DIFFERENCE #2

image

Cast:

– Kim Kibum
– Han Aquila [OC]

Genre: Romance, religion

A.n. : BEWARE! SARA ATTACK!
Ini pertama kali author mengangkat tema yang banyak dihindari sm author2 lain. Author ranakim9387–alias aku–sendiri juga belum pernah bikin ff dgn tema yg, well, bisa dibilang ekstrim, tapi banyak fangirl INA yg ngalamin problema begini. Yeah, perbedaan keyakinan.
Buat readers yg berbeda keyakinan dg author, author mohon maaf sebesar2nya jikalau dlm ff ini banyak hal yg bikin kalian tersinggung. Sungguh bukan bermaksud menjelekkan agama lain, author cuma pengen sharing aja, pengen curhat juga, betapa perbedaan keyakinan antara fans sm idola itu bener2 bikin gap alias jarak antara fans sm idolanya makin lebar, & itu salah satu yg disedihkan.

Okee kyknya au. ‘s note nya agak kepanjangan inihh… Cusss yukk kita simak bareng2..

NO COPAS, NO BASH, NO PLAGIAT, NO REBLOG/REWRITE W/O FULL CREDITS!!

————————————-

Princess Han calling

Kibum menatap ponselnya sambil menggigit bibir. Jantungnya lagi-lagi berdebar kencang, dan seketika ia dilema. Haruskah ia angkat? Atau dibiarkan saja kemudian mengirim pesan dan beralasan kalau tadi sedang di toilet atau semacamnya?

Sejujurnya Kibum ingin sekali mengangkatnya. Ingin sekali.

Dan akhirnya ia lebih memilih untuk mengangkatnya.

” Yeo.. Yeoboseyo? ”

” Yeoboseyo, kau ketua kelas 1-3? “

Tunggu.
Ini bukan Han Aquila.
Jelas bukan.
Ini suara laki-laki!
Laki-laki dewasa!

Apa mungkin…

” Ah ye, eum, nuguseyo? ”

” Kilaa appa iyeyo. “

Nah kan benar! Laki-laki ini ayahnya Kilaa!
Kibum jadi agak kecewa. Apa yang barusan ia harapkan?

Tunggu dulu! Mungkin dia bisa lebih dekat dengan gadis itu melalui ayahnya!

” Ah jeongmal choesonghamnida Aboenim. Museun irilkkayo? ”

” Ada pemberitahuan dari pihak sekolah, namun Kilaa sedikit kerepotan memahaminya. Saat ini aku sedang menyelesaikan pekerjaanku jadi aku tak bisa membantunya. Bisakah kau bantu dia? Ah, omong-omong, maaf karena anak itu tak bisa menghubungimu langsung. “

” Ne, ne, Abeonim. Tidak apa-apa, saya bisa mengerti. Baik, saya bisa membantu. Kalau boleh saya ingin meminta lampirannya. ”

Kibum membungkuk beberapa kali seolah sedang berbicara langsung dengan Tuan Han. Manner yang kental, yang jarang ditemui di kalangan anak muda dari negara lain, terutama negara-negara di Eropa dan Amerika. Sopan santun khas negara timur yang masih kuat terjaga.

” Ne, Abeonim, segera saya kirimkan penjelasannya nanti. Nee. Annyeong. ”

Call ended

Helaan napas terdengar dari mulut laki-laki berparas tampan itu. Ia menggumam, ” Yeah, kau benar-benar tak mau berdekatan dengan pria selain ayahmu. ” dan menopang dagu, meluruskan imajinasinya tadi.

LINE!

Angin malam masih berhembus, menelusup masuk ke kamarnya. Sedikit dingin, namun dia tak peduli. Dia kembali menatap ponselnya; satu pesan LINE masuk. Dari HaekyungHan. Ayah Kilaa.

HaekyungHan : Ini lampirannya.

Sebuah foto selebaran dari sekolah. Kim Kibum tersenyum. Gadis itu. Hal mudah begini saja ia tak paham.

mubik.mik: ne Abeonim. Biar saya lihat sebentar.

mubik.mik: chogi, pihak sekolah mewajibkan para murid mengikuti salah satu ekstrakurikuler atau klub kegiatan di sekolah, dan Kilaa diminta memilih dan diberi waktu satu bulan setelah kepindahannya di sekolah kami. Begitu, Abeonim.

