Drama Part 5

image

Cast:

– Kim Rana (OC)
– Lee Hyukjae
– Kim Kibum

Genre: Romance

Length: (?)

Rating: PG-15

Go go go!!!

NO BASH NO PLAGIAT NO COPAS NO REBLOG W/O FULL CREDITS!!

————————————————–

Rana mengamati merry go round beberapa meter di depannya tak fokus. Pikirannya berputar-putar. Rasa penasaran campur entah-apa-tapi-membingungkan-dan-tak-nyaman memenuhi hatinya. Ramainya Lotte World bahkan tak bisa mengalihkan pikirannya.

Di sampingnya, ada Kim Kibum yang memperhatikannya keheranan. Kenapa gadis ini?

Tadi dia ngotot sekali minta ditemani main ke Lotte World. Eh sekarang malah tak bersemangat begitu sampai.

Lotte World tak seramai akhir pekan. Yeah, ini masih jam sekolah dan jam kerja. Yang datang tak sebanyak hari libur. Akan sangat leluasa bermain tanpa perlu mengantri lama.

” Ricchie-ya… Kau ingin main wahana yang mana? ” tanya Kibum, mencoba mengalihkan perhatian Rana.

Rana masih diam tak menyahut. Sepertinya dia tak sadar Kibum mengajaknya berbicara.

” Ricchie-ya. Ricchie-ya!! ”

” N, ne? ”

” Ada apa lagi, Kawan? ”

Rana menggeleng sambil tersenyum dengan agak enggan. Aneh sekali. Bahkan Rana merasa dirinya agak janggal hari ini, jadi apalagi Kibum?

” Tsk, kau ini. Aku tak tahu kau kenapa lagi sekarang. Tapi kau sudah memaksaku pergi ke sini denganmu. Sia-sia tiket yang sudah kita beli kalau tidak melakukan apa pun atau naik wahana mana pun. ”

Sambil bangkit dari duduknya, Kibum menarik pergelangan tangan Rana, membuat gadis itu mau tak mau berdiri dan berjalan dengan sedikit terseok di belakang Kibum. Mereka berhenti sebentar. Masih dengan tangan yang menggenggam lengan Rana, Kibum mengamati wahana satu per satu.

” Ayo, kita naik itu. ”

Merry-go-round? Kibum tak salah?

” Itu ‘kan buat anak-anak, Kiki-ah. ”

Tak peduli, dia tetap menyeret Rana naik ke salah satu kuda-kudaan berwarna putih di situ.

” Yang kita perlukan itu rileks, Ricchie-ya. Santai saja, dan nikmati liburan kita hari ini. ” tukasnya. ” Besok aku sudah mulai ngantor lagi, dan kau juga tak bisa berlama-lama meninggalkan butikmu, bukan? Pegawai dan pelangganmu tentu tak sabar menunggumu kembali. ”

Rana mengangguk dan memasang senyumnya sedikit dipaksakan.

” Hei, senyum yang benar dong. Kok tidak ikhlas begitu. ”

Rana jadi tertawa. Pria ini bisa tahu kalau senyumnya tak tulus. Hebat!

————————————

Esok hari, Rana bangun pagi-pagi. Sedikit malas ia menyibakkan selimut, lalu duduk dan memakai sendal rumahnya. Sendal bulu yang begitu ia sukai sejak SMP. Warnanya biru pucat, dengan boneka singa yang juga berwarna biru di bagian selopnya. Boneka inilah alasan mengapa sendal ini begitu favorit. Sendal itu juga hadiah pertama dari sahabat terbaiknya, Kim Kibum.

Rana bangkit dan melangkah ke ujung ruangan. Gorden besar berwarna putih gading bermotif bunga plum abu-abu di bagian bawahnya dia tarik hingga terbuka. Jendela kamar–merangkap pintu beranda–dari lembaran kaca yang tebal bening berukuran super besar memenuhi dinding. Dan tanpa dikomando, cahaya matahari merangsek masuk menyilaukan mata.

Rana membuka jendela super besar itu, dan tersenyum senang. Dia bersyukur telah bangun awal hari ini. Taman di samping rumah–yang tepat berada di depan jendela kamarnya sungguh memanjakan mata. Putih di mana-mana, di tanah, di pohon, di pagar, juga di depan berandanya. Belum lagi udara sejuk nan dingin yang masuk dan mengisi rongga dadanya dengan kesegaran pagi.

