Difference

image

Cast:

– Kim Kibum
– Han Aquila [OC]

Genre: Romance, religion

A.n. : BEWARE! SARA ATTACK!
Ini pertama kali author mengangkat tema yang banyak dihindari sm author2 lain. Author ranakim9387–alias aku–sendiri juga belum pernah bikin ff dgn tema yg, well, bisa dibilang ekstrim, tapi banyak fangirl INA yg ngalamin problema begini. Yeah, perbedaan keyakinan.
Buat readers yg berbeda keyakinan dg author, author mohon maaf sebesar2nya jikalau dlm ff ini banyak hal yg bikin kalian tersinggung. Sungguh bukan bermaksud menjelekkan agama lain, author cuma pengen sharing aja, pengen curhat juga, betapa perbedaan keyakinan antara fans sm idola itu bener2 bikin gap alias jarak antara fans sm idolanya makin lebar, & itu salah satu yg disedihkan.

Okee kyknya au. ‘s note nya agak kepanjangan inihh… Cusss yukk kita simak bareng2..

NO COPAS, NO BASH, NO PLAGIAT, NO REBLOG/REWRITE W/O FULL CREDITS!!

————————————-

Langit terlihat mendung pagi ini. Itaewon sepertinya akan segera hujan. Hujan berudara super dingin di musim gugur yang terasa tak ramah di kulit Han Aquila.

Gadis itu membuka gorden jendela kamarnya yang besar, sambil merapatkan coat yang ia kenakan.

” Dingin banget di sini. ” gumamnya.

” Kilaa, makan Nak! ” terdengar seruan sang ibu dari dapur, memanggilnya untuk sarapan.

” Iya, Mi. Kilaa ke situ. ”

————————————–

Sudah sebulan ini Kilaa tinggal di Itaewon, Korea Selatan. Kampung halaman ayahnya. Jadwalnya, hari ini hari pertamanya masuk ke sekolahnya yang baru, Itaewon National High. Pagi-pagi sekali dia sudah siap. Kemeja putih lengan panjang, rok biru tua panjang hingga mata kaki, sweater tanpa lengan, jas almamater (dia belum terbiasa dengan cuaca dingin begini), juga hijab biru pastel yang ia lilitkan simpel menutup kepala dan lehernya.

Sebenarnya sih, ingin coba lilitan yang agak susah, tapi hijab model yang mirip Dian Pelangi begitu lumayan ribet. Dan ya, Kilaa tak suka yang ribet-ribet.

Dia tak lupa menyampirkan tas semi kulit berwarna marun ke bahunya, tanda ia siap ke sekolah.

Gadis itu keluar kamar dengan tergesa, melewati ruang keluarga super luas menuju dapur yang merangkap ruang makan. Lantai rumahnya yang berbahan kayu beradu dengan kakinya, menimbulkan suara duk-duk-duk saat ia berjalan–setengah berlari.

——————————–

” A, annyeonghaseyo. Jeo ireumeun Han Aquila, bangapseumnida. ”

Kilaa berdiri di depan kelas barunya, memperkenalkan diri sedikit gugup. Seisi kelas memperhatikannya. Mungkin karena cara berpakaiannya berbeda dari yang lain. Dia hanya berharap, tak ada yang membully nya karena ini.

Salah seorang siswa di kelasnya mengangkat tangan, dan menanyainya dengan bahasa Korea.

” Kenapa bajumu seperti itu? ”

Kilaa menghela napas. Dia berdoa banyak-banyak, membaca solawat banyak-banyak di dalam hati.

” Aku seorang Muslim, dan dalam agamaku, setiap perempuan yang sudah dewasa secara biologis, diwajibkan menutup seluruh anggota tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan. ”

Teman-teman barunya manggut-manggut.

” Oke, Han Aquila. Atau bagaimana aku harus menyebut namamu? ” guru menginterupsi.

” Kilaa, Seonsaengnim. ”

” Good. Kilaa, duduklah di bangku nomor dua dari belakang. Park Hani di sampingmu akan membantumu jika kau ada kesulitan. ”

Kilaa membungkuk sekilas, kemudian berjalan pelan ke tempat duduknya. Park Hani, gadis cantik berkacamata yang duduk di samping kiri bangkunya menyapa ringan.

