DIFFERENCE #8

Haiiii ketemu lgi nihhhh… 
Chapt kemarin gue (yeah bahasa sehari2 nongol deh) berasa agak ‘hampa’ gitu ya…. Agak agak ‘drama’ dan kurang ‘senter’, well maksud gue enggak banyak ngasih pencerahan gitu lah wkwkwk… Tapi ya sebenernya emg gue bikin gitu biar ceritanya lebih ngalir… 

Semoga kalian bisa menikmati cerita yg gue bikin ya meski kadang suka ngawur storyline nya

———————————————————-

Malam semakin pekat. Jarum jam di arloji pergelangan tangan kiri Han Aquila sudah bertengger manis di angka sepuluh dan dua belas. Gadis itu masih mengenakan mantelnya, juga syal dan beanie yang menjaga tubuhnya tetap hangat. Dia tak banyak bicara, terlebih karena ada pemuda di sisinya yang sebulan terakhir ini selalu menemaninya ke mana pun ia pergi. Ke sekolah, belanja, dan ke berbagai tempat lagi. Bukannya dia benci pemuda ini, tapi rasanya bukan hal yang benar kalau dia terlalu membuka diri. 

Yeah, sekalipun pemuda tinggi itu orang yang dipercaya ayahnya untuk menjaganya. 

” Besok mau ke Hangang Park? Mumpung libur. ” suara berat di samping kanannya itu mengusik lamunannya. 

Kilaa masih belum sepenuhnya tersadar, masih sedikit hanyut dalam pemikirannya sendiri. Tentang kemungkinan-kemungkinan dan spekulasi pribadinya. Atau lebih tepatnya, kekhawatirannya, mungkin? 

Hijab biru pastelnya bergoyang saat ia menoleh cepat ke belakang. 

Lagi-lagi… 

Tidak mungkin ini cuma perasaanku saja. Sudah berapa kali ini terjadi? 

Siapa sih, yang mengikutiku? 


Firasatku tak enak. 


CLAP! 

” Hei Aquila! ”

” A’udzubillahiminasysyaithanirrajim! ” secara spontan Kilaa mengucapkan kalimat tersebut sambil terlonjak. ” Kau mengagetkanku, Yi! Ck. ”

Yixing terkikik pelan melihat reaksi gadis itu. Dia berujar, ” Sekaget itu? Apa yang sedang kau pikirkan sampai kaget begitu? ”
Kilaa hanya mencebik. 

” Oke oke, aku minta maaf. ” ujarnya lagi masih terkekeh.” Lagipula apa sih, kok sampai baca ta’awudz begitu? Memangnya aku ini setan? ”

Sekarang Kilaa jadi mengernyit. Dia menatap Yixing penasaran. 

Kok bocah ini tahu istilah  ‘ta’ awudz’ segala? 


Seolah tahu apa yang Kilaa pikirkan, Yixing mengibaskan sebelah tangannya. 

” Lupakan. Sekarang jawab aku dulu. Besok kau luang? ”

” Yeah, aku tak ada jadwal apa pun pulang sekolah besok. Kenapa? ” tukas Kilaa. Dia tak mau ambil pusing. Mungkin pemuda ini sudah banyak tahu tentang Islam namun dia masih belum ingin cerita. Jadi, Kilaa putuskan untuk tidak ikut campur urusan pribadi Yixing. 

” Ada festival kembang api di Hangang Park. Bagaimana kalau pulang sekolah kita ke sana? ”

” Call. Ayo kita ajak juga anak-anak klub! ”
Keduanya berjalan menyusuri trotoar yang masih dipenuhi manusia. 

” Kukira sebaiknya kita saja. Maksudku, mereka ada kencan dengan pasangan mereka masing-masing. ”

Kilaa merasa hatinya tercubit kala mendengar itu. 

Wait! Tidak, tidak! Aku baik saja kok. Kami cuma teman. Dan di sini punya kekasih adalah hal yang wajar, ‘kan? Argh! Ada apa denganmu, Kilaa? 


Dia pun menyahut, mencoba cara terakhir. 

