선배

image

Cast: – Uhm Hongsik as Moon Jaeshin
– Kim Rana as herself (oc)
– Song Joongki as himself (cameo)
– Song Hyekyo as herself (cameo)

Genre: Romance

Length: Oneshot

Rating: PG-13

Au.’s Note: hulaaaa readers~~ kali ini author bawa ff baru. Bts nya sih, gara2 nonton drama SKKS lagi (dl pernah nonton pas masih baru bgt dramanya). Kalo dl pas 1st time author langsung suka sm SJK, nah kali ini engga. Author malah kepincut ama Bang Ain alias Yoo Ah In, daaaan ngga bisa move on ya ampuuun 😂😂😂 suka bgt sama karakter Ain di situ, jatuh hati bgt deh >.< apalagi karakter asli si abang ngga jauh beda sm perannya di SKKS. Author bela2in follow akun ig jga.. Entah kali ini author kerasukan apa sampe kayak gini 😂😂😂
Ohiya, ff ini past-present-past-present gt model alurnya (inspirasi dr film Sado, main star nya Ain juga), semoga kalian ga bingung yaa

Nah nah,, buat yg nunggu Difference nya, sabar dikiiit yah… Masih dlm proses pengerjaan, masih gali2 ide juga, gmn biar ff keren satu itu (biar deh narsis dikit, muehehehe) ga mandek dan cepet kelar..

Siiiiiiii~jak!!

——————————————————-

Rana berlari tergesa. Tak dia hiraukan sudah berapa orang yang ia tabrak. Hanya ada satu orang yang dia pikirkan.

Seniornya.

Kenapa laki-laki itu tak mengatakan apa pun padanya?

————————————————————-

One year ago….

BRUKKK

Rana tanpa sengaja bertabrakan karena berjalan sambil melamun dan menjatuhkan buku-buku yang ia bawa. Buru-buru dia berjongkok untuk mengambil buku-bukunya.

” Choesonghamnida, choesonghamnida. ” ujarnya.

Tak ada jawaban. Detik berikutnya ia melihat tangan seseorang membantunya. Dia mendongak.

” Lain kali berjalanlah dengan fokus. ”

Seorang pemuda. Tampan sebenarnya. Hanya agak berantakan dan terkesan seperti ‘pemberontak’. Nampak dari kancing baju seragamnya yang tak dikancingkan satu pun. Rambutnya juga dibiarkan panjang hingga sebahu.

Keduanya berdiri. Laki-laki tadi langsung berjalan lagi tak peduli. Pada saat itu Rana melihat sebuah gelang terjatuh di lantai.

Milik laki-laki tadi?

—————————————————–

Di kelas, Rana masih bertanya-tanya, siapa laki-laki tadi. Junior kah? Senior kah? Dia tak tahu. Yang jelas dia harus mengembalikan gelang orang itu, yang sekarang ia amati.

Sebentar, tadi kancing bajunya warna biru. Biru navy. Senior?

Rana menoleh, lalu bertanya pada teman sebangkunya, Han Soora.

” Soora-ya, kau tahu senior yang berantakan? Rambutnya bahkan panjang sebahu. ”

” Jadi dari tadi kau mengabaikanku gara-gara Moon Sunbae? ”

” Moon Sunbae? ”

Soora mengangguk.

” Moon Jaeshin Sunbae. Hanya dia laki-laki yang berantakan begitu di sekolah kita. Kenapa? ”

” Tidak. Tak ada apa-apa. ”

” Hati-hati, jangan sampai kau berurusan dengan dia. Kabarnya sih dia selalu sentimen dengan perempuan. Kalau kau bikin ribut dengannya, kau pasti habis. ”

Image pria itu seram sekali. Tapi kenapa perasaan Rana bilang, dia tak seseram itu?

” Kelas berapa dia? ”

” Dia seangkatan di atas kita, kelas 2-1. ”

Heeeeh, begitu. Oke, nanti biar aku ke kelasnya saja.

” Kau, tak sedang berencana untuk ke kelasnya, ‘kan? ”

Rana nyengir saja.

” Ya neo jeongmal! Aku khawatir padamu, tahu! Kau ini pintar tapi hobi cari masalah ya? ” Soora mendengus.

” Bukan begitu, Soora-ya. Kali ini aku benar-benar harus menemuinya. ”

” Ya, ya, terserah kau saja. ”

.
.
.
.

Sekitar satu jam kemudian, waktu istirahat pun tiba. Murid-murid berhamburan keluar kelas. Begitu pun Rana.

Dia berjalan sambil memperhatikan gelang milik seniornya itu. Sebuah gelang sederhana, dari tali hitam, dihiasi tiga buah batu giok hijau kecil bertuliskan aksara hanja, dipasang di tiga sisi berbeda. Sederhana, namun terlihat indah di mata Rana.

Tak lama kemudian, sampailah dia di kelas 2-1. Ruangan itu kosong. Entah, mungkin semuanya ke food court di kafe sekolah. Rana nekat masuk. Menyusuri ruangan tersebut, mengira-ira di mana seniornya itu duduk.

Saat ia sampai di tengah ruangan, dilihatnya sebuah kepala menyembul di kursi barisan belakang.

Sunbae kah itu? Apa dia sedang tidur?

Rana mendekat, dan ternyata memang benar itu Moon Jaeshin. Pria itu tertidur, sepertinya tak sadar ada yang datang ke bangkunya. Rana tersenyum.

Sungguh pria yang unik.

Dia meletakkan gelang tadi di meja, namun rasa paranoidnya mulai muncul seperti biasa. Bagaimana jika gelangnya jatuh lalu terinjak dan pecah? Bagaimana bila gelang itu gelang kesayangan Moon Jaeshin sunbae? Bisa gawat kalau begitu!

Diambilnya lagi gelang itu, lalu perlahan dia menunduk. Dia tak ingin membangunkan pria itu.

Badannya membungkuk sepuluh senti dari arah atas kepala Moon Jaeshin, dia julurkan tangannya, mencoba meraih tangan kanan pria tersebut. Kemudian setelah berhasil, ia pasangkan gelang giok pelan-pelan.

Berhasil!

” Neo mwoya? ”

Rana terlonjak. Orang ini sudah bangun?!

Sesegera mungkin ia tarik tubuhnya, dan pada saat itu juga Moon Jaeshin bangkit dari tidurnya.

