DIFFERENCE #6

Part 5 kemarin adl rekor banget, baru kali itu aku berhasil ngupdate dlm waktu singkat, maksudnya jarak dr part 4 ke part 5… Keknya belom pernah deh bisa bikin satu chapt secepet itu… 

Kalian nonton Habaek? Iya , dramanya Nam Joohyuk yang baru…. Gila! Gans banget sampe pen aku tampol mukanya xDšŸ˜†šŸ˜†

————————————————–

Pagi menjelang, dan setelah mandi dengan air hangat Kilaa memakai kamisol dan celana panjang tiga perempat baru melapisinya dengan seragam seperti biasanya. 

Dia mengoleskan rangkaian skin care seperti toner, serum,  soothing gel, juga sunblock ke kulit wajahnya. Kulitnya cukup sensitif dengan perubahan cuaca, dan skin care yang banyak itu lumayan mengurangi kadar siksaan yang ia rasakan gara-gara suhu terlalu rendah. 

Tak lupa juga ia oleskan lip balm agar bibirnya tidak pecah-pecah. Itu sangat menyakitkan, Kilaa jamin. Dia pernah mengalaminya seminggu yang lalu. Lupa mengoleskan lip balm, dan beberapa jam kemudian bibirnya berdarah karena robek. 

Kilaa mengenakan hijab burgundy kali ini, dengan syal, sarung tangan, dan beanie warna ungu pucat. Sementara coatnya ia memilih mengenakan miliknya yang berwarna magenta. 

Gadis itu berangkat ke sekolah setelah memakan sarapannya. Itaewon National High tidaklah jauh dari rumah. Makanya dia memilih jalan kaki saja. Selain supaya lebih sehat, dia juga ingin mengenali seperti apa lingkungan tempat tinggalnya, bagaimana tetangga-tetangganya. Meski sebenarnya dia tak terlalu kenal juga karena para tetangganya kebanyakan orang sibuk. 

Ya, dia tinggal di salah satu kawasan elit Itaewon. Jika kalian pikir ayah Kilaa punya penghasilan seperti Lee Sooman, maka kalian salah. Ayahnya tak sekaya itu. Oke, penghasilan ayahnya termasuk besar karena Han Haekyung memang salah satu petinggi di sebuah perusahaan ternama, tapi bukan karena itu keluarganya bisa punya rumah di situ. 

Rumahnya adalah warisan dari sang kakek, yang kemudian direnovasi hingga tak terlihat terlalu kuno. Bisa dibilang, rumahnya perpaduan hanok tradisional dengan kemewahan arsitektur modern. 

Jalanan menuju sekolah sudah mulai ramai. Kilaa melangkahkan kakinya cepat. Otaknya juga sibuk berpikir; dia tak memahami dirinya sendiri. Dia selalu berkomunikasi dengan teman-temannya menggunakan ponsel ayahnya. Selalu. Terutama teman laki-laki. Itu pun tidak langsung. Yah, seperti saat ia bingung dengan selebaran dari sekolah beberapa bulan yang lalu. Bukankah dia kebingungan, lalu meminta ayahnya menanyakan hal itu pada ketua kelasnya? 

Nah, dia selalu berkomunikasi dengan cara itu. Ponsel pribadinya khusus untuk berhubungan dengan keluarga dan sahabat dekatnya saja. Sahabat yang benar-benar dekat. Teman sekolah? Semua lewat ayahnya. 

Argh! Kerasukan apa aku akhir-akhir ini? 


Gadis itu menutup wajahnya dengan tangan, frustasi. 
Kilaa masih ingat, kemarin dia spontan meminta nomor telepon Kim Kibum pada Henry. Mengetikkan beberapa kalimat dengan spontan juga. Dia melakukannya tanpa berpikir. 

Ya Allah! Aku bodoh sekali! 

Kenapa dia lakukan itu, dia pun tak tahu. Dia tidak biasanya begini. Entah akalnya tertinggal di mana kemarin hingga nekad–well, atau tak sadar, lebih tepatnya–mengirimkan pesan itu menggunakan akun LINE pribadinya. 

