My (Step) Mother Part 9A

My (Step) Mother Part 9A

image

Cast: Kim Kibum, Lee Hyukjae, Han Gaeun (OC), Lee Myunghee (OC)

Rating: PG-15

Genre: Married-life

——————–

” Apa maksud semua ini? ” tanya Kibum tak paham.

© queensarap.wordpress.com

” Lakukan saja yang kubilang. ” ulang Hyukjae. Myunghee mendesis, menyuruh Kibum dalam diam agar menuruti perkataan Hyuk. Tanpa tahu menahu, Kibum menurut saja. Pikirnya juga, tak baik mengumbar emosi di pemakaman.

” Annyeonghaseyo, A-appa Eom-ma. Kibum imnida. ” ucapnya gamang.

Hyukjae terus berbicara, bermonolog dengan gundukan tanah tempat beristirahat Kim Jongwoon. Dia mengenang masa-masa remaja mereka dengan air mata yang mengucur deras tanpa henti. Hingga suaranya terdengar sumbang dan jelek.

Udara mulai menusuk kulit Myunghee. Sudah sekitar setengah jam mereka di tempat itu. Ia mengusap-usap lengannya yang terbuka, mencoba mengusir dingin yang merasuk hingga ke sumsum tulangnya.

” Kami pulang dulu Jongwoon-ah. Istri-istriku sudah kedinginan sepertinya. ” pamit Hyukjae pada nisan di hadapannya. Ia lalu membungkuk ke arah tiga nisan lainnya. ” Kami pulang dulu, Hwayoon-ssi, Abonim, Eommonim. Kapan-kapan kami akan berkunjung lagi. Sampai jumpa. ”

Mereka kembali ke mobil dalam diam. Di perjalanan pulang juga tak seorang pun membuka mulut. Hanya sesekali terdengar Hyukjae membersit hidungnya dengan tissue. Kibum mulai menduga-duga, tapi masih tak yakin. Sebenarnya apa yang terjadi?

” Appa… ” ucap Kibum memecah kesunyian.

” Kita bahas nanti di rumah, Kim Kibum. ” Hyukjae menjawab dingin dengan suara bergetar. Myunghee merasa miris, dia tahu Hyukjae menahan perih di dadanya saat berbicara tadi.

” Jangan bercanda Appa. Namaku bukan ‘Kim Kibum’. Sejak kapan margaku berubah dari Lee menjadi Kim? ” tukasnya tak peduli. Hyukjae diam tak menyahut, hanya mengeraskan rahangnya menahan emosi. ” Noona. Aku yakin kau tahu sesuatu. Katakan padaku. ”

” Jangan katakan apa pun, Myunghee, Gaeun. Biar nanti aku yang urus. ”

Myunghee menatap Gaeun, yang balik menatapnya. Mereka berdua sama-sama cemas dengan keadaan Kibum dan Hyukjae.

Setelah melintasi jalanan Seoul yang sudah tak seramai tadi, mobil mereka berbelok ke gedung apartemen mewah yang dihuni Myunghee. Hyukjae mengantarnya pulang, besok sekolah, katanya.

” Besok biar Eonnimu yang mengantarmu ke sekolah. ” sambung Hyukjae. ” Well, atau kalau kalian ingin shopping, boleh juga membolos. ”

” Oke Oppa, Eonni. Aku masuk dulu. Jaljayo. ” kata Myunghee memasang senyum. Dia turun dari mobil, melambai sebentar, lalu bergegas masuk ke dalam gedung. Mobil Hyukjae kembali berjalan setelah Myunghee hilang dari pandangan.

Myunghee melangkah menuju lift dengan perasaan tak menentu. Takut, cemas, panik, semua campur aduk. Beruntung, tak perlu menunggu lama pintu lift terbuka begitu ia menekan tombol. Ia masuk, dan memencet tombol 17.

Sembari menunggu, ia mengirim pesan ke Gaeun.

” Eonni, bagaimana di mobil? Apa yang terjadi? Tak ada masalah ‘kan? “ tulisnya. Semenit kemudian Gaeun membalas.

” Tidak. Tak ada yang berbicara sejak tadi. Membuatku merinding saja. Suasananya tegang. Aku tak tahu bagaimana nanti saat di rumah.”

” Semoga semua beres Eonni. Aku berdoa di sini.”

” Eoh. Kau juga. Segeralah tidur. Besok kita shopping. Mumpung Hyukjae Oppa sedang bermurah hati pada kita untuk menghabiskan uangnya. 😉 “

” Ne Eonni jalja.. “

Ia menaruh ponselnya di tas. Tepat pada saat itu pintu lift terbuka, sudah sampai di lantai 17, tempat apartemen Myunghee berada. Myunghee bergegas keluar dan berjalan ke apartemennya.