” Hari yang indah. ” katanya. ” Sempurna sekali untuk sedikit coret-coret. ”

Penuh semangat, Rana menghampiri meja belajarnya, mengambil buku sketsa, pensil, dan penghapus.

” Sepertinya nyaman sekali coret-coret di bangku taman. ”

Rana pergi ke kamar mandi di samping meja rias miliknya. Bukan untuk mandi. Dia cuma mau sikat gigi dan cuci muka sedikit. Dia tidak ke butik hari ini, well, belum. Entah nanti jam berapa atau malah besok. Rana belum tahu.

Setelah nafas dan wajahnya segar, Rana menenteng peralatan tempurnya ke taman di samping kamar tanpa ganti baju. Tak lupa ia bawa coat tebal yang juga berwarna sky blue lembut, serta shawl kashmere dan sarung tangan baby terry warna navy karena dia mudah kedinginan. Apalagi sudah mulai musim dingin begini. Kalau dia sampai lupa memakai pakaian tebal dan tertutup, bisa dipastikan dia akan demam malam harinya, kemudian paginya ia flu berat selama berhari-hari. Dan itu sangat menyebalkan. Rana benci sekali dengan flu.

Rana celingak celinguk sesekali, lalu bergegas menghampiri bench dari kayu di tengah taman di bawah pohon maple tanpa daun. Dinginnya bench segera menyapa kulitnya. Ugh. Untunglah dia sudah mengenakan coatnya, dan untunglah benchnya terbuat dari kayu, bukan besi. Rana tak bisa bayangkan bagaimana dinginnya menyengat kulit saat duduk di bench.

Dia mulai membuat pola. Namun beberapa detik kemudian dia mencoret-coretnya asal-asalan.

” Aaargh! ”

Dia mendengus dan berkata sebal, ” Ada apa denganku? Ugh! ”

Sebenarnya, sudah beberapa hari semenjak ia main ke Lotte World, dan sejak saat itu juga ia belum berkomunikasi dengan Kibum. Bukannya tak mau repot menelepon atau mengirim LINE chat, hanya saja, bagaimana jika nanti pria itu terganggu? Bisa saja ‘kan, saat Rana menghubungi, Kibum sedang di persidangan? Atau mungkin sedang berbicara dengan kliennya? Atau di kantor polisi, mungkin, menemani klien menghadiri panggilan dari kepolisian?

Bisa saja,’ kan?

Atau… Sedang bersama, pacarnya?

Tapi dia bilang dia single.

Yah, bisa jadi dia bohong.

Tapi Kibum tidak suka berbohong.

.

.

.

Lalu, suara perempuan itu siapa?

Itu bukan Saehee. Rana masih ingat seperti apa suara Saehee. Bukan seperti suara yang di seberang telepon waktu itu.

.

.

.

Kenapa hal ini bisa sangat mengganggu, Rana juga tak begitu paham. Ck. Ini benar-benar aneh.

————————————-

Musim dingin sudah memasuki hari kesembilan. Salju makin menebal, suhu udara makin rendah. Orang-orang mengenakan sweater, jaket, dan coat berlapis-lapis untuk menangkal dingin yang menusuk kulit.
Jalanan tak pernah sepi meski cuaca sedingin ini. Yah, hidup di kota besar bukan hal mudah. Kau harus tetap bekerja, atau kalau tidak, dalam beberapa hari saja kau akan kehilangan hampir semua yang kau miliki. Kota besar adalah dunia yang kejam.

Rana juga tetap berangkat ke butiknya siang ini. Sudah terlalu lama absen, dan baru sekarang dia berangkat lagi. Dia bersyukur butiknya lancar-lancar saja. Meski belum ada model terbaru dari otak kreatifnya yang brilian itu, butik tak lantas kehilangan pelanggan. Itu berkat asistennya yang cekatan, dengan tetap menggunakan desain yang sama, tapi dengan warna-warna yang lebih segar di mata.

” Halo Nina Sayaaaang! ” sapa Rana penuh semangat ketika kakinya melangkah masuk. ” I’ m back, at last. ”

Yoo Nina, asistennya, menjerit kegirangan. Suaranya yang melengking membuat butik jadi gaduh dan sukses membuat para pengunjung menoleh.

” Aaaaaaak Eonnie! Eonnie aku kangen padamu Eonnieee! Akhirnyaa Eonnie kembaliii! ”

Keduanya berpelukan dramatis.

