DIFFERENCE #3

image

Cast:

– Kim Kibum
– Han Aquila [OC]

Genre: Romance, religion

A.n. : BEWARE! SARA ATTACK!
Ini pertama kali author mengangkat tema yang banyak dihindari sm author2 lain. Author ranakim9387–alias aku–sendiri juga belum pernah bikin ff dgn tema yg, well, bisa dibilang ekstrim, tapi banyak fangirl INA yg ngalamin problema begini. Yeah, perbedaan keyakinan.
Buat readers yg berbeda keyakinan dg author, author mohon maaf sebesar2nya jikalau dlm ff ini banyak hal yg bikin kalian tersinggung. Sungguh bukan bermaksud menjelekkan agama lain, author cuma pengen sharing aja, pengen curhat juga, betapa perbedaan keyakinan antara fans sm idola itu bener2 bikin gap alias jarak antara fans sm idolanya makin lebar, & itu salah satu yg disedihkan.

Okee kyknya au. ‘s note nya agak kepanjangan inihh… Cusss yukk kita simak bareng2..

NO COPAS, NO BASH, NO PLAGIAT, NO REBLOG/REWRITE W/O FULL CREDITS!!

————————————-

Abah Guru, Pak Kyai, apa yang harus saya lakukan? 



Kilaa kebingungan mendengar permintaan Kibum. Kenapa pemuda ini mendadak ingin tahu? Sepertinya kemarin-kemarin dia tak sedikit pun kelihatan tertarik atau antusias saat ia menjelaskan apa yang ditanyakan teman-teman sekelasnya. 

” Well, kau tahu, ini adalah hal yang benar-benar asing untukmu. Jadi, yah… ” ujar Kilaa terbata-bata, tak tahu bagaimana harus mengatakannya pada Kibum. 

”  Jadi, apa? ”

Pemuda itu menunggu-nunggu kalimat Kilaa berikutnya. Jadi, kenapa kalau asing? Apa itu artinya dia tak boleh dengar, atau bagaimana? 

” Yah, maksudku, bukan kau tak boleh mendengarnya juga sih. Tapi, kau pasti tak memahami dan, well… Kau tahu… ” 

Wajah Kilaa berkerut-kerut, bingung setengah mati. Tangannya juga mulai menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal. 

Dan entah kenapa Kibum merasa geli, tapi juga menyukai perubahan-perubahan raut wajah gadis itu. Dia sebisa mungkin menahan bibirnya agar tidak tersenyum. 

” Aku malah jadi tambah penasaran dan ingin mendengarnya, Kilaa-ssi. Bisakah kau lepas kabel headsetmu? Jebal? ”
Alis gadis itu mulai berkerut-kerut lagi. Dia menghela napas keras-keras. 

”  Oke, tapi berjanjilah, jangan cerita pada siapa pun. Dan jangan membenciku maupun keyakinanku setelah ini. ”

Kibum mengangguk. 

Tangan Kilaa bergetar menyentuh ujung kabel headsetnya. Masih tak yakin dengan keputusan yang ia buat. Haruskah dia membiarkan Kim Kibum mendengar lantunan ayat suci yang ia daras setiap hari? Atau mengambil jalan aman dengan tak mempedulikan permintaan Kibum? 

Perlahan, ujung kabel headset mulai terlepas dari ponselnya. 

” Selamat pagi! Oh, kukira belum ada orang. ”

Secepat kilat kabel headset sudah kembali menancap dengan sempurna di ponsel Kilaa. Gadis itu benar-benar tak ingin ada orang lain yang mendengar apa yang biasa ia dengarkan. Kibum geleng-geleng kepala sambil menghela napas. 

” Lee Hyukjae, kau ini ya, hobi sekali mengganggu acara orang. Dan kenapa kau datang sepagi ini? Biasanya kau kan datang mepet dengan bunyi bel masuk. ”

” Oh? Kau lagi pedekate? ”

Kim Kibum memutar matanya sebal. 

” Kutunggu hingga kau siap memperdengarkannya padaku, Kilaa-ssi. ”

Lalu pemuda itu duduk di bangkunya sendiri. 

” Apa sih? ” Lee Hyukjae bertanya penasaran. Kilaa hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala. 

Setidaknya tidak hari ini, pikir Kilaa lega. 