DUAKKKK

” Aakk! ” ucap keduanya spontan. Keduanya juga sama-sama mengusap dahi masing-masing.

” Ya! Neo! ”

Moon Jaeshin berdiri, dan sepertinya dia marah. Dia dekati Rana dengan tatapan tajam menusuk. Rana mundur, dan terduduk di kursi di belakangnya. Sementara Jaeshin makin dekat, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Rana. Masih dengan tatapan tajamnya.

” Kau pikir kau siapa berani mengganggu tidurku? ”

Suaranya memang tidak keras karena dia tak berteriak, namun sarat akan intimidasi. Rana jadi merinding sendiri. Meski diakuinya suara itu membuatnya sedikit berdesir, tapi tetap saja dia jadi takut.

” Gelangmu, Sunbae. ” jawab Rana pelan. Takut, jangan-jangan nanti orang ini marah lagi. ” Tadi jatuh, jadi kukembalikan. Itu, sudah kupasang di tanganmu. ”

Jaeshin berdiri tegak, lalu memeriksa tangan kanannya. Dan memang benar gelangnya ada di situ.

Tunggu.
Memang, kapan gelangnya hilang?

” Kalau begitu aku permisi… ”

Rana bermaksud pergi.

” Kau, kau berbohong. ”

Rana menoleh dan menemukan Jaeshin makin marah.

” Ani ani. Aku tidak bohong! “katanya panik. ” Tadi pagi jatuh waktu Sunbae menolongku! Sungguh! Tadi pagi Sunbae bertabrakan denganku di koridor, Sunbae ingat? ”

Jaeshin tertegun.

” Geureom… ”

Rana mau memanfaatkan waktu untuk pergi dari situ, tapi sebuah tangan menahannya.

” Siapa namamu? ”

——————————————–

Pertemuan pertama Rana dengan Jaeshin. Tak pernah sekalipun Rana melupakannya. Tak pernah.

Rana masih berlari terengah-engah menyusuri koridor sekolahnya, membuatnya ingat kejadian setelah itu.

——————————————————

” Kejar! Tangkap dia! ”

Rana sedang berada di laboratorium biologi saat mendengar kegaduhan dari luar. Cuek, dia lanjutkan acara mengamati irisan akar pohon dari lensa mikroskop. Diselingi mencatat hasil pengamatannya di buku tulis di sampingnya.

Pintu laboratorium terbuka pelan. Rana yang hanya sendirian di situ mendongak. Takut akan rumor tentang hantu lab yang suka iseng menggoda manusia yang hanya sendirian di dalam lab itu.

Ternyata itu Moon Jaeshin. Entah kenapa laki-laki itu ke sini.

Jaeshin melihat Rana. Dia segera menghampiri.

” Sembunyikan aku. ”

” Sunbae? ”

Jaeshin berpikir cepat. Dia merunduk, lalu berjongkok di samping kursi yang Rana duduki.

Selang beberapa menit, sekelompok pria berbaju formal hitam-hitam masuk. Salah satunya bertanya, ” Kau lihat Moon Jaeshin? ”

Kaget, Rana menggeleng cepat.

Orang-orang itu masih belum pergi. Masih menelisik ruangan, barangkali yang mereka cari sembunyi di sini.

Jaeshin meraih ujung jubah lab Rana, menutupi kepalanya, khawatir ketahuan.

” Dia tak di sini. Ayo! ”

Orang-orang itu pun pergi.

Pria itu mengintip ke arah pintu lewat bawah meja. Pantofel-pantofel hitam mengkilat berlari ke ruang lain. Barulah setelah ia yakin benar mereka sudah pergi ia bangkit lalu duduk dengan lelah di bangku di depan Rana.

Rana melepaskan pandangannya dari lensa, dan menatap Jaeshin penuh tanya.

” Sunbae? ”

Jaeshin menghela napas.

” Mereka orang-orang suruhan ayahku. ” gumamnya. ” Ayahku selalu mempertanyakan nilai sekolahku, juga menyuruhku berteman dengan Mickie, anak direktur sekolah ini. Yeah, aku tak mau. Jadi hampir tiap hari ada adegan kejar-kejaran begini. ”

” Oh, begitu rupanya. ”

Pria itu lalu tergeragap. Tak biasanya dia banyak omong. Kenapa kali ini dia seperti melanggar pantangannya sendiri? Kenapa semudah itu bercerita pada gadis yang bahkan baru kemarin lusa ia kenal? Ini tak seperti dirinya.

” Wah, Sunbae. Kau ternyata tak seseram rumor yang beredar di kalangan para siswa ya? ” komentar Rana sambil melepas kacamata yang bertengger di tulang hidungnya.

” Ehm ehm! ” Jaeshin sibuk berdeham menutupi gugup yang mendera.

” Na kanda. ” dia beranjak dan berjalan keluar. ” Ah, gomawo, Kim Rana. ”

Rana tertawa kecil. Kelihatan sekali dia salah tingkah. Pakai deham-deham segala.

” Gidaryeo! ” teriaknya. Jaeshin berhenti di muka pintu. ” Gidaryeo, Sunbae. ”

Setelah merapikan peralatan yang tadi dia pakai, Rana berlari mendekat.

” Ehm! Wae? ”

Rana tertawa lagi.

” Hei, kenapa gugup begitu Sunbae? Hihihi. ” godanya. ” Ayo ke kafe, Sunbae. Kau berhutang padaku. ”

Jaeshin menatapnya, hutang apa?

” Kemarin aku mengembalikan gelangmu, dan hari ini aku membantumu main petak umpet. Wajar ‘kan kalau kau mentraktirku? ”

Pria itu tambah bingung. Dan Rana jadi terbahak karenanya.

” Aku hanya bercanda, Jaeshin Sunbae. ”

———————————————

Celingak celinguk tak karuan, bahkan bajunya juga jadi berantakan gara-gara lari kesana kemari. Rana tak peduli. Air mata sudah mengalir deras di pipinya. Pria itu tak ia temukan di sekolah.

Dia cepat-cepat mengambil ponsel, menelepon satu orang yang pasti tahu keberadaan pria itu.

Song Joongki.

Kumohon, angkat telponnya! Kumohon!

” Yeoboseyo? “

” Song Joongki-ssi, di mana Jaeshin Sunbae? Jawablah, jebal. ”

Rana terisak. Song Joongki adalah orang kelima yang ia tanya tentang Moon Jaeshin hari ini, setelah empat orang sebelumnya tak mau memberitahu keberadaan pria tersebut.

