FIRST LOVE:LAST LOVE Part 6 [END]

FIRST LOVE:LAST LOVE Part 6 [END]

image

Main cast:  – Lee Hyukjae

-Lee Myunghee (OC, anggap aja readers)

Support cast: -Lee Donghae

                          -Find by yourself

Length: continued

Genre: Romance, a little bit humor.

Rating: PG-13

Tag: Eunhyuk, Lee Hyuk Jae, Lee Donghae, Kim Kibum

——————-

” Aku tak ingin menikah dengan Hyukjae, Abonim. ”

Apa katanya? Tak ingin menikah denganku?

” Kau yakin, Nak? ” tanya Eomma.

” Apa orang itu lebih baik daripada putra kami hingga kau menolak perjodohan ini? Apa dia bisa membuatmu lebih bahagia ketimbang bila kau menikah dengan Hyukjae? ” Appa juga ikut bertanya.

” Aku meyakini keputusanku Abonim. Bukan berarti Hyukjae lebih buruk dari pria itu. Aku juga belum tentu menerima lamarannya. Tapi, keputusanku untuk menolak perjodohan ini sudah bulat. ” kata Myunghee mantap. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Gadis ini benar-benar… haish!!

” Ya! Kau ini keterlaluan sekali. Apa tak ada lagi perasaanmu yang dulu untukku? Apa tak bisa kau tumbuhkan rasa itu padaku? ” sahutku setengah mencibir. ” Katamu aku ini cinta pertamamu. Harusnya kau tak bisa melupakanku dengan semudah itu, bukan? ”

” Itu masa lalu Hyuk-ah. Sekarang berbeda. Kau tahu? Hati manusia bisa saja berubah dalam waktu kurang dari sedetik. ” jawabnya santai.

” Kau, benar-benar yakin? Sudah mantap, tak ingin menikah dengan putra kami? ” Eomma bertanya lagi. Entah sudah berapa kali Eomma menanyakan ini.

” Nde, Eommonim. Karena itu, aku juga memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuaku. Jeongmal gamsahamnida, sepeninggal Jihyun Oppa aku tetap diperlakukan sebagai anak, dan aku juga sudah banyak merepotkan kalian semua. Aku bahkan menolak kebaikan hati Abonim dan Eommonim–menolak perjodohan ini. Untuk itu semua aku mohon maaf. ”

Kedua orang tuaku mengangguk paham. Sementara aku, melongo tak bisa melakukan apa pun.

————-

Next morning…

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Gara-gara mimpi buruk, aku jadi tak nyenyak tidur. Ugh sial!

Kuputuskan untuk sikat gigi dan cuci muka sebelum aku pergi jogging di kompleks rumahku.

” Wah! Tumben sepagi ini kau sudah bangun, Hyukjae-ya. ” sapa Myunghee saat aku melewati pintu kamarnya. Pandanganku seketika tertuju pada tiga buah koper di samping kakinya. Aku langsung teringat perbincangan kami malam tadi, penyebab utama mimpi burukku.

” Kau, pulang pagi ini? ” tanyaku. Dia mengangguk sambil tersenyum kecil.

” Mana bisa aku merepotkan kalian lebih lama lagi jika aku sudah dipastikan bukan anggota keluarga ini? Yaa. Aku ini masih punya urat malu. ”

” Tak bisakah kau pikirkan lagi? Aku serius padamu. ” tawarku sedikit memohon. Dia menggeleng pelan, membuatku menghela napas pasrah.

” Tak ada lagi yang tersisa kecuali kenangan, Hyukjae-ya. Jeongmal mianhe. I can’t help. ”

….
….

….

….

Hei.

Apa ini nyata?

Bukan mimpi?

Dia betulan menolakku?

Aku mungkin berhalusinasi…

Seseorang…

Tampar aku!

PLAKK!!

” Ya!! Apo!! ” teriakku. Arghh! Pipiku pasti sudah berstempel merah bentuk tangan. Auw!! Neomu apo! Siapa sih, yang menamparku?

© queensarap.wordpress.com

Kudapati Myunghee bersedekap di depanku.

” Kau bilang kau minta ditampar. Ya kutampar saja pipimu. Hahaha! ” tukasnya. Aku bersungut-sungut.

” Hei. ” panggilku.

