Drama Part 4

image

Cast:

– Kim Rana (OC)
– Lee Hyukjae
– Kim Kibum

Genre: Romance

Length: (?)

Rating: PG-15

Go go go!!!

NO BASH NO PLAGIAT NO COPAS NO REBLOG W/O FULL CREDITS!!

————————————————————

Malam mulai menjelang. Langit gelap. Bersih tanpa bintang. Hanya ada suara angin semilir yang berhembus, menggoyangkan ilalang setengah kering di musim gugur. Dingin.

Rana menatap danau kecil di depannya tanpa ekspresi. Dia tak mempedulikan kulitnya yang mulai dingin diterpa angin sejak satu jam yang lalu. Baginya, angin yang dengan kejamnya membekukan lengannya itu masih lebih baik, dan lebih ramah, dibandingkan orang yang saat ini masih berstatus sebagai suaminya.

” Kau kedinginan, Ricchie-ya. ” ujar Kibum. Pria itu mengusap-usap lengannya, bermaksud menghilangkan kebekuan di kulit yang tak terlindungi mantel atau apa pun. Malam itu Rana memang cuma mengenakan dress sleeveless panjang berwarna navy. Tanpa membawa coat atau bahkan cardigan.

Dengan pengertian, dilepaskannya coat hitam miliknya, lalu ia pakaikan ke tubuh Rana. Berharap dengan begitu bisa mengurangi dingin yang menerpa.

” Terima kasih, Kiki-ah. ”

Kibum hanya tersenyum.

Keduanya memandangi danau tanpa kata.

” Kau, kau benar-benar memahamiku. Aku bersyukur kau membawaku pergi. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi padaku. ”

” Kenapa kau, sebegitu inginnya bercerai dengan Hyukjae, Ricchie-ya? Kau sudah tak mencintainya lagi? ”

Rana menggeleng.

” Aku lelah. Lelah sekali. Kurasa perasaanku hanya perasaan sepihak, Kiki-ah. ”

Rana membuang nafasnya kasar. Kesedihan melanda hatinya.

” Semua peristiwa itu terus berputar-putar di kepalaku. Makin lama makin sakit rasanya. Makin lama aku juga makin benci padanya. ”

Kibum merangkul lengannya.

” Bersabarlah, Kawan. ” ujarnya. ” Akan kubantu kau berpisah dari Hyukjae, apapun caranya akan kulakukan. ”

Rana menatap Kibum penuh terima kasih.

Suasana hening lagi. Angin masih setia berhembus. Di kejauhan, terlihat noktah-noktah cahaya yang bergerak lalu lalang di jalanan. Juga petak-petak kecil cahaya–sepertinya itu kereta cepat–melintas di atas jembatan besi.

” Ah, Kim Rana, Kim Rana. Kalau tahu nasib percintaanmu begini, tak kubiarkan pria itu mendekatimu. ” decak Kibum. Rana tertawa.

” Hahaha, kau ini. Sudah seperti bapak-bapak yang ditinggal putrinya menikah. ” celetuknya. ” Kau tambah tua, makanya jadi begitu. ”

” Hei! Aku bahkan lahir tujuh bulan setelahmu! ” sergah Kibum. ” Aku serius, tahu? Benar-benar tak terduga. Ketua OSIS Kim, merana karena kisah cintanya tak sesuai harapan. Ckckck. Apa kata anak buahmu nanti? ”

Rana tertawa lagi.

” Kau jadi pelawak saja, Kiki-ah. Kau pandai melucu. Hihihi. ”

Keduanya tertawa keras.

” Benar juga kau bilang. Tapi tidak, ah. Tak sembarang orang bisa mendengar leluconku. ”

” Oh ya? Pasti kau pasang tarif terlalu tinggi. Ck, jangan begitu. Kasihan stasiun tivi yang mau mengajukan kontrak kerja denganmu. ”

” Tidak juga. Hei! Tunggu! Roleplay macam apa ini? Hahaha! ”

Rana bertepuk-tepuk. Hatinya terasa ringan. Entah kapan terakhir kali dia tertawa lepas begini. Setahun? Sejak Hyukjae jadi aneh? Mungkin saja.