HaekyungHan: terima kasih, Nak. Biar kusampaikan pada Kilaa.


HaekyungHan: tolong bantu Kilaa beradaptasi dengan sekolah barunya ya. Karena kau ketua kelas, dan karena aku tahu kau anak baik dan tidak akan bermain-main dengan putriku.

Kibum membekap mulutnya, dan rasa panas kembali menjalari tulang pipinya, menyebar sampai ke seluruh wajahnya.

mubik.mik: ah ne ne Abeonim. Saya usahakan semampu saya.

Dia masih menggenggam ponsel di tangan, dengan tangan satunya bergetar menyibakkan poni yang sebenarnya tak terlalu panjang. Peluh menetes di pelipisnya, bahkan tenggorokannya jadi terasa sangat kering.

Angin berhembus lagi, meniup tubuhnya yang berkeringat. Tangannya mengusap tengkuknya kasar, berharap bisa mengusir dingin yang mendera.

Tak bisa menahan dingin, dia memilih menutup jendela cepat-cepat. Tak mau ambil resiko dia akan demam nantinya kalau menuruti galaunya gara-gara gadis satu itu.

————————————

Tiga bulan tinggal di tempat asal ayahnya membuat Kilaa mulai terbiasa dengan keseharian masyarakat Korea. Tak banyak berbeda dengan tanah air ibunya, sebenarnya. Seperti bagaimana dia harus bersikap pada orang yang berusia lebih tua: menggunakan bahasa krama inggil, kalau di sini menggunakan bahasa formal dengan susunan kata dan kalimat yang halus, bersikap rendah hati, dan macam-macam lagi. Perbedaannya–selain bahasa dan budaya, tentunya–hanyalah cara penyampaian rasa hormat saja. Misalnya, kalau di tanah air ibunya, berjabat tangan lalu mencium tangan orang yang lebih tua atau dihormati, kalau di sini bersalaman sambil sedikit membungkuk dengan tangan kiri menopang tangan kanan sebagai bentuk penghormatan.

Kilaa melamun saat duduk di pinggiran kasurnya. Mukena biru yang masih ia kenakan sejak setengah jam yang lalu mulai kusut. Di kepalanya terlintas adegan siang tadi di sekolah. Saat jam istirahat, si populer Cho Kyuhyun menghampirinya.

” Besok aku dan beberapa temanku mau makan bareng di kedai favorit kami. Mereka ingin kau ikut. Bagaimana? Kau ada waktu luang kan besok pulang sekolah? “

Kilaa tak langsung menjawab.

” Tenang saja, mereka perempuan kok. “

Kilaa masih diam, masih menimbang-nimbang.

” Makanannya tidak pakai babi. Kau tak perlu khawatir. “

” Ah… Itu… Sebenarnya aku harus minta izin ayahku dulu. Aku tak bisa pergi tanpa izin atau tanpa pengawasan beliau. “

Pemuda tampan itu hanya tersenyum.

” Tak apa, kau bisa mengabariku nanti. “


Kilaa tak tahu ia harus bagaimana. Firasatnya bilang dia harus menolak ajakan pemuda itu. Terlebih, ayahnya termasuk strict untuk urusan jalan-jalan-bareng-teman begitu.

Apa aku bohong saja pada Kyuhyun? Bohong demi kebaikan kan diperbolehkan.

Kilaa melepas mukenanya. Lalu mengendap masuk ke kamar orang tuanya yang kosong. Kebetulan keduanya sedang nontong tv di ruang keluarga.

Dia mengetik pesan LINE ke Kyuhyun dan memakai bahasa ayahnya.

HaekyungHan: maaf nak, malam-malam begini mengganggumu. Kilaa bilang kalian dan teman-teman kalian mau pergi besok?

EvilGyu: ah, benar, Ahjussi. Apakah boleh kami mengajaknya makan di kedai favorit kami?

HaekyungHan: Kilaa tak boleh pergi setelah pulang sekolah. Dia harus berada di rumah untuk belajar. Maaf, aku tak bisa memberi izin.


Kyuhyun tak segera membalas LINE yang dia kirimkan.