” Ne? ”

” Kapan pun. Datanglah padaku kalau kau berubah pikiran. Aku akan memelukmu tanpa ragu. Dan tak ‘kan kulepas sampai kita dipisahkan oleh sepetak tanah. Aku janji padamu. ” ucapku penuh keyakinan.

” Ani, Lee Hyukjae-ssi. ”

Mwo?! ” Ssi?

” Aku tahu keputusanku ini tak akan berubah. ”

————–

10 years later….

” Hyukjae! ” teriakan membahana memenuhi seluruh rumah. ” Hyukjae! ”

” Ne Eomma! ”

Aku bergegas menuruni anak tangga menuju ruang depan di mana teriakan itu berasal.

” Waeyo Eomma? ”

” Igo igo. Ada telepon untukmu. ” tangan Eomma mengangsurkan gagang telepon rumah padaku.

” Nugu? ”

” Church tempatmu bekerja. Itu tuh, apa namanya? St. George Cathedral? ”

” Haish.. Sudah kubilang telepon saja ke ponselku. Kenapa mereka masih saja menelepon ke telepon rumah? ” keluhku. Sedikit malas, kuletakkan gagang telepon ke telingaku.

” Yeoboseyo? Lee Hyukjae imnida.. ”

” Ini aku, Jang Hae Kyung. Pastor Lee, akhir pekan ini jangan lupa datang ke church pukul delapan pagi. “

” Ya waeyo? Hari Minggu besok bukan hari dinasku. ”

” Ne arayo. Besok memang aku yang dinas, tapi aku ada keperluan mendadak. Tolong kau gantikan aku ya? “

” Hei, mana bisa begitu. Aku… ”

” Ah kau ini. Besok ada yang mau menikah di church kita. Sudah ya, kuanggap kau setuju menggantikanku besok. “

PIIIIIP

” Tsk! Dia selalu begitu. ” desahku pelan seraya menaruh gagang telepon.

” Kenapa? ” tanya Eomma heran.

” Biasa Eomma. Jang Pope. Minta digantikan besok Minggu. Dia selalu seenaknya menyuruh orang. ” jawabku. ” Jadi aku tak bisa mengantar Eomma ke rumah Halmoni. Mianhe. ”

Eomma tersenyum dan mengangguk.

—-

Akhir pekan. Pagi-pagi aku sudah bersiap dan sarapan mendahului Appa dan Eomma. Ini sudah setengah tujuh, aku harus bergegas. Perjalanan antara rumah dan church memakan waktu satu jam. Aku harus datang lebih awal karena mengawasi persiapan pernikahan, meski nantinya di church sang pengantin cuma mengucapkan janji saja, tidak diikuti acara resepsi. Tapi tetap saja ada hal-hal yang diperlukan saat acara sakral itu. Dan sudah semestinya jika aku mengecek dan memastikan apakah semuanya sudah pas atau belum.

Sejam berlalu. Sampailah aku di parkiran St. George Cathedral. Aku turun dari mobil dan berjalan cepat ke arah belakang gereja. Dan seperti yang sudah kubilang, aku mengecek semua hal.

Pukul delapan para tamu mulai berdatangan. Mereka masuk ke dalam dengan santun. Bangku-bangku mulai penuh. Ketika itulah pengantin pria berjalan pelan ke meja altar. Dia berjalan penuh wibawa. Aku yang berdiri di belakang meja, menghadap para tamu, merasa tak asing dengan wajah mempelai pria ini.

Tapi, di mana aku melihatnya? Siapa pria ini? Siapa? Apa aku mengenalnya?

Aku masih sibuk bertanya-tanya dalam hati, terus berusaha menggali potongan-potongan ingatan tentang pria di depanku. Aku benar-benar merasa familiar.

Di ujung ruangan, seorang pria lain yang sudah berumur, menggandeng mempelai wanita, yang kutebak adalah putrinya. Mereka berjalan beriringan dengan backsound lagu pengiring pengantin ke arah meja altar.

Aku membuka data kedua pengantin yang terletak di samping Al Kitab.

Nama: Kim Kibum

Kim Kibum? Kim Songsaengnim? Killer Songsaengnim? Jadi dia yang menikah?

Nama: Lee Myunghee

Dia… Menikahi… Myunghee?

