Appa malah mengemplang kepalaku. Dasar orang tua ini. =__=”

“ Aish dasar anak kurang ajar! “ makinya.

“ Hyuk-ah, kau serius dengan perkataanmu barusan? “

“ Eo. Wae? “ aku menjawab acuh tak acuh. Appa memonyongkan bibirnya.

“ Kau ini. Bicara begitu seolah-olah tak ada beban saja. “

“ Aku bersungguh-sungguh Appa. “

Appa menghela napas.

“ Geurae. Appa dan Eomma akan atur semuanya, kau terima beres. Yang harus kau lakukan hanya mendapatkan hatinya. Deal? “

“ Deal! “ sahutku mantap. Appa beranjak dari sofa dan berjalan pergi sambil mendesah.

“ Aigoo, kedua anakku jatuh cinta dan menikahi satu gadis yang sama. Aigoo aigoo… “

—————————————————-

Pagi ini aku menyambangi Myunghee di kelasnya. Aku melihatnya sedang mengobrol dengan Sunny, sahabatnya yang pendek dan suka mengoceh itu.

Psst! Jangan katakan padanya soal komentarku terhadap sahabatnya ini ya! Bisa-bisa aku berakhir di pemakaman nanti!

” Hee-ya. ” panggilku. Myunghee dan Sunny menoleh. Dan seolah mengerti, Sunny beranjak pergi ke bangku lain.

” Apa? ” tanyanya. ” Tak sadarkah kau Hyuk? Ini sudah bel masuk dan… ”

” Ajari aku ini! ” potongku tak peduli seraya menyodorkan buku Matematika. ” Integral membuatku merasa bodoh. ”

” Ya! Kau ini aneh! Kau sudah pikun atau bagaimana sih? ” semburnya lirih. Mungkin takut terdengar yang lain.

” Kau ini anak Science dan kau lebih pintar dibandingkan aku. Harusnya kau lebih paham soal Matematika. Lagipula materi di kelas Social berbeda dengan kelas Science. Materi di kelasmu lebih rumit dan aku tak menguasainya. Apa kau tak ingat? ”

Aku refleks menepuk jidat. Alasan yang payah untuk datang ke kelasnya pagi-pagi! Babo kau, Hyuk!

” Sana kembali ke kelasmu. ” suruhnya.

” Oke. ” kataku pasrah. Tapi sial sekali aku pagi ini.

” Selamat pagi, Anak-anak! ” seorang guru masuk sebelum aku sempat berdiri dari bangku di samping Myunghee.

” Pagi, Kim Saem. ” serempak semua menjawab–termasuk aku meski terpaksa. Aku menelan ludah, berpikir keras bagaimana bisa lolos dan kembali ke kelasku tanpa ketahuan guru satu ini. Kurasa aku memang sedang sial.

” Apa kubilang? ” bisik Myunghee.

” Mana kutahu kalau Mr. Killer itu jadwalnya di kelasmu pagi ini? ” sahutku tak kalah lirih. Myunghee mendecak sebal seraya memutar bola matanya.

Yeah. Kim Kibum Songsaengnim. Guru Sosiologi yang terkenal galak dan tanpa ampun. Kebetulan juga wali kelas di kelas Myunghee. Ada yang bilang kalau tatapannya bisa menghanguskan orang dalam sekejap. Omong kosong, menurutku. Tapi sepertinya hal itu ada benarnya. Dia ditakuti dan disegani semua siswa di sini. Bahkan Kepala Sekolah tak berani membantah ucapannya. Dia orang yang benar-benar punya pengaruh.

Anehnya, meski horor begitu, tak sedikit siswi di sini yang mengidolakannya. Well, dia masih muda, umurnya sekitar 23 tahun sekarang. Dan memang wajahnya mendukung. Terlebih senyumannya yang bisa membuat pingsan seluruh siswi di sekolah ini. Katanya sih. Ckk, berlebihan sekali kurasa. Kuakui dia memang tampan, tapi tak sampai seperti itu juga, ‘kan?

Aku harus segera pergi! Tapi bagaimana? Dia tak ‘kan memberi izin kalau kukatakan mau ke toilet.

” Jadi, mobilitas sosial ada dua, vertikal dan horizontal. Dikatakan vertikal apabila ada perpindahan ke tingkat yang lebih tinggi atau lebih rendah. Contoh, seorang guru naik jabatannya jadi seorang kepala sekolah… ” Mr. Killer mulai menjelaskan sesuatu yang tak kupahami. Aku tak mau ambil pusing. Yang pasti, aku harus keluar dari sini secepatnya!

Tiba-tiba terlintas di kepalaku ide konyol yang sering ditampilkan di drama-drama sekolah. Konyol memang. Tapi apa salahnya dicoba?

Perlahan, aku merosotkan badanku ke bawah, sambil sesekali mengawasi keadaan kelas. Menahan gugup, kumasukkan kepala ke bawah meja, merangkak pelan dan menatap pintu belakang berdebar-debar.

” Kau! ” suara dingin, tajam, penuh wibawa menginterupsi perhatianku. Rasa takut menjalar ke seluruh tubuhku.

