Before Dark #1

image

Cast: -Lee Hyukjae-Eunhyuk SJ as King
-Hwang Rise as Queen Hwang (OC)
-Kim Kibum SJ as Kim Kibum
-Max Changmin DBSK as Changmin

Author: Rana Kim | ranakim9387

Genre: Romance, saeguk

Length: Oneshot

Rating: PG-15

Yg masih penasaran, boleh tengok prequel dr ff Dark ini ya…

———————–

Istana Joseon terasa begitu sunyi siang ini. Hanya terdengar suara cuitan burung-burung liar, juga langkah-langkah kaki perlahan yang melintasi jalan-jalan sempit di dalam kompleks istana. Ah, jangan lupakan suara merdu serombongan musisi ternama di seantero Joseon–yang sudah resmi diangkat sebagai musisi khusus kerajaan.

Raja Lee Hyukjae mengangguk-angguk senang. Akhir-akhir ini banyak sekali yang ia pikirkan, dan itu cukup membuatnya sedikit frustasi. Lagu-lagu yang indah dan nyaman di telinga benar-benar memperbaiki nuansa hatinya.

” Cheona, putraku… ” Ibu Suri berbisik. Raja menoleh. Apalagi sih, yang mau dibicarakan ibunya kali ini?

” Sudah saatnya kau mencari permaisuri baru. Sudah tiga tahun berlalu, Nak. Orang mulai meragukanmu. ”

Raja mengernyit tak suka. Bukan sekali dua ibunya begini. Menyuruh memilih permaisuri baru. Dia saja sedang sibuk membangun pertahanan kota dan istana, eh, ibunya malah, mengusulkan ide-ide aneh.

” Aku tahu, Ibu. Bersabarlah. ” ujarnya. Matanya memandang tak fokus.

Apa yang ibunya katakan sesungguhnya ada benarnya juga. ‘Sabda Langit’, hal yang paling dibutuhkan setiap calon raja. Dia sudah punya itu. Sebelum akhirnya Permaisuri Kang meninggal karena sakit.

‘Sabda Langit’ bukanlah hal yang bisa dengan mudahnya didapatkan. Perjuangan panjang harus ditempuh demi hal satu ini. Berpuasa, menyendiri, dan hal-hal sulit lainnya. Juga menikah dengan banyak wanita. Yah, ‘kejantanan’ termasuk salah satu dari pertanda bahwa seorang raja memiliki ‘Sabda Langit’. It sudah aturan dari dulu, duluuuu sekali.

Raja berusaha menikmati musiknya. Sungguh musik yang bagus. Meski ia tak benar-benar suka dengan lirik lagunya. Kenapa Musisi Kim dan timnya membuat lagu seperti itu? Banyak bahasa-bahasa kias yang terasa menusuk di ulu hatinya.

Bintang gemintang di penghujung langit

Berpendar-pendar indah di musim lalu

Menghias malam dengan sinarnya yang terang

Menunjukkan jalan bagi musafir yang tersesat

Raja mencoba menangkis sakit di hatinya. Dia berusaha menahan emosi, mengingat Musisi Kim adalah pemusik favoritnya. Tak ada yang lebih baik dari pria muda nan tampan itu.

Gerhana panjang menyelimuti bumi saat ini

Membuat hari gelap bahkan di siang hari

Ke mana sang surya kita yang perkasa

Yang menjadi tuntunan dan pelindung bagi tanah dan awan putih di atas sana?

Syairnya sungguh membuat Raja jengkel. Namun, siapakah gerangan yang melantunkan lagu itu dengan begitu merdunya? Sepertinya pertunjukan musik sebelumnya Raja tak mendengar ada suara seindah ini. Saking indahnya, hati Raja bergetar-gegap-gempita, dan kulit wajahnya memanas. Dadanya berdentum-dentum. Matanya menjelajah berbagai arah, mencari sumber suara di antara para pemusik yang jumlahnya tak bisa dibilang sedikit itu.

Sesosok wanita cantik nan anggun tampak menyanyi solo, dengan wajah tenang tanpa menunjukkan emosi.

Raja tergeragap. Itu dia! Itu yang menyanyi! Bukan hanya suaranya yang indah! Dia juga rupawan! Siapa gadis itu?

” Ibu, Ibu lihat, yang sekarang sedang menyanyi? ” bisiknya perlahan.

” Ya, Ibu lihat. Kenapa? ”

” Siapa dia? Bagaimana menurut Ibu? Apa bisa aku menjadikannya ratuku? ”

.

.

.

Sementara itu, Rise terus menyanyi meski perasaannya sedikit aneh. Dia merasa was-was sejak tadi. Dia menatap Kibum dengan cemas, tapi Kibum membalas dengan tatapan yang menenangkan. Seolah mau bilang, Tak apa-apa. Tenanglah. Semua akan baik-baik saja.