Tapi menurutnya Kibum memang pandai menghibur dirinya. Itu sejak dulu. Tiap kali tertekan, entah bagaimana dia sudah tertawa dan rileks karena ulah konyol Kim Kibum.

” Ricchie-ya, ayo kita main. ” ajak Kibum tiba-tiba. ” Ke mana lah. Tempat di mana kita bisa senang-senang tanpa ingat masalah. ”

Rana tertawa lagi. Tak sekeras tadi. Namun dia masih ingin sedikit bergurau.

” Kau mau mengajakku kencan? ”

” Well, boleh juga kau bilang begitu. ”

” Hei Bung, pacarmu tak marah? ”

” Aku single. Tak ada pacar. ”

” Hahaha dasar tak laku. ” canda Rana. ” Oke. Aku memang butuh sedikit refreshing. ”

” Oke. Kapan? Ke mana? ”

Rana tersenyum penuh misteri.

————————————————–

Next weekend
04:00 KST

Hari masih gelap. Udara masih bersih. Begitu segar saat memasuki rongga dada, memenuhi paru-paru. Suara jangkrik sesekali terdengar. Dingin masih belum berkurang.

Kibum merapatkan coatnya. Coat hitam panjang dengan desain sederhana dan simpel khas laki-laki. Yang seminggu lalu dia pinjamkan ke Rana. Tak lama, sebab beberapa jam kemudian Rana mengembalikan coat itu. Saat ia pulang dari makan malam mereka.

Udara makin tak ramah. Wajar saja, mengingat musim gugur sudah di penghujung waktu. Kibum menunggu Rana di ruang tamu depan, sisa-sisa dingin masih menempel di kulitnya.

Kibum melamun. Dia teringat jaman masih sekolah dulu. Masa-masa di mana ia berusaha menggaet Rana, mendapatkan hatinya, merebut cinta Rana dari Hyukjae. Yang pada akhirnya selalu gagal.

Apa kali ini aku akan berhasil? batinnya bimbang.

” Kiki-ah. Lama menunggu? ”

Lamunan Kibum buyar. Dia mendongak, mendapati Rana yang super duper cantik dari kepala sampai ujung kaki.

Rambut diikat ponytail, kaos longgar tanpa lengan warna putih, blazer peach pastel, membuat penampilan Rana luar biasa. Ditambah celana jeans berpotongan runcing di ujungnya, juga sepatu sport dengan sol tebal warna putih, membuat Rana terlihat aktif, impresif, namun tetap girly. Jangan lupakan tas kecil dari Louise Vuitton, yang tergantung elegan di bahunya.

” Tidak juga. ” sahut Kibum, tak dapat banyak berkomentar. Terpana dengan tampilan Rana yang segar. ” Kau… ”

” Ya? Apa? Aneh ya? ”

Rana memandangi celananya, bergumam, ” Apa sebaiknya aku pakai yang tiga perempat saja? Atau rok? ”

” Tidak, tidak, bukan itu. Sudah bagus kok. ”

” Jadi, apa? ”

” Emm, kau, emm… Itu…. Kau… ” tergagap-gagap, Kibum berusaha memuji Rana tapi bingung dan gugup. Kenapa dia bisa secantik ini sih?

” Aku? Apa? ”

” Emm, kau, emm… Gendutan… Ya… Begitu.. Terutama… Kakimu… ”

Rana berjalan mendekat dan menjitak Kibum.

” Kau! Awas saja! Berani sekali bilang begitu! ”

Kibum tertawa sambil melindungi diri dari jitakan-jitakan Rana. Tertawa lega. Kalau dia kelepasan bicara sekarang, bisa gawat nanti.

” Aku bercanda, hahaha kau ini. Hei! Hentikan! Kau tidak gendut! Dengar! Kau kurus! Hahaha! ”

Rana mencibir sebal. Dia tahu Kibum bercanda. Tapi kenapa bercandanya berkaitan dengan berat badan? Ugh.

” Sudah, ayo berangkat. Keburu siang. ”

——————————————-

” Dari sekian tempat yang kuajukan, kenapa kau memilih ke sini? ”

Rana tak acuh. Dia berjalan menjauhi Kibum, diam dan mencoba menikmati suasana. Hening. Tenang. Nyaman. Sedikit dingin, namun bukan masalah. Hanya terdengar desau angin yang berpadu dengan deburan ombak.

