DIFFERENCE #4

Cast: – Kim Kibum SJ 

  – Han Aquila (OC) 

Au. ‘s Note: BEWARE! SARA ATTACK! 
Haiiii~ ayem kombek egeeennnn πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Ini ff udh aku anggurin lamaaaa banget (di chapt kemaren terutama) krn sibuk dgn real life aku, sibuk menata hati juga (habis patah hati cyin, bias aing dating) & muvon ke yang baru (acieee)… 

By the way, menurut kalian kesannya Kilaa di sini gimana sih? Sok tau? Jenius? Cool? Ngeselin? 
Hehehe

Sekali lagi mohon maaf bagi readers yg berbeda keyakinan dg author, bukan bermaksud menyinggung. Untuk yg muslim, mohon maaf juga kalau cerita ini terkesan menggurui (pdhl author ga bermaksud menggurui), cm pengen org yg tadinya ada islamophobia, dgn baca ff ini mungkin jd berkurang phobia nya, yg belum mengenal Islam jd tahu… Bukan apa-apa sih… Cuman, apa enaknya hidup dg saling membenci? Ya gak? Kalau kita saling mengenal, saling memahami, saling toleransi, kan hidup jg jd lebih damai #tsahhhhh

Check it out! 

——————————————–

Angin kembali berhembus dari celah jendela yang terbuka, meniup hijab mint Kilaa yang masih tertegun. Gadis itu bahkan tak sadar tengah menatap Kim Kibum dalam waktu yang lama, termakan kebingungan sekaligus keterkejutan yang sangat. 

Sementara Kim Kibum, pemuda itu masih diam menunggu Kilaa melontarkan jawaban. Kenapa gadis ini terlihat takut? Kenapa dia seolah punya banyak beban? Kenapa dia tak mau melepaskan  kabel headsetnya? Dan banyak lagi kenapa-kenapa lainnya yang bermunculan di otaknya yang cerdas itu.

Kilaa tersadar. Gadis itu mengalihkan pandangan sebelum hatinya melompat; dia benar-benar tak mau hal itu terjadi. Dia masih punya cita-cita: menikah dengan pemuda saleh melalui jalur agama yang benar, jatuh cinta pada suaminya sesuai apa yang agamanya perintahkan. Sama seperti Bu Nyai Arya, istri kedua dari guru mengajinya, KHM Fuad Riyadi. Kabarnya sih, beliau diperistri saat masih SMP kelas satu, beliau juga seusia dengan putra sulung Pak Kyai itu sendiri. Sudah begitu, pernikahan mereka benar-benar harmonis. Hubungan beliau dengan Bu Nyai Ami–istri pertama Pak Kyai–juga sangat baik; hampir-hampir seperti adik-kakak. Dan–kabarnya lagi–orang belum pernah melihat hubungan rumah tangga yang seromantis beliau-beliau itu. 

Ah, Kilaa juga tahu bahwa Bu Nyai Arya itu fangirl senior kelas berat. Tentu yang tahu hal ini cuma sedikit. Kilaa pun tahu ketika dia tak sengaja mendengar perbincangan beliau dengan putri Pak Kyai dari istri pertamanya, Kak Ai yang memang dekat sekali dengan Bu Nyai Arya. Kalau tidak salah, keduanya membicarakan konser EXO (Bu Nyai Arya seorang EXO-L, biasnya Byun Baekhyun) dan konser solo G-Dragon (Kak Ai seorang VIP). Sedikit di luar dugaan Kilaa, meski yah, bukan hal yang aneh mengingat Bu Nyai Arya usianya belum ada 25 tahun. Kilaa mencoba menaksir; dia seusia dengan Kak Ai, hanya selang beberapa bulan saja. Itu artinya, dia dan Bu Nyai Arya terpaut usia kira-kira delapan atau sembilan tahun. 

”  Aku tahu di negara ini banyak terjadi pembullyan, baik secara verbal maupun fisik. Baik secara langsung maupun tidak. Beritanya santer di mana-mana, termasuk di tanah kelahiranku.  ” katanya mengawali, mengabaikan sejenak kekagumannya pada dua istri utama gurunya tadi. ” Bahkan hal yang sangat sepele pun bisa jadi masalah. Tapi aku juga paham, hal ini wajar karena masyarakat di sini belum terbiasa dengan heterogenitas. Warna kulit, bentuk wajah, bentuk tubuh, keyakinan, bahkan pekerjaan juga bisa jadi penyebab pembullyan itu sendiri.   ” 

Kibum mengernyit. Gadis itu mengedikkan bahu sedikit. 