” Yeah, bagaimana ya? Jaeshin bilang aku tak boleh memberitahu di mana dia sekarang. Tapi kau nangis-nangis begini. Eottokhae? “

” Jebal, Song Joongki-ssi. Aku cari ke mana-mana dia tak ada. Aku telpon tidak diangkat. Kalau kau tak memberitahu aku, aku harus tanya pada siapa lagi? Jebalyo. ” pintanya sambil terisak.

————————————–

” Sepertinya kita sering sekali bertemu ya, Sunbae? ”

Perpustakaan sedang sepi. Rana menyendiri di situ, duduk di dekat jendela sambil membaca sebuah novel klasik bersampul biru.

” Kau? Kau di sini? ” Jaeshin kaget. Gadis ini ada di mana-mana. Setiap dia pergi ke suatu tempat, entah kebetulan atau bagaimana, mereka berdua selalu saja bertemu.

Rana mendongak. Hari ini juga pakai kacamata. Jaeshin bertanya-tanya, apakah penglihatan gadis ini bermasalah?

” Sunbae, kalau kau bosan saat ada kelas, apa yang biasa kau lakukan? ”

” Mwo? Aku? Mmm biasanya aku bolos. ”

” Bolos? ” mata gadis itu berbinar. ” Aku belum pernah bolos sebelumnya. ”

Pria itu tak menanggapi. Namun Rana menggandeng lengannya dengan cepat.

” Ayo bolos bersama, Sunbae! ”

” Anak rajin sepertimu mau bolos? ” sindirnya.

Rana mengerjap, tahu dari mana sih?

” Ehm ehm! ”

Sekarang Rana tertawa.

” Apa sudah jadi kebiasaanmu, berdeham saat salah tingkah, Jaeshin Sunbae? ”

Jaeshin tambah gugup, lalu mengakhiri topik yang sukses membuatnya tersipu itu.

” Ah sudahlah, kita jadi pergi tidak? ”

.
.
.

Setengah jam kemudian keduanya sudah berada di Lotte World. Mereka juga sudah mengganti seragam sekolah, setelah mampir ke distro terdekat. Hanya jaga-jaga saja biar tidak tertangkap pengawas remaja. Bisa gawat kalau tertangkap lalu ketahuan membolos.

Lotte World ramai seperti biasa. Penuh orang. Rana memandang sekekiling dengan kagum.

” Wah, baru kali ini aku ke mari. Seru juga ya? ” ujarnya. Jaeshin mengernyit heran.

” Kau belum pernah ke taman bermain? ”

Rana mengangguk saja.

” Aku biasanya hang out ke perpustakaan atau toko buku. Kadang ke museum, kadang ke pantai. Tapi ke taman bermain seperti ini, baru pertama kali bagiku. ”

” Paksaan orang tuamu? Biasanya remaja rajin begitu karena orang tuanya yang memaksa. ”

” Tidak juga. Aku hanya, suka saja melakukannya. Bahkan aku tak akan bisa tidur sebelum membaca satu-dua buku. ”

Jaeshin melongo seraya menatap Rana tak habis pikir. Kok bisa, ada remaja yang ‘segila’ itu?

” Hei, kenapa kau melihatku begitu? Aku ‘kan bukan hantu. ” tukas Rana. Bibirnya cemberut. ” Jadi, wahana mana yang sebaiknya kita naiki, Sunbae? ”

Jaeshin tertawa tanpa suara. Gadis yang menarik.

————————————————

” Dia sudah di bandara satu jam yang lalu, Kim Rana. Kurasa dia sudah take off sekarang. “

” Ap.. Apa… Apa mak..sud..mu…”

Rana kaget dan shock. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Bandara? Dia pergi?

Air matanya mengalir makin deras. Sanggupkah ia hidup tanpa pria itu? Masih dapatkah ia bernapas tanpa oksigennya ada di sisinya?

Tega sekali kau, Sunbae. Kau buat aku berdebar tiap saat, kini kau pergi? Kau jahat, Sunbae. Jahat sekali.

” Dia pindah sekolah ke Finlandia… Tidakkah dia memberitahumu sebelum pergi? Wah, hebat benar anak itu. “

” Finlandia… Eropa? ”

Ponselnya terjatuh. Dia tak sanggup lagi menahan sakit di dadanya. Tubuhnya merosot ke lantai. Dipukul-pukulnya dadanya sendiri, mencoba menghalau perih tak terkira.

” Huhuhu…. Hiks… ”

” Biar coba kuhubungi. Barangkali dia mau mengangkatnya. “

Namun Rana tak mendengar kalimat terakhir Song Joongki.

—————————————————-

” Ferris Wheel? ”

” Wahana terbaik di sini. Ehm! Ayo. ”

Rana masih terkikik geli. Sunbae satu ini hobi sekali berdeham.

” Naik. ”

Laki-laki itu menunggunya naik duluan. Rana melangkah pelan, tawa kecil masih tersisa di bibirnya.

” Kyahahahahaha! ” tawa membahana anak-anak yang bermain dengan senang terdengar dari segala penjuru. Benar-benar taman bermain yang ramai.

.
.
.

GREEEPPPPPP

.
.
.

Apa? Ada apa?

Tiba-tiba, tanpa dia sadari dia sudah dalam dekapan Jaeshin. Dia mengerjap-ngerjap terkejut.

Dadanya berdesir.

Perasaan macam apa ini?

” Ah… Geu… Geureom… ” dengan terbata-bata, Jaeshin mencoba memecah keheningan. ” Itu… Anak-anak kecil… ”

Rana juga jadi kikuk. Sunbae satu ini, sedikit berbeda dan susah ditebak.

” N.. Ne Sunbae… Arayo… ”

Kedua remaja itu masuk ke ferris wheel dengan suasana canggung. Mereka terdiam, bingung dan tak tahu harus memulai percakapan dari mana. Bahkan setelah wahana mulai berputar, keduanya masih terdiam.

” Ah Sunbae.. Itu tadi… Gomawo… ”

Jaeshin menelan ludahnya kesulitan.

” N, ne… ”

Perlahan mereka sampai di atas. Seluruh Seoul bisa dilihat dari situ. Rana menatap dari jendela dengan takjub. Sungguh pemandangan yang luar biasa.