EvilGyu: gwenchanayo, Ahjussi. Saya mengerti.

Kilaa menghela napas lega. Kebingungan yang tadi melandanya sirna sudah. Dia memang paling tidak suka membuat orang lain kecewa.

—————————————————-

Sudah beberapa hari ini Kilaa berkeliling sekolah melihat-lihat klub ekstrakurikuler, dan ia masih belum tahu mau ikut klub yang mana.

” Hani-ya, menurutmu klub mana yang harus kuikuti? ” tanyanya. ” Seminggu lagi aku harus sudah ikut klub tapi sampai sekarang aku bahkan masih bingung. ”

Park Hani terlihat berpikir.

” Bagaimana jika teater? Kau cantik, pasti diterima. ”

” Tidak mungkin, ada kontak fisik dengan lawan jenis, jadi aku tak mungkin masuk ke situ. ”

” Klub sastra? ”

” Aku tak paham sastra Korea. ”

Kibum mengawasi Kilaa dari bangkunya. Gadis itu belum ambil keputusan.

.
.
.
.

Kilaa kembali dari ballroom menenteng tas kecil berhias sulaman bunga. Sudah jadi kebiasaannya solat di sana; satu-satunya ruangan yang bersih dari najis dan kotoran di sekolah itu yang bisa dia temukan. Tadinya dia pikir mustahil bisa solat di sekolah tanpa harus dijama’ karena jam belajar yang panjang dan ketiadaan musholla di situ. Namun, Tuhan mendengar apa yang dia gelisahkan diam-diam. Saat berkeliling sekolah dia menemukan bahwa ruangan itulah yang ia butuhkan. Tempat yang suci, ditambah lagi dekat dengan kelasnya. Jadi jika ia harus izin ketika pelajaran masih berlangsung, itu tak akan memakan banyak waktu.

” Hani-ya, ruangan ini untuk apa? ” tanyanya ketika itu. Di hadapannya ruangan besar berlantai kayu dengan salah satu dindingnya ditutupi cermin super besar dan lebar, belum pernah dia lihat di sekolahnya yang lama.

” Ini? Ini ballroom, biasanya dipakai untuk berlatih klub balet. ”

” Ruangan yang bersih. ”

” Tentu saja. Siapa pun yang masuk ke sini harus melepas sepatunya. ”

” Bolehkah aku meminjam ruangan ini? ”

Park Hani menatapnya bingung.

” Mmm, aku harus berdoa pada Tuhanku di tempat yang super bersih, yang tidak terinjak sepatu atau kaki yang kotor. Tidak lama, mungkin sekita lima sampai sepuluh menit. ”

” Oke. Kebetulan aku ketua klubnya. Hari apa kau mau pinjam? ”

” Tiap hari, dua kali. Kira-kira sekitar pukul dua siang dan lima sore. ”

Hani melongo. ” Mwo? ”

Kilaa nyengir. Keduanya berjalan kembali ke kelas.

” Dua kali, tiap hari? ”

Kilaa duduk di bangkunya sebelum menjawab.

” Memangnya kau harus beribadah tiap hari seperti itu? ”

Belum sempat menjawab, teman-teman Kilaa yang lain mendengar potongan percakapan keduanya. Semua yang ada di dalam kelas mengerubungi Kilaa.

” Ada bahasan menarik apa lagi kali ini? ” Hyukjae angkat bicara.

Hani menyahut, ” Kilaa, mau pinjam ballroom yang bersih untuk beribadah. Tapi, setiap harinya dia akan pinjam dua kali? ”

Kilaa tertawa kecil. ” Kalian terlalu berlebihan dalam bereaksi. ”

” Bukan berlebihan, hanya… Yeah, kau tahu? Terlalu menakjubkan buat kami. ”

” Nah, coba aku tanya. Tiap hari apa saja kau beribadah? ”

” Tiap hari, sehari lima kali. ” jawabnya tenang. Yang lainnya terbelalak.

” Mwoo?! ”

Kilaa tersenyum. ” Sekarang giliranku bertanya, saat kalian ingiiiin sekali membeli sesuatu yang, bisa dibilang, susah didapatkan, berapa kali kalian harus merengek pada ayah atau ibu? Terlebih benda itu harganya mahal. ”

” Seratus kali sehari pun belum tentu dituruti. ” jawab Hani. Yang lain manggut-manggut.

