Drama Part 3

Drama Part 3
image

Cast:

– Kim Rana (OC)
– Lee Hyukjae
– Kim Kibum

Genre: Romance

Length: (?)

Rating: PG-15

Part 3 Part 3… ^3^

NO BASH NO PLAGIAT NO COPAS NO REBLOG W/O FULL CREDITS!!

——————————

Malam sudah hampir berakhir. Namun di sebuah desa yang jauh dari Gangnam, di pinggiran Seoul, orang-orang masih asyik dengan mimpinya masing-masing. Yang terdengar hanya suara jangkrik-jangkrik yang bersahutan, seolah saling berlomba menyanyikan lullaby yang paling ampuh membuat orang tertidur.

Deru mesin tak menyurutkan para jangkrik melanjutkan konser dini hari mereka. Tak ada masalah, mumpung matahari belum kelihatan mereka mau menyanyi sepuas-puasnya.

Sebuah mobil mewah berwarna biru pucat berhenti di depan sebuah rumah tradisional, menyisakan banyak debu di belakangnya. Untunglah ini tengah malam, jadi orang tak akan terganggu dengan debu-debu yang beterbangan ke mana-mana.

Pintu mobil terbuka. Bagasi belakang juga terbuka. Sepertinya si empunya mobil membukanya lewat tombol otomatis di bawah kemudi.

Rana keluar dari mobil tersebut. Setelah menutup pintu kemudi, ia menuju bagasi, mengambil beberapa koper besar dan menurunkannya dengan hati-hati. Sedikit kesulitan juga dia, mengingat isinya memang banyak. Entahlah. Mungkin seisi rumah ia masukkan ke koper-kopernya.

Dia mengusap lelehan air matanya yang masih sedikit tersisa di pipi. Hatinya masih terasa sakit. Dan benci. Juga dendam. Ia bersumpah dalam hati ia tak akan melupakan pengkhianatan yang Hyukjae lakukan padanya.

Perlahan ia melangkah ke pintu rumah. Sebuah hanok yang tidak bisa dibilang sederhana. Kayu-kayunya mengkilap seperti tak pernah ada debu yang bisa mengotori bangunan tradisional tersebut.

Rana menekan bel intercom.

” Siapa? ”

” Kim Rana. Kim Rana putri Kim Daesung. ”

Pintu terbuka. Rana masuk sambil menyeret dua dari keempat koper yang ia bawa. Seorang penjaga rumah membawakan dua kopernya yang lain.

————————-

.

.

.

.

.

.

Pagi ini Hyukjae tak berangkat kerja. Lagi. Sudah tiga hari dia bolos dan menyerahkan tugas-tugasnya ke sekretarisnya. Hyukjae juga tak tahu kenapa bisa begini. Seumur-umur, belum pernah dia membolos kerja dalam waktu yang lama. Baru kali ini saja. Dia juga mengabaikan panggilan-panggilan yang masuk ke ponselnya. Bahkan panggilan dari Hyewon.

Sama seperti pagi sebelumnya, begitu membuka mata Hyukjae melirik tempat kosong di sampingnya, tepatnya di sebelah kiri. Tempat itu selalu kosong sejak seminggu yang lalu.

Di situlah biasanya Rana melepas lelah setelah bekerja dan mengurus rumah seharian. Di situ juga Rana biasanya memeluk Hyukjae saat tidur. Juga di mana mereka biasa ‘bertarung’ tiap dua kali seminggu.

Hyukjae tersenyum geli. Rana tak pernah membuatnya bosan, tak pernah. Bahkan sejak mereka baru saling kenal saat di SMA, perilaku Rana selalu membuat Hyukjae tertarik. Kepribadian Rana memang berbeda dengan gadis kebanyakan. Ia benar-benar unik. Tak ada satu lelaki pun yang tak ingin memiliki Rana. Semua berlomba mendekat. Semua berusaha meraih hatinya. Bahkan Kim Kibum, pesaing Rana di bidang akademik. Ada apa dengan Kim Kibum yang congkak? Apa yang merasukinya? Tak biasanya ia rela merunduk. Ini malah merendahkan diri sendiri, menyeret adiknya yang secantik bidadari, menawarkan diri menjadi PA–personal assisstance–untuk Rana?

Para gadis lainnya juga menganggap Rana sebagai dewi pelindung mereka.