———————-

Hyukjae’s home…

” Appa. Ada apa ini? ” tanya Kibum begitu mereka sampai. Mereka duduk di sofa ruang keluarga. Hyukjae menahan rasa gugupnya, menahan ketakutannya. Menyingkirkan rasa khawatirnya dan menjelaskan perlahan tentang jati diri Kibum sebenarnya. Dengan hati-hati ia berbicara, menghindari kata-kata yang sekiranya bisa menyinggung perasaan Kibum.

” Ya Kibum-ah. Kau bukan anak kandung kami. Margamu memang bukan Lee. Namamu Kim Kibum, putra tunggal Kim Jongwoon, penyanyi terkenal itu, sahabatku sejak SMA. ” ungkapnya.

Kibum terbelalak. Ia mendengarkan cerita Hyukjae dengan rasa shock hebat mengguncang dadanya. Tubuhnya panas dingin, keringat mulai menetes dari pelipisnya.

” Kenapa… Baru sekarang… ”

” Aku tak siap jika harus kehilanganmu. Meski kau hanya anak angkat kami, tapi sudah seperti anak kandung kami sendiri. Kau satu-satunya anak yang kami miliki. Tak terbayangkan bila kau tak bersama kami lagi. ”

Kibum tak mampu berkata-kata. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam, ” Tidak… Tak mungkin… ”

” Maafkan kami, Sayang. ” sambung Gaeun. ” Kami egois ingin memilikimu sebagai anak seutuhnya. Lupa bahwa kau juga harus tahu keluarga kandungmu. Tapi kami menyayangimu. Lebih dari apa pun. ”

” Aku… Butuh waktu… Jangan ganggu. Aku harus berpikir. ”

Kibum berjalan gontai ke kamarnya. Pikirannya melayang tak tentu arah. Jadi, orang yang selama ini ia panggil ‘Appa’ dan ‘Eomma’ bukanlah orang tua kandungnya? Bagaimana ini semua bisa terjadi?

” Jadi, aku yatim piatu. Kakek-Nenek juga sudah meninggal. Tak ada lagi yang kumiliki. Tak ada siapa pun. “

Kibum berbaring di ranjang mencoba berpikir jernih. Tanpa ia sadari, air mata mulai membasahi bantalnya.

” Aku benar-benar anak durhaka. Mana ada anak yang tak mengenali orang tuanya sendiri? “

Hatinya sesak. Pergulatan batinnya seolah tiada akhir. Bahkan Myunghee sudah terhapus dari pemikirannya, terdesak oleh rasa terkejut yang sangat.

” Ugh… Sakit… Sesak… “

Menjelang tengah malam, ia tertidur karena lelah menangis dan berpikir.

—————–

Paginya, Kibum bangun dengan perasaan kacau. Rasanya ia ingin minggat dari rumah yang selama ini ia tempati. Atau ia memang benar-benar harus hengkang dari sini?

Dia keluar dari kamarnya dengan rambut yang masih berantakan. Mulut juga masih bau. Terasa bagaikan sedang mengulum obat pahit, membuat perutnya mual. Tergesa ia berlari ke kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka.

Di ruang makan Gaeun dan Hyukjae sudah duduk di depan meja. Piring dan menu sarapan sudah tersaji, tapi belum satu pun makanan mengisi piring mereka. Dengan gelisah mereka menunggu Kibum.

Kibum muncul tak lama kemudian dengan wajah lebih segar dan emosi yang lebih tenang. Wajahnya makin rupawan dalam keadaan serius begitu, tak heran jika banyak yeoja tertarik dan jatuh hati padanya. Well, kecuali Myunghee tentu, yang condong lebih suka gusi mulus Hyuk. Menurutnya gusi Hyuk manis sekali.

” Selamat pagi. ” sapanya ke Hyukjae dan Gaeun seperti biasa. Dia duduk di kursi yang biasanya juga, namun tatapannya segera beralih ke piring kedua orang tua angkatnya tersebut.

” Kenapa masih kosong? ” tanyanya heran. ” Biasanya sebelum aku duduk makanan sudah tertata di piring masing-masing. ”

Hyukjae dan Gaeun berpandangan, merasa takjub Kibum tak marah pada mereka. Gaeun buru-buru mengisi piring mereka bertiga dengan nasi dan lauk pauk serta menuangkan masing-masing segelas susu untuk mereka. Dia terdiam sejenak.

” Kibum-ah… Kau… Tak marah pada kami? ” Gaeun balik bertanya hati-hati.

Kibum mengangkat bahu acuh tak acuh. Dia mengambil jatahnya lalu berkata, ” Entahlah. Aku tak merasakan apa pun. ”

Setelahnya tak ada obrolan lagi, dan mereka makan dalam diam.