Aku merasa kehilangan muka. Di depan Tuhan, di depan Rasulullah, dan… Di depan Kim Kibum. 




Dia berpikir begitu  keras, hingga tanpa sadar tahu-tahu dia sudah duduk di bangkunya. 

” Kilaa-ssi. ”

” Kkamjagiya! ”

Gadis bermata bulat itu terlonjak. Orang yang baru saja melintas di pikirannya tepat di depan wajahnya. Sangat dekat malah. Kilaa memundurkan wajahnya,  matanya melirik ke samping. Tak mau bersitatap terlalu lama. 

Ingat kata gurumu, Kilaa! Jangan melanggar perintah agama! 


Lagipula, tidak baik bagi kesehatan jantungmu. 

” Kim Kibum-ssi! Kau bikin kaget! ” protes gadis itu. Yang diprotes hanya tertawa kecil. ” Ada apa? ”

Pemuda itu menegakkan tubuhnya, membenahi kacamatanya, lalu memasukkan tangannya ke saku celana. Dia geli dengan reaksi Kilaa barusan. Antara geli dan senang. Gadis itu lucu sekali saat salah tingkah begitu. Kibum jadi ingin mencubit pipinya. 

” Nanti kita latihan. Kau sudah akrab dengan anggota lainnya ‘kan? Kurasa seharusnya tak ada masalah. ”

” Well, oke, fine.

” Oh iya, yang semalam, itu betulan LINE darimu? Itu akun LINE pribadimu?  ”

Kilaa mengangguk. 

Boleh panik? 

OKE SEKARANG AKU PANIK! 


” Wow… Kau tidak sedang bohong padaku,’ kan? ”

Kini gadis itu menggeleng. 

” Aku suka perhatianmu, Kilaa-ssi. Sangat suka. ” Kibum melontarkan senyum tulusnya. 

KURASA AKU SUDAH GILA!! 


Malamnya, Kibum dan Kilaa berjalan pelan menuju ruang latihan. Tak ada satu kata pun terucap, hanya terdengar deru napas Kilaa yang sedikit memburu karena kedinginan. Uap putih bahkan keluar dari mulut dan hidungnya kala ia bernapas. 

” Kilaa-ssi, kau kedinginan? ”
Pemuda di sampingnya itu menatapnya khawatir. 

” Yeah, sedikit. ” bohongnya. 

Sambil terus berjalan, Kibum mengamati Kilaa diam-diam. Dia tak habis pikir. Jelas-jelas gadis ini AMAT SANGAT kedinginan, kenapa harus bohong segala? 

” Aku baca di beberapa buku, negaramu terletak tepat di garis ekuator. Itu artinya, kau sebelumnya tinggal di tempat tropis. ”

Sambil merapatkan coat dan membenahi syalnya hingga menutupi hidung–ini benar-benar membantu mengurangi dingin, asal kau tahu–Kilaa mengangguk lagi. 

Laki-laki itu menghentikan langkahnya. Ia melepas syal yang ia kenakan, lalu membuka lipatannya. Ternyata syalnya itu besar sekali, panjang dan lebarnya kira-kira 170 cm x 130 cm. Lebih seperti selimut yang terbuat dari wol. 

Kibum merentangkan syalnya tadi, kemudian menyampirkannya ke tubuh Kilaa, berusaha untuk  tidak menyentuhnya. Dia masih ingat bahwa gadis cantik berdarah campuran ini benar-benar mematuhi aturan agamanya, dan dia memutuskan untuk menghormati hal tersebut. 

” Pergantian musim pasti bukan hal yang mudah bagimu mengingat tadinya kau tinggal di kawasan tropis, ” seru Kibum lembut. ” Ini akan lebih menghangatkanmu, Kilaa-ssi. ”

Gadis itu mematung. Terlalu terkejut dengan perlakuan Kibum padanya. 

” Ayo. Teman-teman pasti sudah menunggu kita. ” 

Kilaa tersadar, lalu berjalan cepat menyusul Kibum. 

Hangat. 


Wangi. 



Wanginya khas Kim Kibum. 


