My Lil’ Bride Part 3

My Lil’ Bride Part 3

image

Cast:
-Kim Kibum SJ as Kim Kibum
-Lee Yo Won as Cho Yong Eun

Side Cast:
-Cho Kyuhyun SJ as Cho Kyuhyun (Yong Eun’s Daddy)
-Kim Nam Gil as Kim Nam Gil ( Kibum’s Daddy )
-Kim Jong Woon SJ (Yesung) as Kim Jong Woon

Genre: Romance
Rating: PG-15

————

” Apa?! ” Yong Eun merespon dengan terkejut.

” Kau tak salah dengar, Sayang. Pernikahan. Pernikahan kita. ”

” Wah! Bagus sekali! ” sambung Ny. Cho antusias. ” Aku sudah menunggu-nunggu kapan kita akan merembugnya. Oke! Kami pasti datang! ”

Yong Eun terkejut sejadi-jadinya. Pernikahan? Yang benar saja! Dia bahkan baru mau ujian kenaikan kelas! Lulus juga masih setahun lagi. Kenapa dini sekali mem-planning pernikahan? Lagipula, dia juga tak tahu pasti soal hati dan cintanya.

Wait a sec. ! ” potongnya. ” Hey! Aku bahkan belum bilang ‘yes I do’ atau sejenisnya. Ini keputusan sepihak! ”

” Kau sudah mengatakannya. Baru saja. ” timpal Kibum bermaksud berseloroh. Ah, meski tentu saja, ekspresinya tetap datar mirip papan triplek.

Ny. dan Tn. Cho tertawa ringan.

” Apa yang membuatmu keberatan, Sayang? ” tanya Cho Kyuhyun. ” Appa rasa dia cocok untukmu. Dia tampan, cerdas, tahu sopan santun, dan sejauh yang Appa lihat, dia menjagamu dengan sungguh-sungguh. Masih kurang apalagi? ”

” Juga berasal dari keluarga terhormat. ” Ny. Cho menimpali.

” Tapi… Tapi… ” Yong Eun kebingungan–lagi. Semua yang dibilang kedua orang tuanya itu benar. Dia juga bukannya tak nyaman berada di dekat Kibum. Hanya saja… Ah! Tak tahu lah!

” Tapi… ” lanjutnya. ” Ya! Jarak usia kami Eomma! Benar, benar! ”

Aih, ide yang mendadak muncul saat keadaan terjepit rupanya. Euleuh euleuh Cho Yong Eun…

” Coba kalian hitung. Aku masih 17 tahun sementara dirinya 30 tahun! Ya ampun! Jarak usia kami 13 tahun Eomma! Appa! ”

Kibum diam menyimak. Dia tahu, dia tak perlu bicara banyak-banyak. Toh orang tua Yong Eun ada di pihaknya. Buat apa membuang napas menanggapi ocehan tak jelas remaja satu ini, sementara nantinya pasti anak itu mau juga menikah dengannya tanpa dipaksa? Garis bawahi: tanpa dipaksa!

” Ah kau ini kolot sekali Yong Eun-ie. ” jawab eommanya santai. ” Eomma dan Appa bahkan 20 tahun jarak usianya. Kau pernah dengar pepatah ‘cinta itu buta’ ? Yang beginilah maksudnya. Tak memandang harta, usia, wajah, jabatan; kalau sudah cinta, ya cinta saja. ”

” Benar. Begitu saja kok repot. ” Kibum menyahut santai. Yong Eun memanyunkan bibirnya.

” Kau bukan Gus Dur, Oppa! ”

Hei! Sejak kapan seorang Cho Yong Eun tahu nama Presiden Indonesia yang kocak itu?

© queensarap.wordpress.com

——————–

Malam berikutnya, dua keluarga itu bertemu di salah satu restoran mewah favorit Kibum di kawasan Myungdong. Sebuah restoran dengan masakan Spanyol sebagai menu utamanya. Menu yang jadi kesukaan Yong Eun juga.

Dengan gaun pendek tanpa lengan sederhana berwarna peach lembut, riasan natural, dan rambut yang digelung ke atas asal-asalan–well, yang terakhir ini adalah artwork Ny. Cho yang rumit, tapi beginilah pendapat Yong Eun soal rambutnya–Yong Eun duduk manis di seberang kursi Kibum, memakan Paella tanpa banyak kata. Sesekali ia menanggapi komentar para orang tua di sekitarnya dengan jawaban pendek, sesekali juga mencuri-curi pandang ke arah Kibum dan menatapnya lama-lama, lalu kembali memperhatikan obrolan pasutri Kim dan Cho saat Kibum hampir memergokinya.