” Indah sekali, bukan? ”

Di telinga Rana, suara Jaeshin terdengar lebih lembut dari biasanya. Dia pun menoleh ke arah seniornya itu.

” Kau bisa melihat Seoul dari sini. Semua jadi tampak kecil, bahkan gedung-gedung pencakar langit sekalipun. Apalagi manusia. ”

Jaeshin berhenti sejenak. Dia meneruskan, ” Namun, kenapa manusia penuh ego dan kesombongan seolah ia makhluk paling besar sejagat raya? ”

Rana menghela napas. Kalimat Jaeshin barusan seperti satu ironi yang sedang pria itu sesali. Suara yang lembut, namun seolah sarat beban berat. Rana jadi sendu seketika. Ingin rasanya ia membantu Jaeshin melepaskan bebannya meski dia tak tahu masalah apa yang dihadapi senior satu ini.

” Karena kita begitu kecil, Sunbae. Karena kecilnya kita, maka kita jadi tak bisa melihat hal-hal yang lebih besar, pikiran jadi sempit, membuat mata terhalangi untuk melihat bahwa sebenarnya kita tak sebesar yang kita pikirkan. Tapi tentu saja, ego dan kesombongan bukanlah hal yang bisa dibenarkan. ”

Ferris wheel berhenti. Suasana masih hening. Tak ada satu pun dari keduanya yang berbicara. Hanya langit biru dan hamparan kota penuh gedung dan kendaraan lalu lalang yang terlihat. Juga kawasan hijau pegunungan di sisi lain, menunjukkan harmonisasi alam dan modernitas yang ditata sedemikian rupa.

Jaeshin tersenyum. Bibir bawahnya bergetar.

” Kau benar, Rana-ya. ” ada getir dalam suara Jaeshin. ” Benar sekali. Ah ya, kau memang bukan siswa biasa. Pantaslah kau jadi kesayangan para guru. ”

Rana hanya diam, lalu beranjak dan pindah tempat duduk di samping pria itu.

” Tak apa, Sunbae. ” katanya. Dipeluknya Moon Jaeshin erat. Dia tak tahu apa masalah Jaeshin, pun apalagi solusi untuk masalah-entah-apa itu. Yang dia tahu, pelukan adalah hal terbaik bagi mereka yang sedang banyak pikiran. Dia hanya berusaha membagi ketenangan untuk Jaeshin. Dia tahu pria itu benar-benar butuh pelukan.

” Kau… Apa yang… ”

” Jangan khawatir, Sunbae. Ada aku. Ada Kim Rana. ”

Rana menepuk-nepuk punggung Jaeshin–yang menegang seketika.

Pria itu lalu menunduk lemas seolah kehabisan tenaga. Dia membalas pelukan Rana, menghalau gelisah di dadanya, sekaligus menahan debaran yang begitu kuat yang seperti candu baginya.

” Kau hebat ya, Rana-ya. ” gumamnya lirih. ” Baru kali ini aku punya teman yang bisa memahamiku. Bahkan menceramahi panjang lebar. Padahal kau hoobae-ku. ”

Ferris wheel kembali bergerak turun. Perlahan keduanya menjauh, meski tetap duduk bersebelahan. Rana tersenyum lembut menguatkan Jaeshin. Laki-laki itu ikut tersenyum juga, merasa lebih ringan, dan lebih lega dibanding waktu-waktu sebelumnya.

Tanpa bisa dikendalikan, tangannya terulur, mengelus rambut Rana, dan turun ke pipi pualam gadis itu. Yang bersangkutan hanya diam. Gugup, kaget, malu, campur senang–entah kenapa–semua jadi satu.

” Ah… Itu.. ” sadar kalau sudah kelepasan, Jaeshin menarik tangannya pelan. ” Maaf… Sudah tidak sopan menyentuhmu… ”

Rana tak menyahut, lantas menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga untuk menutupi malunya. Diam-diam dia tersenyum dengan semburat merah muda di pipi. Dan Jaeshin melihatnya.

Syukurlah dia tidak marah.

Laki-laki itu menggaruk tengkuknya salah tingkah. Tapi detik berikutnya dia nyengir senang.

—————————————————–

Moon Jaeshin duduk di ruang tunggu Incheon International Airport. Jadwal penerbangannya sebentar lagi. Pagi itu ia tampak stylish dengan cardigan abu-abu, t-shirt putih dan skinny jeans hitam.

Dia kelihatan gelisah; berkali-kali melirik Daniel Wellington di pergelangan tangan kirinya. Posisi duduknya juga berubah-ubah. Lalu, sebentar-sebentar menengok ke arah lobby, seperti sedang menunggu sesuatu.

Jaeshin terlonjak dengan keras. Reaksi yang terlalu berlebihan terhadap bunyi ponselnya sendiri.
Terburu-buru ia ambil ponsel yang masih betah membikin suara berisik itu dari kantong celananya.

Joongki-Kyo

” Yeoboseyo. ”

” Rana menghilang, Jaeshin-ah! “

DEG

” Gotjimara. ”

” Tunggu! Tunggu! Aku serius! Dia hilang sejak kemarin! Orang tuanya kebingungan sekarang! Jadi kumohon, bantu kami mencarinya! “

Wajahnya berubah panik.

” Terakhir kali dia pergi ke mana? Jawab aku! ”

” Kemarin dia pamit mau ke sekolah, mengambil ponselnya yang tertinggal. Tapi setelah itu dia tidak pulang hingga sekarang. Bahkan ponselnya tak aktif. Bocah itu benar-benar bikin orang gampang penyakitan! Haish! “

Telepon ditutup sepihak.

Secepat kilat laki-laki itu menyambar tas dan kopernya (yang belum ia taruh di bagasi), dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan. Emosinya campur aduk: cemas, frustasi, marah, dan sedih. Ini pertama kalinya Rana bertindak tanpa perhitungan. Jaeshin tahu benar gadis itu. Kabur dari rumah dan lari dari masalah bukan hal yang akan dilakukan Rana.

Jaeshin berlari keluar bandara. Sedikit memakan waktu mengingat luasnya Bandara Incheon. Dia tak peduli lagi dengan panggilan keberangkatan pesawatnya.

Persetan!

Memori kebersamaan mereka melintas cepat. Memenuhi kepala Jaeshin, membuat dadanya makin sesak.

Begitu sampai di pintu keluar, Jaeshin segera masuk ke salah satu taksi, membanting pintunya menutup dengan keras.