Ah…
Pantas saja aku familiar dengan wajah mereka.
Hahaha.
Tapi, kenapa rasanya aku kecewa?

Mempelai wanita–Myunghee–tiba di depan altar. Dia dan Killer-nim bersitatap mesra, membuat dadaku panas.

” Bisa kita mulai? ” kataku, mencoba mengendalikan hatiku. Dua pengantin di depanku nampak sedikit kaget. Kurasa mereka sudah mengenaliku.

———————–

” Hyukjae-ya. ” panggil Myunghee pelan. Dia berjalan ke arahku didampingi Kim Kibum.

” Hai. Tak kusangka akulah yang menikahkan kalian berdua. ” jawabku berusaha ramah.

” Haksaeng. Akulah yang terkejut. Kau benar-benar bertobat? Aku masih tak percaya kau jadi pendeta sekarang. ” canda Kim Kibum.

” Songsaengnim, aku bukan haksaeng lagi. Seharusnya Anda menyebutku Pastor-nim. ”

Dia tergelak mendengar ucapanku.

” Aku ke sana dulu, Yeobo. Berbincanglah dengannya sebentar. Sepuluh menit lagi kita berangkat ke tempat resepsi. ” Killer-nim berjalan menjauh, memberikan ruang bagi kami untuk berbincang secara pribadi.

Aku diam, begitu juga Myunghee. Dia hanya, memandangiku dari atas sampai bawah. Sepertinya masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

” Ini… Sungguhan kau, Hyukie? ”

” Mm. Masihkah kau merasa ini bukan aku? ”

Dia mengangguk.

” Padahal aku sudah menikahkanmu. Aku juga masih mengenakan pakaian resmiku sebagai kepala pendeta dan biarawan sekarang. ” aku mencoba melucu. Myunghee hanya tersenyum hambar.

” Mianhe Hyukjae-ya. Jeongmal mianhe. ” katanya penuh sesal. ” Pasti gara-gara aku kau memutuskan untuk jadi pendeta sekaligus biarawan. ”

” Well, bohong kalau kubilang tidak. Geuraeyo. Neo ttaemune. ” jawabku santai. Dan wajahnya jadi muram mendengar ucapanku tadi. ” Ya! Kau ini baru saja menikah! Jangan pasang wajah jelek begitu! Tuhan tak suka! ”

” Hajiman… ”

” Ck! ” sergahku. ” Sudahlah. Tak usah menyesali masa lalu. Lagi pula, kalau dulu kau memaksakan diri menikah denganku, kau juga tak ‘kan bahagia. Aku pun begitu. ”

” Sungguh? Apa kau, tak apa-apa? Maksudku, setelah waktu itu? ”

” Yah, aku memang sempat down. Tapi, di situlah aku menemukan titik balik kehidupanku. Aku banyak merenung. Dan kuputuskan untuk jadi pelayan Tuhan dan hidup melajang. Awalnya memang berat, tapi aku lebih bahagia dengan hidupku sekarang. Ahahaha…
Tak kuduga aku begitu cepat jadi kepala pendeta di distrik ini. ”

Aku mengambil nafas sejenak. Kacamata yang bertengger di hidungku kulepas, lalu kumasukkan ke jas hitam resmiku.

” Jangan menyesali masa lalu, Hee-ya. Masa lalu bukan untuk disesali, tapi ada agar kita bisa mengambil pelajaran darinya, agar kita tak mengulangi kesalahan yang sama. ”

Myunghee mengangguk, lalu berpamitan. Aku melambai ke arahnya, yang sudah berlari kecil melintasi halaman menuju mobil pengantin. Aku menghela nafas panjang–lagi.

” Satu lagi, Hee-ya. ” aku bergumam sendiri. ” Keputusanku untuk melajang, itu karena kau… Adalah cinta pertama, sekaligus cinta terakhir bagiku. ”

–END–

Au.’s Note: Wawawawawa akhirnya ff ini end jugaa… Gimana nih end nya? Gaje yah? Huhuhuhu mian jeongmal mianhe author idenya belok-belok… #getokgetokpala
Dan gak jelas juga ini nih happy end or sad end.. Author juga bingung…

RCL please yah readers… Mmmmwahhh saranghaeee…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s