Bodoh! Maksudnya, parfum ini cocok dengan kepribadiannya. Ya, begitu! Bukan yang lain-lain! 



Aduh, aku ini kenapa sih? 



Geram dengan perdebatan di benaknya, dia menepuk-nepuk dahinya. Masih berusaha menyadarkan diri sendiri, meluruskan otaknya yang–dia rasa–mulai tercecer entah di mana. 

Pemuda di sampingnya mengernyit, ” Kau oke? Apakah kau sedang sakit? Kau boleh pulang kalau merasa tak enak badan. Kita bisa latihan lagi pekan depan.” 

” A, tidak, tidak, aku baik. Ya, aku baik-baik saja. Kita tetap latihan hari ini. ” sedikit tergagap, Kilaa menjawab sebisanya. Dia lantas mempercepat langkahnya, mendahului Kibum jalan ke ruang latihan.
 

Kenapa aku gugup? 



Aaaah, aku pasti sudah gila! 



Sekejap kemudian, mereka sampai di ruang latihan. Benar saja, para anggota klub sudah menunggu mereka. 

” Lama sekali. Kalian kencan dulu atau bagaimana? ” seloroh Chanyeol. Yang lainnya ikut-ikutan menggoda. 

” Eiiiii, jangan begitu. Itu wajar buat pasangan baru, Chan. ”  

” Kibum romantis ya, meminjamkan syalnya segala. Benar ‘kan? ” gadis lain–ya, Kim Rana–nyengir menggodanya. 

” Kami tidak-  ”

Ucapan Kilaa terpotong. 

” Kalian salah paham, guys. Mereka tidak kencan. Key bukan orang seperti itu. ” 
Yixing bersuara. Satu-satunya anggota klub yang membela Kilaa dan Kibum. 

” Apa? ‘Key’? ” 

” Iya. Kilaa. Key. Lebih mudah memanggilnya begitu. ” 

Key? 


Yang jadi bahan pembicaraan pun menaikkan alisnya. 

” Apakah kau keberatan kupanggil  ‘Key’? ” tukas Yixing melihat wajah Kilaa yang berubah aneh. ” Well, sebenarnya itu singkatan dari key of my heart.

Chanyeol, Henry, dan Rana sontak tergelak. Mereka berguling-guling di lantai, air mata bahkan turun di pipi. 

” Ya ampun, perutku jadi sakit! ” Chanyeol berkata geli. Kikikan masih tersisa di bibirnya. 

Rana sampai tak bersuara saking gelinya. 

” Lay, kau menggombali Kilaa? Kau tahu? Gombalanmu receh sekali, Bung, ” tawa Henry mereda, ia menggelengkan kepala tak habis pikir. 

Okay, sudah cukup bercandanya. Ayo kita mulai, nanti keburu malam. ”

Kibum gondok. Dia benar-benar kesal. Yixing terang-terangan sekali menggombali gadisnya. Pria mana yang tak marah kalau wanitanya dirayu begitu? Kalau tidak marah, itu namanya tidak normal. 

Wait. Apa tadi dia bilang? ‘Wanitanya’? 

Bodoh, Kibum. Gadis itu bahkan tak mau berpacaran. Didekati saja susah. Seenaknya saja kau mengklaimnya milikmu. 


” Kenapa? Kurasa tak ada yang salah dengan itu. ” 

Kilaa tertawa saja. Jujur, dia juga geli–sampai bulu kuduknya meremang malahan–mendengar gombalan Yixing tadi. 

” Kau lucu, Yixing. By the way, aku tak keberatan kok dipanggil ‘Key’. ” katanya, masih tertawa lirih. 

” Aku tahu kau suka kupanggil begitu, Key. ”

Pemuda lesung pipi itu mengedipkan sebelah matanya. 

Chanyeol, Henry, dan Rana tertawa lagi. Lebih keras dari yang tadi. Chanyeol memukul-mukul lantai dengan heboh. Sejurus kemudian, sudut matanya menangkap raut wajah Kibum yang tak bisa dibilang baik. Pemuda bertelinga lebar itu mengedikkan dagunya, memberi clue pada dua temannya yang lain tentang ketua klub mereka. 

