DIFFERENCE #10


Okay, now I have some courage to pass through my feelings… Gue udh bisa tenang, so gue udh bisa lanjut… 

👌👌👌

Kerumunan orang di dalam masjid seusai sholat Isya’ tadi masih belum bubar, masih banyak yang duduk mengikuti kajian yang rutin diadakan seminggu sekali oleh imam utama di situ. Yixing biasanya ikut juga, tapi dia sudah ada janji dengan Kilaa pukul sepuluh. Mereka mau ke Hangang Park nonton festival. Jadi Yixing pamit pada Imam Malik Ahmad Song untuk tidak mengikuti kajian hari ini. 

Pemuda itu melirik arlojinya, masih ada waktu empat puluh menit untuk sampai ke rumah Kilaa. Dia membungkuk sebentar ke arah Imam Song, lalu buru-buru keluar dan sesegera mungkin mengenakan sepatunya. 

Dia baru hendak berlari saat Kibum menunggunya di bawah tangga. 

” Jelaskan. ” tuntut Kibum. Yixing menghela napasnya keras-keras. 

” Tidak sekarang, Ketua Kim. Waktuku sedikit. Besok kalau sudah saatnya aku pasti akan bilang. ”

Yixing berjalan cepat, namun pertanyaan Kibum membuatnya sejenak berhenti. 

” Kau, Muslim? Kau seorang Muslim, benar ‘kan? ”

Dia hanya tersenyum samar. 
” Jangan beritahu siapa pun. Termasuk Kilaa. Biar aku yang beritahu dia suatu hari nanti. ”

Sesaat kemudian, Yixing sudah berlari menjauh, meninggalkan Kibum yang menatap punggungnya dengan tanda tanya memenuhi kepalanya. 

Kibum menatap bangunan indah di depannya itu sekali lagi. Ada sesuatu yang mendorong hatinya, tapi ia putuskan untuk banyak bertanya pada Kilaa dulu. Ia ingin tahu lebih banyak lagi. Tapi untuk saat ini dirasanya sudah cukup. Akan ia lanjutkan observasinya esok hari. 

Dia beranjak dari sana, melanjutkan perjalanan pulang yang tadi sempat tertunda. Pemuda itu berjalan ke arah berlawanan dengan Yixing, masih dengan benak penuh tanya. 

Yixing seorang Muslim. Jelas. Kalau bukan, tak mungkin drummer nya itu jadi pemimpin ibadah di masjid tadi. Dan Kibum jadi merasa semua keanehan Yixing terjawab sekarang. 

Pemuda itu ingat, Yixing tak pernah mau makan daging babi. Segala olahan dari babi dia tolak. Macam-macam lah alasannya. Alasan terakhir dia bilang dia alergi dengan segala bentuk olahan babi. Yang Kibum sendiri belum pernah dengar ada alergi macam itu. Juga bahwa Yixing suka menghilang di waktu-waktu tertentu. Sekarang dia paham; pastilah saat itu Yixing sedang mencuri waktu agar tetap bisa beribadah. 

Tapi kenapa dia menyembunyikan keislamannya? Kenapa  dia tak mau orang lain tahu? Itu bukan hal yang memalukan. 



Dan kenapa ini harus disembunyikan dari  Kilaa? 


Bukankah mereka sama-sama Muslim? 




Kibum berjalan dalam diam dengan banyak pertanyaan berkelebat, yang tak satu pun bisa ia perkirakan jawabannya. 

👌👌👌

Hangang Park cukup ramai malam ini. Tepian sungai Han itu penuh orang meski cuaca dingin. Ada pasangan-pasangan, ada yang datang dengan anaknya, ada juga yang menggelar tikar dan duduk menunggu bersama seluruh keluarganya. 

Kilaa jadi teringat ayahnya. Sudah sekitar satu setengah bulan ayahnya pulang ke Jogja dan belum kembali ke sini. Oke, ini bukan pertama kalinya Han Haekyung pergi dalam waktu yang lama, karena memang kadang ayahnya itu ada perjalanan dinas ke luar negeri yang tak mungkin memakan waktu yang singkat. Tapi ‘kan ibunya bilang cuma mau mengambil beberapa berkas saja, bukan? Harusnya dua minggu sudah lebih dari cukup. 

Kilaa sungguh ingin ayahnya segera kembali. Selain karena kangen, dia juga ingin bertanya banyak hal. 

Lewat ponsel? Tidak. Hal-hal yang ia mau diskusikan tidak cukup jika lewat ponsel saja. Gadis itu juga berpendapat bahwa hal sepenting itu tidaklah sopan jika dibicarakan lewat telepon atau bahkan video call. 