” Eonnie, kenapa lama sekali cutinya? Pelanggan tetap kita menanyakan Eonnie dua hari yang lalu. ”

Pelanggan tetap mereka ‘kan banyak.

” Yang mana? ”

” Itu, Queensei. Biasanya dia beli koleksi kita lewat LINE, bukan? Kemarin tumben-tumbenan dia datang ke sini, ingin ketemu Eonnie, katanya. ” cerocos Nina secepat subway selebar lautan. ” Oh iya, dia juga cantik sekali, Eonnie, lebih cantik daripada di foto profil akun LINE nya! Aku yang perempuan saja sampai terkagum-kagum! ”

Rana tersenyum kecil. Asistennya ini memang sukaaa sekali berbicara. Mulutnya seperti mesin kereta uap jaman dulu, tak berhenti mengeluarkan suara bising, cepat, dan tanpa henti.

” Dia beli beberapa yang limited edition, Eonnie. Ck, sempurna sekali dia. Sudah cantik, ramah, baik lagi. Wahh, bikin iri saja. ”

KRIING KRIIIIIING
KRIING KRIIIIIIIIING

Rana terkejut. Tasnya bergetar-getar, ponselnya bunyi.

Segera dia ambil ponsel dari dalam tasnya, dan dia melihat ada nama Kibum terpampang di layarnya.

Kiki-ah?

Tanpa sadar, sebuah senyuman tersungging di bibirnya.

” Siapa? Lee Hyukjae-ssi ya? ” Nina bertanya setengah menggoda. Rana masih tersenyum senang.

” Bukan, kami sudah bercerai. ”

Nina tertegun. Cerai? Kenapa bosnya mengatakan itu sambil tersenyum tanpa beban?

” Kiki-ah? ”

” Kau di mana? “

” Aku? Di butik. Kenapa? ”

” Bagus! “

Telepon ditutup. Rana menatap layar ponselnya dengan kening berkerut, tak mengerti kenapa Kibum menutup teleponnya. Juga kenapa pria itu hanya menelepon sebentar saja. Padahal ‘kan sudah hampir sebulan mereka tak keep in touch, bahkan via LINE.

” Apa-apaan dia ini? Kok cuma pendek begitu obrolannya? Cih… ”

Nina masih memperhatikannya bingung.

” Eonnie… ”

” Ah, tadi? Dia teman lamaku saat SMA. Kemarin dia juga yang membantuku dan jadi kuasa hukumku saat memproses perceraianku dengan Hyukjae. ” jelasnya. Dia mengira Nina menanyakan tentang siapa yang meneleponnya.

Grepp

Gelap. Ada yang menutup mata Rana dan memeluknya dari belakang.

” Hei! Siapa kau? ”

Si pelaku diam, dan menyuruh Nina untuk diam. Sementara Rana mencoba melepaskan pelukan orang itu, tapi tak bisa. Terlalu erat. Bahkan tangannya juga tak bisa bergerak.

Orang itu tertawa geli dalam diam.

Nina perlahan menyingkir, merasa sepertinya bosnya kenal dekat dengan si pelaku. Dia sadar, dia bisa saja mengganggu mereka kalau tidak pergi.

” Nina-ya! Hei jangan pergi! Hei! ”

Orang itu tertawa lagi.

Dia lalu berbisik di dekat telinga Rana, ” Aku kangen, Ricchie-ya… ”

Rana tak tahu kenapa, namun dia gugup dan berdebar-debar. Dia tahu orang ini, dia hafal suara ini. Dan dia, tak berani membuka mata meski pelakunya sudah melepaskan tangannya dari mata Rana.

Pelukan mengendor.

” Kim… Kibum…? ”

Rana berbalik.

Kim Kibum. Pria itu berdiri dengan kedua tangan berkacak pinggang. Senyum terkembang di bibirnya. Dengan coat panjang warna navy, sweater warna abu-abu, dan kemeja kotak-kotak sky blue-magenta yang nampak dari kerahnya yang menyembul keluar, Kibum tampak keren. Lebih tampan dari biasanya.

Sampai-sampai Rana jadi gugup.

Sekali lagi Kibum memeluknya erat.

” Aku benar-benar kangen, Ricchie-ya. Kangen sekali padamu. ”

———————————

” Aku sibuk sekali bulan ini, kasus klienku yang terakhir kemarin sedikit rumit. Baru bisa istirahat hari ini. ” jelas Kibum. ” Maaf aku tak sempat memberimu kabar. ”

Rana menggeleng. Di wajahnya terukir senyuman. Senyum lebar bahagia, yang Rana sendiri tak tahu karena apa.
” Tak apa-apa, Kiki-ah. ”

” Oh iya.. ”

Pria itu mengaduk-aduk saku coatnya. Terdengar gemerisik, membuat Rana seketika penasaran.