” Berbeda dengan negaraku sebelumnya. Negara kami terdiri dari banyak pulau, kau tentu tahu itu. Masing-masing pulau, penduduknya memiliki karakteristik wajah yang berbeda. Belum dari segi bahasa, suku, budaya, pakaian, makanan, adat dan kepercayaan, dan lain-lain. Ada banyak sekali suku di negaraku. Misalnya sukuku, suku Jawa. Kami tinggal di satu pulau kecil memanjang yang paling padat di negara kami. Itu pun di satu daerah dengan daerah lain bahasa yang kami pakai bisa berbeda. Begitu juga dengan pakaian khas dan adat budaya. Belum jika ditambahkan dengan suku lain. Bagi kami, heterogenitas adalah hal yang sudah biasa. ”

Kim Kibum terbelalak. Jadi itu semua bukan cuma rumor? Satu negara dengan banyak macam adat dan budaya, itu benar-benar nyata? Tadinya Kibum kira buku yang ia baca itu hanya melebih-lebihkan saja. 

” Aku agak waswas sebenarnya, Kim Kibum-ssi. Aku begitu berbeda dengan kalian. Agamaku, pakaianku, prinsip hidupku, bahkan fisikku juga tak sepenuhnya mirip orang Korea meski ayahku orang Korea tulen. Bentuk wajahku berbeda, juga bentuk mata dan hidungku, bagaimana jika ada yang mempermasalahkan itu? Bagaimana kalau ternyata ada yang mengalami phobia terhadap agamaku? Bagaimana bila kalian tak bisa menerima diriku dan juga kepercayaanku?  ”

” Kau, sungguh merasa begitu?  ”

” Yah, itu hakmu untuk percaya atau tidak. Tapi memang itulah yang kugelisahkan saat ini. Apalagi dengan perpindahanku dari tempat yang terbiasa dengan heterogenitas ke tempat yang lebih memilih homogenitas, wajar bukan jika aku jadi khawatir?  ” gadis itu berucap pelan. ” Namun Tuhan tidak tidur, Kim Kibum-ssi. Aku tak secemas itu karena aku tahu Tuhan selalu bersamaku selagi aku selalu mengingat-Nya, bahkan juga saat aku lupa sekalipun.  ”

Pemuda itu diam lagi. Masih berusaha mencerna kalimat-kalimat yang dilontarkan Aquila. Dia merasa, ada sesuatu yang menarik di agama yang dianut gadis itu, sesuatu yang tak ia temukan dalam agama yang selama ini ia percayai–atau entahlah, bahkan menyentuh Alkitab saja bisa dihitung jari. 

Kibum belum tersadar meski Kilaa sudah beranjak dari bangkunya dan berjalan keluar kelas. 

” Tunggu, Kilaa-ssi. ” soraknya begitu tahu bahwa gadis itu tak lagi di tempat duduknya. 

Yang dipanggil berhenti, menoleh sambil menatap keluar jendela–lagi. 

” Kau, takut, kami Islamophobia? ”

” Perlukah kujelaskan lagi bahkan setelah apa yang tadi kukatakan? ”  ujar Kilaa. ” Aku pergi dulu, Kim Kibum-ssi. ”
Gadis itu melangkah keluar kelas. Sementara Kibum tetap terdiam di tempatnya berdiri. 

” Ehem! ” 

Kibum menengok, mendapati Lee Hyukjae nyengir kepadanya. Berusaha memberitahu Kibum bahwa dia juga di situ. 
Kibum tak ambil peduli, lalu keluar kelas. Mau pulang. 

” Aku benar-benar merasa jadi obat nyamuk di sini. Tapi aku dapat banyak pelajaran berharga. ”

Sejurus kemudian, ruang kelas itu pun lengang. 

———————————————————————

Langit Itaewon terlihat menggelap. Lampu-lampu menyala otomatis. Jalanan bukannya makin sepi, tapi malah makin ramai orang berjejal. Ada yang sekedar hang out, ada yang ingin makan makanan berbumbu rempah yang pekat (yang memang banyak terdapat di Itaewon), ada juga yang berjalan menuju masjid. Ya. Masjid Itaewon. Masjid terbesar di Seoul. 
Kibum lagi-lagi memandangi siluet kubah masjid dari jendela apartemennya. Dia memikirkan perkataan Kilaa di sekolah tadi. 
“… Tuhan selalu bersamaku selagi aku selalu mengingat-Nya, juga bahkan saat aku lupa sekalipun… “


Sekuat itukah keyakinannya? 

Pemuda itu tak paham. Gadis itu begitu yakin, begitu percaya dengan keberadaan Tuhan yang katanya selalu bersamanya itu. Maksudnya, bagaimana bisa dia seyakin itu? 

Kibum lalu berusaha menggali ingatannya; kapan terakhir kali dia memiliki keyakinan yang sama kuatnya terhadap keberadaan Tuhan. Saat Natal? Paskah? Thanksgiving? Saat hendak ujian kelulusan? 