” Halo. Aku Park Hani. ”

” Aku Kilaa. ” senyumnya.

” Darimana asalmu? Kenapa pindah di musim gugur begini? Omong-omong, kau benar-benar cantik. Kau pasti berdarah campuran. Ya, ‘kan? ”

Kilaa senang gadis bernama Hani ini bersikap ramah.

” Aku dari Indonesia. Ayahku sudah selesai masa tugasnya di sana, jadi kami pindah ke sini. Yeah, ayahku asli Korea, tapi ibuku orang Indonesia. ”

” Sudah kuduga. ”

Kilaa tersenyum kecil. Keduanya lalu memfokuskan pandangan ke arah guru.

———————————–

Sudah seminggu ini Kilaa masuk sekolah. Dia cepat akrab dengan teman-temannya. Dan hal yang kemarin-kemarin ia takutkan–pembullyan dan semacamnya–tak terjadi padanya. Dan dia sangat bersyukur untuk itu.

” Kilaa! ”

Seseorang menepuk pundaknya. Dia terlonjak.

” Hai! ”

Kilaa menoleh, dan mendapati seorang laki-laki yang, tak bisa dibilang jelek, yah, lumayan lah wajahnya, Kilaa akui itu. Laki-laki itu mengulurkan tangan kanannya.

” Aku Cho Kyuhyun, dari kelas sebelah. Salam kenal. ”

Kelas sebelah? Kok bisa tahu namanya? Sepertinya dia tak pernah berkomunikasi dengan anak kelas sebelah, jadi bagaimana laki-laki ini tahu dirinya?

” Senang bertemu denganmu, Cho Kyuhyun-ssi. ” Kilaa mundur selangkah, lalu mengatupkan kedua tangannya, tanpa menyambut uluran tangan Kyuhyun. ” Salam kenal juga. Aku Han Aquila. Maaf, aku tidak bisa bersentuhan dengan laki-laki selain keluargaku. ”

Kyuhyun menarik tangannya dengan canggung, lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

” Eumm, oke, tidak apa-apa. Aku bisa mengerti. Oh ya, aku boleh minta ID Line mu? Kau bisa menghubungiku kalau kesulitan belajar. Aku bisa membantumu. ”

” Tentu. ”

Keduanya bertukar ID Line, lalu Kilaa mohon diri, dan kembali ke kelasnya yang gaduh.

” Kilaa! Kilaa! ”

” Swiwiiit! Cho Kyuhyun pedekate padamu nih! ”

Sorakan anak-anak kelas 1-3 memenuhi seisi ruangan saat Kilaa masuk. Dia kebingungan, berjalan ke bangkunya yang langsung dikerubungi teman-temannya begitu dia duduk.

” Hei, dia bilang apa saja padamu? ”

” Apa dia mengajak kenalan? ”

” Daebak! ”

” Dia pasti minta nomor ponselmu! ”

” Atau ID Line mu! ”

” Atau Kakao ID mu! ”

Kilaa menatap semua temannya tak paham. Laki-laki tadi ‘kan cuma mengajak kenalan dan tukaran ID Line saja. Kenapa mereka seheboh ini?

” Kami cuma bertukar ID Line saja. Kenapa memang? ”

Hyukjae, moodmaker kelas, berbisik, sok misterius.

” Dia itu… Incaran gadis-gadis di sini! ”

Terdengar sahutan pengingkaran dari gadis-gadis di situ. Semacam,” Tidak! ” atau ” Dia bukan tipeku! ” juga ” Kami tak seperti gadis-gadis di kelas lain! “.

” Yeah, maksudku, kecuali gadis-gadis di kelas kita. ” lanjut Hyukjae. ” Dia juga jenius. Ditambah lagi, orang tuanya termasuk salah satu chaebol Korea. Dia saingan ketua kelas kita, Kim Kibum. ”

” Tidak juga. ”

Sebuah suara menukas.

” Aku tak menganggapnya pesaingku, toh dia tak pernah mengalahkanku. ”

Ah, jadi itu Kim Kibum? Ketua kelas 1-3?