Aku mengangkat kepala dan tubuhku lalu duduk lagi, tak berani menatap wajah–apalagi mata–Mr. Killer yang sudah berdiri di samping bangku yang kududuki tadi.

” Berani sekali kau mengabaikan penjelasanku! ”

Aku mengedip kaget.

” Aku tahu kau bukan anak Social! Dan kau berani menyusup kemari, juga tak memperhatikan pelajaranku! Jangan harap kau bisa lolos! ” bentaknya lagi. ” Keluar dari kelasku sekarang atau kupanggilkan Kepala Sekolah!!! ”

” N-ne Songsaengnim. ”

Aaaaaaaaargh!

Terbirit-birit aku keluar, berlari ke kelasku sendiri. Dari jendela, sekilas kulihat Myunghee menjulurkan lidah mengejek padaku. Huh! Sudah tahu calon suaminya tertimpa kemalangan, masih tega dia mengejek.

Beberapa hari kemudian, terbuktilah ancaman Mr. Killer. Aku dihukum wali kelasku menggantikan piket teman-teman selama tiga hari.

” Butuh relawan? ” tanya Donghae. Aku menggeleng. Well, ini salahku, aku yang harus bertanggung jawab. Bukan Donghae.

” Tak perlu. Biar kukerjakan sendiri. ”

” Yeah, sebenarnya aku juga bukannya mau membantumu. Hanya basa-basi. ” ujarnya santai. Apa? Oh ya ampun… ” Tapi noonamu ini yang sebenarnya ingin membantu. ”

Dari balik tubuh Donghae, Myunghee menyembulkan kepalanya menatapku.

” Bolehkah? ” tanyanya.

” Ani. Ini hukuman buatku, bukan buatmu. Ini tanggung jawabku. ” tolakku tegas. Myunghee mengerjap. ” Dan mau ditaruh di mana wajahku kalau aku tak bertanggung jawab–apalagi aku ini laki-laki? ”

” Dia benar, Nona Lee. ” suara seseorang menginterupsi obrolan singkat kami. Suara tajam nan familiar milik Mr. Killer datang dari belakang tubuhku. Aku berbalik. Dan memang benar. Dia sudah berdiri tepat semeter dariku.

Whoah!! Menyeramkan!! Apa dia sejenis hantu? Aku tak mendengar langkah kaki maupun tanda-tanda kehadirannya. Uuuu, bikin merinding saja!

” Dan kau perlu dihukum juga, Nona Lee. Menawarkan bantuan pada tersangka adalah kesalahan. Sekarang ikut ke ruanganku. ” lanjutnya tanpa jeda. Myunghee melongo, lalu cepat-cepat mengekor. Aku menatapnya khawatir. Hukuman apa yang akan ia terima? Semoga bukan hukuman fisik sepertiku.

Lima belas menit berlalu. Aku sudah menyelesaikan tugasku dan menunggu Myunghee di luar ruang guru selama lima menit. Tapi ia belum keluar juga. Aigoo… Sebenarnya apa hukumannya?

Aku tak tahan lagi. Kecemasanku memuncak.

Tok tok tok!

” Choesonghamnida Songsaengnim. ” aku masuk. ” Apakah Myunghee sudah selesai? Omo!! ”

Aku terbelalak.

————————

” Ya!! Lepaskan aku! ” teriak Myunghee sambil mengibaskan tangannya. Aku tetap menyeretnya tak peduli.

” Hyukjae-ya!! Kau tuli atau apa? ”

Aku berhenti. Kupandang ia dengan sejuta rasa kecewa yang membuncah.

” Kau! Bagaimana bisa kau tertawa selepas itu sementara aku menunggu dan khawatir akan nasibmu?! Bagaimana bisa kau santai-santai saja bercengkerama dengan dia?! Teganya kau! ” semprotku emosi.

” Ya! Aku mana tahu kalau kau masih menungguku? Lagipula kami mengobrol melepas lelah! Aku membantunya merecaps data nilai seluruh anak Social! Dia membuatkanku minum sebagai ucapan terima kasih! Cuma itu! ” dia membela diri. Atau membela si killer sialan itu?! Argh! Sial!

” Apa kau tak curiga dia menaruh obat atau racun di minumanmu? Berpikirlah Myunghee! Tak ingatkah kau; dia saingan Jihyun-hyung semasa hidup dulu? Teganya kau mengkhianati kakakku! Bisa-bisanya kau berakrab-akrab ria dengannya! ”

” Dia tak seburuk itu Hyukjae! Dan Oppa dan Kim Songsaengnim sama sekali tak bermusuhan! Kau berlebihan! Kau cemburu!! ” bentaknya balik. Dia meneruskan dengan lirih. ” Kenapa kau bawa-bawa nama Jihyun-oppa dalam masalahmu? ”

” Karena wasiatnya, Myunghee. ”

” Mwo? ”

” Wasiat terakhirnya. Dia memintaku untuk menjagamu dan mencintaimu. Jangan lupa, aku ini adiknya. Orang yang paling ia percaya dibanding siapa pun. ” kataku lugas.

” Mwo?! Kau? ”

–TBC–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s