Dan dia menemukan satu fakta mengejutkan: belum pernah sekalipun dia merasa seyakin itu. Bahkan saat Natal. 

Oke. Mungkin waktu kecil, ya. Dia percaya Tuhan akan mengirimkan hadiah di malam Natal pada anak-anak yang baik lewat Santa. Namun setelah ia ingat-ingat lagi, dia berharap hadiah dari Santa, bukan Tuhan. Dan belakangan ia tahu bahwa Santa itu tak ada. Santa hanyalah tokoh fiktif buatan. Kado-kado yang ia dapat semua dari orang tua, teman, maupun saudara-saudaranya. 

Otaknya kembali berpikir. Yang seperti apa yang dimaksudkan Kilaa? 

Ditatapnya kembali Masjid Itaewon di kejauhan. Sayup terdengar suara berkumandang dari situ. Kibum tak tahu suara apa itu, tapi ia tahu benar suara itu berbahasa Arab. 

Allahu Akbar, Allahu Akbar… 

Asyhadu anlaa ilaaha illallaah…. 

Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah… 




Tunggu, kenapa pipinya basah? 
Ia menangis? 

Pemuda itu menyentuh pelan tulang pipinya, mengusap air mata yang menetes tanpa ia sadari. Air mata itu bukannya berhenti, tapi malah mengalir makin deras. 

Apa ini? Ada apa denganku? Kenapa tak mau berhenti? 


Dia merasakan haru luar biasa memenuhi rongga dadanya, namun dia bingung. Haru akan apa? 

Malam itu Kibum menghabiskan waktunya dengan mulut mengepul, kedinginan di depan jendela sambil sesekali menghapus air mata yang tak mau berhenti mengalir hingga hampir empat jam lamanya. 

Kilaa beranjak dari musholla di rumahnya setelah selesai membaca kitab  Dalail Khairat hari Rabu. Dia bergegas cuci muka, dia tak berencana mandi pagi ini. Udara begitu dingin. Bisa dipastikan suhunya ada di bawah nol derajat celcius. Dan Kilaa paling tidak tahan kedinginan. 

Gadis itu pergi ke kamarnya, mengganti piyamanya dengan kamisol dan celana sebetis, lalu melapisinya dengan kaos oblong, mengenakan blus seragam sekolah, rok panjang, kardigan tanpa lengan, hijab katun pastel rose, terakhir jas almamater sebagai luarannya. Tak lupa juga ia sarungkan sepasang stoking di kedua kakinya. 

” Jangan lupakan syal dan  beanie mu, Sayang! ” seru ibunya dari balik  pintu. ” Oh! Dan coat mu juga! ”

” Iya, Mi. Kilaa nggak lupa kok! ”

Syal dan beanie hari ini dia pilih yang berbahan wool warna fuschia. Menyocokkan dengan warna hijab yang ia pakai. 

Kenapa fuschia? Kalau warnanya sama-sama pastel rose, nanti penampilannya akan jadi kurang hidup. Kurang kontras. 
Kilaa pun berangkat setelah sebelumnya menyampirkan coat warna senada ke tubuhnya. 

Gadis yang satu-satunya berhijab itu pun sampai di kelasnya lima belas menit sebelum bel masuk berbunyi. Kelas sudah ramai, namun ia tak melihat Kim Kibum. Ketua kelasnya yang cerewet itu tumben–tumbennya datang terlambat. Padahal Kilaa sudah menduga, pemuda itu bakalan merecokinya untuk berangkat ekskul sepulang sekolah nanti. Yah, setidaknya, paginya akan terasa lebih tenang hari ini. 

” Hei, Aquila! ” Lee Hyukjae, pemuda setengah monyet  itu melompat ke arahnya. Otomatis dia mundur selangkah. 

” Ya, selamat pagi. Ada apa? ”

” Kau keren sekali! Kemarin itu, woahhh, kau benar-benar begini! ” pemuda bersurai kecokelatan itu mengacungkan dua ibu jarinya. Kilaa hanya mengernyit. Dia tak merasa melakukan sesuatu yang pantas dikagumi, jadi kenapa dengan bocah ini? 

” Aku tak paham. ” sahutnya. Lee Hyukjae hanya mencebik, tak ingin menjelaskan lebih lanjut. Dia hanya menggumamkan sesuatu seperti, ” bijak belum tentu peka ”  dan, ” percuma memujinya ”  dan macam-macam lagi. Gadis itu mengedikkan bahu acuh tak acuh. 

” Hei, Aquila, mana ketua klubmu? Biasanya dia datang paling pagi. ”

Kilaa menoleh lagi, kemudian mengedik lagi. 