Kutebak baru kali ini kau nonton festival kembang api di sini. ” pemuda berlesung pipi di sampingnya nyeletuk. ” Aku benar? ”

Kilaa tertawa kecil. Dia mengangguk, lantas duduk dengan nyaman di atas rerumputan. 

” Oh shoot, ini super dingin! ” dia terlonjak. 

Yixing mengeluarkan sesuatu dari kantong coat nya, sesuatu yang mirip plastik tapi lebih tebal. 
Kilaa menautkan alisnya. 

” Balon tiup? ”

” Tepatnya yang masih kempes. ”  ujar laki-laki jangkung itu seraya menggelarnya. Balon kempes itu cukup besar. ” Duduk sini. Ini lumayan hangat, percayalah padaku. ”

Kilaa menurut. Dia mendudukkan dirinya, dan mengakui bahwa meski ini sedikit aneh (dan Kilaa juga tak habis pikir dari mana datangnya ide Yixing untuk membawa balon ini) namun lumayan nyaman. Setidaknya bokongnya tidak sakit terkena kerikil, dan yang paling penting dia jadi tak terlalu kedinginan. 

” Bagaimana? ” 

” Lumayan. ”

Yixing ikut duduk. 

” Yi, aku ingin bicara. ”
Pemuda itu menoleh penasaran. 

” Kurasa ini salah. Semakin kupikirkan semakin tidak benar. Tidak seharusnya kita-”

Wait! Semenit lagi kembang apinya mulai, Key! ”

Gadis itu mengernyit. Yixing tampak memeriksa arlojinya. 

” Kau mengalihkan obrolan. ” tukas gadis itu. Hijab katunnya yang berwarna peach bergoyang seiring pergerakan kepalanya, menggeleng-geleng tak suka. 

” Iya, maksudku, tidak! Five Count down nya sudah mulai! Lihat ke atas! ”

Kilaa mengerutkan dahi lagi. Tapi perhatiannya segera teralihkan saat orang-orang mulai menghitung mundur lima hitungan. 

” 5! ”

” 4! ”

” 3! ”

” 2! ”

” 1! ”

DUARRR!!   




Kembang api besar-besar meledak, mewarnai langit di atas Sungai Han, menimbulkan bayangan yang cantik di permukaan airnya. 

Orang-orang bersorak senang, sebagian bertepuk tangan antusias. 

Kilaa terpesona. 

Indah sekali. 




” Suka? ” pemuda itu bertanya. Kilaa mengedikkan bahu. Dia sedikit gengsi, jadi tidak mudah baginya untuk mengaku. 

” Tidak buruk. ” sahutnya sok savage. 


Yixing terkekeh, gemas dengan gadis di sampingnya itu. Tangannya bahkan kelepasan memencet hidung Kilaa saking gemasnya. 

Tiga detik kemudian, kekehannya berhenti. Buru-buru ia lepaskan tangannya dari pucuk hidung Kilaa. 

Gadis itu sendiri sudah menoleh menatap Yixing. Air matanya mengalir perlahan, sementara tatapannya menyiratkan banyak emosi. 

Yixing tahu, gadis itu terluka, kecewa, dan… Ya, dilihatnya ada seberkas perasaan terhina di matanya. 

” Aquila, aku minta maaf. Aku kelepasan, sungguh, aku tak bermaksud-  ”
Kilaa berlari. Dia mau pulang. 

👌👌👌

Susah payah Yixing mengejar Kilaa. Gadis itu larinya cepat juga, padahal seingatnya tadi Kilaa pakai rok yang lumayan lebar. Bukankah itu bisa menyulitkan langkahnya? 

Hijab peach beberapa meter di depan menambah semangatnya. Bagaimana pun, tugasnya menjaga Kilaa harus tetap ia lakukan. 

Selain itu dia tak mau jauh-jauh dari Kilaa. 

” Aquila! ” panggilnya. 
Gadis itu sudah dua meter di depannya,dia tampak menoleh. 
Yixing melihat masih ada sisa air mata di tulang pipi gadis itu, membuatnya menyesal. 

Harusnya aku bersabar hingga saatnya tiba. Harusnya aku tak buru-buru. 


Yixing hendak mendekat, namun sekejap, ada bayangan hitam yang menyambar gadis itu. 

” Key! Key! Aquila! Han Aquila! ” 
Pemuda itu berteriak. Dia menyibak kerumunan orang di situ, tapi gadisnya tak ada di mana pun. 

Ini salahku! 



Kilaa hilang. 

TBC 



Hehe, ga bisa panjang-panjang ini gue bikinnya… 


Gimana? Udah mulai penasaran? Udah mulai menegangkan? 


Apa malah kurang greget? 


Pencet bintang ya jangan lupa, biar gue tambah semangat ngerjainnya 😘😘😘

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s