” Antar aku ke Lotte World. Ambil rute paling cepat saat ini. ”

Sementara Song Joongki, dia tertawa terbahak-bahak bersama Song Hyekyo–kekasihnya–menertawakan Jaeshin yang begitu mudah dia tipu.

” Kim Rana, kau berhutang budi padaku. ”

——————————————–

Makin hari Rana makin dekat dengan Jaeshin. Tiap jam istirahat keduanya pasti bertemu. Kadang Rana yang datang ke kelas 2-1, kadang pula Jaeshin menghampirinya dan mengajaknya makan di kafe sekolah. Dan itu benar-benar membuat Mickie risih. Ya, Mickie, anak direktur sekolah. Bocah tengik tukang pamer tapi punya banyak fans. Yang cuma gara-gara anak direktur, ayah Moon Jaeshin alias Pak Kepala Sekolah menyuruh anaknya untuk berakrab-akrab ria dengannya.

Dia kesal bukan tanpa alasan. Pasalnya, sudah lebih dari satu tahun ini dia naksir berat dengan Kim Rana. Sudah sejak kelas 3 SMP kemarin. Tapi dia tak berani mendekati gadis itu. Gengsi, katanya. Cuma bisa mengamati dari kejauhan. Siapa yang tidak kesal jika orang yang sudah lama disuka dekat dengan orang lain?

Hari ini Mickie sudah bertekad, apa pun yang terjadi, dia harus bisa mengobrol dengan Rana. Dan (kalau bisa juga) memikat Rana dengan pesonanya.

Pas sekali saat itu Rana sedang jalan di koridor, hendak ke kelas 2-1 sepertinya.

” Ya! Kim Rana! ”

Mickie sengaja memanggil Rana dengan suara keras. Biar gadis itu notice, kok ada pemuda setampan dia yang tahu namanya, lalu jadi penasaran, lalu lama-lama jadi dekat dan jatuh cinta. Hihihi.

Imajinasi terlalu tinggi? Siapa peduli? Hihihi.

Gadis itu tersenyum lebar, berjalan dengan langkah cepat ke arah Mickie.

Yes! Bagus! Dia ke sini!

Mickie tertawa lebar juga.

.
.
.

Lho, kok?

Mickie tercengang. Gadis itu melewatinya begitu saja.

” Sunbae! ”

Mickie menoleh, wajahnya langsung tertekuk. Gadis yang dia incar tertawa riang, lagi-lagi dengan Moon Jaeshin.

” Nappeun saekkiya! ” umpatnya dengan geram.

.
.
.
.
.
.

Beberapa hari setelahnya, Mickie mencari-cari kesempatan agar bisa bicara dengan Rana tanpa ada Moon Jaeshin. Dia geram setengah mati pada laki-laki itu. Bagaimana bisa tak ada celah baginya untuk mendekati gadisnya–menurutnya Rana itu miliknya–hanya gara-gara laki-laki gondrong tukang bolos yang bahkan tidak keren sama sekali? Apalagi dia perhatikan, Moon Jaeshin jarang berbicara, hanya berkomentar sedikit. Rana lah yang nyerocos melulu membicarakan hal-hal yang remeh temeh. Sekalinya Jaeshin bicara, bahkan pedang samurai pun kalah tajam. Bagaimana bisa gadis itu betah bersama laki-laki macam itu?

” Kim Rana. ” panggilnya pelan. Gadis itu sedang berjalan dari perpustakaan dengan buku-buku di tangannya. Mickie ditemani dua pengikutnya, menghentikan langkah Rana.

” Kalian… ”

Mickie puas. Rana mengenalinya!

” Kalian siapa? ”

.
.
.
.
.
.
.
.

Istirahat kedua dilewatkan Rana hanya dengan melamun. Dia bahkan tak sadar Jaeshin sudah duduk di depan bangkunya. Dia teringat omongan Mickie tadi pagi.

” Bersenang-senanglah terus dengan Moon Jaeshin, Kim Rana. Dan kau akan mendapati dia mati karena berdekatan denganmu. “

” Bila aku tak bisa memilikimu, orang lain juga tidak.

” Kau boleh saja tak menghiraukan ucapanku ini, tapi besok akan ada paket berisi kepala Moon Jaeshin di depan pintu rumahmu.

” Kau, tak ingin terjadi tragedi semacam itu lagi, bukan?


” Aigoooo, kau takut? Hihihi. “

Jaeshin menyadari ada yang aneh dengan Rana. Tak seperti biasanya, Rana yang super cerewet, suka cerita ini-itu, kadang menceramahi tanpa ingat kalau dia lebih muda, dan kelewat cuek dengan orang lain–kecuali Jaeshin, tentu saja–siang ini berbeda seratus delapan puluh derajat. Biasanya ‘kan, ” Sunbae, kenapa tidak makan? Jangan mengeluh ya kalau nanti kelaparan.” atau ” Sunbae, harusnya kau hajar saja si tengil itu sampai mampus! Biar dia tahu siapa Moon Jaeshin! ” atau ” Haish, kau tahu guru yang itu, Sunbae? Wuoh, benar-benar menyebalkan! Dia itu mengajari muridnya atau sedang bicara sendiri sih? ” atau ” Jangan potong rambutmu ya, Sunbae! Kau lebih bagus dengan rambut kumal begini. Xixixi. ”

Berbulan-bulan dekat dengan Kim Rana, baru kali ini Jaeshin melihat Rana yang pendiam dan suka melamun. Gadis ini kerasukan setan apa bagaimana?

” Hoi! Hoi Kim Rana! ” panggilnya sambil dadah-dadah di depan wajah gadis itu. Belum ada reaksi.

” Ya! ”

Jaeshin menepuk lengan Rana, yang terkejut seketika.

” Ne, Saem?! ”

” Aku terlihat setua itu, Kim Rana? Wah… ”

Rana langsung sadar yang di hadapannya ini Moon Jaeshin. Sunbae tersayangnya. Bukan guru killer yang menakutkan sekaligus menyebalkan di waktu yang bersamaan.

” Ah, je… Ah mianhe, Sunbae… ”

” Kau ini kenapa? Ada masalah? ”

Rana menggeleng tidak enak. Dia dilanda gugup.

Aku tak mau jauh-jauh dari Sunbae. Tak mau. Sama sekali tak mau!