” Yah, hampir sama seperti itu. Dalam agamaku, wajib beribadah lima kali dalam sehari: saat subuh, tengah hari, sore, menjelang petang, dan malam hari. Beribadah dan berdoa, itulah cara kami ‘curhat’ pada Tuhan. Seminggu sekali saja tidak cukup. Apalagi menginginkan ini dan itu. ”

Sebagian paham, sebagian lagi masih bertanya-tanya.

” Gampangnya begini. Jika diibaratkan, seperti ingin pergi ke Busan dengan sepeda, apa yang harus kita lakukan agar sampai ke sana? ”

” Mengayuh sepedanya. ”

” Bila berhenti? ”

” Tak akan sampai. ”

” Begitu juga beribadah dan berdoa. Saat kau menginginkan sesuatu, lalu kau berdoa pada Tuhan, apakah sekali berdoa akan langsung dikabulkan? Tentu tidak. Kau harus ‘mengayuhnya’ dengan doa dan usaha yang terus menerus. ”

Semua mengangguk paham.

” Tapi, kadang ada juga doa yang langsung dikabulkan. ” celetuk Hyukjae.

” Dalam agama Islam, hal itu terbagi menjadi empat. Satu, kau berdoa, dan langsung dikabulkan oleh Tuhan. Dua, kau berdoa, namun dikabulkan setelah beberapa waktu. Tiga, kau berdoa, namun Tuhan memberikan hal berbeda untukmu, yang mana itu lebih baik dari yang kau inginkan. Empat, kau berdoa, namun Tuhan tidak memberikannya di dunia, melainkan memberikannya dengan yang lebih baik di surga kelak. ”

Lagi-lagi semua yang di situ mengangguk-angguk.

” Aku punya cerita, asal usul mengapa kami diwajibkan beribadah lima kali sehari. ” Kilaa menyambung penjelasannya. ” Ini cerita yang menarik. Ah, di antara kalian, adakah yang beragama Katolik atau Kristiani? ”

Sebagian besar yang di situ mengangkat tangannya.

” Kalau begitu kalian pasti tahu nama-nama nabi ini: Adam, Noah, Abraham, Moses , David, Solomon, Yoseph? ”

Mereka mengangguk–lagi.

” Dalam kitab suci kami, mereka juga disebutkan, dengan ejaan Arab, tentu saja. Kami juga mengimani mereka, sama seperti kalian. Ceritanya juga tak jaub berbeda. Nah, kaitannya dengan ibadah kami, ada satu riwayat. Dulu, saat nabi kami–Nabi Muhammad SAW–pergi ke langit ke tujuh bersama Malaikat Gabriel, beliau mendapat perintah dari Tuhan agar beliau dan pemeluk agama Islam beribadah lima puluh kali dalam sehari. ”

” Lima puluh?! ” semuanya berteriak kaget. ” Menurutku lima kali sehari saja sudah banyak, tapi lima puluh?! ”

” Sudah kuduga kalian pasti terkejut. Lalu, yah, beliau tak menolak dan menerima perintah itu. Saat hendak pulang ke bumi, beliau melewati langit-langit di bawahnya. Di langit ke lima beliau bertemu dengan Nabi Musa AS–begitulah kami menyebut Moses– dan bertegur sapa. Nabi Musa AS bertanya, ‘Apa yang Tuhan perintahkan pada Anda?’ dan beliau bercerita tentang perintah beribadah sebanyak lima puluh kali sehari. Nabi Musa AS berkomentar, ‘Lima puluh? Itu, itu terlalu banyak. Umat Anda tak akan sanggup menjalankannya! Tidakkah sebaiknya Anda meminta keringanan pada Tuhan?’. Setelah itu, Nabi SAW kembali pada Tuhan, meminta keringanan atas umatnya. Tuhan pun menguranginya menjadi empat puluh lima. Beliau turun lagi, dan bertemu lagi dengan Nabi Musa AS. Keduanya mengobrol lagi. Dan lagi-lagi Nabi Musa AS menyarankan untuk meminta keringanan pada Tuhan. Nabi SAW kembali menghadap lagi. Turun lagi dan bertemu Nabi Musa AS lagi. Naik lagi meminta keringanan. Begitu terus hingga akhirnya Tuhan memberi keringanan perintah ibadah sebanyak lima kali sehari. Saat beliau bertemu lagi dengan Nabi Musa AS untuk ke sekian kalinya, Nabi Musa AS masih menyarankan untuk memohon pada Tuhan agar mengurangi ibadah wajib yang harus dijalankan. ‘Umat Anda hidup di jaman akhir. Bahkan lima kali sehari pun pasti banyak yang tidak sanggup menjalankannya. Sebaiknya Anda pergi menghadap Tuhan sekali lagi.’

