Affair

Pagi itu entah kenapa rasanya lebih segar dari biasanya. Apa karena semalam hujan? Rise yakin bukan karena itu. Dia tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Dia merasa terlampau segar, terlampau bersemangat hingga dadanya berdebar. Oh, dia baru ingat! Ini hari pertamanya bekerja! 

Gadis itu meletakkan nasi, acar, kimchi, tauge, juga lauk pauk di atas wadah-wadah terpisah di meja makan. Setelah semua siap, dia pergi ke kamarnya. Hendak membangunkan Chanyeol untuk sarapan, karena prianya itu juga harus berangkat kerja. 

” Sayang, sarapan sudah siap. ” katanya lembut sambil berdiri bersandar di pintu. 
Suaminya hanya menggeliat, lalu menggulung dirinya di dalam selimut. Kembali menjelajahi alam mimpi. Ah, Rise harus coba cara lain. 

Gadis itu menyeringai, lalu berjalan mendekat ke arah ranjang. Perlahan dia naik, berbaring di sisi Chanyeol, kemudian memeluknya. 

” Sayang. ” panggilnya lagi. Yang dipanggil cuma berdeham. Rise memulai serangannya. Dia tahu pasti pelukan saja tak cukup untuk membuat Chanyeol bangun. 

Gadis itu mengecup pipi kanan suaminya. Lalu lanjut ke pipi kiri. Kemudian diteruskan lagi ke dahi, hidung, mata, telinga, mulut, dahi lagi, mata lagi, pipi lagi, kembali ke mata, dan begitu terus dengan cepat hingga sepertinya prianya mulai risih dan terbangun. 

Chanyeol membuka mata, mendapati sang istri tengah menciumi wajahnya. Dia tahu istrinya itu bermaksud membangunkannya. 

Pria itu tersenyum. 

” Selamat pagi, Sayang. ” suara merdu Rise menyapa gendang telinganya. Senyumnya jadi tambah lebar. ” Ayo sarapan. ”

” Mm hm… ” gumamnya. Dia meregangkan badannya, lalu bangun dan beranjak ke kamar mandi. 

——————————-

Rise turun dari mobil Chanyeol, melambai pada suaminya yang menjauh menuju tempat kerjanya,terdiam sejenak di halaman gedung yang mulai hari ini akan jadi tempat di mana ia mendapatkan uang. Oke, ini terdengar aneh, tapi bukankah semua orang juga begitu? Bekerja untuk mendapat uang. 

Meski sebenarnya Chanyeol mampu menghidupinya–lebih dari mampu, malahan–tapi Rise ingin merasakan bagaimana, seperti apa, rasanya mempunyai uang dari hasil kerja kerasnya sendiri. 

Dengan mantap, dia melangkah memasuki gedung di hadapannya dengan hangtag terkalung di lehernya. 



SM Entertainment
Name: Hwang Rise
Division: Solo Artist MUA


Dia masuk, mencari-cari ruangannya. 
” Naik lift ke lantai tiga, ruang makeup pintu nomor tiga dari kiri. Oke! ”

Rise bergegas memasuki lift yang terletak tak jauh dari lobby. Lift hampir penuh, namun masih muat bila dimasuki tiga orang lagi. Dia berlari secepat yang dia bisa, berusaha mengejar lift yang hampir tertutup pintunya. Karyawan lain di situ tampaknya tak menyadari bahwa ada yang ingin naik lift juga, jadi mereka cuma diam. Kecuali satu orang yang berdiri paling depan. 

Seorang pria dengan jaket hitam, kepalanya ia sembunyikan dibalik beanie gelap, wajahnya tak terlalu jelas (meskipun Rise masih bisa melihat bibir pria itu karena maskernya melorot sampai ke dagu). Pria itu menyeringai, lalu menekan tombol  >||< sehingga pintu lift tertutup. 

” APA?! ” 

Gadis itu tak bisa berhenti berlari. Tidak, dia memang tak mau. Sebentar lagi ia harus bertemu dengan kepala MUA untuk diberi pengarahan, dan juga untuk diperkenalkan pada artis yang akan ia bantu. 

Keberuntungan masih di pihaknya, syukurlah. Rise masih belum terlambat. Kakinya berhasil menyentuh pintu lift sehingga lift kembali terbuka. 
Nafasnya memburu, keringat berlarian dari keningnya. Gadis itu masuk, menekan tombol angka tiga, lalu pintu lift pun tertutup. 

” Pffft! ”

Boleh jadi Rise memang sedikit lelah gara-gara insiden lift tadi. Tapi telinganya tidak tuli. Ia masih bisa mendengar dengusan geli dari samping kirinya. Sedikit jengkel ia menoleh. Dan ia dapati pria beanie tadi sedang menyembunyikan tawanya. 

” Maaf, ada yang lucu? ” tanyanya pelan. Dia berusaha menekan emosinya agak tak muncul ke permukaan. 

” Oh, tidak, tak ada. Maafkan aku. Ehm! ” pria itu menjawab sopan, berdeham untuk menghentikan tawanya.

” Lalu kenapa kau tertawa? ”

Pria itu malah tertawa lagi sebelum menjawab, ” Oh did I? Then pardon.

Rise mengernyit sebal. Dasar sok, ini di Korea, sedang bicara dengan orang Korea juga! 

Di lantai dua lift terbuka, dan semua yang naik lift itu keluar, hanya menyisakan Risa dan pria-aneh-menyebalkan itu di dalam. 
Rise mengumpat dalam hati. Kenapa dia sial sekali hari ini? Dia padahal sudah berharap semua lancar macam jalan tol! 