” Aku tak ada masalah apa pun dengan Kibum Oppa (oh dia mulai biasa menambahkan ‘Oppa’ di belakang nama Kibum!!), aku juga tak keberatan sama sekali bila menikah dengannya, aku tahu ia pria baik. Tapi, kenapa aku harus mati-matian berpura-pura menolak perjodohan ini? Ini aneh! “ pikirnya. Ah, cuma masalah gengsi rupanya.

” Jadi, bagaimana menurut kalian? ” tanya Kim Nam Gil. Kibum tersenyum setuju, sementara Yong Eun mengerutkan keningnya.

” Maksud Ahjussi? Ah, joesonghaeyo, tadi sepertinya aku melamun. ”

” Tsk! Kau ini! ” desis Ny. Cho.

Nam Gil tersenyum geli mendengar pertanyaan calon menantunya.

” Jangan panggil aku ‘Ahjussi’. Aku ini ‘kan ayahmu juga, Yong Eun-ah. Seharusnya kau panggil aku ‘Abonim’. ” kekehnya. ” Tadi kami membicarakan tanggal pernikahan kalian, dan kami memutuskan kalian akan menikah tanggal 13 bulan depan. Menurutmu bagaimana? Kibummie sudah setuju. ”

Myunghee terbelalak menatap Kibum.

” Well, lebih cepat lebih baik. Bukankah begitu, Eommonim? ” sambung Kibum seraya menoleh ke arah Ny. Cho.

” Tentu saja. ”

Dan yah, tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Lima suara lawan satu suara, sudah jelas ‘kan, mana yang menang?

——————–

Dua pekan berikutnya jadi pekan yang menyibukkan bagi Yong Eun dan Kibum. Mulai dari mencari gedung pernikahan, memesan gaun pengantin, membuat daftar tamu undangan sekaligus memesan kartu undangan dan menyebarkannya, membeli cincin, juga mendaftar ke pencatatan sipil. Memang sih, orang tua mereka yang mengurus, tapi pada akhirnya sama saja. Mau tak mau mereka berdua terlibat juga. Ini ‘kan memang pernikahan mereka.

Hari ini tak sepadat jadwal di hari kemarin-kemarin, hanya fitting gaun saja. Para ibu menyertai mereka ke desainer kesohor di Seoul, sementara para ayah memilih bersantai di rumah Kibum sambil berbincang ringan seputar bisnis.

Pergi dengan dua mobil, para ibu sengaja melakukannya agar kedua calon mempelai itu punya privasi jika ingin berbicara secara pribadi.

” Oppa… Apa yang kau pikirkan tentang kita? ” tanya Yong Eun tiba-tiba. Kibum yang berada di belakang kemudi menoleh sesaat, lalu menatap jalan lagi. Dahinya mengernyit.

” Maksudmu? ”

” Ya… Kita… Maksudku, kurang dari sebulan lagi kita resmi jadi, eumm, well, suami istri, yeah. ” suara Yong Eun terdengar ragu. ” Tapi, aku masih belum tahu, bagaimana perasaanmu, dan juga, bagaimana perasaanku. ”

Kibum hanya tersenyum kecil.

” Orang bilang, saat kau menikah nanti, saat hari pernikahan yang ditunggu-tunggu hampir tiba, akan ada hari di mana kau merasa bingung, ragu-ragu, cemas. ‘Sudahkah aku memilih yang terbaik?’, ‘Haruskah kulanjutkan? Atau kubatalkan saja?’, ‘ Apa aku benar-benar mencintainya?’, pertanyaan macam itu akan muncul di kepala. Biasanya calon pengantin wanita yang mengalaminya. Namanya sindrom pra nikah. Dan kurasa sekarang sedang terjadi padamu. ” Kibum menjelaskan panjang lebar. Yong Eun menyimak dalam diam.

” Kau tentu bisa membaca dan meraba hatiku. Bagaimana aku memperhatikanmu; kurasa itu lebih dari cukup sebagai sebuah pertanda bahwa aku serius. Soal membangun rumah tangga bersamamu, menghabiskan sisa umurku di sisimu, dan juga soal betapa seriusnya perasaanku. ”

Kibum mengambil jeda dalam kalimatnya. Ia lantas berkata lagi.

