DIFFERENCE #13

Kilaa berjalan dengan bantuan dua kruk di tangannya. Dia berangkat lebih pagi, agar bisa sampai di sekolah tanpa terlambat. Hijab katun magentanya terjuntai sebelah, terlepas dari bros di bahunya. 
Gadis itu menghela napas keras-keras. Dia menoleh kanan-kiri, mencari bangku terdekat di pedestrian way yang ia lewati. 

” Morning, Key! ”

” Kilaa-ssi, selamat pagi. ”

Kibum muncul dari sebelah kanannya, sementara Yixing menepuk bahunya dari belakang. Kilaa mengerutkan alisnya. 

” Kalian janjian atau bagaimana? ” ujar gadis itu keheranan. ” Oh, tapi ya, good morning, you both.

Kibum mengamatinya dari kepala sampai kaki, lalu nyeletuk, ” Hari ini tak begitu dingin. Tebal sekali pakaianmu hari ini. ”

” Aku kedinginan. ”

Kilaa mengedik. 

” Duduk dulu, Key. Di pojok situ ada bench. ” sahut Yixing, menyuruh Kilaa agar duduk di pojok butik di depan mereka. ” Biar kubetulkan hijabmu. ”

Kim Kibum sedikit berjengit.
  Jadi itu bukan style hijabnya hari ini, tapi hijabnya terlepas, begitu? Oh betapa bodoh! 
Dia jadi malu sendiri. 

Ketiganya pun berjalan menuju bangku yang disebut Yixing. Kilaa duduk, menyenderkan kruknya di samping bangku itu. Sementara Yixing berjongkok di depannya,  meraih hijabnya yang terjuntai. 

Hampir saja Kilaa bilang ‘jangan!’ kalau tak ingat perkataan ayahnya tadi. 

” Dia mahrammu, Kilaa. Kurang jelas apalagi? ”

Kilaa menukas,” Ya hubungannya dengan Kilaa lah, Pi! Dia kakak Kilaa yang diadopsi orang lain? Atau adik bungsu Papi? Atau adik Mami? Atau… Kakak Kilaa dari istri Papi yang lain yang tak Kilaa kenal? ”

Ayah dan ibunya malah tertawa terbahak-bahak. Seakan Kilaa sedang ber-stand up comedy dadakan secara live. 


” Saat ini Papi tak bisa beritahu apa tepatnya dia di keluarga kita. Tapi yang jelas, dia mahram dengan kita, Putriku. ”

Dan Kilaa benar-benar penasaran akut gara-gara ini.

Sementara Kilaa melamun, Yixing memasangkan hijab katun itu di bahunya. Brosnya terbuka, jarumnya mencuat. Kibum menatap keduanya aneh. Kenapa Kilaa tak menolak didekati Yixing? Setahunya, dalam agama yang mereka anut, bukankah harusnya mereka dilarang saling mendekat, bahkan saling bertatapan pun tak boleh? 

” Ya Allah Key, untung kau tidak kena! Untung brosnya tidak jatuh! Bahaya ini, bisa kena orang! ” tegur pemuda itu. Dia lantas memasang bros untuk mengaitkan hijab dengan sweater, dan berdiri. 

Kibum melengos, menggenggam tangannya kuat-kuat. Menahan gelombang amarah yang melanda dirinya. 

” Yixing… Apa, apa kata-mu? ”
Laki-laki tampan itu diam. 

” Yixing, kau, Muslim? ”

Kilaa tertawa hambar. Dia merasa tertipu. Kenapa Yixing tak mengatakan apa pun? Kenapa pemuda ini tak cerita? Setidaknya ‘kan kalau dia tahu dia tak akan merasa sendiri, setidaknya dia lega ada Muslim lain di sekolahnya.

 Gadis itu beralih menatap Kibum, yang langsung memalingkan muka. 
” Kim Kibum-ssi, kau tahu? Kau tahu hal ini? ” 

Kibum diam, hanya menatap Yixing datar. 