Kibum mengikuti di belakang. Menatap punggung Rana yang terlihat mungil dan rapuh. Rana tak terlalu pendek, bisa dibilang ia cukup tinggi untuk ukuran perempuan. Hanya saja dia memang ramping dengan bahu mungil dan tajam di ujungnya. Membuat Kibum ingin memeluknya dari belakang.

” Aku suka pantai, Kiki-ah. Kau tahu itu sejak dulu. ” gumam Rana pelan. Kibum mendekat. Takut tak bisa mendengar suara lirih Rana. Takut juga, jangan-jangan gadis itu mau bunuh diri. Menenggelamkan diri di laut seperti di cerita-cerita seram jaman dulu. Yang sekarang sudah tidak nge-trend lagi.

” Hanya tempat inilah, di mana aku dan Hyukjae tak datangi. Tak ada memori kami berdua di sini. Hanya ke sini lah aku bisa tenang. ”

Ada kesedihan dari nada bicara Rana. Kesedihan dan putus asa. Juga, rasa lelah. Semua itu bisa dirasakan Kibum. Meninggalkan segurat luka di hatinya. Kibum tak habis pikir. Bagaimana bisa pria itu memperlakukan Rana seperti ini? Menghujamkan belati ribuan kali di hati Rana. Dia jadi marah. Pada Hyukjae, pada keadaan, pada masa lalu, juga pada dirinya sendiri. Kenapa ia biarkan Rana jatuh begitu saja ke pelukan pria sialan itu saat sekolah dulu? Padahal kalau dia berusaha lebih keras lagi, Rana pasti jadi miliknya, dan tak perlu merasakan sakit begini. Toh keluarganya juga tak kalah berada dari Hyukjae. Tak sekaya keluarga Rana memang, tapi setidaknya sedikit di bawahnya.

Dia bisa saja mengajak paksa Rana ke pesta dansa ayahnya saat ulang tahun pernikahan orang tuanya saat itu. Atau pesta peresmian toko buku baru yang diatas namakan dirinya di sebuah hotel bintang lima. Atau pesta barbekyu keluarganya di resort milik ayahnya di Jeju. Tidakkah dia bodoh sekali? Hyukjae melakukan itu semua, juga hal-hal lainnya, tapi dia tidak. Berkilah dan tak peduli pada acara-acara seperti itu, dan Rana lepas dari tangannya.

” Ricchie-ya… ” tak tahan lagi, Kibum memeluk Rana dari belakang. ” Lupakan Hyukjae. Lupakan pria itu. Kau terlalu baik untuknya. ”

Rana masih diam. Masih kaget, tiba-tiba dipeluk sahabatnya semasa sekolah. Tapi ini lain. Berbeda dengan pelukan yang biasa ia dapat dari Hyukjae. Pelukan Kibum benar-benar menenangkan. Hatinya tenteram. Juga hangat. Hangat sekali. Rasanya, jadi seperti musim semi yang baru saja tiba setelah musim dingin yang beku.

” Jangan pernah hadiri persidangan, Ricchie-ya. Itu akan memudahkanmu, dan mempercepat proses perceraian. Biar aku yang urus. ”

Tak kuasa menahan haru, Rana menangis. Dan membalikkan badannya, membalas pelukan Kibum.

” Gomawo, Kiki-ah. Jeongmal gomawo. ”

.

.

.

.

.

.

—————–

Hari-hari berlalu. Kibum menghabiskan waktunya mempelajari berkas-berkas perceraian Rana. Sudah dua kali juga datang ke pengadilan. Tanpa Rana, tentu saja. Seperti rencana mereka sejak awal. Rana tinggal terima laporan perkembangan kasusnya, dan menunggu dengan tenang. Rana bahkan absen dari butiknya. Hanya ada beberapa koleksi, dan yang terbaru adalah desain sebulan terakhir. Belum ada desain baru lagi.