Nabi kami hanya tersenyum. Beliau menjawab, ‘ Bagaimana aku bisa meminta keringanan lagi, wahai Saudaraku? Tuhan sudah mengurangi banyak sekali ibadah wajib bagi umatku. Tak sepantasnya aku meminta pengurangan lagi. Aku sudah cukup malu pada Tuhan.’

” Yah, ibadah lima waktu mungkin terasa berat bagi pemeluk agama lain. Namun bagi kami, itu hal yang sangat kami syukuri. Dari lima puluh berkurang jadi lima, Tuhan sudah berbelas kasih. ”

” Itu ‘diskon’ yang benar-benar banyak. ” sahut Changmin, kapten klub baseball sekolah. ” Tapi, apa kau tak merasa berat, lelah, semacam itu? ”

Rana mengedikkan bahu. ” Kadang, ya, tentu saja. Tapi bagi yang terbiasa beribadah dengan tertib, hal itu malah jadi satu kebutuhan bagi kami. Seperti sikat gigi atau mandi. Kadang kau malas, tapi demi kesehatan kau harus rutin melakukannya terus menerus. Sama juga dengan ibadah. Saat aku lalai, hatiku takkan tenang. Karena bagaimana pun, meninggalkan ibadah adalah hal yang salah, dan hati nurani tahu dan sadar akan hal itu. ”

Semuanya ber-woahh ria. Kilaa tertawa tanpa suara, geli melihat reaksi teman-temannya.

——————————————–

Kilaa duduk di bangkunya, dan memasukkan tas bersulam bunga ke sling bag warna marsala miliknya. Setelahnya, ia menarik keluar headset dari kantong almamater, menancapkannya di ponsel, bermaksud mendengarkan lantunan sholawat Abah Guru Sekumpul. Beliau adalah seorang ulama besar Indonesia yang terkenal dengan kharismanya, suaranya yang merdu dan indah, berwajah tampan, juga dermawan dan kaya raya. Guru dari guru mengaji Kilaa dan keluarganya.

Gerakannya terhenti melihat sebuah tangan meletakkan selembar kertas di atas mejanya. 

Formulir Pendaftaran 




Kilaa mendongak.

” Kau masuk ke klubku. ”

Kilaa menelengkan kepalanya tak paham. Kibum si ketua kelas berdiri di depannya dengan kedua tangan masuk kantong celana.

” Kau belum ikut ekstrakurikuler atau klub mana pun. ”

” Lalu? ”

” Aku punya band, tapi salah satu anggota keluar. Kau bisa ikut gabung dengan band ku. ”

Kilaa berpikir. Ini bukan tawaran yang buruk. Namun, apa bisa?

” Mianhe, Ketua Kelas. Aku tak bisa menyanyi. ”

” Wae? Ada kaitannya dengan apa yang kau anut? ”

Kilaa menggeleng. ” Aku benar-benar tak bisa menyanyi. ”

” Aku tahu kau bisa. Ayahmu bilang kau juga bisa main gitar. ”

Kilaa terdiam. Ayahnya? Ayahnya yang strict itu? Tidak biasanya ayahnya selonggar ini. Well, maksudnya, biasanya sih ayahnya tak akan mau memberi info lebih detail tentang dirinya ke orang yang tidak akrab. Ini malah cerita aneh-aneh.

” Kau bisa mulai ikut latihan besok. Hari ini kita tak ada jadwal latihan. Jadwalnya tiap hari Rabu dan Kamis sepulang sekolah. Jangan khawatir, kukenalkan ke member yang lain. Bassist kita juga perempuan, kau tak sendiri. ”

Ditatapnya pemuda berkacamata di depannya itu tanpa ekspresi. 

