The Fake Part 3

image

Cast: Lee Hyukjae, Cho Kyuhyun, Kim Rana

Genre: Fantasy

Length: continued

Rating: PG-15

Warning! Ini BUKAN ff SWITCH GENDER!

No bash, no plagiat, no copas, no reblog W/O full credit!

———————————

Hyukjae memejamkan matanya sejenak, sambil melemaskan punggungnya yang terasa pegal. Kenapa dia harus punya murid macam Rana?

” Dia punya trauma, Hyung. “ Kyuhyun berbisik. ” Aku juga baru tahu sekarang. Pacarku, Park Yeri, ternyata adalah kakak Kim Rana di dunia kami. Dia baru cerita saat aku tanya kenapa reaksi Rana heboh begitu. “

Hyukjae diam, menunggu Kyuhyun melanjutkan ceritanya. Dia menghela napas panjang.

” Ayah Kim Rana meninggal saat ia masih kecil. Ibunya lantas menikah lagi lima tahun kemudian. Orang yang menikah dengan ibunya itu suka sekali memukul Rana. Dia menganggap Rana jelmaan ayahnya, karena kemiripan Rana dengan ayah kandungnya. Ketika ibu Rana tahu perlakuan buruk suami barunya, ia menggugat cerai. Mereka berpisah. Tapi semua sudah terlambat. Sudah lima tahun Rana diperlakukan dengan buruk, dan itu membuat Rana, yah, kau tahu, anti dengan lelaki. “

Hyukjae melirik Rana yang tertidur di ranjang besar miliknya. Sesekali dia masih menangis atau kadang mengigau. Dan suhu tubuhnya naik lagi.

Tadi susah payah Hyukjae berusaha menenangkannya. Rana terus berteriak ketakutan dan memberontak.

” Jangan pukul aku, Appa. Kumohon. ”

” Aku gurumu, Kim Rana. Aku bukan appa-mu. ”

” Jebal, Appa. Jangan pukul aku. Aku akan ikut kata Appa. Asal Appa tidak memukulku. Kumohon Appa! ”

Perlawanan Rana baru berakhir setelah dia pingsan kelelahan.

” Ah, jadi gara-gara ayah tirinya ya, dia begitu. ” gumam Hyukjae. ” Pantas saja dia begitu benci dan jijik pada teman-teman lelakinya. ”

” Eomma… Tolong, Eomma… Eomma… Sakit… ” lagi-lagi Rana mengigau.

Hyukjae bangkit dan mengecek suhu tubuh Rana.

” 39. Ya Tuhan! ”

Sedikit terburu-buru, digendongnya Rana keluar dari apartemennya. Tangannya masih sempat meraih dompet dan juga ponsel, juga kunci mobil yang semua dia masukkan ke kantong coat tipis yang dia kenakan. Rana mengigau kecil.

” Bertahanlah, Missie. ”

Mereka masuk lift, yang sekitar semenit berikutnya sudah berhenti di basement. Hyukjae cepat-cepat mendudukkan Rana di kursi penumpang depan, masuk ke kursi kemudi, memasang seatbelt untuk Rana dan dia sendiri, lalu menjalankan mobilnya bagai orang kesurupan keluar kompleks gedung apartemennya. Hanya ada satu tempat yang terlintas di benaknya: rumah sakit!

—————————–

Langkah buru-buru terdengar bergema di lorong rumah sakit Seoul National Hospital. Langkah seorang wanita. Suara heels yang beradu cepat dengan lantai membuat beberapa orang menoleh ke arah sumber suara.

” Maaf, di mana ruang rawat pasien Kim Rana? ”

Kwon Jira. Wanita berumur empat puluhan tahun itu tergesa-gesa bertanya pada perawat yang berjaga di ruang administrasi Seoul National Hospital malam itu. Siang tadi wali kelas putrinya menelepon kalau anak semata wayangnya demam tinggi. Dia sedang meninjau lokasi di mana perusahaannya akan membangun resort di Jeju bersama atasannya, lalu segera pergi kembali ke Seoul setelah memberi penjelasan singkat. Sekalian minta izin untuk pulang melihat keadaan putrinya.