Ada semacam ketakutan di hati Kilaa. Takut bahwa mungkin teman-temannya terkena islamophobia gara-gara pencitraan buruk yang begitu digembar-gemborkan media, terutama media barat. Yang tak perlu diragukan lagi seberapa benci mereka terhadap agama yang dianutnya. Kadang Kilaa tak mengerti. Bukankah mereka–para pembenci Islam–itu tak mengenal agamanya dengan baik? Hampir-hampir juga tak berinteraksi dengan para penganutnya. Bisa dibilang, mereka tak mengenal Islam dan pemeluknya bukan? Lalu bagaimana bisa mereka seenaknya saja memutuskan bahwa Islam itu jahat? Bahwa Islam itu mengerikan? Bagaimana dengan semboyan mereka ‘don’ t judge book by its cover’? Ini membingungkan. Ini aneh. Mereka mengaku sebagai manusia terpelajar, tapi mereka menebar kebencian terhadap manusia lain. Sungguh ironis. 

Apa karena para teroris yang mengaku-ngaku sebagai muslim? Oh, andai saja mereka tahu bahwa ada juga muslim yang begitu bodohnya menelan mentah-mentah ajaran Islam tanpa melihat konteks, tanpa mengunyah dulu, tanpa menyerap dulu esensi dari ilmu yang mereka baca. Yah meskipun tak sepenuhnya juga mereka salah, karena memang kalau pemeluk Islam terlalu lembek, bukannya mereka dihormati, tapi malah dibantai seperti yang terjadi pada penganut Islam di Bosnia bertahun-tahun yang lalu. Apalagi di negara di mana penganut Islam adalah minoritas. Namun bukankah perlindungan diri yang ekstrim macam itu tetap saja harus melihat kondisi? Perlukah? Tidakkah? Harus bersikap lembut, atau keras? Apakah sedang berada di daerah konflik–dengan pilihan membunuh atau terbunuh–atau berada di daerah yang aman-aman saja? Bukankah segala sesuatu itu harus dipertimbangkan dan dipikirkn masak-masak? 
Belum lagi fakta tersembunyi bahwa pemerintahan negara-negara barat itu memanfaatkan mereka yang bodoh itu. Kelompok-kelompok radikal berskala internasional, yang mengatasnamakan agamanya, membuat kerusuhan di mana-mana, mereka semua sebenarnya bentukan pemerintah barat. Seperti sebuah skenario yang disusun secara sempurna, hingga menimbulkan efek Islamophobia di berbagai tempat. 
Ini sebenarnya bukan lagi rahasia, toh kelompok hacker Anonymous sudah sering kali membeberkan hal ini. Tapi bagi masyarakat awam, fakta ini bahkan sama sekali tak mereka ketahui. Dan ya, masyarakat awam itu jumlahnya banyaaaaak sekali. 

Kilaa menggeleng kuat-kuat, tak ingin memikirkan hal rumit macam itu dulu. Dia hanya ingin hidup simpel, berusaha menjalankan ajaran agamanya dengan baik tanpa harus mengganggu orang lain. Hanya itu target jangka pendeknya sekarang. 

” Kilaa, selamat pagi. ” 

Park Hani duduk di bangku sebelah kanannya, menyapanya ramah. 

” Hei, selamat pagi juga. ” gadis itu tersenyum, dan sesaat kemudian keduanya terlibat obrolan yang seru. 

Hijab mint nya terkadang tertiup angin yang masuk melalui celah-celah jendela yang terbuka. Sedikit berkibar lembut, namun tampaknya dia sama sekali tak merasa terganggu. Bahkan gadis itu tak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya dari bangku belakang. 

———————–

Kim Kibum masih setia mengamati Kilaa dari bangkunya yang memang terletak dua bangku di belakang Kilaa di barisan berbeda. Pemuda itu masih penasaran. Apa yang sebenarnya tadi gadis itu dengarkan? Kenapa sepertinya gadis itu enggan sekali–bahkan terlihat sedikit takut, Kibum perhatikan tadi tangannya bergetar–memperdengarkan yang sedang terputar di ponselnya? Dan sesaat tadi, sesaat  tadi Han Aquila nampak banyak pikiran. Seolah ada beban berat di pundaknya. Seolah ada hal genting yang sedang menantinya. 

Apa yang sebenarnya sedang dia pikirkan? Dia tak semudah gadis-gadis lain yang bisa dengan gampangnya kubaca pikirannya. Kim Kibum bertanya-tanya dalam hati. Coba nanti kutanya. Semoga saja dia mau menjawabnya.