Tapi…

Kalau aku menuruti keinginanku, aku menempatkannya dalam bahaya…


Tuhan, bagaimana ini?

Gadis itu menangis.

” Wae? Ya, neo apo? ”

Jaeshin panik. Kenapa gadis ini? Tiba-tiba menangis bahkan sebelum ia mengatakan apa pun?

Aduuuh! Kesalahan apa yang sudah kulakukan?

” Eodiga? Eodigatji? Marhaebwa. Eoh? ”

Tangis Rana makin menjadi.

Aku harus bagaimana, Sunbae?

———————————————–

Jaeshin mengelap peluhnya. Dia sudah mencari Rana di Lotte World di tempat-tempat favorit keduanya, tapi tak ketemu.

Gadis itu tak di sini. Di mana dia?

Dia berlari kembali ke taksinya yang ia suruh untuk menunggu. Taksi meluncur lagi, dan pikiran Jaeshin masih menebak-nebak di mana gadis itu berada.

Di Lotte World tidak ada. Perpustakaan? Tidak. Kalau di sana tentu sudah ketemu sejak tadi.

Sebentar.

Mungkin…


Di sekolah?

” Ahjussi, tolong antar aku ke eScience High. ”

—————————————————

Sejak hari itu, Rana mulai menjauh dari Jaeshin. Berbagai macam cara dia lakukan, berbagai alasan dia susun sebagai alibi. Bukan hal yang mudah, karena Jaeshin sudah seperti ‘paket komplit’ untuknya. Di mana ada Jaeshin, di situ ada Rana. Dan hal itu sudah jadi bagian dari kehidupan Rana. Saat dia memaksa melepaskan diri, yah, bayangkan saja manusia memaksakan untuk tidak bernapas.

Sudah hampir dua bulan Rana begini. Menjauh dari Jaeshin, berusaha agar tak berdekatan, agar nyawa pria itu terlindungi. Namun hal tersebut berefek buruk bagi kesehatannya. Rana makin kurus.

” Rana-ya… Ayo kita ke kafe. ”

Han Soora, sahabat satu-satunya, merasa iba. Pipi yang makin tirus, mata yang semakin cekung, pergelangan tangan mengecil, dan rona merah di pipi gadis itu yang hilang entah ke mana benar-benar menampakkan kesedihannya.

” Tidak, Soora-ya. Aku di kelas saja. Mau tidur. ” tolaknya lemas. Wajar, tadi dia tidak sarapan. Mana sempat sarapan kalau badan dan hatinya saja tak berada di tempat yang sama, benar ‘kan?

” Rana-ya…. ”

” Aku akan bertemu Jaeshin Sunbae kalau ke kafe. Aku tak sanggup. ”

Air matanya meleleh, menetes satu per satu dari sudut-sudut matanya. Sakit yang ia rasa selama dua bulan ini tumpah. Tak tertahankan.

Diam-diam, Jaeshin mendengarkan dari luar kelas. Laki-laki itu nampak terluka. Sorot matanya sedih, berlawanan dengan raut wajahnya yang tetap kalem. Tangannya bergetar, begitu juga kertas yang dia genggam.

PROGRAM PERTUKARAN PELAJAR KOREA SELATAN-FINLANDIA

Jaeshin menatap kertas itu sejenak. Dia pun pergi sebelum percakapan selesai, tidak kuat mendengarkan lanjutannya. Takut terluka lebih dalam lagi.

Soora–gadis cerewet namun baik hati itu duduk lagi.

” Rana-ya… Lihatlah badanmu. Kalau kau begini terus, kau bisa sakit. ”

” Biar saja. Toh paling parah cuma masuk rumah sakit ‘kan? ”

Soora mencebik, lalu menjitak kepala sahabatnya itu.

” Kau ini! Kau benar-benar hobi bikin aku cemas ya? Haish! Ya! Siapa yang membuatmu jadi begini? Ayo bilang padaku! Biar kuhajar dia sampai babak belur! Siapa? Moon Sunbae? Biar dia kudatangi! ”

Rana langsung duduk dengan tegak.

” Ani! Bukan Jaeshin Sunbae! Dia sama sekali tak bersalah! ”

” Lalu? ”

Rana menghela napas keras-keras, dan sungguh-sungguh meminta Soora untuk tidak menyebarkan ceritanya. Gadis itu setuju.

——————————————————-

Hari mulai sore. Semburat oranye menghiasi langit, pertanda bahwa matahari perlahan-lahan kembali ke peraduan. Gemerisik daun yang tertiup angin, udara musim gugur yang sejuk, daun-daun maple berguguran di tanah; sungguh suasana damai yang indah. Sayang sekali Rana tak melihatnya.

Rana tertidur di bangku taman di halaman samping sekolah yang sepi. Tak ada siapa pun kecuali Rana di situ. Yah, ini hari Sabtu. Memang semestinya tak ada orang.

Sementara itu, Jaeshin sudah keluar dari taksinya. Sekarang sedang berdiri tegak di depan gerbang sekolah yang terkunci. Dengan tas jinjing di tangan, dan sebuah koper di samping kakinya. Ia berpikir sebentar, kemudian melemparkan dua benda itu ke dalam sekolah.

” Sekarang giliranku. ”

Pria itu mundur beberapa langkah ke belakang sembari mengikat rambutnya yang sebahu. Dia ambil ancang-ancang sebentar, kemudian berlari dan melompat memanjat gerbang.

Dia mendarat dengan sempurna, kemudian berlari menyeret tas dan kopernya.

Pertama. Laboratorium Biologi.

.
.
.

Moon Jaeshin mengelap peluh yang menetes di dahi dan lehernya. Gadis yang ia cari tak ada di laboratorium, tak ada di kelas 1-4, juga di kelas 2-1.

Dia berpikir dengan kebingungan, kalut kenapa Rana tak juga ia temukan.

Tak mungkin firasatku salah. Dia ada di sini. Itu sudah pasti! Tapi… Di mana?

———————————————–

” Oh Kim Rana! Kenapa kau percaya dengan omong kosong si tengik itu? Ke mana otakmu yang cerdas? ” dengus Soora mendengar cerita Rana. ” Mentang-mentang dia anak direktur eScience High yang terkemuka di seantero Korea, lantas dia bisa berbuat sesukanya? Tak peduli itu kejahatan atau bukan? ”

Rana termenung. Itu tak sepenuhnya salah.