Kibum masih mencermati hasil sidang. Kenapa begitu mudah? Sidang selanjutnya dipastikan sidang final, yang hasilnya sembilan puluh lima persen mengabulkan gugatan cerai Rana. Setahunya, kasus-kasus perceraian lain, masih perlu beberapa persidangan lagi. Terlepas dari apakah salah satu pihak hadir atau tidak. Kenapa mudah sekali hakim memproses kasus ini? Apakah ayah Rana terlibat atau bagaimana? Tapi, ‘kan, Kim Daesung terkenal benci dengan yang namanya suap-menyuap. Itu yang membuat dia jadi terkenal dan disegani banyak orang, bukan?

” Tapi ini bagus. ” gumamnya. ” Makin cepat dia bercerai, makin baik. ”

Dan dia tak perlu merasakan sakit lagi.

.

.

.

———————-

Next month…

Rumah besar bergaya modern di kawasan Gangnam itu terlihat sunyi. Semua gelap, tak satu pun lampu yang menyala. Penghuninya pergi, mencoba melupakan semua yang terjadi di rumah tersebut.

Benar. Itu rumah Hyukjae. Dan Rana, tadinya. Kini tidak lagi. Rana tak sudi lagi menginjakkan kakinya ke rumah itu. Untuk apa? Membuka kembali luka yang ia coba kubur dalam-dalam?

———————————–

Rana menghela napas kasar. Ia tak menyangka Hyukjae akan berani datang ke rumah orang tuanya.

” Apa maumu? ” tanyanya dingin.

Hyukjae menatapnya penuh permohonan, penuh sesal. Wajah pria itu penuh luka. Tadi, saat datang pertama kali, ayahnya menyambut Hyukjae di ruang depan. Menghajarnya bertubi-tubi tanpa ampun. Sambil memaki-maki, bahkan meludahi Hyukjae.

” Kau! Dasar keparat! Bajingan busuk! Kau masih berani datang ke sini? Hah? Jawab aku! ”

Jangan lupakan tendangan ke seluruh tubuh Hyukjae.

” Aku minta maaf, Abeonim. ”

Daesung meludah.

” Aku bukan ayahmu, brengsek!! ”

Dipukulinya wajah Hyukjae.

” Kau! Beraninya menyakiti putriku! Bajingan! Rasakan ini! Dan ini! Ini tak seberapa, kau tahu? Dasar bedebah!! ”

Hingga akhirnya Kim Daesung kelelahan. Berhenti menghajar Hyukjae yang sudah tak bertenaga dengan sekujur tubuh sakit tak terkira.

Hyukjae tahu mertua–mantan mertuanya itu lebih dari berhak menghajarnya habis-habisan. Hyukjae tahu dia pantas mendapat semua luka dan lebam di tubuhnya. Ini salahnya. Itulah mengapa dia tak melawan.

Kini dia duduk bersimpuh di lantai. Kepalanya tertunduk, malu, takut, merasa bersalah pada wanita di hadapannya itu.

” Maaf. ”

Rana mendengus. Apa hanya itu yang bisa dia katakan? Maaf? Apa kata maaf bisa memperbaiki semua hal yang ia hancurkan?

” Jangan bergurau. ” tukasnya. Hatinya sakit dan marah di waktu yang bersamaan.

” Aku tahu kau tak akan memaafkanku, Rana. Aku mengenalmu. Namun aku… Aku tetap akan berlutut memohon pengampunan darimu. ”

Rana begitu marah hingga tak bisa berkata apa-apa. Pria ini begitu tolol dan tak tahu malu. Kenapa dulu dia bisa jatuh pada si brengsek ini?

Ruangan terasa begitu sunyi. Hanya terdengar suara napas Hyukjae yang pendek-pendek karena gugup. Rana memutuskan untuk berbicara.

” Persidangan memutuskan kita telah bercerai. Kau tak punya hak lagi bertemu denganku. ” katanya sinis. ” Kau, kalau ingin kumaafkan, pergilah jauh-jauh. Jangan tampakkan batang hidungmu lagi di hadapanku. Kau membuatku muak. ”

Hyukjae mendongak, menatap Rana dengan terhenyak.

” Pergi! Jangan masuk ke dalam hidupku lagi! ”

Hyukjae berdiri dengan lesu, lalu membungkukkan badan 45 derajat.