Entah sihir apa yang Rana pakai. Hingga tak ada yang berani menentang kepemimpinannya. Semua tunduk seperti budak mengabdi pada majikan.

” Rana-ah… ” gumamnya.

Hyukjae tertawa miris tanpa suara.

Sekarang, adakah yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki semuanya?

.

.

——————————————

” Jadi apa pekerjaanmu sekarang? ”

Di salah satu sudut kafe kenamaan di seantero Seoul, Caffe Bene, duduklah Kibum dan Rana. Keduanya tampak santai, dan Kibum juga sepertinya sudah sembuh total.

” Yah.. Meneruskan hobi saja. ”

Kibum mengangguk-angguk. Matanya tak lepas dari Rana, yang hari ini benar-benar cantik. Tubuhnya yang ramping dan tinggi semampai rupanya mendukung untuk selalu fashionable dengan gaya busana apapun–bahkan yang paling sederhana sekalipun. Kali ini Rana hanya memadukan hem toska pastel tanpa lengan, rok lipit putih selutut berbahan cerutti, dan sepatu ankle strap back elegan milik Nine West warna gading dengan heels yang tak terlalu tinggi. Juga clutch manis berwarna biru, Nine West Floral Garden Of The Sea yang menambah nilai fashionnya.

” Ah. Fashion designer? ”

” Yah, begitulah. Setidaknya dari situ aku bisa membiayai hidupku sendiri. Well, bukan berarti Hyukjae tak menafkahi secara lahir. Aku hanya, senang, punya penghasilan dari bekerja keras dibanding hanya bergantung pada suami. ”

Suasana hening sejenak. Kibum jadi ingat, dulu saat masih SMA, dia pernah tak sengaja menjatuhkan buku-buku Rana dari meja kerjanya di Ruang OSIS. Proposal-proposal siswa bertebaran, kertas-kertas berserakan di lantai. Saat membereskan buku-buku itu, sebuah buku tebal bersampul biru tua menarik perhatiannya.

Dia taruh buku-buku lain dengan rapi, lalu perlahan dibukanya buku biru tersebut.

Desain-desain pakaian yang banyak sekali sungguh mengejutkannya! Gadis itu punya bakat terpendam!

” Bagaimana denganmu, Kim Kibum? Apa pekerjaanmu? ”

Kibum tersadar, dan menjawab ringan.

” Aku kerja sesuai kemampuanku saja. ”

” Tak perlu merendah. Kau bisa segala hal. Kecuali… ”

” Memasak, ya. Aku memang tak bisa. Maka aku tak pernah berminat jadi koki. ” tawanya. Rana tersenyum.

” Aku jadi pengacara sekarang. Baru dua tahun sih. Masih anak baru. ”

Rana termenung sejenak. Pengacara? Kibum? PA-nya di SMA dulu? Wow! Sebuah kebetulan yang membuatnya merasa benar-benar beruntung!

” Pengacara? ”

Rana berubah pikiran. Dia berterima kasih banyak-banyak pada Tuhan di dalam hati. Pengacara! Yang benar-benar ia butuhkan saat ini, dan Tuhan memberikannya langsung dengan kebetulan yang tak pernah ia duga!

” Apa kau luang? Maksudku, dalam hal pekerjaan. ”

Kibum mengernyit.

” Kalau tidak, tak mungkin aku bisa menemuimu saat ini. ”

” Bagus! ”

—————————-

Rana merebahkan diri di ranjang di kamar lamanya dengan lega. Saking leganya, ia berguling-guling dan tertawa ringan. Ranjangnya bahkan jadi terasa lebih nyaman dari biasanya. Well, sebenarnya biasa saja kalau reaksi tubuhnya begitu. Dia ‘kan, sudah lama tidak tidur di kasur empuknya ini. Berapa lama, ya? Empat tahun, mungkin? Atau malah lima tahun?

Tiga tahun hidup dengan Hyukjae, dan dua tahun sebelumnya ia tinggal di asrama kampus. Alasannya sederhana. Ia cuma mau fokus kuliah. Di rumah dia cenderung senang malas-malasan.

Hyukjae lagi. Ingatan sekilas tentang Hyukjae berhasil menghapus senyum di wajahnya. Kenapa memori mereka berdua begitu banyak?

Dulu, saat Hyukjae masih pedekate dengannya, lelaki itu sering sekali mengajaknya membolos kelas dengan alasan pengkaderan untuk calon ketua OSIS terkuat. Yah, tidak sepenuhnya bohong juga. Hyukjae banyak mengajarinya tentang seluk beluk OSIS dan cara memimpin anggota.