Kibum mengangsurkan sebuah buku kecil, kira-kira cuma seukuran dua pertiga buku tulis biasa. Cuma sampulnya lebih tebal, isinya juga sedikit. Warna sampulnya pink pucat dengan gambar bunga daisy di pojok kanan bawah. Isinya berupa lembaran kertas berwarna senada.

Rana mencium bau buku itu.

” Milik siapa, Kiki-ah? Cantik sekali. Wanginya juga enak. Oats. ”

” Punya Saehee. Sebenarnya dia fans beratmu. Dia menitipkannya padaku agar memintakan tanda tanganmu untuknya. ”

Rana tertawa.

” Fans? Benarkah? ” katanya setengah tak percaya. ” Mungkin ada yang salah dengan seleranya. Masa’ dia ngefans padaku. ”

” Sudah, tanda tangani saja. Seleranya memang sedikit aneh tentang yang satu ini. Tapi setidaknya dia akan senang mendapat tanda tanganmu di buku kesayangannya. ”

Rana meraih pena gambar di kotak pensil di meja kerjanya. Dia membuka lembar pertama buku itu dengan hati-hati.

Dia menulis, ” Untuk Saehee, semoga engkau selalu cantik dan bersinar, luar dalam, dan sukses selalu. Xoxo “ dan membubuhkan tanda tangan dan namanya di bawah tulisan itu.

” Ricchie-ya, hari ini kau luang? ”

Rana menatap Kibum tak berkedip.

” Aku tak terlalu sibuk. Kenapa? ”

” Kalau begitu, ayo temani aku. ”

Kibum menyeret Rana antusias. Keduanya keluar dari ruangan setengah berlari. Rana sempat berteriak, ” Tolong kau urus butik sebentar, Nina-ya! Aku segera kembali! ”

—————————-

Belum begitu siang saat mobil VW Beetle keluaran terbaru warna merah berhenti di sebuah pusat perbelanjaan. Masih sekitar pukul sepuluh pagi, matahari masih setengah berani menampakkan diri. Suhu udara hari ini lumayan bersahabat, dua derajat celcius, tak sedingin kemarin yang mencapai minus tujuh derajat. Meskipun tentu saja, suhu di bawah dua puluh derajat celcius itu sudah lumayan sejuk, hampir dingin.

Seoul Supermall tetap seperti biasa, ramai pengunjung. Tidak sampai berjubel, tapi koridor-koridornya terlihat penuh. Orang lalu lalang hiruk pikuk, tak peduli dengan orang lain.

Rana dan Kibum ada di antara hiruk pikuk itu. Berjalan bersisian sambil sesekali mengomentari apa yang mereka lihat. Kadang mendecak, kadang menggeleng-geleng, mengangguk tak jelas, tak jarang juga mereka terkikik.

” Oh! Itu dia! ” seru Kibum tiba-tiba. Satu tangannya menunjuk ke arah sebuah toko fashion ternama, satunya sibuk menggandeng tangan Rana yang bebas berayun di samping tubuhnya.

Tidak mungkin dia beli untukku, ulang tahunku masih sekitar tiga bulan lagi.

Lalu, untuk apa mereka kemari?

Kim Kibum mendatangi pramuniaga yang berdiri di dekat salah satu rak pakaian.

” Ahgassi, bolehkah aku lihat koleksi gaun untuk wanita dewasa? Tingginya kira-kira 170 cm, bentuk tubuhnya juga tak terlalu gemuk, tak terlalu kurus. Kulitnya putih susu. ”

Rana melongo. Pria ini detail sekali.

” Oh ya, dia juga tak terlalu suka gaun terbuka. ”

Pramuniaga murah senyum itu membungkuk kemudian berlalu, dan setelah beberapa menit dia kembali membawa beberapa lembar gaun pesta di tangannya.

” Ini koleksi terbaik kami musim ini. ”

Kibum meminta pramuniaga itu memperlihatkan gaunnya satu per satu. Ia terlihat berpikir.

” Ricchie-ya, bisa tolong kau coba gaun itu? ”

Rana menoleh kaget.

” Sudah sana, lekas coba dan tunjukkan padaku! ”

Dan dia masuk ke kamar pas, membawa gaun pilihan pertama Kim Kibum.