” Minta izin ay-”

” Aku sudah minta izin kok. Dan beliau mengizinkan. ”

Kilaa menghela napas keras-keras. Izin ayahnya adalah senjata utamanya menghadapi ajakan main dari teman-teman sekolahnya. Namun rupanya itu tak berlaku sekarang. 


Cara yang sudah kadaluwarsa untuk menghadapi Yixing. 

Kau tahu benar kalau sudah begini aku tak bisa menolak. ” sahutnya tak berdaya. 

DEG

Gadis itu menoleh ke belakang lagi. Pikirannya berkecamuk. Ini jelas bukan cuma perasaannya saja, ini sudah pasti ada yang membuntutinya. 
Wajahnya memucat. 

” Ayo pulang. Aku ingin sampai rumah lebih cepat. ” katanya. Dia berjalan tergesa-gesa, beberapa kali menabrak orang-orang yang lalu lalang di jalanan Itaewon yang tak pernah sepi. Yixing mensejajari dengan langkah lebar-lebar. 

” Kau kenapa? ” 

Laki-laki itu bertanya. Dia tak tahan lagi. Sudah berhari-hari Kilaa agak aneh. Kadang santai, lalu mendadak mewaspadai sekitar. Seolah sedang ada yang mengawasi pergerakannya. 

Dan yang paling membuatnya khawatir adalah raut wajah Kilaa yang pias, pucat tak ubahnya mayat yang baru bangkit dari kuburnya. 

Oke, Yixing rasa Yixing memang sedikit berlebihan. 

” Ada yang membuntutiku beberapa pekan terakhir. ” jawabnya seraya terengah. Keringat dingin meluncur melewati pelipisnya. ” Firasatku buruk sekali sekarang, Yi. Aku ingin sampai di rumah sekarang juga. ”

Yixing menegang. Reflek, pemuda jangkung itu menarik tangan Kilaa–yang untungnya pakai sarung tangan tebal–dan mengajaknya berjalan lebih cepat lagi. 
Kilaa sampai tak berkutik. Dia kebingungan dengan tingkah Yixing, bahkan sampai lupa memprotes laki-laki itu yang sembarangan saja menggandengnya. 

Keduanya berlari, kadang berbelok masuk ke gang-gang, kembali ke jalan utama, lalu masuk ke gang-gang lagi. Nafas mereka berkejaran, asap putih mengepul dari mulut mereka berdua. 

Mereka berlari lagi hingga akhirnya sampai di halaman rumah Kilaa. Gadis itu terduduk lemas. Nafasnya putus-putus, wajahnya juga jadi lebih pucat dari biasanya dengan semburat merah di tulang pipinya yang tinggi. 

Yixing pun berjongkok di sampingnya dengan nafas yang tak kalah kacaunya. 
” Kau oke? ” tanyanya. 

” Hanya sedikit kehabisan nafas. ” Kilaa menjawab. Keduanya terlupa bahwa kedua tangan mereka masih bertautan. 

” Sebaiknya kau segera masuk, Key. Di dalam rumah adalah tempat teraman untukmu. ”

Kilaa mengangguk. Gadis itu berdiri meski masih sedikit limbung, bertopang pada tangan Yixing yang entah sampai kapan kan terus menggenggam tangannya. 

Tangan… Yixing? 

Sejurus kemudian dia tersadar, lalu buru-buru melepas genggaman pemuda itu. 

” Maaf, Yi. Aku tak bermaksud menyinggungmu. ”

” Oh, tidak, tidak! Aku yang minta maaf. ” pemuda itu membungkuk panik. ” Akulah yang menggandengmu sejak awal. Tadi itu refleks, jadi, yah…. ”

Sejenak suasana canggung. 

” Well, pokoknya aku minta maaf. ”
” Well, oke. ”
” Masuklah. Besok pagi kujemput. ”

πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘Œ

Paginya,  Kilaa berangkat sekolah bersama Yixing seperti biasa. Pemuda itu banyak mengoceh. Tentang teman sekelasnya, atau tentang salah satu siswa yang tertarik pada Kilaa. 

Dia mencoba menjauhkan tiap pemuda yang ingin mendekat. Tentu saja dia bilang kalau itu karena dia menghargai Kilaa, meskipun sesungguhnya ada alasan lain di balik itu. 