Tak terasa pelajaran hari ini berakhir. Kilaa meregangkan tubuhnya yang terasa pegal, lalu mengemasi buku-buku dan alat tulisnya. Sebagian mau ia simpan saja di loker; ia tak suka membawa terlalu banyak buku. Berat. 

Katanya, ” Aku tak bisa tumbuh tinggi kalau bahu dan punggungku dibebani buku-buku seberat itu. ” 

Teman-temannya mulai keluar. Sebagian masih tinggal di dalam. Kibum yang kepikiran hal pagi tadi langsung saja menghampirinya. 

” Kilaa-ssi. Bisa kita bicara?  ” tanyanya pelan. 

Terdengar siulan–kau tahu lah siapa pelakunya. Lee Hyukjae. 
Sialan kau, Hyuk! 

” Oh, ya, aku tahu. Ini.  ”
Gadis itu mengeluarkan selembar kertas. Formulir masuk ke klub. 
”  Kurasa tak ada pilihan lain selain masuk ke klubmu, Ketua Kelas. ” selorohnya. 

Pemuda itu mengambil kertas formulir yang sudah terisi. 

” Well, kau bisa mulai ikut latihan besok.  ” sahut Kibum sambil mengedikkan bahu, sedikit tak acuh. ” Daripada itu, Kilaa-ssi, ada yang mengganggu pikiranku sejak tadi. Bolehkah aku bertanya? Aku takut kau tersinggung.  ”

Kilaa menghela napasnya. Pasti soal yang tadi. 


” Boleh saja. Apa yang ingin kau tanyakan? ”  dia mencoba tetap savage, tidak menunjukkan bahwa dia waswas. 

” Mengapa agamamu melarang pemeluknya memakan daging babi dan anjing dan meminum alkohol? Bukankah sebagai materi, tiga benda itu juga memiliki banyak manfaat? Maksudku, untuk apa Tuhanmu menciptakan babi, anjing, alkohol, jika pada akhirnya kalian dilarang mengonsumsinya?  ”

Gadis itu tersenyum. 

” Kukira sesuatu yang lebih rumit.  ” celetuknya geli. ” Ini saja yang mau kau tanyakan?  ”

Kibum terkekeh, ” Jawab saja dulu. Aku benar-benar penasaran, sungguh. ”

” Aku yakin kau sudah tahu alasannya dari segi kesehatan. Bahwa dalam daging babi dan anjing banyak terdapat cacing pita yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Lalu alkohol. Mengonsumsi alkohol berbahaya bagi organ dalam seperti hati, ginjal, sistem pencernaan, dan lain-lain. Belum lagi dari segi lain. Misalnya saja dari segi psikologi. Coba bandingkan karakter hewan-hewan yang biasa kita santap. Saat kita amati, babi adalah hewan terjorok–maaf bukan maksudku menyinggung ini, aku hanya membeberkan fakta karena kau bertanya–sekaligus paling rakus. Babi memakan apa pun yang ada, bahkan saat makanan habis dia tak segan menelan kotorannya sendiri. ” jelasnya. Pemuda di depannya mengernyit jijik membayangkan hewan memakan kotorannya sendiri, bukti betapa rakus dan joroknya hewan tersebut.
 ” Dan–kau boleh percaya boleh tidak, tapi inilah faktanya–apa yang kita makan berpengaruh ke kepribadian kita. Bagaimana karakteristik hewan yang dagingnya kita makan, berpengaruh juga pada perilaku kita sehari-hari.” 

Kilaa mengambil jeda. Penjelasan ini sebenarnya simpel, tapi kalau menjelaskan pada orang yang buta tentang Islam, ya sama saja. 


” Ada juga dari segi sebab-akibat. Soal babi sudah kujelaskan tadi. Soal anjing juga kurang lebih begitu. Bagaimana soal alkohol? Nah, kau tahu? Dulu, saat awal-awal agama ini disebarluaskan, alkohol bukanlah sesuatu yang dilarang. Manfaatnya juga tak bisa dibilang sedikit. Menghangatkan tubuh, misalnya. Apalagi di wilayah yang memiliki empat musim, saat musim dingin dan gugur alkohol akan sangat membantu agar kita tak kehilangan suhu tubuh. Suatu ketika, ada salah seorang sahabat Nabi kami yang beribadah dalam keadaan mabuk. Bisa kau bayangkan? Hal yang tadinya agung dan suci berubah jadi hal yang hina. Dia–tidak sadar karena mabuk, tentunya–beribadah dan banyak sekali kesalahan yang ia buat dalam ibadahnya itu. Banyak ayat-ayat yang terbalik, sehingga maknanya jadi berubah. Dan kesalahan membaca ayat-ayat Tuhan dalam agama kami itu hal yang besar, apalagi bagi yang mengerti dan memahami maknanya. ”

Kibum manggut-manggut mengerti. 