Sering juga Hyukjae mengajaknya ke pesta–entah pesta ulang tahun, entah pesta resmi perusahaan ayah Hyukjae, entah pesta apalagi–sebagai pasangannya. Mereka juga kerap travelling berdua.

Tapi itu dulu.

Dan sekarang Rana menyesalinya. Harusnya dia dingin kalau Hyukjae mulai membujuknya untuk pergi main atau semacamnya. Harusnya ia tolak mentah-mentah semua ajakan Hyukjae. Harusnya ia perlakukan Hyukjae sama seperti pemuda-pemuda lain yang berusaha mendekatinya.

Kenapa baru sekarang Rana menyadari, bahwa sejak dulu, predikat cassanova sudah menempel erat pada suaminya itu?

Rana terdiam. Dia menyesal sudah jatuh hati.

Dan beberapa butir kristal bening meluncur turun di pipinya.

Rana tertawa tanpa suara. Benar. Bukankah kenangan manis lah yang membuat orang jadi bersedih saat berpisah?

” Rana… Putriku… Kau pulang? ”

———————————–

Ruang keluarga di rumah orang tua Rana terlihat mewah, sama seperti ruangan lain di bangunan itu. Gaya tradisional yang dipadukan dengan arsitektur modern sukses memunculkan kesan ‘ wah ‘ dan berkelas, tak kalah dengan kamar di hotel bintang lima.

Rana duduk di salah satu sofa di situ. Heningnya suasana membuat dia merasa agak, takut. Dengan ayahnya yang duduk beberapa meter di depannya, yang memandangnya penuh tanya. Oh. Jangan lupakan juga ibunya. Wanita itu juga sama, ada tanda tanya besar di kepalanya.

” Kenapa kau pulang? Mana suamimu? ”

Rana hampir terlonjak mendengar suara ayahnya.

” Aku sendiri, Appa… Hyukjae tak ikut. ”

” Kenapa? Apa dia banyak pekerjaan? Sibuk sekali? ” kini giliran ibunya yang bersuara.

” Mmm… Itu… ”

Rana tak tahu bagaimana harus bercerita pada orang tuanya perihal hubungannya dengan Hyukjae yang memburuk. Apa harus sekarang? Apa tak bisa dia bercerita empat mata saja dengan ibunya?

Sudah beberapa hari Rana tinggal di rumah orang tuanya. Kebetulan mereka sedang pergi ke Busan, urusan bisnis. Mereka pulang, dan dapat laporan dari butler keluarga kalau Rana datang sendiri, membawa seluruh pakaiannya. Siapa yang tak penasaran kenapa Rana begitu?

” Bisakah, aku bicara berdua saja dengan Eomma? ”

Ayahnya bangkit dan berlalu.

” Ada apa denganmu, Nak? ”

” Eomma… Aku… Mau bercerai dengan Hyukjae… ”

Ibunya–Kang Heerin–terbelalak.

” Cerai? Kenapa? ”

” Dia, mengkhianatiku, Eomma… Dia… ” Rana terisak-isak. ” Dia sudah bosan… Dia… Bosan padaku… ”

—————————————-

Kim Daesung adalah salah satu dari konglomerat terkenal di Seoul. Kekayaan melimpah. Jenis usaha beragam. Dia juga pemilik saham terbesar di rumah produksi terkenal di Korea, LaX Entertainment. Orang luar tak akan mengira bahwa orang sekaya dia, memiliki semua yang diinginkan, bisa bersedih juga.

Seharian di kantor pria tua itu hanya murung. Para karyawan sampai terheran-heran karena tak biasanya Kim Daesung lesu seperti ini. Presdir yang dikenal humoris namun tegas, hari ini lebih banyak diam di ruangannya yang nyaman?

” Kim Sajangnim… ” suara berat milik seorang pemuda tampan menginterupsi lamunannya. Kim Daesung menoleh.

” Ada apa, Kyuhyun-ah? ”

” Sebentar lagi waktunya meeting dengan investor…. ”

” Kau kirimkan saja Lee Sungmin sebagai wakilku. ”

Cho Kyuhyun, sekretaris Kim Daesung memicingkan mata tak paham.