Kibum lewat, dan menghampiri mejanya.

” Berhati-hatilah, Nona Han. Jangan terlalu dekat dengan Cho Kyuhyun. ”

Apa maksudnya?

” Cemburu eh, Ketua Kelas? ” goda Hyukjae. Dan yang lain bersorak. Kibum pura-pura tuli, dan tetap memasang wajah tak-peduli-nya.

” Aku memperingatkanmu karena aku sedang baik hati hari ini. Semoga beruntung. ”

Hei, apa-apaan dia? Belagak horor begitu. Ketua kelas aneh.

” Abaikan saja, Kilaa-ya. Dia sudah bersaing dengan Kyuhyun sejak SMP. Jadi yah, kalau dengar sesuatu tentang Kyuhyun dia pasti tak suka. ”

” Lee Hyukjae! ”

” Ups. ”

Kilaa tak ambil pusing. Dia mengeluarkan ponselnya lalu memasang headset di telinga. Memainkan satu file pilihannya, dan berkata kalem.

” Jangan khawatir, Ketua Kelas. Aku tak akan dekat-dekat dengan laki-laki itu. Juga dengan laki-laki manapun kecuali ayahku. ”

Seisi kelas terdiam. Anak ini, dia tak seperti anak muda pada umumnya.

Kang Heerin–gadis bertubuh gemuk di belakangnya–bertanya heran.

” Mengapa? Apakah itu perintah agamamu lagi? Apa alasannya? Bisakah kau beritahu kami? ”

Anak-anak lain mengangguk. Kilaa melepas headsetnya, lalu menatap teman-temannya. Dia berkata dengan lembut.

” Kalian sudah baca buku Sejarah Korea, bukan? Juga drama-drama saeguk di televisi, benar ‘kan? ”

Mereka mengangguk lagi.

” Coba kita ingat. Bisakah sembarang pria berbicara kepada seorang Tuan Puteri atau seorang Ratu? Bagaimana menurut kalian jika ada pria yang tak ada hubungan apa pun, menyentuh Ratu atau Puteri tadi? ”

” Well, itu tak sopan. ”

” Dia tak menghormati Ratu. ”

” Yeah, menurut undang-undang, orang seperti itu harus dihukum. ”

” Itu penghinaan. ”

Kilaa tersenyum.

” Begitulah agama kami memandang setiap perempuan. Perempuan punya kedudukan yang spesial, seperti Tuan Puteri atau Ratu. Dan itu berlaku untuk semua perempuan. Dihormati, dijaga, tak sembarang pria boleh berinteraksi. Laki-laki juga tak diperbolehkan menyakiti perempuan di bagian wajah atau organ-organ vital. Bila seorang suami terpaksa melakukan kekerasan untuk mendidik istri atau anaknya, apa yang ia lakukan tak boleh sampai menimbulkan luka sekecil apa pun. ”

Semua melongo. Termasuk Kim Kibum, si Ketua Kelas.

” Itu juga alasan mengapa agama kami mewajibkan tiap wanita yang sudah dewasa secara biologis untuk menutup anggota tubuhnya. Juga tak boleh bersentuhan dengan laki-laki selain keluarganya saja. Tak sembarang orang bisa melihat atau menyentuh. Tuhan kami begitu memuliakan perempuan, maka Dia menciptakan hukum-hukum yang rumit agar perempuan terlindungi dan terjaga martabatnya. ”

Semua manggut-manggut lagi. Masih takjub dengan penjelasan Kilaa. Masih terkagum-kagum juga. Baru kali ini mereka mendengar sesuatu mengenai agama yang di dunia barat digambarkan begitu buruk dan menakutkan. Tapi nyatanya, agama tersebut jauh dari kesan mengerikan. Ya, itulah yang mereka pelajari hari ini.
Semua kembali duduk, setelah sebelumnya berterimakasih atas penjelasan yang komplit tadi. Hanya Kibum yang masih bertahan di dekat meja Kilaa.

Kibum menangkap, ada sesuatu yang berbeda dari diri Han Aquila. Benar-benar beda. Dia sampai tak sadar sudah mengamati Kilaa lama sekali.