” Banyak juga hal-hal tercela terjadi gara-gara alkohol. Kita bisa lihat, banyak sekali gadis yang hamil di luar nikah, gara-gara alkohol juga awalnya. Lalu pembunuhan tak terduga, pelakunya di bawah kendali alkohol. Kecelakaan lalu lintas. Kasus-kasus kriminal lain. Atau yang paling sepele: mengatakan sesuatu yang seharusnya tak diungkapkan. Ada pendapat yang mengatakan bahwa orang mabuk bicara kejujuran. Bullshit, kalau kubilang. Kejujuran bagaimana kalau dia saja tak sadar apa yang sedang dia katakan atau yang dia lakukan? Lagipula, tidak semua hal orang harus tahu kan? Maksudku, ada hal-hal yang sebaiknya memang tidak diketahui orang lain. 
Aku selalu ingat ini saat nonton drama. Adegannya si A bicara ngelantur ke si B karena mabuk. Si B percaya pada omongan itu karena katanya orang mabuk bicara kejujuran. Dan besoknya si A tak ingat apa-apa, hanya tahu-tahu hubungannya dengan si B merenggang. Dengan dramatis si A bilang ‘ini semua salah paham!’… Lalu di mana bagusnya itu? Bicara kejujuran macam apa sampai-sampai si A berkata seperti itu?  Lalu pemirsa mengutuk si A: ‘ Bodoh kau! Kenapa pakai acara mabuk segala?! ‘. ”

” Agamaku berprinsip, jika ada suatu benda, lihatlah, lebih banyak manfaat atau kerugian yang ia timbulkan. Bila lebih banyak manfaatnya maka ambillah, bila lebih banyak kerugiannya maka tinggalkanlah.  ”

Kibum tertawa mendengar penjelasan Kilaa di bagian drama-drama ini. 

” Hahaha benar juga! Oke, ini masuk akal. ” sahutnya. ” Lalu, kenapa Tuhanmu menciptakan itu semua padahal lebih  banyak kerugiannya daripada manfaatnya?  ”

” Kalau kau mau naik kelas, apa yang akan gurumu lakukan terhadapmu? Ujian, bukan? Sama juga dengan ini. Tiga benda tersebut sebagai materi ujian bagi kami. Bisakah kami mengerjakan soalnya? Mampukah kami menahan godaan agar tak memakan daging babi yang katanya enak sekali itu? Kalau kami mampu, maka, ya, congratulations! Kami lulus dan naik ke jenjang yang lebih tinggi. ”

Kibum diam. Semuanya masuk akal. Ya benar. Tapi, kenapa rumit sekali? Banyak sekali aturan dan larangan dalam agama yang dianut gadis ini. Sepertinya ribet sekali. Tapi anehnya, dia tak melihat Kilaa kerepotan dengan segala macam aturan itu. Dia bahkan terlihat lebih tenang, lebih  damai dan lebih bahagia hidupnya daripada orang-orang yang agamanya (dia pikir) tak serumit agama Han Aquila. 

” Kau tak merasa, kerepotan dengan semua itu? Sepertinya aturannya banyak sekali.  ”

Gadis berhijab mint itu menggeleng sambil tersenyum. 

DEG

Kibum hampir meleleh melihatnya. 
Senyumannya benar-benar menyejukkan. 



” Tidak. Aku tahu semua aturan itu untuk kebaikan kami sendiri. Agar kami lebih tenang menjalani hidup, agar kami lebih bahagia.  Tuhan kami lebih tahu mana yang baik dan mana yang buruk untuk kami, dan kami percaya dan berbaik sangka kepada-Nya. Itu yang Nabi kami katakan, dan kami juga memang merasakan itu. ”

” Ah! Satu lagi! ” cetus pemuda itu. ” Boleh aku tahu alasanmu kenapa kau enggan memperdengarkan sesuatu di ponselmu tadi? Kulihat kau sedikit, mmm, takut? ”

Han Aquila terhenyak. 

-TBC-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s