” Kau sudah tahu aku dengan jelas, Yongie. Akulah yang masih bertanya-tanya sampai saat ini: apakah aku yang buta hingga tak bisa melihat ke dalam hatimu, atau kaulah yang memang menutup tabir atas perasaanmu? ”

Yong Eun tak menjawab. Hanya menghela napas tak menemukan jawaban yang tepat dari pertanyaan Kibum.

” Seandainya aku juga tahu, Oppa… ” lirihnya kemudian.

” Aku tak memaksamu, Yongie. Kau boleh membatalkan ini semua kalau kau mau. Tapi, sebelum kau benar-benar melakukannya, cobalah kau rasakan, apakah relung hatimu menghangat karena keberadaanku? Apakah kau berdebar hanya karena senyumku? Atau, apa yang kau rasakan saat melihatku senang dan bahagia? Apa kau merasa bahagia juga? Bila aku terluka, apa hatimu sakit tiada terkira? Apakah kau senang dengan perhatianku? Atau yang paling ringan saja; apakah kau nyaman dan merasa aman terlindungi saat bersamaku? ”

Yong Eun menatap Kibum, masih membisu.

” Dan cobalah kau pikirkan. Bukankah takdir itu sudah ditentukan Tuhan? Termasuk soal siapa jodoh kita. ” Kibum mengambil napas.

” Soal jodoh, ada satu hal yang kuyakini, Yongie. Saat kita berencana akan menikah, dari mulai lamaran sampai semua urusan pernikahan lancar tanpa halangan yang berarti, pasti dialah jodoh kita. Dialah orang yang dipilih Tuhan untuk jadi pendamping kita. Tak mungkin Tuhan menjauhkan jodoh kita dari kita ketika sudah tiba bagi kita untuk bersatu. Itulah keyakinanku. Bagaimana denganmu, Yongie? ”

Yong Eun tercenung mendengarnya. Dalam hati, ia membenarkan penjelasan Kibum. Namun, keraguan masih saja menyelimuti hatinya. Permasalahannya bukanlah pada bahagia atau tidak nantinya, tapi apakah ia bisa menjadi istri yang baik buat Kibum? Bisakah ia mencintai Kibum dengan setulus hatinya?

Sejenak kemudian mereka sampai di toko gaun pengantin. Yong Eun turun setelah Kibum membukakan pintu dan mengulurkan tangannya. Ia meraih tangan Kibum dan keluar dari mobil dengan anggun. Helenna Kim dan Cheon Sera; kedua ibu itu sudah sampai duluan, dan saling tersenyum cerah melihat betapa mesra anak-anak mereka. Mereka jadi tambah yakin bahwa keputusan untuk menjodohkan keduanya sudah benar.

Yong Eun dan Kibum memasuki toko yang bernama La Fleur tersebut, diikuti dua nyonya di belakang mereka. Keempatnya langsung disambut salah satu karyawati murah senyum di situ.

” Silakan. Apa yang bisa kami bantu? Apakah Anda mau pesan gaun pengantin atau ada janji untuk fitting baju? ” tanya karyawati itu. Ny. Cho menjawabnya tak kalah ramah.

” Kami sudah ada janji untuk fitting sekitar lima menit lagi. Bisakah kau antar kami ke desainernya? ”

” Ah tentu. Mari ikut dengan saya. ”

Keempatnya berjalan mengikuti karyawati tadi masuk ke ruangan lain. Di situlah mereka bertemu lagi dengan si desainer kondang, Kim Rana. Tak sampai setengah jam, Yong Eun sudah berada di balik tirai dengan gaun melekat di tubuhnya.

Yong Eun terpaku memandang wajahnya sendiri di cermin. Apakah dia memang secantik ini? Ataukah ini hanya pengaruh dari keindahan gaun yang ia kenakan?

Sedikit berdebar, Yong Eun menyibakkan tirai dan menanti respon dari Kibum dan dua nyonya di hadapannya.

” Bagaimana? Apakah, aku terlihat aneh? ” tanyanya takut-takut.

Ny. Helenna Kim dan juga ibunya memujinya tak habis-habis. Sementara Kibum hanya menatapnya dalam tanpa komentar.