” Kau karyawan baru? ” tanya pria itu. Rise bergeming. Dia malas menjawab. Pasalnya, pria ini sudah sukses menghancurkan mood nya yang tadinya baik-baik saja. 

” Pasti begitu, ya, Hwang… Rise-ssi. Kau, oh! Kurasa itu kau! ” pemuda itu membaca deretan huruf di hangtag nya. Rise sendiri melirik pemuda itu sekilas, mencoba mencari hangtag. Hanya ingin tahu saja, siapa makhluk super menyebalkan dan sok pintar ini? Siapa tahu kapan-kapan dia bisa balas dendam. 

” Kita akan sering bertemu nantinya. Sampai jumpa! ” 

Lift terbuka lagi di lantai tiga. Pria itu keluar setelah bicara hal random, sebelum Rise sempat membaca nama maupun divisi yang tertulis di hangtag pria tadi. 
Kim…. Siapa lah itu. 

Seketika Rise jadi teringat kalimat terakhir yang ia dengar. 

” Hah? ”
Sering bertemu? 

Oh tidak. Jangan sampai. Aku benci pria menyebalkan itu! 

” Kau tidak keluar, Rise-ssi? ”

” KKAMJAGI! ”

Pria itu muncul lagi di depan pintu lift, membuat Rise kaget setengah mati. 

” Bukankah kau mau ke lantai tiga? Ini sudah di lantai tiga, omong-omong. ”

Rise menepuk jidatnya, lalu bergegas keluar. 

Pintu nomor tiga dari sebelah kiri. 



 Hei, kau tak mau mengucapkan terima kasih? ”

Pria bernama Kim Jongin itu–akhirnya dia tahu siapa pria menyebalkan ini–mengikuti langkah-langkahnya. Rise melangkah cepat, lalu berhenti mendadak. Kim Jongin sampai menubruk badannya karena tak siap. 

” Auw! Kenapa kau berhenti tiba-tiba? ”

Rise berbalik menghadap Kim Jongin, menundukkan tubuhnya tiga puluh derajat, kemudian pergi dan masuk ke ruangan terdekat. 

Jongin hanya tertawa. Dia geli, gadis tadi ekspresif sekali. Dia bahkan tak menyadari bahwa harusnya bukan pintu nomor dua dari kiri yang ia masuki. 

Apa gadis itu tak membaca plakat bertuliskan ‘KAI, Solo Artist’ yang tertempel di pintu?

Jongin pun menyusul masuk. Dia mendapati gadis itu tertegun sedikit kebingungan. 

” Hei, Nona. ” panggilnya. 

Rise menoleh, dan emosinya naik lagi ke permukaan. 

” Apa yang kau lakukan di sini, Tuan Sok? Kau mengikutiku? Apa maumu? ”

” Jadi salah ya, aku masuk ke ruanganku sendiri? ” jawab pemuda itu geli. ” Kaulah yang lucu, Nona Rise. Kau masuk ke satu ruangan tapi tak kau baca dulu itu ruang apa. ”

Rise mencelos. Dia salah ruangan! 


 Oke, aku minta maaf. Selamat tinggal. ” 
Menekan rasa malu  dalam-dalam, Rise berkata dengan dingin, lalu keluar dari situ. 

Sesampainya ia di luar, ia memukuli kepalanya sendiri. 

” Bodoh! Tolol! Idiot! ” gadis itu mengumpat. Dia mengamati pintu yang tadi, menyadari bahwa yang harusnya dia masuki itu pintu setelahnya. Plakat bertuliskan ‘KAI’ juga tak luput dari pengamatannya. 

 ” Harusnya kuhitung dulu itu pintu nomor berapa! Argh! Dan siapa Kai? Soloist baru atau siapa? ” 

” Ya ampun! Rise! Kucari ke mana-mana ternyata di sini! Dari mana saja? ”

Dari pintu ketiga, keluar sesosok wanita berpenampilan agak nyentrik. Rambutnya panjang diikat ekor kuda, di lehernya tergantung hangtag yang menampilkan namanya: Kwon Jira, dan divisinya: Costume & Makeup Chief Coordinator. Kepala coordie-noona di SM Ent. 


” Eonni! ”

” Sudahlah. Ayo kukenalkan dulu ke tim artis yang akan kau masuki. ”

Jira menyeretnya ke ruang ketiga dari kiri, dengan plakat tertempel di pintunya bertuliskan ‘Costume & Makeup Team’. Rise mengutuk kebodohannya–lagi. 
Dia tidak lama di situ, karena kebanyakan sudah kenal dengannya sebelum dia resmi direkrut sebagai staf makeup

Setelahnya, Jira menjelaskan pada Rise bahwa gadis itu akan masuk ke tim coordie artis solo bernama Kai. Dan karena skill makeup Rise termasuk yang paling bagus, maka dia ditugaskan untuk menjadi main MUA nya. 

” Oke, aku mengerti. ”

” Sekarang kita temui soloist Kai. ”

Bagus, ternyata aku bekerja untuk entah siapa yang ruangannya kumasuki tadi. Bagus sekali. Hahahaha. Menyebalkan. 


Rise tersenyum kecut. 
Senyumnya seketika hilang dari wajahnya begitu Jira memperkenalkannya pada Kai. 

” Rise, ini Kai. Kai, dia Rise, mulai hari ini bertanggung jawab menangani makeup mu. Kuharap kalian bisa bekerja sama dengan baik. ”

JADI KAI ITU KIM JONGIN?! 


TBC


Ini ga tau nih gue kerasukan apaan malah bikin work baru gara2 keingetan sm yg gue mimpiin. Pdhl kan Drama sm Difference kan belom gue kelarin yhaa…. 


Aaaa molla~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s