” Kau tak ingat, Soora-ya? Kasus pembunuhan siswa SMP dua tahun yang lalu? ”

” Chamkan, chamkan… Aitch, jangan bilang… ”

” Korbannya bernama Park Taehyun. Ketua OSIS yang kuanggap kakakku sendiri. ” gadis bermata coklat gelap itu makin muram. ” Aku pernah bilang ‘kan, ‘Disney’ itu satu sekolah denganku saat SMP? Dengan kekayaan keluarganya dia lenyapkan semua bukti. Padahal satu sekolah tahu dia pelakunya. Tapi, kami bisa apa? ”

Soora tertegun.

” Biarlah aku sakit sendiri begini asalkan Sunbae baik-baik saja. Biar semua aku yang tanggung. ”

” Rana-ya, Moon Sunbae pasti tersiksa juga kalau kalian menjauh begini. ”

” Tapi setidaknya dia hidup, Soora-ya. Setidaknya aku masih bisa melihatnya baik-baik saja. ”

Air mata gadis itu menetes.

—————————————————-

Jaeshin berhenti sejenak. Mencoba rileks, mengendorkan pikirannya yang sedari tadi bekerja keras. Berusaha mengingat lagi kenangan-kenangan lama yang mungkin luput dari ingatannya.

Dia menggumam, ” Kelasku, kelasnya, lab, kafe, perpustakaan…. Semua sudah… ”

Jaeshin mengerjap.

Memorinya berkelebat. Tempat di mana Rana menyendiri saat kalah lomba Seoul Archery Competition tahun lalu.

” Taman samping! ”

Tanpa membuang-buang waktu, pria tinggi itu berjalan cepat menyusuri koridor, masih menyeret tas dan kopernya. Dia tak peduli telapak tangannya mulai perih. Menemukan Rana lebih penting dari apa pun saat ini.

Dia berhenti di ujung koridor. Tasnya jatuh ke lantai, koper ia tinggalkan begitu saja. Tatapannya tertuju di salah satu bangku taman di arah pukul tiga dari tempat ia berdiri.

Gadis yang tertidur bersandarkan batang pohon, nampak kelelahan. Sesekali bahu mungilnya masih terguncang, sisa-sisa isak tangis sebelumnya.

Jaeshin melangkah perlahan mendekati Rana yang belum terjaga.

Gadis itu biasanya terlihat cantik dan ceria. Bagai buah yang sedang segar-segarnya. Berkilau menerangi apa pun di sekitarnya.

Pemuda itu berhenti, lalu duduk di bangku. Sorot matanya menyiratkan kesedihan. Sedih, campur iba, terluka, namun rindu.

Kim Rana nya layu. Seperti tanaman yang lupa tak disiram.

Pipi gadis itu terlihat lebih tirus, matanya juga kelihatan lebih cekung dari terakhir kali keduanya masih bersama-sama.

” Kim Rana… ”

——————————————

Moon Jaeshin masih tak bisa memahami alasan Rana menjauhinya. Tak mungkin tak ada sesuatu. Pasti ada hal yang tak ia tahu. Pasti gadis itu menyembunyikannya.

Jaeshin bimbang.

Seminggu yang lalu, dia mengiyakan tawaran pertukaran pelajar dari ayahnya. Begitu saja. Tanpa dipikirkan benar-benar. Dengan hati dan otak kacau, bisa-bisanya dia bilang ‘ya’.

Sudah terlambat untuk menarik kembali keputusannya untuk pergi. Jaeshin juga bukan tipe pria yang dengan mudah menjilat ludah sendiri.

Dan pagi tadi, barulah ia menganalisa perilaku Rana yang mendadak aneh. Kenapa tiba-tiba menjauh? Bahkan bertemu saja dia menghindar. Tak seperti biasanya. Dan, apa maksudnya? Apa maksud dari percakapan dengan Soora tempo hari?

Jaeshin masih memikirkan semua itu siang ini. Pemuda itu mengamati Rana dari kejauhan. Gadis itu lagi-lagi bertingkah aneh–di mata Jaeshin. Celingak celinguk tak jelas sambil sesekali melihat layar ponsel. Kemudian berjalan menjauh dari kelas, dengan langkah cepat-cepat.

Mencurigakan.

Pemuda itu membuntuti di belakang, sesekali bersembunyi agar Rana tak tahu. Koridor-koridor sepi, jam pelajaran masih berlangsung.

Langkah-langkah Rana menuntun Jaeshin menuju laboratorium biologi. Gadis dengan rambut berwarna kecoklatan itu masuk. Sementara Jaeshin menunggu di luar, berusaha menguping dan mengintip dari jendela.

” Apa lagi? ”

Suara Rana terdengar jengah.

” Well, kau sudah bekerja keras selama ini. Aku mau memberimu imbalan yang pantas. ”

Mickie! Rana ke sini untuk bertemu anak itu?

Jaeshin memutar otak. Sejenak kemudian, dia mengeluarkan ponsel dari kantong celananya, mensetting silent, lalu merekam percakapan Rana dan Mickie.

” Kau jadi kekasihku. Itu imbalannya. ”

” Ap… Kau gila? Aku tak sudi! ”

PLAKK

Rana memegang pipinya yang terasa perih.

” Aku sudah berbaik hati padamu, Kim Rana. Jangan buat aku marah. Atau kau perlu kuingatkan tentang kematian Park Taehyun dua tahun yang lalu? ”

Mickie menyeringai. Gadis di depannya kelihatan sangat takut. Sebentar lagi akan ia dengar pernyataan yang membuatnya senang: Kim Rana jadi kekasihnya.

” Park Taehyun mati karenamu juga, asal kau tahu saja. Si tolol itu benar-benar bikin sebal. Kusuruh menjauh darimu, tapi malah berlagak tak peduli. Yah, tentu saja orang semacam itu harus kusingkirkan, bukan? ”

Rana menegang, wajahnya pucat. Takut campur marah mendengar omongan Mickie.

” Sebaiknya kau indahkan peringatanku. Menjauh dari Moon Jaeshin, atau kalau tidak, dia akan berakhir sama seperti Park Taehyun. Kau yang pilih. ”

” Kau, kau hanya bisa menggunakan cara-cara kotor. Kau menjijikkan. ” gumamnya.

Laki-laki di hadapannya marah. Sekali lagi dia menampar pipi Rana. Matanya membelalak mengerikan, mulutnya komat-kamit entah apa yang dia ucapkan.

