The Beginning #3

Kyouya mendekat. Haruhi dibopong Tamaki. Dia super lega gadis itu baik-baik saja. Tapi di sisi lain dia juga kecewa pada dirinya sendiri.

Kenapa bukan aku yang menyelamatkannya? Kenapa malah Tamaki?

Dia melepas kemejanya tanpa komentar, menyelimutkannya di tubuh Haruhi yang basah. Masih tersisa rasa kecewa yang besar, bercampur dengan kelegaan, membuat dia merasa dia mual dan sesak. Tubuhnya seperti di luar kendalinya, dan itu menyebalkan.

Haruhi berpindah tangan ke gendongan Mori. Dia berdebat dengan Tamaki, tentang betapa cerobohnya dia, melawan para pemuda itu sendirian. Gadis itu tak peduli, menurutnya gender bukan hal yang perlu dipermasalahkan. Kemudian perdebatan pun berakhir dengan perang diam karena marahnya Tamaki dan kekeras-kepalaan Haruhi.

Hal yang wajar jika dia punya prinsip seperti itu; ibunya meninggal saat dia masih kecil, dan dengan ayah yang begitu, mau tak mau dia jadi terlalu mandiri.

Namun Tamaki benar. Bersikap ksatria tanpa pertahanan dan tanpa mengukur kemampuan diri sendiri itu sama saja dengan bunuh diri.

Kyouya menatap Haruhi tanpa kata.

Hari hampir gelap, dan awan hitam menggantung di langit Osaka sore itu. Mereka memutuskan kembali ke villa milik Nekozawa-senpai, senior mereka yang menyukai hal-hal seram. Villanya sama seramnya dengan pemiliknya, dan tambah seram lagi karena listrik mati.

Tamaki dan duo Hitachiin lagi-lagi protes, “Kyouya! Kenapa harus menginap di sini? Villa ini lebih seperti rumah berhantu!”

Tentu Kyouya tertawa. Toh dia tak percaya dengan hal-hal irasional macam itu. Jadi dia bilang begini, ” Nekozawa-senpai menawariku menginap di sini. Tak sopan jika kutolak. Lagipula, ini GRATIS.”

Dapat untung yang banyak dengan modal sedikit, itulah Kyouya.

Jam terus bergulir. Listrik telah menyala. Makan malam dengan menu seafood diamatinya memperbaiki mood Haruhi (sepertinya mood gadis itu selalu baik kalau ada banyak makanan enak).

Perang diam dengan Tamaki masih berlanjut. Pemuda blasteran putra Kepala Ouran Academy itu ngambek, pergi ke kamarnya sendiri. Mengajak Kyouya beranjak juga dari meja makan.

Kyouya menghela napas, menuruti kemauan Tamaki. Dia masuk ke kamarnya, menutup pintu, lalu mandi. Memikirkan Haruhi yang bodoh dalam aspek komunikasi. Terlalu mementingkan orang lain, frontal saat bicara, namun gadis itu pandai betul ‘membaca’ orang.

Kyouya ingat, Haruhi bisa membedakan yang mana Kaoru dan yang mana Hikaru hanya dalam waktu beberapa hari saja kenal dengan mereka. Bahkan Tamaki saja tak secepat itu.

Pemuda jangkung bermata keunguan itu berdiri di samping jendela kamarnya yang besar, dengan handuk di kepala. Kacamata yang biasa dia pakai tergeletak di nakas samping tempat tidur. Jeans hitam terpasang di kakinya, sementara badannya yang atletis dia biarkan terekspos, tanpa mengenakan atasan satu helai pun. Rambutnya yang hitam acak-acakan, tak rapi seperti biasa.

Tiba-tiba pintu kamarnya membuka. Gadis yang barusan mampir di otaknya menerobos masuk, menuju kamar mandi. Dia sepertinya muntah. Kyouya tebak Haruhi pasti terlalu antusias makan kepiting, sehingga tak sadar sudah makan terlalu banyak.

Haruhi keluar, baru menyadari dia sembarang masuk ke kamar orang.

