DIFFERENCE #9

Not going to say a lot, gue lagi galau… Mungkin yg ngeliat story ato update an gue di ig tau yah sebabnya apa… 
Jadi, gue udh mikir2, dan gue memutuskan utk keluar dari dunia KPop… 10th jadi ELF udh cukup gue rasa, dan ini saatnya gue fokus… Bagaimana pun, (not mean to be harsh) yg namanya hiburan itu cuma buat selingan, ‘kan? Bukan jd tujuan utama… Dan gue akui, KPop bikin gue teralihkan dr apa yg harusnya jd fokus utama gue.. Meski ga bisa langsung gue tinggalin gitu  aja.. Gue nunggu SJ comeback, ntar setelah semingguan gue baru bener2 ga akan up to date lagi ttg dunia kpop.. Gue juga bakalan masih ttp bikin ff, buat belajar bikin karya yg enak dibaca & berkualitas.. 10 th loh gaes… Itu bukan waktu yg sebentar. Gue sedih banget sebenernya dg keputusan ini, tp mau ga mau ttp harus… 

Jd maaf bgt mungkin chapt ini bakalan agak gloomy. Gue lagi ngebet bgt nerusin ff ini, tp kondisi gue lagi galau berat… Ah don’t know what to do… 

 
Yah intinya mah gitu… 

👌👌

Hening. Kelas 1-3 kosong, semua siswa sudah pulang sore itu. Termasuk Kilaa, yang sudah dihampiri Yixing setengah jam yang lalu. 

Kim Kibum melangkahkan kakinya keluar sekolah dengan pikiran melancong ke mana-mana. Pemuda itu  mengingat betapa sekarang Kilaa sulit ia gapai. Tadinya memang sudah sulit, tapi sekarang tambah sulit lagi. 

Bagaimana caranya agar aku bisa meraihmu, Han Aquila? 



Jujur saja, dia merasa minder. Semula dia merasa sejajar dengan gadis pindahan itu. Dia merasa semangatnya menggebu, begitu ingin meluluhkan hati gadis itu, menjadikannya miliknya seorang. Dia merasa dia bisa mendapatkannya dengan sedikit usaha. 

Sekarang semua terasa sia-sia. Terutama setelah Han Haekyung lebih mempercayakan Kilaa pada Yixing, drummer nya sendiri. Ditambah dengan penjelasan panjang Kilaa tadi pagi, semangatnya lenyap seketika.
 
Dia jadi tahu, Kilaa berbeda dari kebanyakan gadis seusianya. Benar-benar beda. Gadis itu punya pemikiran yang terlampau dewasa dan idealis. Cara pandangnya luas dan logis. Kesuksesan dari segi materi bukan hal yang ia kedepankan. Dan dari penjelasan terakhirnya tadi, Kibum tahu, bahwa mindset Kilaa yang begitu kokoh tak lain adalah hasil dari pembelajaran ilmu agamanya selama ini. 

Siapa pun engkau dan di mana pun engkau, guru agamanya Han Aquila, aku mengucapkan banyak terima kasih padamu. Kilaa orang yang menakjubkan, tak lain karena didikanmu. Kuharap suatu saat nanti kita bisa bertemu. 


Tanpa terasa, Kibum sudah berjalan begitu jauh. Apartemennya masih setengah kilometer lagi di depan, namun langkahnya terhenti. Dia menoleh, rupanya dia berhenti di depan Masjid Itaewon. 

Hatinya bertanya-tanya: inikah tempat ibadah umat Muslim seperti Kilaa? 
Dia mengamatinya dalam waktu yang lama. 

Gedungnya tak sebesar gedung apartemen mewahnya. Desainnya indah, sedikit mengingatkannya akan Taj Mahal di India sana. Di atap luarnya terpasang tulisan Arab–dia tak tahu dibaca bagaimana–dengan warna hijau besar-besar. Orang-orang masuk dengan langkah-langkah tenang dan santun. Di luar masjid, mereka juga saling menyapa dengan raut wajah bahagia. Bukan cuma sekedar bahagia saja, tapi juga damai. 

” Allahu Akbar, Allahu Akbar… 

Allahu Akbar, Allahu Akbar… 

Asyhadu anlaa ilaaha illallaah… 

Asyhadu anlaa ilaaha illallaah… ” 



Rasa haru kembali menyeruak di dada. Air mata lagi-lagi mengalir di pipinya tanpa bisa ia tahan. Dia pun menangis tersedu, tanpa mengerti apa yang sesungguhnya terjadi dengan dirinya sendiri. 

” Yang benar saja…. Kenapa aku ini? ” celetuknya di sela-sela sedu sedannya. 
Dia terus mengusap pipinya yang basah. Lalu, entah dapat dorongan dari mana, pemuda itu mendekat ke kaki tangga, melepas sepatu dan kaos kakinya. Kemudian mencuci kakinya di keran air terdekat. Barulah dia menaiki tangga. 

Orang-orang lebih banyak lagi yang datang. Para laki-laki langsung masuk ke dalam, sementara yang perempuan naik ke lantai tiga melalui tangga di samping lantai dua. Kibum memperhatikan mereka masuk dengan tertib, teratur, dan diam. Mereka tidak banyak bicara. Hanya masuk, lalu duduk diam saja entah menunggu apa. Ada juga yang berdiri, lalu membungkuk, berdiri lagi, lantas bersujud. Mereka mengulangi gerakan itu dengan teratur sampai beberapa kali. 

Lantunan suara indah yang telah membuat hatinya bergetar tadi terdengar lagi dengan versi yang lebih pendek. Orang-orang yang tadinya duduk tak beraturan semuanya berdiri merapat membuat barisan-barisan rapi hingga separuh ruangan penuh. 

Kibum penasaran setengah mati. Dia akhirnya masuk juga, mengamati dari ujung ruangan. 

Terdengar sebuah suara dari arah depan–Kibum yakin dia familiar dengan suara ini–sepertinya ini orang yang memimpin jalannya ibadah. Sebab, ketika Kibum amati lebih lama, tiap perpindahan gerakan, orang-orang selalu menunggu pimpinan itu bergerak lebih dulu. 

” Bismillahirrahmaanirrahiim. Al qaari’ah. Mal qaari’ah. Wamaa ad-raaka mal qaari’ah. Yauma yakuununnaasu kal faraasyil mab-tsuuts. Wa takuunul jibaalu kal ‘ihnil man’ fusy…. “


Air mata yang tadi sempat terhenti, kini mengalir lagi. 

Dan begitu terkejutnya Kibum saat pemimpin ibadah itu berdiri dari posisinya membungkukkan badan. 

Tidak salah lagi. 
Punggung itu begitu dikenalnya. 

Pemimpin ibadah di masjid ini. 
Mata Kibum terbelalak, tenggorokannya tercekat. 

Dia Zhang Yixing. 




TBC


Maaf bgt yah, part ini pendek… Biarin gue nenangin diri dulu… :”)) 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s