Kibum kembali fokus, dan mencoba menyampaikan suara rakyat Joseon lewat lagu dan musik-musiknya.

Raja memang harus ditegur. Sudah terlalu banyak kesalahan yang ia buat. Kenapa ia bersifat pengecut seperti ini? Menghabiskan banyak uang untuk membangun benteng-benteng yang sebenarnya tak perlu dibangun, namun tak memberi cukup biaya untuk meningkatkan kualitas para prajurit. Menjalin kerja sama secara berlebihan, bahkan mengizinkan orang asing memonopoli perdagangan di Joseon, juga melibatkan mereka dalam urusan kepemerintahan. Bukan cuma melibatkan, tapi juga memberi kewenangan besar pada mereka! Apa Raja memang sebodoh itu? Atau licik dan egois? Bangsa asing diberi kewenangan ikut campur urusan negara? Apa Raja tak takut Joseon dijajah negara lain? Apa sih, yang dia pikirkan?

Belum lagi pembunuhan massal yang ia lakukan pada ribuan rahib Buddha dan Konfusius yang melayangkan protes kepadanya.

Manusia macam apa dia?

Orang tak pernah merasa setakjub ini sebelumnya. Bagaimana bisa raja mereka berbanding jauuuuuh sekali dengan ayahnya, raja terdahulu? Raja sebelumnya memerintah dengan adil dan bijaksana. Joseon mencapai puncak kejayaan, dan disegani kerajaan-kerajaan lainnya. Dengan menteri-menteri yang setia dan berdedikasi. Yang parahnya sekarang malah dicopot dari kedudukannya oleh anaknya sendiri, diganti dengan menteri-menteri penjilat dan licik. Yang hanya tahu cara memperkaya diri sendiri tanpa memikirkan nasib rakyat.

Jadi, salahkah Kibum? Ia juga salah satu rakyat Joseon. Kebetulan saja dia ternama dan diperlakukan istimewa oleh Raja. Kalau itu bukan dia, mungkin Raja sudah menghabisinya dulu-dulu. Menengok pengalaman yang sudah-sudah. Alasan Raja membunuh ribuan rahib Buddha dan Konfusius, adalah karena sikap kritis mereka terhadap pemerintahan. Tak kurang dari lima ribu orang, termasuk istri dan anak mereka–bahkan yang masih bayi–juga pengikut mereka. Membuat dada Kibum terasa nyeri hanya dengan mengingat itu semua.

.

.

.

——————————-

Ibu Suri berlari tergopoh-gopoh. Kasimnya tadi melapor bahwa sudah beberapa hari ini Raja sakit. Ada apa lagi ini?

” Putraku! ”

Pintu terbuka mendadak, diikuti masuknya Ibu Suri ke ruangan Raja. Yang dipanggil hanya menoleh pelan. Dia tergolek di tempat tidur, dengan badan lemah dan tak karuan rasanya.

” Ibu… ”

Ranjang indah berbahan kayu dengan ukiran bunga dan tanaman rambat serta naga yang garang di kepala ranjang menjadi teman setia Raja beberapa hari ini. Ibu Suri mendekat, dan duduk di kasur Raja yang empuk. Seprai berbahan sutera warna putih, serta selimut yang juga berbahan sutera dengan sulaman benang sutera emas berbentuk bunga krisan membungkus tubuh putranya. Rambut Raja yang hitam panjang tergerai.

” Ada apa, Nak? Kau tidak terlihat sehat. Di mana yang sakit? Sudah panggil tabib? Sudah minum obatnya? Kenapa tak bilang pada Ibu kalau tak enak badan? ”

Raja tersenyum. Ibu Suri begitu khawatir padanya sampai memberondongnya dengan banyak pertanyaan.

” Ibu… ” dia menggenggam tangan ibunya. ” Tenang dulu. ”

Ibu Suri memandangnya cemas. Memang, Lee Hyukjae bukanlah putra kandungnya. Namun dia mengasuh Raja sejak kecil, sejak ibu kandung Raja meninggal. Dia menyayanginya dan menganggapnya anak sendiri.

” Sudah diperiksa tabib, sudah minum obat juga. Entahlah, Bu. Kurasa aku tak ada masalah kesehatan, tapi aku tak bisa menelan makananku. Aku juga, lemas. ” ujarnya lirih. ” Aku juga sedikit insomnia. ”

Ibu Suri mengelus kepala Raja dengan lembut.

” Ada apa, Nak? Apa yang sedang kau pikirkan akhir-akhir ini? ”

Raja menatap Ibu Suri memohon.

” Ibu… Aku ingin gadis itu… Aku hanya ingin dia, Bu… Bantu aku… ”

–TBC–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s