” Aku mau pulang cepat hari ini. Oh ya, selidiki Lee Hyukjae. Laporkan semua padaku apa saja tentangnya. ”

” Maksudnya, menantu Anda? ”

” Memangnya siapa lagi? ”

Cho Kyuhyun mengangguk.

” Sebenarnya dia apakan putriku? ”

Kim Daesung berjalan cepat keluar ruangan, diikuti Cho Kyuhyun di belakangnya.

—————————————————

Senandung kecil menghiasi rumah Kim Daesung sore itu. Entah itu lagu apa, yang terdengar hanyalah gumaman-gumaman tak jelas yang dilagukan.

Kang Heerin tersenyum. Ia tahu betul suara merdu itu milik putrinya. Kebiasaan Rana sejak dulu kalau sedang berdandan.

‘ Apa anak itu mau jalan-jalan? Mungkin saja Hyukjae mengajaknya rujuk. ‘ pikirnya.

Rana keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju ruang makan. Heerin menggodanya.

” Cantik sekali putri Eomma. Mau kencan, eh? ”

Rana mendecak.

” Kencan apa? Tidak. ”

” Sudahlah, mengaku saja pada Eomma. Hyukjae pasti mengajakmu kencan sampai kau dandan begitu. ”

” Dia lagi, dia lagi. ”

Rana jadi sebal. Dia benar-benar tak ingin mendengar nama itu disebut. Mau tak mau ia jadi teringat wajah Hyukjae. Dia benci setengah mati pada pria itu. Benci sekali. Sampai-sampai namanya pun mampu membuatnya emosi dan muak sekaligus hingga ia ingin muntah. Baginya, Hyukjae tak lebih dari sekedar kentut yang baunya mirip-mirip dengan kentutnya saat ia masuk angin. Huekkk.

Selama berhari-hari kemarin dia sedih sekali mengingat Hyukjae. Kenangan di antara mereka terlalu banyak. Juga terlalu manis. Dia selalu tersipu jika mengingatnya–dulu.

Rana cemberut.

” Bukan, Eomma. Bukan si brengsek itu. ”

Heerin menautkan alis.

” Lalu? ”

” Pengacaraku. Aku mau bertemu dia. Kebetulan juga dia teman dekatku saat SMA dulu. ”

Rana mengecup pipi Heerin singkat.

” Dah, Eomma. Aku janjian makan malam dengan anak itu. Aku pergi dulu. ”

Deru mobil menjauh dari rumah itu lima menit kemudian.

Rana dan Kibum cukup dekat saat sekolah dulu. Rana mulai ingat itu. Kibum adalah tangan kanannya, baik di OSIS atau di luar itu. Kibum sering disuruh melakukan ini dan itu. Biasanya pekerjaan lapangan. Lapor ke sana, izin ke sini, ke mana-mana Kibum yang pergi. Rana bagian memikirkan pokok kegiatan. Rana tak tahu kenapa Kibum penurut sekali. Padahal ‘kan, tadinya mereka saingan. Tapi Rana bukan tipe orang yang mempersoalkan hal kecil semacam itu. Dia hanya menganggap Kibum sudah lelah menjadi pesaingnya, dan mengakuinya sebagai ‘ratu’ para siswa, yang tak boleh dibantah apa pun yang ia perintahkan.

Rana tersenyum kecil. Tiba-tiba saja terlintas di benaknya kejadian lucu ketika ia dan Kibum masih kelas 2 SMA.

” Sana! Beli kue tart. Di toko depan situ ada. Cepat ya. ”

Kibum senyum-senyum tak jelas.

” Kau, mulai gila, ya? Senyum-senyum sendiri. ”

” Pasti kuenya buatku, ‘kan? Ini hari ulang tahunku, kau mau membelikanku kue, ya ‘kan? Aduuh, tak usah repot-repot. ”

” Enak saja. Kuenya buatku. Aku lapar. Untuk apa aku membelikanmu kue? Toh kau bisa beli sendiri. Ck. ”

” Akui saja. ”

” Jangan terlalu percaya diri. Kalimatmu tadi benar-benar membuat telingaku geli. Yang benar saja. ”

Kibum bersungut-sungut.

” Sudah sana! Belikan untukku. Ini uangnya. Cepat sana, cepat! ”

Rana melambai-lambaikan selembar uang kertas lima puluh ribu won. Kibum menyambar uang itu agak kasar.

” Awas saja kalau kau tak memberiku bagian! Aku akan mundur sebagai PA mu. ”

Rana hanya tertawa. Entah sudah berapa kali Kibum mengancam begitu. Dan sekali pun belum pernah ia benar-benar mengajukan surat pengunduran diri.