—————

Myunghee dan Gaeun main seharian. Ke mall, Lotte World, juga ke salon. Mereka benar-benar memanfaatkan kesempatan emas ini, biasanya Hyukjae tak sedermawan ini pada mereka.

Mereka pulang ke apartemen Myunghee. Hyukjae masih di kantornya, sementara Kibum mengurung diri di kamar dan berpikir. Menurut Gaeun pasti rumah sepi dan suasananya tak lagi nyaman, jadi ia memutuskan untuk istirahat di tempat Myunghee barang sebentar.

” Bagaimana kondisi anak itu, Eonni? ” tanya Myunghee seraya duduk di sofa di samping Gaeun.

” Yah. Begitulah. Dia sangat shock saat tahu kebenarannya. ” Gaeun menghela napas berat. ” Tapi anehnya, pagi tadi sikapnya sama saja seperti biasa. ”

” Well, setidaknya ia tak mengamuk atau pergi dari rumah atau semacamnya. ”

” Geuraesseo. Itu segi positifnya. Negatifnya, kita jadi tak tahu apa yang ia rasakan. ”

Myunghee mengangguk paham.

” Ah, sudah hampir malam Myunghee-ya. Aku pulang dulu. ” pamit Gaeun. ” Lain kali kita jalan-jalan lagi ya? Asyik sekali hari ini. ”

” Ne Eonni, hati-hati. Eh? Belanjaanmu? ”

” Tadi di bagasi mobil. Sudah dulu ya. Bye. ”

” Ne bye.. ”

Sepulangnya Gaeun, Myunghee mengambil ponselnya. Dia menekan panel nomor dua, yang tiga detik kemudian tersambung ke ponsel Hyukjae.

” Oppa… ” panggilnya.

” Chagi? Ada apa menelepon? Sebentar lagi aku pulang. “ sahut Hyukjae dari seberang.

” Oppa gwaenchana? Sudah makan? ”

” Ne tak perlu cemas. Tidak, aku belum makan. Masaklah sesuatu, aku ingin makan masakanmu. Sudah lama kau tak memasak untukku. ”

” Ne Oppa. Aku tunggu di rumah. ”

” See you, Chagi… Aku meluncur sekarang. “

” Nee.. ”

Myunghee memutus sambungan telponnya, lalu mengambil beberapa bahan makanan di kulkas dan mulai mengolahnya.

Sementara Myunghee disibukkan dengan acara masaknya, Kibum masih melamun di ranjang kamarnya. Dia masih tak tahu harus bagaimana.

” Kibum-ah. ” panggil Gaeun pelan sambil mengetuk pintu kamarnya. ” Eomma masuk ya? ”

” Ne, Eom…ma.. ” jawabnya ragu. Ah, ia bahkan bingung bagaimana ia harus memanggil Gaeun dan Hyukjae setelah tahu siapa dirinya. Masihkah ia punya hak menyebut mereka Appa dan Eomma?

Gaeun masuk membawa nampan berisi sepiring makan malam dan segelas air putih.

” Eomma tahu kau belum makan. Makanlah dulu. Semuanya makanan kesukaanmu. ”

Kibum hanya memandangi Gaeun dan nampan di tangannya tanpa berniat mengambilnya. Gaeun duduk di samping Kibum lalu meletakkan nampan di atas nakas.

” Makan dulu, Sayang. Kalau kau terlambat makan kau bisa sakit nanti. ” bujuknya lembut. ” Atau kau ingin Eomma suapi seperti waktu kecil dulu? ”

Kibum terdiam, ingatannya terlempar ke masa 11 tahun yang lalu saat ia masih TK. Waktu itu ia sakit dan sama sekali tak ada makanan masuk ke lambungnya. Hanya air putih hangat, dan itu tak membuatnya kenyang. Padahal ia sangat lapar, tapi mulutnya pahit rasanya, membuatnya tak selera makan. Eommanya–Gaeun–membuatkannya bubur gurih dan menyuapinya dengan telaten. Juga merebuskan biji kacang hijau ditambah gula, lalu airnya dituang di gelas. Enak sekali.

” Air kacang hijau ini bagus untuk kesehatan Kibum-ah. Selain itu, rasanya enak, baik hangat maupun dingin. ” terang Gaeun waktu itu.

Kibum teringat itu semua. Air matanya lolos begitu saja merasakan kasih sayang pasangan suami istri keluarga Lee selama ini.

” Kibum-ah, gwaenchanayo? Neo apayo? ” tanya Gaeun penuh kekhawatiran. Kibum menatap Gaeun; matanya penuh sorot permohonan.

” Apakah… Apakah aku.. Masih boleh memanggilmu ‘Eomma’ ? ”

–TBC–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s