” Kukira kau sudah beritahu dia, Lay. ” tukasnya. ” Kita bicarakan ini nanti, sepulang sekolah. Sekarang ayo bergegas, waktu kita tidak banyak. ”

Ketiganya kembali berjalan dalam hening. Otak Kibum dipenuhi pertanyaan tentang Kilaa yang diam saja ketika didekati Yixing, Kilaa yang sepertinya tak fokus, seperti sedang ada yang dia pikirkan. Hatinya terusik, panas terbakar cemburu sekaligus sangat penasaran. 

Lima menit berikutnya mereka sudah memasuki gerbang sekolah. 

” Ah, Kilaa-ssi, mumpung cuma ada kita bertiga, kuharap kau mau menepati janjimu. ” tukas Kibum. Terlalu diam tak nyaman baginya. 

” Janji? Yang mana? ”

” Yang ada di ponselmu; kau sudah janji. ”

Kilaa memutar bola mata sambil tersenyum. Dia meminjamkan ponsel dan headsetnya, setelah sebelumnya memilih dua file yang dia rasa ringan di telinga.  

Surat pertama, Al Fatihah, dan satunya lagi surat ke lima belas, Al Isra’. Kilaa tak tahu kenapa dua surat itu yang ia pilih. Kalau surat pertama, jelas, Al Fatihah adalah surat khusus yang  diturunkan Tuhan bagi umat Muhammad SAW. Kalau surat Al Isra’, entahlah, dia hanya suka nomor lima belas, jadi surat itulah yang dia pilih. 

Lantunan surat Al Fatihah mengalun, suara Syaikh Abdurrahman Assudays yang terlampau indah menyentuh jiwa pemuda itu. Dia berhenti di taman sekolah, di bawah pohon willow yang habis daunnya. Badannya bergetar. 

” Kilaa-ssi, apa… Apa yang sedang kudengarkan saat ini? ” 

Kilaa yang sudah tiga meter di depannya berhenti, lalu tertatih mendekat. Yixing menyertainya, memandang Kilaa dengan tatapan seolah bilang, ‘Kau setelkan apa dia kok sampai begitu?’ 

 Gadis itu mengedik, ‘Lihat saja. Nanti juga tahu.’ 

” Kim Kibum-ssi, itulah yang kau ingin dengar sejak beberapa bulan yang lalu. Kau memintaku memperdengarkannya padamu, kau ingat? ” ucap gadis itu retoris. ” Itu surat–oh kau pasti tak paham istilah ini–gampangnya, itu bab pembuka dari kitab suci kami, umat Muslim, dan yang selanjutnya, itu salah satu bab lain dari kitab suci kami. Kami menyebutnya Al Fatihah–Pembukaan, dan Al Isra’–Berjalan Di Malam Hari. ”

Kibum terbelalak. Matanya berkaca-kaca, dan kristal bening mulai menetes satu per satu. 

Ini, bagian dari kitab suci mereka? 


Kenapa indah sekali? 


Terlalu indah hingga terasa sesak di dada.


Dan air matanya makin deras saat surat pilihan berikutnya mulai terputar. Laki-laki itu melepas kacamatanya, menangis tergugu. Sedu sedannya terdengar. 

” Key, kau nekat. Kau super nekat, sungguh.”  Yixing bersedekap. Kepalanya menggeleng-geleng tak habis pikir. 

” Mau bagaimana lagi? Dia tiap hari menagihku, memintaku melepas headset padahal aku sedang mendengarkan Assudays. ” 

Sudah lebih dari sepuluh menit mereka berdiri di situ ketika akhirnya Kibum buka suara. 

” Aku ingin mempelajari agama kalian, Lay, Kilaa-ssi. ” ujarnya. 

Yixing dan Kilaa berpandangan, terkejut. 

Aku tak salah dengar, ‘kan? 





TBC 


Okay, this is the beginning… Gue ga janji update teratur ya, karena garis besar alur cerita ada di kepala gue, sementara sisanya gue serahin ke mood gue hahahah #ketawagaring #deepbow


Yang jelas, gue makasih banget udh setia baca work ini, udh berkenan vote… Gue ga maksa sih yah, krn itu hak kalian… Tapi boleh lah  ya gue minta kalian utk vote, sekedar buat penyemangat gue lanjutin work ini 



See you next  chapt, mwahh :**



Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s