Kibum datang membawa tart ukuran sedang dengan hiasan sederhana. Bukannya tak ada kue dengan hiasan yang lebih feminim, tapi Rana tak suka tart yang hiasannya berlebihan. Kalau ia tetap belikan tart-bunga-bunga macam itu, nanti Rana bakal mengamuk dan mengemplang kepalanya berkali-kali. Uh, Kibum tak mau.

” Good! Good job! Come, come! ” kata Rana senang.

Dia membuka kotak kuenya dengan antusias, lalu memotongnya sedikit untuk mencicipi rasanya.

” Bagus! Anak pintar! Kau memang PA yang hebat! Sudah sewajarnya kau tahu kalau aku suka Blackforest. ” puji Rana lagi, masih dengan mulut penuh kue.

” Mana bagianku? Aku sud… ”

POKKK

” Itu bagianmu. Hahahah! ”

Rana tertawa keras. Wajah Kibum belepotan coklat di sana sini.

” YA!! KIM RA… ”

POKKK

” Huahahahahah kena kau! ”

Kibum duduk sambil menggumam tak jelas. Wajah dan rambutnya berantakan.

Menahan tawa, Rana berdiri mendekati Kibum.

” Hei, just joking, man! ” katanya santai. ” Saengilchukhae, Kawan. ”

Kibum menoleh, menatapnya bingung.
” Aku ini Kim Rana. Kau lupa? Kim Rana tidak suka hal yang mainstream. Kejutan ulang tahun dengan pura-pura marah? Ck itu basi! Cerita lama! ”

Kibum tertawa sesaat kemudian.

” Kau teman terbaikku, Kim Kibum. ” kata Rana lagi. Ia beringsut mendekat, lalu memeluk dan menepuk punggung Kibum. Tak ambil pusing bajunya akan ikut kotor terkena kue yang menempel di wajah dan baju Kibum. Juga tak sadar bahwa Kibum jadi gugup, berdebar, senang bukan kepalang, juga memerah seluruh muka dan telinganya gara-gara itu.

” Teman terbaik hanya pantas mendapat kejutan terbaik juga. Bukan cuma kejutan mainstream yang biasa-biasa saja. ”

Sampai di tempat janjian Rana bahkan masih tertawa mengingat betapa hancurnya wajah Kibum saat itu. Lumayan lah, bisa menghibur hatinya yang tak sedang baik-baik saja.

Klining~

Rana melambaikan tangannya begitu masuk ke kafe mungil bertema gardening dengan papan nama lucu bertuliskan ” Eclaire ” di pintu kacanya. Dilihatnya Kibum sudah duduk di pojok dekat jendela besar menghadap jalan.

Kafe ini Kibum yang mengusulkan. Tak buruk juga seleranya. Rana suka daun-daun tanaman rambat yang menghiasi dinding-dinding kafe, juga air yang mengaliri jendela-jendela kaca. Penerangannya juga bagus. Pun pilihan cat dan properti ruangan. Kafe gardening dengan cat putih menyeluruh, kursi-kursi shabby chic, dan chalkboard besar di dinding bertuliskan menu recommended hari itu dengan banyak doodle yang lucu; Rana benar-benar suka itu semua.

Kibum tersenyum lebar dan berdiri.

” Maaf sudah membuatmu menunggu, Kibum-ah. ”

” Tumben kau minta maaf karena terlambat. ” seloroh pria itu.

Rana hanya nyengir saja.

Keduanya duduk, lantas mengobrol panjang. Membahas dokumen-dokumen yang diperlukan untuk memproses gugatan cerai, diselingi obrolan-obrolan ringan.

Seperti saat sekolah dulu, Kibum mengenangnya dengan hati bahagia. Menghabiskan banyak waktu berdua. Berdiskusi mengenai program-program OSIS yang seperti tak ada habisnya. Kadang juga berdebat seru di tengah rapat koordinasi. Saking serunya, anggota OSIS yang lain hanya bisa mengamati tanpa mampu menyela. Juga sering mengerjakan tugas pelajaran berdua. Kurang dekat apa mereka?

Lee Hyukjae, yang notabene adalah kekasih Rana, sering sekali merasa cemburu.

” Kau! Sebenarnya siapa sih, kekasihmu? Aku atau Kim Kibum? ”

Rana tertawa keras.