Kibum hampir meledak. Wajahnya mulai merah, dan itu bukan hal bagus. 

” Diamlah. ”

” BUAHAHAHAHAHAHA!! ” 

Agenda latihan yang tadinya mereka jadwalkan hari ini jadi batal, berganti dengan talk show bebas. Banyak hal mereka bicarakan. Asal usul Kilaa, hal-hal seputar kepercayaan gadis itu (tak jauh-jauh dari yang ditanyakan teman-teman sekelasnya tempo hari), juga kejadian-kejadian lucu yang pernah mereka alami. Hingga jam ekstrakurikuler habis. 

” Oh ya Key, di mana rumahmu? ”

” Kenapa kau bertanya? ” hijab burgundy nya bergerak seiring pergerakan kepalanya. 

” Hanya ingin tahu–oke aku mengaku, ” Yixing segera menyambung ucapannya melihat trio heboh klubnya menatapnya dengan pandangan ‘mau ambil kesempatan, heh?’, dia merasa sudah ketahuan, jadi sekalian saja lah. ” Aku ingin mengantarmu pulang. Barangkali saja kita searah. Yah, tidak searah juga kau akan tetap kuantar pulang kok.” 

Trio heboh tak lagi tertawa, hanya senyum-senyum kecil. Otot pipi mereka sudah pegal gara-gara tertawa ngakak tadi. 

” Tidak perlu kau antar, Yi. ” katanya lembut. ” Biasanya aku juga pulang sendiri. ”

Kibum bersorak ‘YES!’ keras-keras dalam hati, lantas ia mengerjap. 

Apa? ‘Yi’? Kemarin Chanyeol dia panggil’ Yeol’, sekarang Lay dia panggil ‘Yi’! Dan panggilannya padaku tetap ‘Kim Kibum-ssi’! 


Dia sebal lagi. 

Miris. 

” Berbahaya bagi gadis cantik sepertimu pulang malam-malam sendiri. ” tukas Yixing serius. ” Memang kota ini bisa dikatakan tak pernah tidur, tapi yang namanya kejahatan, itu bisa terjadi di mana saja, Key. Biar aku mengantarmu pulang, okay? Aku khawatir. ”

Gadis itu menghela napas. Di satu sisi, dia tak ingin dekat dengan pemuda mana pun–seperti yang ia katakan pada Kibum di awal-awal ia sekolah di sini. Namun di sisi lain, perkataan Yixing juga benar. 

Apalagi, beberapa hari ini dia merasa ada seseorang yang membuntutinya dalam perjalanan pulang sekolah. 

Penguntit? 

Orang cabul? 

Anti Islam? 

Dugaan-dugaan terus bermunculan di otaknya. 

Memang, orang itu tak pernah bertindak jauh–dan ia lega sekali karena hal ini–dan ia juga yakin Tuhan melindunginya, namun tetap saja ada waswas melintasi benaknya. 




” Rumahku di Starway Residence. ” ujarnya akhirnya. 

” Oh, rumahku di kompleks itu juga! Ah, jangan-jangan, rumahmu yang desainnya hanok modern itu? Yang kemarin memberiku makanan khas dari mmmmm, apa tuh namanya? Jogja? Itu lah! ”

” Benar. Itu rumahku. ”

” Wow! Rumahku di sebelah utara rumahmu, hanya terhalang halaman samping–well, halaman sampingmu luas sih, jadi tetap saja sedikit jauh meski bersebelahan. Oke, ini sudah fix, kita pulang pergi bersama mulai hari ini! ”

Kibum terbelalak. 

Drummer nya ini menabuh genderang perang. 

TBC




Wew… Part ini pendek yeu? Belum ada serius2nya juga… Masih pengen menye-menye dulu wkwkwk… 



Ada cast tambahan… Cast pengganggu Kibum… Yep, si Yixing… Why Yixing? Soalnya aku suka xixixi


What will happen? Wait for next chapt ya… šŸ˜˜šŸ˜˜šŸ˜˜

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s