Yixing selalu mengakhiri cerita para laki-laki tersebut dengan kalimat, ” Tentu saja kukatakan pada mereka kalau ayahmu itu super galak, dia akan melibas laki-laki mana pun yang berusaha mendekati putrinya. Lalu mereka mengkeret, hehehe.” 

Siswa dari kelas lain tak ada yang akrab dengannya kecuali anggota klubnya dan beberapa siswi yang masuk di klub musik. Mereka beberapa kali latihan bersama untuk persiapan lomba dengan format musik orkestra, dan Kilaa diminta ikut menyumbangkan suaranya.

 Gadis itu sudah mulai bisa bergurau dengan santai. Menurutnya, kalau dia terlalu kaku, nanti citra agamanya lah yang jadi taruhan. Dia tak mau hanya gara-gara dia kelewat jaga jarak, nanti orang lain akan menganggap semua muslim juga seperti itu. Tak mau membaur dengan orang lain, tak mau bersosialisasi, rasis, dan sebagainya. Tentu dia masih menerapkan batasan-batasan wajar, seperti tidak bersentuhan dengan lawan jenis, menggunakan ID LINE ayahnya untuk berkomunikasi, tidak menatap lawan jenis dalam waktu yang lama. Dia meminta teman-temannya maklum, karena itulah yang harus dia lakukan demi menaati aturan agamanya. 

Kilaa mengikuti pelajaran seperti biasa. Beribadah seperti biasa. Namun tidak hari ini. 

” Kilaa-ya, kau tidak sembahyang? ” tanya Park Hani. Dia terheran-heran. ” Biasanya kau sudah menenteng baju sembahyang dan langsung ke ballroom begitu istirahat. ”

Kilaa menggeleng. ” Ini periodku. Perempuan muslim yang sedang dalam masa periodnya tidak diizinkan melakukan beberapa ibadah tertentu. Salah satunya sembahyang wajib. Kalau laki-laki, karena tak ada halangan apa pun, tentu mereka tetap harus sembahyang.” 

Hani menautkan kedua alisnya. ” Alasannya? Kenapa tidak diizinkan sembahyang? ” 

Kibum yang kali ini duduk di belakang Kilaa persis–efek rolling tempat duduk sebulan sekali untuk mengurangi kejenuhan–mendengarkan dengan seksama. 

” Ada beberapa alasan. Yang pertama, menghadap Tuhan itu keadaan kita harus suci. Benar-benar bersih. Badan, pakaian, tempat yang kita gunakan, semua tidak boleh kotor. Tidak mungkin, bukan, misal kita mau menghadap Presiden keadaan kita kotor? Apalagi menghadap Dia yang memberi kita hidup beserta segala fasilitasnya. Bumi untuk tempat tinggal, udara untuk dihirup, hewan dan tumbuhan untuk kita makan, dan segala macam benda yang kita manfaatkan. 

” Dan dalam masa periodnya, perempuan terus mengeluarkan darah menstruasi. Itu artinya, dia sedang dalam masa tidak suci. Jadi dia tidak diperkenankan menghadap Tuhan. ”

” Ooooooo…. ” tahu-tahu seisi kelas berkumpul lagi, menyimak penjelasan Kilaa. 

” Kedua, alasan kesehatan. Perempuan dalam masa periodnya tubuhnya mengalami perubahan hormon, sehingga mengakibatkan gejala-gejala atau rasa sakit di beberapa titik tubuhnya. Tuhan tak setega itu memaksa kita yang sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk beribadah. Selain itu, gerakan sembahyang kami mirip sekali dengan beberapa gerakan yoga yang diulang-ulang, dan itu bukan gerakan yang aman untuk dilakukan oleh perempuan yang sedang menstruasi. 

” Jadi, kalau kami sedang dalam masa period, lalu badan kami sakit, kami tak perlu mengkhawatirkan tentang sembahyang. Pada masa-masa itu, Tuhan memberi kelonggaran dengen menyuruh kami tidak sembahyang agar kami bisa beristirahat dan memulihkan tubuh hingga nanti saatnya period kami selesai. ”

Kibum ternganga lagi. Makin lama mengenal Kilaa, dia merasa matanya semakin terbuka. 