” Ya Tuhan! Jangan bercanda, Oppa! Dia sahabatku! Tidak lebih, okay? Tidak lebih! ” sangkalnya santai. Sambil menggelengkan kepala mengguman lagi, ” Kenapa kau lebih kekanakan daripada aku? Bahkan usiaku lebih muda… Ckckck. ”

Kibum lagi-lagi tersenyum. Dia ingat, sejak dulu Rana lebih dekat dengannya dibandingkan Lee Hyukjae. Dia tak peduli, mau Hyukjae cemburu atau tidak. Dia kenal Rana seperti mengenali dirinya sendiri, dan dia bangga dengan kenyataan itu.

” Kiki-ah, sepertinya sejak kemarin, kita hanya membahas soal diriku. Maksudku, kehidupanku. Bagaimana denganmu? ” sela Rana. ” Kita benar-benar lost contact. ”

Kibum menghela napas ringan.

” Tak ada yang seru. Hanya kuliah saja, magang, lalu yah, pendeknya, setelah menempuh berbagai proses, aku bisa membuka kantor advokat sendiri. Cuma begitu. ”

” Heish, masa’ cuma begitu? Apa tak ada yang menarik? Misalnya, yang suka menyuruh-nyuruh melakukan ini dan itu? Tak ada? Atau, menjahilimu? Atau bertengkar seru denganmu? ”

Kibum menggeleng.

” Itu ‘kan kau. Orang lain tak ada yang kasar begitu. ” cibirnya. Rana monyong-monyong.

” Biar saja. Kau juga senang-senang saja dibegitukan. Benar, ‘kan? ”

Kibum tertawa lepas. Benar-benar tertawa, hingga mata sipitnya tenggelam, dan seluruh deretan giginya yang rapi kelihatan. Rana bahkan sempat berpikir usil, kalau aku lari, dia bahkan tak akan mengetahuinya.

” Benar. Itu benar. Kau benar-benar memahamiku, Kim Rana. ” katanya. ” Dan kutebak, pasti tadi kau sempat mau menjahiliku, ya ‘kan? Lari keluar mumpung mataku menyipit, atau semacam itu. ”

” Woah.. Lagakmu sudah seperti peramal saja. ”

Keduanya tertawa lagi. Rana sampai bertepuk tangan.

” Ricchie-ya… Aku suka kau tertawa. Kau cantik. Sungguh. ”

Rana mengerjap. Tawanya terhenti. Kibum sedikit, mencurigakan, menurutnya.

” Ha? ”

” Jangan menangis lagi. Terutama itu gara-gara Lee Hyukjae. Jangan pernah menangisi pria keparat macam dia. Kau lebih berharga, Ricchie-ya. Kau terlalu bagus untuknya. ”

Kibum berhenti. Menatap pendaran mata Rana yang tak henti-henti ia kagumi sejak dulu.

” Kim Kibum… Apa yang… ”

” Hentikan semua ini! ”

Sebuah suara menginterupsi percakapan dua sahabat itu. Baik Rana maupun Kibum mendongak.

” Dia meracuni pikiranmu, Rana-ah. ”

” Lee Hyukjae? ”

Hyukjae menyambar tangan Rana.

Berbagai peristiwa berkelebat cepat dan menyambar-nyambar, menambah luka di hati Rana. Wanita itu, keanehan Hyukjae, dan oh! Rana baru ingat! Pesan-pesan aneh di ponsel Hyukjae!

” Aku di ruanganmu, Chagi. Mwahhh.

” Chagiya, ayo bertemu! Bogoshipdaaa ///3/// ”

” Kau sudah makan? Ayo kita makan bersama! Kau, boleh juga memakanku~~ ///v/// ”

Pedih.

Pedih.

Dan air mata jatuh lagi.

” Ricchie-ya. Sudah kubilang, jangan menangis lagi. ”

Kibum berdiri, melepaskan cengkeraman Hyukjae secara paksa. Rana memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit. Dengan air mata yang masih terus membanjir menganak sungai.

” Oh? Kim Kibum rupanya? Mau mengganggu kami lagi? ”

” Berkacalah, Lee Hyukjae. Apa kau hanya bisa menyalahkan orang lain? ” tukas Kibum. Dia menggandeng Rana bangkit dari kursinya dengan hati-hati.

” Kuharap kau tak muncul lagi di hadapan Rana. ”

–TBC–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s