” Oppa? Aku, kelihatan gendut ya? Kenapa kau melihatku begitu? ”

” Hei! Bukan begitu, Darling. ” tukas Ny. Kim. ” Dia terpana melihatmu, makanya dia cuma diam dan menatapmu tanpa berkedip. You look like an angel, Darl. ”

Yong Eun memandang Kibum dan bertanya lewat pandangan matanya, ‘ Benarkah? ‘

Kibum hanya berdeham salah tingkah.

———————-

Esoknya Yong Eun masuk ke kelasnya setengah tertidur. Semalam ia tidur terlalu larut, gara-gara menemani Kibum mengobrol tentang astronomi. Topiknya juga tak banyak berubah, hanya seputar planet ini dan itu, juga kemungkinan apakah alien itu ada, dan apakah memungkinkan bagi manusia untuk transmigrasi ke planet lain.

Yong Eun menguap, lalu duduk di bangkunya dan meletakkan kepala di meja. Matanya terpejam.

Yong Eun lupa kalau jam pelajaran pertama hari ini giliran Kibum yang mengajar. Dan saat ia masuk tadi bertepatan dengan bunyi bel tanda pelajaran dimulai. Tak lama setelah ia mulai tertidur, Kibum pun memasuki ruang kelasnya.

” Selamat pagi. ” katanya memberi salam. Para siswa berdiri dan menjawab salamnya. Kecuali Yong Eun, tentu saja.

” Pagi, Songsaengnim. ”

Kibum membuka buku absensi siswa, lalu mulai memanggil nama mereka satu per satu.

” Park Hee Jin. ”

” Ada. ”

” Park Jung Hoon. ”

” Hadir. ”

Saat ia menyebutkan nama Yong Eun, siswa-siswa lain pura-pura terbatuk.

” Apa kalian batuk mendadak secara massal? ” sindirnya, namun para siswa hanya nyengir tanpa merasa berdosa.

” Cho Yong Eun. ”

Tak ada sahutan. Kibum berdiri dan berjalan ke meja Yong Eun. Dilihatnya sang tunangan tertidur lelap. Dia lantas memukul pelan kepala Yong Eun dengan pena Mont Blanc favoritnya.

” Apo… ” Yong Eun mengelus kepalanya yang terasa sakit. Ia tak tahu dan tak habis pikir; siapa sih yang berani sekali memukul kepalanya?

” Cho Yong Eun. Ireona. ” katanya tajam. Yong Eun menguap sambil mengucek matanya. ” Bagaimana bisa kau tidur di tengah pelajaran begini? Apalagi ini baru jam pertama. ”

” Oppa! Oppa tak ingat? Semalaman aku meladenimu sampai aku jadi kurang tidur begini. Tega sekali Oppa membangunkanku. ” racaunya tak sadar. Siswa lain membelalakkan matanya dan menatap Kibum sampai bola mata mereka hampir copot. Kibum menelan ludah. Dia tahu para siswa berpikir yang tidak-tidak karena mendengar ucapan Yong Eun. Berlagak tak tahu, ia bicara lagi.

” Yong Eun. Ini di sekolah. Panggil aku ‘Songsaengnim’ . ”

Yong Eun terhenyak. Sejenak kemudian ia sadar dan meringis.

” Joesonghamnida, Kim Songsaenim. ” katanya sambil membungkuk. ” Aku akan ke toilet dan mencuci muka. ”

————

H-7

Yong Eun memencet bel di pintu pagar rumah Yoora. Tak lama kemudian, pintu pagar dibuka dan muncullah seorang gadis yang kira-kira masih berumur 13 tahun.

” Annyeong, apa Han Yoora ada di rumah? ” sapanya lebih dulu. Gadis itu mengangguk.

” Ya, Eonni ada di rumah. ”

” Aku Cho Yong Eun, teman sekolahnya. Bolehkah aku masuk? ”

” Ah ye ye. Silakan. ”

Yong Eun masuk ke rumah Yoora yang minimalis. Ia merasa terkesan; meski rumah itu kecil–sebenarnya tidak bisa dibilang kecil juga, tapi memang tak sebesar rumah Yong Eun–namun penghuni rumah ini tahu bagaimana cara menata ruangan agar tak terkesan sempit.

” Tumben sekali datang ke rumah di jam seperti ini. Biasanya ‘kan, kau jalan-jalan dengan Kim Saem hari libur begini, pagi-pagi begini. ” celetuk Yoora. Dia muncul dari dalam rumah dengan nampan di tangannya. Ada dua gelas minuman di nampan itu, ditemani dua buah toples kecil berisi makanan ringan.