” Kilaa-ssi, bagaimana kau bisa tahu semua hal itu? Wawasanmu begitu luas. Apakah semua orang Islam seperti itu? ”

” Tidak semua orang Islam paham mengenai seluk beluk agamanya. Mungkin tahu sedikit, tapi tidak secara mendalam. Tidak beda dengan pemeluk agama lain. Kalau kau benar-benar ingin tahu tentang agamamu, kau harus belajar pada orang yang benar-benar menguasainya. Misalnya pada pendeta untuk umat Kristiani. Atau pada pedande bagi umat Hindhu. Begitu juga umat Islam. Kami harus belajar pada ulama’ untuk memperdalam ilmu kami. ”

” Dan tidak semua orang belajar pada ul-emmm, ul-lamaa, benar? ” potong Hyukjae.

Exactly. Jadi mereka tahu ilmu-ilmu dasar, seperti bahwa sembahyang itu wajib, mencuri itu berdosa, mengonsumsi alkohol, daging babi dan daging anjing itu dilarang, tapi untuk ilmu-ilmu yang lebih dalam lagi mereka tidak tahu karena tidak mempelajarinya secara mendalam. 

” Sebenarnya, agama kami mewajibkan setiap umatnya untuk mempelajari ilmu agama pada ulama’. Agar kami tahu mana yang boleh mana yang tidak. Mana yang bermanfaat untuk kami, mana yang merugikan. Tapi, tak semua orang tahu hal itu. Atau ada juga yang tahu, namun rasa malas sudah menguasai dirinya. Dalihnya bisa macam-macam. Capek kerja lah, capek sekolah, capek apalagi lah. Menurutku pribadi, itu cuma alasan. 

” Kalau orang sudah bertekad, maka apa pun keadaannya ia tak peduli. Misalnya, aku sudah bertekad untuk berangkat ke sekolah hari ini. Maka, meski rumahku jauh sekalipun, meski semalam waktu tidurku cuma sedikit, aku akan tetap berangkat. Lain halnya jika sejak awal aku memang acuh tak acuh. Sedikit saja halangan bisa jadi alasan untuk tetap diam di rumah. Wait, kalian paham maksudku ‘kan? Apa aku bicara berputar-putar? ”
” Kami paham kok. ”

” Berarti kau juga belajar? Bagaimana pembagian pelajaran dan guru pengampunya? Apakah sistemnya sama seperti sekolah? ” 

” Sistemnya beda-beda. Maksudku, bahkan di sini tiap sekolah punya peraturan yang berebda, bukan? Begitu juga pendidikan agama di sana. Well, kami menyebutnya pesantren. ”

” Pesan… Ahhh susah mengucapkannya… ” celetuk Heerin.

” Jadi, pesantren ini seperti semacam sekolah, tapi khusus untuk memperdalam ilmu agama. Ada pesantren yang basic nya modern, dengan asrama dan sekolah biasa yang mereka kelola sendiri. Ada juga yang masih mempertahankan basic tradisional. Ada asrama, tapi untuk sekolah umum biasanya sekolah di sekolah milik pemerintah. ”

” Bagaimana denganmu? Kau belajar di tempat yang basic nya modern atau tradisional? ”

Kilaa tersenyum.  ” Tradisional. ”

” Lalu bagaimana sistemnya? ”

Gadis itu mengambil nafas banyak-banyak. 

” Di tempatku belajar, kami mempelajari Al Qur’an –kitab suci kami–mulai dari cara membaca yang benar, hingga tafsir dari Al Qur’an itu sendiri. Kami hanya pakai satu kitab tafsir yang berjudul Tafsir Jalalain. Mungkin kalian  bertanya-tanya. Kenapa kitab kami tafsirnya ditulis terpisah? Tidak diterjemahkan langsung tanpa teks aslinya? 