” Oh, di lantai empat, koridor Chrysant, kamar nomor 3. ” perawat tadi menjawab ramah.

” Terima kasih. ”

Kwon Jira berjalan cepat menuju lift. Menekan tombol bertuliskan angka empat dan menunggu lift berhenti berjalan dengan tidak sabar.

Lift terbuka di lantai empat. Jira berlari mencari koridor Chrysant, dan segera menemukannya tiga menit kemudian.

” Nomor 3… Nomor 3… Ah! ”

Pintu terbuka. Jira berlari lagi, menghampiri Rana yang terbaring di ranjang rumah sakit.

” Kau sakit, Sayang? Di sebelah mana? Kepala? ”

Rana tersenyum.

” Aku sudah lebih enakan, Eomma. Tenang saja. ”

Jira mendesah pelan. Lega mengetahui bahwa kondisi Rana tak seekstrim yang dia bayangkan. Dan kemudian terkejut mendapati Hyukjae yang meringkuk di sofa besar di tengah ruangan. Yang tadi tak ia sadari keberadaannya.

Siapa pria ini?

” Sayang, siapa dia? ”

Rana menengok, dan terbelalak melihat Hyukjae di situ.

” Saem? ”

Ibunya mengedik bingung. Gurunya? Semuda itu? Ah, bohong. Laki-laki, pula. Setahunya, putrinya benci laki-laki.

” Dia wali kelasku, Eomma. Dia, ‘ melambai ‘ , maksudku, sedikit, emm, centil. ”

Ibunya tambah bingung lagi.

” Dia suka pakai wig, suka pakai bedak dan lipstik dan blush on dan macam-macam, suka pria tampan; itulah dirinya. Lee Hyukjae Seongsaengnim. ”

Sekarang ibunya terkikik.

” Mana ada lelaki macam begitu? ” tukasnya geli. ” Dia juga tampan. Mustahil karakter wali kelasmu aneh seperti yang kau bilang, Honey. ”

” Eomma, wajah bisa menipu! ”

Ibunya tertawa pelan.

” Ya ya, Eomma percaya. ”

Rana cemberut beberapa detik, namun tak bertahan lama. Ia segera tersenyum ketika sang ibu memeluknya. Damai sekali. Sudah lama sejak terakhir bertemu. Mungkin, sebulan?

Kwon Jira wanita karir yang sibuk. Pekerjaan menuntutnya agar selalu berada di kantor. Tak setiap hari ia bisa bertemu Rana. Paling-paling, hanya saat sarapan. Malam hari, Rana pasti sudah tidur waktu ia sampai di rumah.

” Kau benar-benar tak apa, Dear? ”

Rana mengangguk.

” Hanya kangen saja pada Eomma. ”

Jira terdiam. Dia, ibu yang, bodoh.

” Maafkan Eomma, Sayang. ”

” Tidak. Aku tahu Eomma sibuk bekerja membiayai hidup kita. ”

” Sebenarnya kau kenapa, Sayang? Ada masalah? ”

Lagi-lagi Rana menggeleng.

” Cerita pada Eomma, Nak… Itu akan membuat pikiranmu jadi lebih rileks. ” bujuk ibunya. ” Trauma lagi? ”

Tak ada sahutan. Hening sesaat. Jira perlahan mengendurkan pelukannya. Terdengar suara gemerisik. Hyukjae terbangun.

” Oh… Anda… ” ujarnya sambil menguap. ” Anda siapa? ”

” Salam kenal, Seongsaengnim. Saya ibu dari Kim Rana. ”

Hyukjae tergeragap. Gawat! Dia melupakan wig dan kotak make upnya di rumah!

” Aih aih ya ampun, maaf maaf. Silakan silakan, mari silakan duduk. ”

Sampai kapan aku harus berlagak menjijikkan begini hah?