Suara televisi memenuhi seluruh ruangan di rumah Kilaa. Ayah dan ibunya nampak serius memperhatikan, kemudian sesekali tertawa saat ada yang lucu. Kilaa sendiri duduk di karpet di bawah sofa ruang keluarga, sambil menggelayut di kaki ibunya. 

”  Antarane sin, syin, karo shad kuwi carane melafalkan wis beda. Nek sin ki macane tipis, nek syin macane kandel. Shad beda meneh.  ”  terdengar suara dari televisi. Mereka sedang menonton streaming ngaji KHM Fuad Riyadi rupanya. Jarak yang jauh antara Korea dan Yogyakarta, Indonesia , tak menjadi alasan bagi mereka untuk tidak mengaji.
 Bagi keluarga Han, mengaji pada seorang guru yang sudah terjamin ketinggian ilmunya adalah hal wajib, yang sesungguhnya memang begitulah ajaran agama Islam menegaskan. Tak peduli jarak yang jauh, selalu ada cara bagi mereka yang mau berusaha konsisten mendalami ilmu agama. Dan beginilah cara keluarga Han. Tak bisa mendatangi majelis ngaji secara langsung karena keadaan, toh masih ada cara lain. Online. Apa gunanya IPTEK yang begitu maju jika tak digunakan secara maksimal untuk meraih ridho-Nya? 

” Papi, Mas Parman itu orangnya yang mana sih? Kilaa benar-benar penasaran. Pak Kyai sering sekali menyebutnya saat mengaji. Kalau tidak Mas Parman, ya Mas Kowi. Kadang Mas Makmun. Tapi kalau Mas Makmun sih Kilaa sudah tahu, Papi suka minta file video ngaji ke Mas Makmun. ” celetuk gadis itu. 

Ayah dan ibunya tertawa saja. 

”  Besok saat pulang ke Jogja Papi kasih lihat yang mana Mas Parman dan Mas Kowi. ”

”  Mmm, Pi, boleh tanya? ”

Han Haekyung mengernyit. ” Tanya apa?” 

” Kenapa Papi cerita soal Kilaa ke Kim Kibum ? Maksud Kilaa, tak biasanya Papi banyak bercerita ke orang yang, well, bisa dibilang asing . Aku benar-benar tak paham. ”

” Yah, dia ketua kelasmu ‘kan? Feeling Papi saja sih. Tapi Papi rasa dia anak baik dan bakal banyak membantumu. ” cerocos sang ayah. ” Memang ada apa? ”

” Dia menawarkan masuk ke bandnya. Kilaa bingung, Pi. Masih ragu-ragu. Sejauh ini masuk ke bandnya adalah satu-satunya pilihan terbaik. Tapi entahlah. Kilaa tak tahu. ”

”  Kenapa tidak? Bukankah waktu untuk masuk klub tinggal hari ini saja? Bila sampai sekarang hanya band itu yang terbaik, ya sudah masuk saja. Kau juga punya kemampuan. Setidaknya itu yang Papi tahu. ”

—————————–

Pagi-pagi sekali, Kilaa sudah sampai di kelasnya. Kelas masih kosong, tidak satu pun dari teman-temannya yang sudah berangkat. 

Keadaan kelas yang sepi dia manfaatkan untuk bersantai sejenak, mendengarkan lantunan solawat Abah Guru Sekumpul favoritnya sembari membuka jendela-jendela kelas. 

Pagi ini sedikit dingin, mengingat ini sudah hari ketiga musim dingin. Kilaa–yang memang mudah kedinginan–mengenakan hijab katun warna mint  dan kupluk nanas warna abu-abu. Dia juga membawa coat marun tebal dan sarung tangan berbahan kulit warna putih. 

Udara makin dingin. Kilaa memutuskan menutup jendela-jendela, dan hanya menyisakan satu yang terbuka. Meski dingin, udaranya segar. 

Kilaa masih berdiri di samping jendela saat Kibum masuk. Pemuda itu berhenti sejenak, berlama-lama menatap Kilaa yang sibuk bergumam sesuatu sambil menatap ponselnya. Siluetnya terlihat begitu cantik, apalagi saat sinar matahari pagi menyapu wajahnya. 