Rana tak begitu suka gaun itu. Terlalu, terbuka. Gaun warna putih keperakan, dengan model backless dan bagian depannya sedikit menjuntai, gaun yang membuat dia malu setengah mati.

Dia berkata sambil menyibak tirai kamar pas, tak ingin menunjukkan dirinya yang terbalut gaun kelewat terbuka itu.

” Kita skip saja ke gaun kedua, Kiki-ah. ”

Kibum menggeleng.

” Tunjukkan dulu padaku. Aku ingin tahu apakah gaun itu cocok diberikan atau tidak. ”

Tangannya melambai menyuruh menyingkap tirai. Rana menggigit bibir bawahnya tak begitu suka. Namun dia tak punya pilihan. Rana menyerah.

” Please, jangan lihat! Ini memalukan! ”

Kibum tertawa melihat Rana menutup wajahnya. Kenapa sih gadis ini? Apanya yang memalukan? Toh dia…

Can… Tik….

Kibum memalingkan wajah. Berdeham menutupi gugupnya. Semburat merah nampak di tulang pipinya yang menonjol.

Yah.. Dia.. Terlalu… Ugh…

Pantas saja dia malu..

” Skip gaun kedua! ”

Pramuniaga mengangsurkan gaun berikutnya pada Rana. Dia sedikit terkikik, pikirnya, dua sejoli ini benar-benar lucu dan polos.

Tirai kembali ditutup, dan beberapa saat kemudian terbuka lagi. Kali ini Rana mengenakan gaun tanpa lengan warna hitam, desain sederhana, tak banyak improvisasi di sana. Kibum menggeleng cepat.

” Next. ”

Tirai ditutup–lagi.

———————————–

VW Beetle merah milik Kibum keluar dari basement mall. Begitu keluar, langit sudah berwarna oranye campur ungu, matahari hampir tak terlihat di ufuk cakrawala.

Heeeh, lama juga. batinnya. Dia melirik ke samping. Lalu tersenyum senang. Rana tertidur lelap di situ.

Kibum tersenyum lagi. Lebih lebar. Shopping seharian, makan berdua, dan mengantar pulang gadis ini; seharian bisa bersama-sama Rana adalah hal yang membahagiakan baginya. Sudah lama sekali tidak mengahbiskan hari-hari bersama.

Dulu, saat dia masih jadi PA nya Rana, mereka berdua biasa menginap di sekolah mengurusi kerjaan OSIS yang tak bisa ditunda lagi. Bedanya, dulu mereka melakukannya ramai-ramai. Ada dia sendiri, Rana tentu saja, Saehee adiknya, Shindong si bendahara tukang makan, Donghae, sekretaris yang hobi tidur, dan pastinya, Hyukjae. Yang sebenarnya tak perlu lagi ikut-ikutan, karena sudah jadi mahasiswa.

Keberadaan Hyukjae sesungguhnya benar-benar membuatnya merasa terganggu. Nempel-nempel terus dengan Rana. Lelaki mana yang tahan gadisnya berdekatan dengan lelaki lain?

Ralat.

Gadisnya Hyukjae.

Ya.

Dia merasa memiliki Rana.

Tapi, saat itu ‘kan Rana milik Hyukjae. Bukan miliknya.

Dia cuma orang luar.

—–

Kibum menghela napas. Kemudian menyunggingkan bibirnya.

Sekarang, dia milikku, Lee Hyukjae.

Mobil berhenti di depan rumah Kim Daesung. Kibum tak serta merta membangunkan Rana; gadis itu tampak kelelahan dalam tidurnya. Alih-alih membangunkan, Kibum malah cuma asyik memandanginya, dan mengelus-elus rambut Rana penuh sayang.

” Sebentar lagi, Kim Rana. Tunggulah sebentar lagi. ”

Dan dikecupnya kening Rana dengan lembut.

Pria itu menoleh ke kursi belakang, dan mengambil salah satu paperbag yang berwarna biru pastel. Kemudian dia keluar dari mobilnya, menggendong Rana keluar lewat pintu seberang, dan membawanya masuk ke hanok Kim Daesung yang besar.

Kibum memencet bel intercom, dan mengatakan bahwa dia adalah teman karib Kim Rana, yang mengantar gadis itu pulang dari hang out.

Tak ada jawaban, namun pintu ruang tamu terbuka.

” Kau siapa? ”

–TBC–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s