Kyuhyun mendengar umpatan Hyukjae dalam hati, dan tertawa keras-keras. Yah, toh yang lain tak tahu.

Sialan kau!

Kyuhyun tertawa lagi.

” Saya wali kelasnya, Lee Hyukjae. Maaf, belepotan begini wajah saya. Aduh, jadi malu, muka berantakan begini bertemu dengan wali murid. ”

Jira tersenyum tipis.

” Tidak, Saem, tidak apa-apa. Malah saya berterima kasih sekali pada Lee Saem. Maaf juga, sudah membuat Anda kerepotan begini. Anak saya beruntung punya wali kelas bertanggung jawab seperti Anda. Terima kasih banyak. ”

Hyukjae melirik Rana sesaat. Kemudian dia tersenyum pada Jira.

” Aigoo, Kim Rana ‘kan murid saya, sudah kewajiban saya bertanggung jawab terhadap siswa-siswa saya. Tak perlu sungkan, Ny. Kwon. ”

” Terima kasih banyak, sekali lagi, Saem. Biarlah Rana saya tunggui saja. Kami sudah terlalu banyak merepotkan. ”

Hyukjae tersenyum lagi. Dia mengangguk-angguk paham.

” Baiklah kalau begitu, Ny. Kwon. Tentu Miss Rana akan lebih nyaman bersama ibunya. ”

Hyukjae berdiri, dan tanpa sadar mendatangi Rana, lalu mengusap kepala Rana dengan lembut.

” Cepat sembuh, Missie. ” ucapnya tulus. ” Jangan capek-capek ya. ”

Pria muda itu menunduk limabelas derajat, kemudian pergi dari situ.

” Dia guru yang baik, Sayang. ”

Rana hanya nyengir dan tertawa agak sinis, ” Eomma tak tahu sih, bagaimana dia di sekolah. Dia disiplin dan galak, Eomma. ”

” Sungguh? ”

Dan tawa-tawa kecil kembali terdengar dari kamar nomor 3 di koridor Chrysant.

———————————–

One month later…

” Miss Rana Kim! Missie! ”

Derap high heels memenuhi seluruh gedung utara Seoul National High. Diiringi teriakan khas sang guru dance dan gelak tawa para siswa. Siapa yang tidak geli disuguhi drama komedi gratis pagi-pagi begini?

” Mianhe Saem miaaan! ”

Yang dikejar berlari sebisanya, menghindari amukan Hyukjae.

” Jangan kabur dari detensi, Missie! ”

Dan akhirnya Rana pun berhenti berlari karena kelelahan. Nafasnya tersengal. Keringat mengalir dari dahinya, juga leher dan pelipisnya.

Rana tertawa sementara Hyukjae mendekat sambil marah-marah. Guru satu itu benar-benar asyik buat diusili. Mengamati ekspresi Hyukjae yang dengan gampangnya berubah jadi hobi baru untuknya. Pria jadi-jadian itu bisa saja serius satu detik yang lalu, kemudian marah atau tertawa di detik berikutnya.

Hyukjae mendekat dan menjewer telinga Rana dengan jengkel. Rana sedikit merasa sakit; dia tahu guru antiknya itu tak sungguh-sungguh menjewernya.

” Aaah mianhe Saem! Jeongmal mianhe! ”

” Dasar anak nakal! Kenapa kau kabur sambil membawa ponselku heh? Sini, Bandel! ”

Rana mengikut, masih juga tertawa.

” Mianhe Saem! Saranghamnida! Saranghamnida! ”

DEG!

” Saranghae Saemku! Saem cantik! Saranghamnida, ne Saem? ”

Langkah Hyukjae terhenti.

Mwo?
Saranghae?

” Mwo? Dia… “ bahkan Kyuhyun pun kaget.

Hyukjae menurunkan tangannya dari telinga Rana, kemudian berbalik. Dia menatap Rana dalam-dalam, membuat gadis itu salah tingkah setengah mati. Tanpa mengucapkan apapun.

” Kau… Jangan meruntuhkan pertahananku selama ini. ”

–TBC–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s