Degup jantung Kibum meningkat. 

Tenanglah! Nanti dia dengar!  

Kibum menghembuskan napas dengan keras, menenangkan diri sendiri. Dia pun kembali melangkah menuju bangku di pojok belakang. 

Kilaa masih terus bergumam pelan. Kata-kata yang ia gumamkan terdengar begitu asing di telinga Kibum. Pemuda itu jadi penasaran; apa sih, yang gadis itu ucapkan? Sedang apa dia sebenarnya? 
 
”  Kilaa-ssi. ” panggil Kibum setelah duduk. Yang dipanggil tak mendengar, Kibum bersuara lebih keras sembari mengguncang mejanya yang berselisih dua bangku di belakang Kilaa. ” Kilaa-ssi! ”

Gadis itu terlonjak kaget mendengar deritan meja. Dia menoleh, dan mendapati si ketua kelas duduk menatapnya. 

‘Kilaa-ssi ‘ katanya ? Baru kali ini dia menyebut namaku. Biasanya cuma ‘ kau’ saja. Anak ini salah makan atau apa?  



Kilaa melepas headset mungil sebelah kiri yang tersembunyi di balik hijabnya dan membiarkan yang kanan tetap terpasang di telinga. 

” Wae? Aaa, soal masuk ke klubmu? ”

”  Bukan. Aku sudah tahu kau pasti masuk ke klubku. ”

Kilaa tak bereaksi, hanya sedikit cibiran tipis. Sayangnya Kibum melihat cibiran itu. 

” Tak usah pura-pura, aku melihat kau memonyongkan bibir. ” tandasnya. ”  Ada hal lain yang mau kutanyakan. ”

” Well, silakan. ”

Kilaa menatap pepohonan tanpa daun melalui jendela. 
Kibum mengernyit. Gadis ini mengalihkan pandangannya! 

”  Kenapa kau tak melihat ke arahku? Aku sedang bicara denganmu. ”

”  Agamaku melarang kami menatap lawan jenis selain keluarga dalam waktu yang lama. ”

Pemuda itu tertegun. 

”  Misalnya kau dan aku, Kim Kibum-ssi. Saat aku dan kau saling menatap ,  iblis akan menghasut kita. Mempengaruhi agar jantung berdetak lebih cepat dari biasa. Menimbulkan rasa sesak sekaligus suka di dalam hati. Rasa seperti itulah yang kami hindari. ”

”  Tapi bukankah tertarik pada lawan jenis itu manusiawi? ” tanya Kibum. Dia masih kebingungan. Apa maksudnya?
 
”  Tentu. Itu hal yang wajar. Namun saat kau menyukai seseorang yang bukan istrimu, orang yang belum sah menjadi pasanganmu di mata Tuhan, lalu kau menuruti perasaan itu, maka yang akan datang selanjutnya adalah bencana. 
Pada awalnya mungkin terlihat indah. Tapi bagaimana nanti ke depannya? Kau dan perempuan itu jadi rusak. 

Kau ingat apa yang kukatakan tentang kedudukan wanita di dalam agama kami? 

Nah, apabila seorang wanita menjalin hubungan dengan pria yang bahkan belum jadi suaminya, itu sama saja pria itu menganggap wanita hanyalah mainan. Dia telah merendahkan wanita itu. Bila dia benar-benar serius, dalam arti ingin membahagiakan wanita itu, dia tak akan mengajaknya pacaran, tapi langsung melamarnya pada orang tuanya. 

Coba bayangkan, bila laki-laki dan perempuan berpacaran, tak adakah keinginan dari mereka untuk melakukan skinship? ”

Kibum masih mencerna penjelasan Kilaa. Dia belum paham betul-betul. Laki-laki dan perempuan pacaran = laki-laki merendahkan perempuan. Laki-laki menikahi perempuan = menghormati perempuan .  Lalu? Skinship? Orang yang pacaran mana ada yang tidak skinship. Oh! Aku mulai mengerti! Skinship antara laki-laki dan perempuan yang bukan keluarga tidak diperbolehkan karena tingginya kedudukan wanita dalam agama yang ia anut! 