” Kami berusaha terus menjaga keaslian teks Al Qur’an, itu yang telah diperintahkan Tuhan melalui sabda Nabi-Nya. Di samping itu, Al Qur’an adalah firman-firman Tuhan. Adalah sebuah kesalahan yang benar-benar besar apabila kami seenaknya mengubahnya ke bahasa lain. Apalagi penerjemahan bahasa itu bukanlah hal yang mudah, mengingat perbedaan kaidah sastra dengan penggunaan bahasa percakapan sehari-hari, belum lagi perbedaan pemahaman antara penerjemah satu dengan yang lain, pemahaman budaya juga berpengaruh. Ada pula kasus di mana kita memahami maksud dari suatu kalimat namun untuk menjelaskannya dalam bahasa yang berbeda kita kesulitan. ”

” Kalian mempelajari Bahasa Arab? ”

” Tidak semuanya. Kami mempelajari sastra Arab yang digunakan untuk penulisan kitab saja. Bahasa Arab percakapan dengan Bahasa Arab sastra kitab berbeda grammar nya, dan itu menyulitkanku. Jadi yang ikut kelas Bahasa Arab hanya yang benar-benar berminat dan yang benar-benar cerdas. Aku hanya bertahan sebentar. Bahasa Arab lebih sulit dari Bahasa Inggris, kau tahu? ”

” Selain itu kami juga mempelajari kitab-kitab lain yang memuat tentang penjelasan dari sabda-sabda Nabi kami. Itu tuntunan kami menjalani hidup. Kau tidak bisa membayangkannya seperti kelas-kelas motivasi karena ini sungguh berbeda. Kami duduk diam, mendengarkan guru kami menjelaskan. Penjelasannya juga tidak terpaku pada teks, tapi lebih kepada bagaimana penerapan hukum-hukum Islam di keseharian kami, sesuai dengan keadaan dan kondisi yang kami hadapi sehari-hari. Jadi tidak kaku seperti yang orang kira, malah fleksibel karena bila kita pahami lagi, hukum Islam itu luwes, bisa diterapkan di situasi apa pun. Tergantung kita bisa memahaminya atau tidak. ”
” Tapi tentu saja, untuk bisa memahami hukum Islam, kami perlu guru. Guru yang benar-benar sesuai dengan jiwa masing-masing orang. Kalau cuma membaca sendiri, iblis pasti membelokkan pemikiran kami ke jalan yang salah hingga kami jadi tersesat. Seperti matematika. Jika kau cuma membaca rumus dari sebuah buku tanpa bimbingan gurumu, kau pasti bingung dan tak paham. 
” Dan kami seyogyanya harus konsisten dengan satu guru saja untuk satu cabang ilmu agar ilmu yang kami peroleh lebih meresap dalam jiwa kami. Aku beruntung, guru agamaku menguasai semua cabang ilmu yang dibutuhkan umat Islam, jadi aku tak perlu bersusah payah mencari guru untuk masing-masing cabang ilmu yang kubutuhkan. ”

Semua temannya terdiam. Informasi hari ini lebih menakjubkan dari yang mereka dapat sebelum-sebelumnya. 
” Kau hebat sekali, Kilaa-ya. Pemikiranmu jauh ke depan, dan juga dewasa. ” komentar Heerin lagi. Bocah bertubuh tambun itu matanya berkilau kagum. Kilaa hanya tertawa ringan, dia yang cuma orang biasa dibilang hebat oleh temannya. Lantas bagaimana dengan gurunya? Mungkin kalau teman-temannya bertemu gurunya, mereka akan bilang bahwa gurunya itu manusia paling hebat di seluruh jagat raya.  

” Aku tak sepandai itu, Kawan. Kalian bertanya, dan kebetulan aku tahu jawabannya. Kalau yang kalian tanyakan sangat rumit, jangan terkejut jika jawabanku begini, ‘Maaf, aku masih kurang tahu akan hal  itu. Aku tanyakan dulu ke guruku, besok kalau beliau sudah memberitahu jawabannya akan kusampaikan pada kalian’. ”

Kim Kibum berdebar hebat. Dia makin terpesona oleh gadis santun berhijab itu. Makin lama kenal, makin terpukau, dan itu semakin membuatnya ingin lebih dekat lagi. 

Namun hatinya seketika gamang. 

Dia sama sekali bukan tandingan Han Aquila. 

TBC 




Part ini panjang banget ya? Anggep aja ini pencerahan yang hilang dari chapt kemaren2 wkwkwk numpuk di sini semua… 


Nekan bintang udah bikin gue seneng loh betewe… Itung2 bantuin gue biar ga galau2 amat lah, nunggu SJ kambek #grin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s