” Sudah selesai? ”

” Maaf, saya sudah menerobos masuk. Aduh, masuk ke kamar orang asing begini… ” ujarnya. Kyouya terkekeh.

” Santailah, Haruhi. ” dia bilang. ” Ini cuma aku, Kyouya. ”

Haruhi mendesah.

” Mmm, kurasa aku sudah bikin banyak orang khawatir. Aku minta maaf. ”

Kyouya terdiam sesaat. Dia tersentuh, tentu, tapi tak akan membiarkannya muncul di wajahnya. Lagipula, Haruhi baru menyadari satu kesalahan, belum sadar akan satu kesalahan lain yang dia buat. Itu menyulut emosinya.

” Aku tak terlalu khawatir. ” bohongnya. Dia menenggak air mineral di tangannya. ” Aku sibuk, kau tahu? Si kembar mengamuk ke orang-orang tadi, jadi mereka harus kuhentikan. Para klien juga mengkhawatirkanmu, harus kirimi mereka bunga sebagai kompensasi. ”

” Sepertinya melelahkan… ”

Melelahkan, ya? Lebih melelahkan lagi melihatmu tak paham di mana salahmu. Lebih melelahkan lagi melihatmu begitu dekat dengan Tamaki!

Dalam kemarahan, disambarnya lengan Haruhi, dia pepetkan gadis itu ke dinding. Tangan satunya mematikan saklar lampu, yang satu lagi menahan gadis itu agar tak bisa kabur.

Senpai, kenapa kau matikan lampunya? ”
Kyouya menyeringai gelap.

” Kau bilang kau tak peduli soal laki-laki atau perempuan, bukan? Tapi, kau tahu? Aku laki-laki, dan aku bisa melakukan apa pun padamu. Dan kau sebagai perempuan tak akan bisa melawan. ” tukasnya. Nada bicaranya rendah dan dalam, namun itu tak membuat gadis itu takut. ” Kau bisa bayar hutangmu padaku dengan tubuhmu ini. ”

Pemuda itu menarik lengannya, menghempaskannya ke ranjang. Dia memposisikan dirinya sendiri di atas Haruhi. Menyalurkan marah dan cemburu yang seolah membakar dadanya.

” Kau benar-benar target yang mudah. ” katanya lagi. ” Jangan salahkan aku atas kejadian ini, salahkan dirimu sendiri yang benar-benar tak punya pertahanan diri. ”

Haruhi terdiam sesaat. Dia bisa lihat ada kilat di mata Kyouya. Dia tahu Kyouya selalu ambil tindakan berdasarkan seberapa besar keuntungan yang bisa dia dapatkan.

Tapi mata Kyouya berbeda kali ini.
Ada api amarah, kesedihan, dan kerinduan akan sesuatu yang belum bisa dia capai.
Haruhi tak bisa banyak komentar.

Senpai…

Kyouya tambah marah, dia melumat bibir gadis di bawahnya. Luapan marah karena keinginannya memiliki gadis itu, karena dia merasa tak berguna tak bisa menolong Haruhi saat jatuh dari tebing, frustasi dengan rasa cemburu terhadap Tamaki, juga betapa dia kehilangan kontrol dirinya sekarang.

Kyouya melepaskan tautan bibir mereka, terdiam dengan napas terengah. Haruhi menatapnya penuh tanya dengan wajah memerah malu.

Gadis itu tak paham dengan tindakan Kyouya maupun dengan dirinya sendiri. Dia tak habis lari marathon, tapi dadanya berdebar, jantungnya berpacu cepat. Nafasnya memburu, berkejaran dengan napas Kyouya. Wajahnya juga terasa panas.

Mata Haruhi bertubrukan dengan mata Kyouya, dan itu membuat pipinya tambah panas lagi.

” Ummmm…. ”

Kyouya tertegun dengan reaksi Haruhi. Dia sendiri juga tak tahu kenapa dia bisa lost control, dan ini membuatnya malu. Ya, malu, meskipun hatinya berjingkrak senang.

Sekarang mereka berdua sama-sama memerah. Menyadari ada sesuatu yang berbeda terhadap satu sama lain di hati mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s