” Sekali lagi aku minta maaf. ”

” Ricchie-ya! ”

Belum lagi Hyukjae keluar dari situ, Kibum muncul dengan wajah sumringah.

” Oh? Ada Hyukjae? ”

Kibum terus melangkah tak peduli, mendatangi Rana dan merangkul pundaknya.

” Kita jadi hang out, Sobat? Atau aku perlu menunggu sebentar? Barangkali kau masih mau bicara dengannya.. ”

Rana menggeleng. Dia tersenyum lebar pada Kibum.

” Urusan kami sudah selesai. Ayo, kita pergi. ”

Keduanya menjauh, meninggalkan Hyukjae yang luka di mana-mana sendirian. Lengan, kaki, perut, wajahnya juga lebam membiru. Juga, hatinya, sesak terhimpit penyesalan yang tak terkatakan.

Hyukjae hanya bisa menatap punggung Rana dan Kibum yang menjauh tanpa mengatakan apa pun. Memangnya apa lagi yang dapat ia utarakan? Toh semua usahanya sia-sia. Apa lagi yang tersisa selain rasa sesal?

Dengan lemas, pria malang itu meninggalkan hanok besar milik Kim Daesung, kembali ke rumahnya yang sunyi.

————————————–

” Ricchie-ya… Kau ingin ke mana? ”

Mobil berwarna sky blue lembut milik Kibum meluncur santai di jalan besar di pinggiran Seoul. Jalanan tak begitu ramai, mengingat wilayah itu bukanlah pusat kota dan pusat keramaian. Beberapa kendaraan melintas, namun tak sampai memenuhi jalan. Gedung pencakar langit juga tidak banyak. Dibandingkan Gangnam atau Apgujeong atau Myeongdong, bangunan di sini tak terlalu tinggi. Rata-rata di bawah sepuluh lantai.

Rana belum menjawab pertanyaan Kibum. Dia masih diam. Mencoba menahan agar air mata tak jatuh membasahi wajahnya. Mencoba menghapus sakit di dada. Bukan hal yang mudah, karena pada akhirnya air matanya tetap menganak sungai.

” Terserah kau saja, Kiki-ah. ”

Tenggorokannya tercekat. Suara jadi tertahan di kerongkongan, dan menghasilkan nada yang aneh. Tak merdu sama sekali. Dan bukan Rana sekali.

” Kau ini. Menangis sajalah kalau memang ingin. Tak usah ditahan. Memangnya aku ini orang asing bagimu? ”

Rana terisak, sekali, dua kali, lalu tersedu tanpa henti.

————————–

Bosan. Rana berguling-guling di kasur empuknya. Bibirnya manyun. Dia merasa malas melakukan apapun, tapi juga bosan berdiam diri di rumah. Entah sudah berapa hari ia nganggur begini. Tiduran di rumah, main games, kadang membaca buku, kadang mencoret-coret buku sketsanya tak jelas. Ia bahkan kesulitan menemukan ide untuk desain baru butiknya.

Hei! Bukankah dulu ia suka jalan ke mall bersama Nina, salah satu asistennya yang sudah ia anggap adij sendiri itu? Melihat-lihat koleksi dari berbagai merk dan mencari inspirasi? Kenapa ia tak lakukan itu saja?

Dia segera meraih ponsel dan menghubungi Nina.

” Hei, ayo jalan-jalan. Aku bosan nih. Ke Han Supermall yuk? Kita… ”

” Hei juga. Ah mian Eonni, tapi aku sudah ada janji dengan pacarku. Mianhe… “

” Aaah oke tak apa. Lain kali saja kalau begitu. ”

Telepon ditutup. Rana lesu lagi.

” Aish… Padahal aku bosan di rumah. Tapi malas pergi kalau tak ada teman… ”

Tunggu. Kenapa tak pergi dengan Kibum saja?

Bagaimana kalau ia sedang kerja?

Ini hari Sabtu. Seharusnya dia libur.

Dan dengan semangat, dia menghubungi Kibum sedikit buru-buru.

” Ha… ”

” Halo… “

.
.
.
.

Suara perempuan??

–TBC–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s