” Kenapa tanya padaku? ”

Sementara itu, Kibum bergelung di balik selimut tebalnya yang terasa nyaman dan hangat. Entah kenapa dia sangat sangat mengantuk pagi ini, rasa-rasanya ingin tidur saja seharian penuh. Dia tak merasa lapar, dan malas sekali bergerak. Bahkan untuk sekedar bangun dan duduk dari tidurnya pun dia tak ingin melakukannya. Pemuda itu hanya bangkit untuk buang air lalu minum segelas air putih, kemudian bergelung lagi dan kembali tidur. 

Baru saja dia hampir terlelap, ponselnya berbunyi. 

LINE! LINE! 


Dia mendecakkan lidah. 

Wajar saja. Baru semenit memasuki alam mimpi, tidurmu tiba-tiba terganggu notifikasi ponselmu. Siapa yang tidak kesal? 

Tak mau repot mendudukkan tubuhnya, Kibum hanya berguling sedikit ke tepian ranjang. Tangannya menggapai-gapai nakas, mencoba mengambil ponselnya yang semalam ia taruh di situ. 

Pemuda itu mengucek matanya dengan tergesa, lantas memutar bola matanya dengan jengah begitu tahu siapa yang begitu peduli padanya dan mengirim pesan lewat LINE pagi-pagi. 

Park Chanyeol. 

Pianis, oh, kadang juga keyboardis di klubnya. Bocah dengan tinggi menyamai tiang listrik itu suka sekali mengintilinya. Dan ketika di luar sekolah, pemuda itu sering sekali mengiriminya pesan. Dia bilang dia fans berat Kibum. Oh ayolah, kenapa dia melakukan itu? Dia padahal tahu bahwa ketua klubnya sangat mudah risih, tapi perilaku Chanyeol mengisyaratkan ia tak ambil pusing dengan fakta tersebut. 

Lama-lama Kibum jadi terbiasa dengan itu, dan tentu saja pemuda caplang itu gembira tiada kepalang. ” Aku ingin berguru padamu, Ketua,” katanya sumringah. 

ChanY_Park: Ketua, kau di mana? Kami sudah menunggumu di ruang latihan. 


ChanY_Park: Gadis baru di klub kita bertanya apakah hari ini latihan atau tidak. 

Dia bilang kau tidak masuk hari ini. Kau baik-baik saja? 



Dia mengusap wajahnya kasar, kemudian menyentuh dahinya agak terkejut. 
Hangat. 

Dia baru sadar dia demam. Pasti gara-gara semalam dia menangis di balkon. Ah, bodoh sekali dia. Untung saja dia tak terkena hipotermia. 

Kibum melirik bar bagian atas di layar ponselnya, terbelalak menyadari bahwa hari bahkan sudah menjelang malam. 

Dia mengetikkan balasan ke Park Chanyeol dengan cepat. 

mubik.mik: latihan hari ini libur dulu. Aku demam. 


mubik.mik: kita latihan dengan Kilaa-ssi di pertemuan berikutnya. Hari ini terserah kau. Boleh kau jelaskan soal seluk beluk klub kita. Boleh juga kalau mau mencoba kemampuan vokalnya, atau kemahirannya memetik gitar. 


Pemuda itu terpaksa bangkit lagi. Sedikit terseok ia berjalan ke dapur yang terletak tak jauh dari kamarnya. Dia bermaksud memakan sesuatu agar bisa minum paracetamol atau ibuprofen untuk menurunkan demam. Bagaimana pun, dia tak suka sakit berlama-lama. 

Kibum membuka rak kitchen set bagian atas, tempat di mana ia biasa menyimpan makanan. 
Kosong. 
Cuma ada roti tawar. 

Namun dia tak ambil pusing. Dia tak masalah memakan roti tawar saja tanpa olesan mentega dan topping meses warna-warni ataupun selai blueberry favoritnya. Roti tawar tetap terasa enak di lidahnya. 

Dia mengunyah gigitan demi gigitan secara perlahan, lalu menelannya secara perlahan juga. Diambilnya segelas air setelah menghabiskan dua lembar roti tawar tanpa kulit. Tangannya menyobek bungkus paracetamol yang sudah ia siapkan sejak tadi. 

Apakah gadis itu terpikirkan aku?  pikirnya sembari menenggak sebutir paracetamol dalam sekali teguk.  Mungkin dia bingung karena ini hari pertama dia gabung di klub, dan tambah bingung lagi karena aku abstain hari ini. 


Kibum masih terkikik geli membayangkan wajah Kilaa tengah kebingungan, dan pusing mendengarkan Chanyeol mengocah tiada henti. 

Meski tentu saja, dengan ekspresi bagaimana pun dia tetaplah cantik dan mempesona. 



Tunggu. 



Ada apa dengan otakku? 




TBC


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s