” Ah kau. ” tukas Yong Eun. ” Kemarin-kemarin kami terpaksa menemani dua orang nyonya fashionholic. Kami dipaksa, Yoora-ya. ”

” Akui saja kalau kau senang juga, bisa kencan dengan tunanganmu yang digilai banyak gadis di sekolah kita. ” godanya. ” Eh, omong-omong, kau ada perlu apa ke sini? ”

” Well, yeah, aku ingin melepas penat saja. Aku sedang banyak pikiran akhir-akhir ini. Ah! Juga untuk memberimu ini. ”

Yong Eun membuka tas rajut handmade miliknya dari brand terkenal the sak dan mengeluarkan sebuah amplop tebal; lebih seperti buku. Warnanya putih perak, dengan seutas pita berwarna hitam penuh taburan glitter sebagai pengikatnya. Di bagian depan amplop tebal itu tertulis:

The Wedding

김 기 범
Kim Kibum

&

초 용 은
Cho Yong Eun

Aug 13, 2014

” Kau serius, Yong-ah? Pekan depan? ” Yoora terkejut membaca tulisan di sampul undangan tersebut. Yong Eun menggumam.

” Menurutmu bagaimana? ”

” Hah? Apanya? ”

” Ya… Kau tahu maksudku. Apakah kulanjutkan atau tidak? ”

Yoora mendengus.

” Soal itu lagi? Tsk! Kita sudah berulang kali membahas ini, Yong Eun-ah. Aku bahkan sampai bosan mendengar pertanyaanmu. ”

” Oh c’mon… Aku benar-benar bingung. ”

” Sudah berapa kali kubilang padamu? Sampai sekarang masih belum tahu juga jawabannya? ” sergah Yoora gemas. ” Tanya pada hatimu. Hatimu! Jangan tanya pada otakmu! Cinta itu ada di hati! Hati, Yong Eun! Perasaan! Bukan di kepala! ”

” Aish! Oke, oke! Tapi tak perlu marah-marah juga ‘kan? ”

——————–

Sepulang dari rumah Yoora, Yong Eun lebih banyak diam. Ia berusaha mencerna nasihat Yoora tadi. Entahlah. Otaknya dengan mudah menerima ucapan Yoora, tapi tidak dengan hatinya. Ia masih merasa, hampa.

.

.

.

.

Yong Eun mendesah berat. Ia bergumam pelan sambil memainkan jari di layar ponselnya.

” Ini perlu sedikit dorongan. ”

TUUT… TUUUT…

” Yeoboseyo… ”

” Oppa… ”

” Humm? “

” Sebelum kita menikah, bolehkah aku pergi berlibur? ”

” Waeyo? Bukankah sehari setelah menikah, kita akan berangkat ke Maldives untuk bulan madu? Apa kau tak suka tempat itu? Perlu kita ganti tempatnya? Kau ingin bulan madu di mana? ”

” Ah.. Ani.. Bukan karena itu. Kita tetap akan ke Maldives. ” ujar Yong Eun cepat-cepat. ” Aku hanya ingin menyegarkan otakku sebentar. Bolehkah, Oppa? ”

” Oke. Kutemani. Kau ingin ke mana? Aku tahu seluk beluk Eropa. Aku bisa jadi pemandumu. “

” Aniya Oppa. Aku ingin pergi sendiri saja. Aku mau ke Manchester. ”

” …… “

” Aku benar-benar harus pergi sendiri Oppa. Aku akan baik-baik saja, jangan khawatir. Aku akan pulang sehari sebelum pernikahan. Oke? ”

Hening. Yong Eun tak mendengar apa pun selain helaan napas berat.

” Oppa? Kau masih mendengarku? Oppa? ”

” Oke Yong Eun. Kau boleh pergi. Kau juga boleh tak kembali kalau kau mau. Maaf sudah menjadi beban selama ini. “

” Oppa bukan begitu! Kau salah paham.. ”

TUT TUT TUT TUT

” Tsk sial! ” Yong Eun mengumpat sebal sambil melempar ponselnya ke ranjang. Seketika ia jadi tak tenang. Bagaimana bisa Kibum salah paham begini padanya? Ini tak seperti biasanya.

” Arrrgh! ”

” Ya Tuhan… ” lirihnya. ” Bagaimana aku harus menjelaskan semua ini? ”

—-TBC—-

Advertisements

2 thoughts on “My Lil’ Bride Part 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s