Kilaa menyadarinya. Gadis itu menekan panel ‘pause’ di layar ponselnya, lalu mendongak.

“Ketua Kelas? Ada yang mau kau sampaikan padaku? ”

Kibum tergeragap.

Angin berhembus masuk melalui jendela, meniup ujung-ujung hijab Kilaa yang hari ini berwarna ungu tua. Kibum terpaku.

Mata gadis itu, bulat besar. Jernih. Memancarkan kasih sayang pada setiap apa yang dilihatnya. Bulu mata yang lentik dan panjang menghiasi, dan Kibum tahu itu bulu mata asli. Hidungny bangir tegak angkuh, dengan bibir ranum di bawahnya tanpa sentuhan pewarna bibir.

Semua alami. Natural. Bukan buatan.

” Kim Kibum-ssi? ”

Kibum kaget lagi.

” Ah, itu, apa yang sedang kau dengarkan? ”

Kilaa bimbang. Haruskah ia perdengarkan? Sementara hanya dia seorang yang muslim di sekolah ini. Dia tak tahu bagaimana nanti teman-temannya akan bereaksi. Apalagi mereka belum pernah dengar.

Kibum melihat Kilaa yang ragu-ragu.

” Tidak jadi. Besok saja kapan-kapan. ”

Kemudian dia kembali ke bangkunya di bangku paling belakang di barisan sebelah kanan.

—————————————————

21.00 KST

Kibum berdiri berpegangan di balkon kamarnya. Memandangi kawasan Itaewon dari lantai 32 pada malam hari jadi hobi barunya akhir-akhir ini. Dan matanya selalu terpancang pada siluet sebuah kubah, sekitar setengah kilometer dari gedung apartemen yang ia tempati.

Dia masih terngiang akan penjelasan Kilaa mengenai kedudukan perempuan. Dia paham, apa yang dituturkan Kilaa tadi bukan berasal dari kitab suci yang sama dengan miliknya, yang jarang-jarang ia baca–apalagi berusaha memahami tiap kalimatnya. Namun entah mengapa, Kibum merasa penjelasan siang tadi itu indah. Indah sekali. Hingga ia cuma bisa tercenung tanpa komentar.

Kibum masih setia di balkon, menatap siluet Masjid Itaewon di kejauhan. Mengabaikan dingin yang mulai mendera. Bergelut dengan hati dan pemikirannya sendiri.

Otak jeniusnya berteriak, dia tak seharusnya percaya pada ucapan Kilaa. Tapi hatinya, lembut berbisik bahwa apa yang ia dengar dari gadis berhijab itu adalah kebenaran.

Kau percaya pada gadis itu karena perkataannya itu kebenaran, atau karena gadis itu cantik?

” Haish! Jangan mengada-ada! ” dia meneriaki pikirannya sendiri sambil mengacak rambut, sedikit frustasi.

Namun tak berhasil.

Sosok Kilaa berkelebat.

Hijabnya.

Senyum ramahnya.

Wajahnya yang cantik.

Gestur tubuhnya yang santun.

Juga tatap matanya yang penuh kasih.

” Aku tak akan dekat dengan laki-laki itu, Ketua Kelas. Tenang saja. “

Mengingat ucapan itu, Kibum malah jadi malu sendiri. Pipinya memanas. Dadanya berdentum-dentum. Merangkai-rangkai dan mengkhayal sendiri; berimajinasi Kilaa bilang begitu seolah menegaskan bahwa gadis itu miliknya, bukan milik pria lain.

” Aaaah, ada apa denganku? ” desahnya pelan seraya membanting tubuh di atas kasur.

Pipipipipipipipipip! Pipipipipipipipip!

Ponselnya berbunyi. Ada panggilan masuk. Kibum mengeceknya, dan sekarang pipinya merah sampai telinga.

Princess Han calling…

–TBC–

Advertisements

6 thoughts on “Difference

  1. wahhhh keren genre baru yg blm pernah aku bca sbelumnya…. jd kangen ma si kim killer smile … buat authornya semangat trs…. !!!!! di tunggu next part!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s