Jaeshin menahan diri.

Tunggu. Sabar. Kau sedang mengumpulkan bukti, Moon Jaeshin.

Amarahnya menggelegak. Hingga tangannya bergetar. Laki-laki bangsat di dalam sana sungguh mempermainkan emosinya, dan mendorong emosinya hingga ke titik tertinggi. Argh!

Jaeshin mengantongi ponselnya tanpa menghentikan proses merekam. Dia tak tahan lagi, tapi masih harus mendapatkan seluruh pernyataan Mickie.

” Apa-apaan ini? ” ujar Jaeshin dengan suara pelan. Rahangnya bergemeletuk, tangannya mengepal keras. Dia melangkah masuk dan mendekat.

” Heeeeh. Kau cukup punya nyali juga, Moon Jaeshin. ”

Mickie menyeringai seram. Jaeshin tak peduli. Pria itu menoleh dan mengamati pipi Rana yang terlihat merah, bekas ditampar Mickie tadi.

Hati Jaeshin terasa nyeri. Sakit campur sedih, menusuk di ulu hati. ” Pergilah ke ruang kesehatan. Biar ini kutangani. ”

” Wah wah. Hebat ya, sembarang saja menyuruh tawananku pergi. ”

” Cepat pergi! ”

” Sunbae… ”

Jaeshin mengedikkan kepala, menyuruh Rana pergi. Gadis itu berlari keluar, meninggalkan Jaeshin menghadapi Mickie sendirian.

.
.
.
.
.

Rana duduk gemetar di ranjang ruang kesehatan. Masih tersisa ketakutan yang terus melandanya sejak di laboratorium tadi. Pikirannya berkecamuk. Paranoid sendiri membayangkan hal-hal buruk terjadi pada sunbaenya tersayang.

Ya Tuhan! Ya Tuhan! Eottokhaji?

Pintu berderit terbuka. Rana mengangkat kepalanya harap-harap cemas. Jaeshin kah? Mickie kah? Valak kah? (wkwkwk)

” Sunbae! ”

Jaeshin muncul dengan wajah penuh luka. Rambutnya yang panjang dan berantakan makin awut-awutan, luka memar kebiruan ada di mana-mana. Pipi, tangan, bahkan dekat pelipis. Sudut bibir pria itu juga ada luka, darahnya masih baru.

” God! ”

Rana berlari terseok, memeluk Jaeshin yang menyeringai kesakitan. 

” Jangan khawatir, Rana-ya. Bedebah itu tak akan berani mengganggumu lagi. ”

———————————————————

Pemuda itu mengelus rambut Rana perlahan. Dia tak mau membangunkan Rana yang tampak sangat lelah. Rambut yang begitu lembut dan harum. 

Wanginya aroma kiwi, wangi khas Rana yang belakangan ini jadi kebutuhan primer baginya. Bahkan sekarang jadi lebih parah lagi: statusnya sama seperti air; Jaeshin bisa gila kalau sejam saja tak menghirup wangi itu. 

Yang lebih gila lagi, aku berusaha menjauh dari ‘air’  yang ada di peringkat kedua setelah oksigen dalam hidupku? Wow. 


” Kim Rana… Jeongmal mianhe…  ”

Rana mengerjap pelan. Otaknya masih loading, mencerna apa yang sedang  terjadi sekarang. Langit mulai gelap, cakrawala telah berwarna ungu dengan sedikit semburat merah muda dan oranye. 

Dia menguap lebar-lebar, lalu mengucek matanya yang masih terasa buram. 

GREPPP

” Kim Rana… ”

Rana tersentak. 

Seorang laki-laki tengah memeluknya. Dia kenal suara ini, aroma ini, tapi tak berani berharap. Tak berani juga menoleh. Takut ekspektasi yang terlalu tinggi menghempaskannya keras-keras ke bawah. 

”  Sun… Sunbae…? ”

Apa ini? Aku bermimpi? Sunbae kan sudah take off ke Finlandia…  


” Maafkan aku… Maaf, Rana-ya… ”

Air mata Rana menetes. Kaget campur bingung, tapi juga lega. 

”  Sunbae… Tak pergi? Pertukaran pelajarnya… Bagaimana…? ” 

Kalimatnya putus-putus. 

Jaeshin beranjak, pindah di depannya. Pria itu memeluknya sekali lagi. 

”  Kubatalkan. ”


Jaeshin menyeret kopernya dengan tangan kiri, berjalan santai menyusuri trotoar yang luas dan bersih di kawasan Myeongdong. Langit sudah gelap, jalanan terang tertimpa cahaya dari toko-toko yang berjejer dan lampu-lampu taman menghias pinggiran jalan.
 
Rana menenteng tas Jaeshin, memandangi jalanan tak fokus. Myeongdong yang ramai, penuh orang, dan selalu sibuk meski sudah malam menjelang dini hari sudah jadi pemandangan yang biasa baginya. 

Gadis itu masih diam, terlalu lelah untuk sekedar bersuara. 

” Rana-ya… Maaf… ” 

Pria itu berkata lirih. Matanya masih memandang ke depan.

” Waeyo? ”

” Yah, mmm, karena tak berpamitan padamu. ”

Rana tersenyum saja. 

”  Sunbae, kenapa kau membatalkan pertukaran pelajar yang engkau dapatkan? Padahal kau memang ingin sekali belajar ke sana.  Waeyo? ”
”  Lalu saat aku pulang nanti, aku menemukanmu mati karena kelelahan menangis, begitu? Haiss… ”
”  Mwo? Mwo? Kapan aku bakal seperti itu? ”
”  Tadi… Sudahlah mengaku saja. ”
Rana manyun. Sunbaenya benar-benar menjengkelkan sekarang. Tapi memang ia tak bisa memungkiri, ucapan Jaeshin sepenuhnya benar. 
” Ehem! Sunbae… ” dia berdeham.”  Jangan pergi-pergi lagi ya. Kalau pun kau memang harus pergi, kau harus mengajakku. ”
” Ke toilet juga? Ke kamar mandi? ”

Jaeshin tertawa. 
” Itu beda lagi! ”
”  Arasseo. Aku terima. Berarti ini hari pertama kita jadian, ya. ”
Rana terbelalak. Mukanya merah, badannya memanas, bahkan sampai telinganya juga. 
”  Sunbae! ”

–END–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s