” Oke, oke, aku sedikit paham. Yah, yang namanya pacaran pasti ada skinship meski cuma gandengan tangan. Dan itu artinya pria tak menghormati wanita. Benar ‘kan?  ” jawabnya setelah berpikir sebentar. ” Lalu? ”

Kilaa mengangguk. 
”  Nah, skinship orang pacaran tidak hanya berhenti di situ saja. Awalnya, iblis menyuruh untuk menyukai lawan jenis. Kemudian menyuruh agar pacaran. Setelah pacaran, menyuruh agar bergandengan tangan. Setelah gandengan, berpelukan. Lalu dia suruh lagi untuk ciuman. Dan itu akan terus berlanjut ke tingkat yang lebih parah hingga hubungan suami istri. Nanti setelah itu si pria tiba-tiba akan merasa bosan, makin lama makin bosan dengan wanita yang dipacarinya. Akhirnya wanita itu ditinggalkan. Dan setelah beberapa bulan, barulah ketahuan kalau wanita itu hamil gara-gara pria tadi. Dan setelahnya kau tahu apa yang terjadi. 

Mencoreng nama keluarga. Menjatuhkan martabat diri sendiri. Memiliki anak tanpa ayah. Dan banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu per satu. 
Bisakah kau bayangkan betapa mengerikannya akibat dari tatapan mata yang tak semestinya? ”

Kibum bergidik. Wow, seram memang. 

”  Itu baru akibat yang terlihat oleh mata kita. Belum dosa yang ditimbulkan dari perbuatan-perbuatan itu. Dosa bergandengan tangan, dosa bertatap-tatapan, dosa melangkahkan kaki saat kencan, dosa memikirkan lawan jenis yang bukan suami atau istrinya, dosa berpelukan, berciuman, dan banyak lagi. Berapa gunung dosa yang menumpuk hanya gara-gara menuruti ajakan iblis yang kelihatannya sepele dan manusiawi? ”

”  Wow. ”

Kilaa tersenyum. 

”  Begitulah agama kami. Namun tentu saja , ada saat-saat di mana menatap lawan jenis itu dimaklumi. Di mana kemungkinan untuk jatuh cinta hampir-hampir tidak ada. Saat-saat di mana mau tak mau kau harus menatap lawan jenis. Misalnya saat guru menerangkan pelajaran yang kalau tidak benar-benar diperhatikan kita jadi tidak memahami pelajaran, saat meeting di perusahaan, saat wawancara kerja, dan lain-lain. Tidak lantas kaku,  tanpa melihat situasi dan kondisi. ”

Pemuda itu mengangguk-angguk paham. 

” Aku paham sekarang. Masuk akal memang apa yang kau bilang tadi. Aku bisa maklum bila kau tak menatapku saat kita berbicara. Tapi tentu itu berlaku buatmu karena apa yang aku anut berbeda denganmu. Kuharap kau mau memaklumi juga kalau aku tak bisa berbicara tanpa melihat lawan bicaraku, termasuk kau sekalipun. Itu sudah jadi kebiasaan. ”

Kilaa menoleh ke arah Kibum dan tersenyum sekilas, lalu menatap ponselnya lagi. 

” Ya, tentu saja. ”

” Omong-omong, kulihat tadi kau terus menggumamkan sesuatu. Sesuatu yang belum pernah kudengar, dan terasa asing bagiku. Boleh aku tahu apa yang kau gumamkan? ” 

Sikap Kibum sedikit berubah. Gadis di depannya ini bukan sembarang orang. Dia jadi tak bisa kalau mau bersikap agak ketus seperti sebelumnya. Dia jadi merasa harus menaruh hormat pada Kilaa. 

Sementara itu, Kilaa menegang mendengar pertanyaan Kibum. Dia melihatku bergumam-gumam tadi? Dia ingin tahu? Oh no! Bagaimana ini, Nabiku?  


Tangan dan tubuhnya bergetar. Pun ponselnya yang masih menampakkan aplikasi Al-Qur’an dan memutar surat Al-A’raf yang dibaca oleh imam ternama: ‘Abdurrahman Assudais. 

Tolong saya, ya Rasulullah!  



–TBC–


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s