My (Step) Mother Alternative End. Part 6

Kemarin2 gue baca2 lagi ff lama gue, salah satunya ini. Dan setelah gue baca ulang, kok gue ngerasa perlu bikin chapt alternatif. Gue ngerasa kecewa sendiri sm alur yg gue pilih. Mungkin ini efek unrequited love? Mungkin krn gue baper? Mungkin gue kelewat bahagia soalnya malming ini hujan? Gue ga tau juga šŸ˜‚šŸ˜‚ 
Yg jelas, alternate chapts ini adl alur yg sbnernya gue mau. 
Yah, mungkin krn efek unrequited love (lagi-lagi) šŸ˜‚šŸ˜‚

šŸ’™šŸ’™šŸ’™

Myunghee belum lepas dari rasa terkejut yang sangat meski pernyataan Kibum sudah ia dengar lima jam yang lalu. Dia banyak melamun di kelas, berpikir apakah bocah itu sungguh-sungguh dengan  perkataannya. Sorot mata Kibum tadi menyiratkan kejujuran, tapi entahlah. Di satu sisi Myunghee bimbang, tak ingin percaya, ingin menganggap bahwa Kibum hanya bergurau. Namun di sisi lain, dia benar-benar berharap yang diutarakan Kibum benar adanya. 

Jadilah dia galau. Super  galau. 

” Aaaa eottohke… ” keluhnya, sambil meletakkan kepalanya di atas meja.  ” Bahkan aku tak pernah merasa begini gara-gara Hyukjae-Oppa. Kenapa dia hobi sekali membuatku jungkir balik seperti ini? ”

” Aku ya? ”

Kibum muncul dari bawah bangkunya, sukses mengagetkan Myunghee. 

” KKAMJAGI! Haish kau! ”

Pipi gadis itu memerah malu, merasa sudah ketahuan. Jadi, mengaku sekalian saja lah, pikirnya. 

” Kau sudah tahu, masih bertanya? ” tukas Myunghee. 

Kibum tersenyum simpul. 
” Noona, kau cute overload, mau bikin aku mati jantungan atau bagaimana sih? ” 

Myunghee tambah salah tingkah. 

” Kelas sudah bubar sejak tadi, omong-omong. Nah, sekarang ayo pulang. ”
Pemuda itu menarik lengan Myunghee, yang tidak siap berdiri. Gadis bermata hazel itu tersentak, tubuhnya membentur dada Kibum. 

” Hei, kau serindu itu padaku rupanya. ”
Myunghee hendak mengelak, merasa berdekatan dengan Kibum tak baik bagi kesehatan jantungnya. Sensasi ini belum pernah dia rasakan, sehingga dia tak tahu harus bagaimana. Sementara debaran di dadanya tak kunjung berhenti. 

Dia terlambat; Kibum terlanjur mendekapnya erat. 

” Oh, aku tiba-tiba tak ingin mengantarmu pulang, Noona. ” bisiknya tepat di telinga, membuat jantungnya bekerja lebih keras dari sebelumnya. ” Bagaimana kalau kita kencan dulu? ”

Kencan? 


Tanpa menunggu jawaban Myunghee, Kibum menggendong gadis itu, membawanya ke motornya. 


You sure are so quiet today, Sweetie. Anything ‘s wrong? ” 

Not really. I have something in my mind, you know? ” 


Motor melaju dengan kencang di jalanan Seoul. Matahari mulai bergerak ke arah barat, dan bahkan mereka belum sampai di tujuan–entah di mana Myunghee juga tak tahu. Gadis itu mendekap erat Kibum dari belakang, mengabaikan rambutnya yang berkibar tertiup angin. 

” Noona… Kenapa dulu kau mau? ”
Suara Kibum dapat ia dengar dari balik punggung pemuda itu. 

” Maksudmu? ”

” Menikah dengan ayahku. ” jawabnya. Myunghee bisa menangkap ada nada sedih di suara laki-laki itu. ” Kalian bahkan tak mencatatkan pernikahan itu di pencatatan sipil. ”

” Aku hanya ingin membantu. Jadi, tak didaftarkan di pencatatan sipil pun tak masalah buatku. ” celetuknya. ” Lee Hyukjae-ssi orang yang baik, kau tahu? Dia bahkan tak pernah melakukan skinship lebih dari ciuman dan pelukan. Kurasa dia ingin menjagaku dan membuatku tetap nyaman dengannya. ”

Wait, WHAT?

Myunghe tertawa geli dengan reaksi Kibum. 

” Memang apa yang kau pikir yang telah kami lakukan? ”

Well, kau tahu sindrom ayahku bagaimana. Jadi bukan salahku kalau kukira kalian sudah… Yah, ‘jauh’, katakanlah begitu. ”

” Tidak, Kibummie. Dia tidak begitu. ”

Kibum bahagia dengan jawaban ini, kelewat bahagia malah. Sampai rasanya ingin terbang ke Mars. Dadanya berdentum-dentum, lebih keras dan lebih cepat dari sebelumnya. 

That’s great, Sweetheart.

Bisikan pelan itu tak bisa Myunghee dengar. Tapi gadis itu tahu pemuda di depannya ini sedang senang luar biasa. Dia bisa merasakan, bisa mendengar, betapa pemuda ini berdebar tak karuan, seirama dengan debaran dadanya yang  sama kacaunya. 

Sepuluh menit berlalu, kini mereka sudah sampai di tepi pantai. Tak banyak orang di sini, bisa jadi malah tidak ada. Atau setidaknya di area yang mereka datangi. 

Keduanya turun dari motor. Mendekat ke air, memandang laut luas. Myunghee melepas sepatu dan kaos kakinya, mempertemukan kulitnya dengan air laut yang dingin. Sebuah senyuman tercetak di bibirnya, dan itu hampir saja membuat Kibum kehilangan kendali. 

” Kibum-ah, lepas sepatumu. ” suruhnya. Kibum tertawa. 

” Haruskah? ”

Gadis itu mengangguk antusias. 

” Kakimu mungkin akan terasa lengket kena air laut, tapi ini menyenangkan sekali, percayalah. ”

Kibum tertawa lagi. 

” Oke. ” ujarnya akhirnya, melepas sepatu dan kaos kakinya juga seperti yang disuruh. ” Kalau bukan kau yang meminta, Noona, aku tak akan mau. Ini demi kau. ”

” Akhir-akhir ini kau benar-benar suka menggombal ya, Kibum-ah. ”

Gadis itu meletakkan sepatu dan kaos kakinya di motor, diikuti oleh Kibum. 

” Kenapa kau pikir aku menggombal? Kau merasa digombali? “pemuda itu balik bertanya.  ” Sebenarnya kau senang juga ‘kan? Akui saja, Nona Lee. ”

Myunghee memerah lagi. Dia berlari mendatangi air, tak menjawab omongan Kibum. Malu setengah mati. 

Pemuda itu mengejarnya, menangkapnya, mengangkatnya ke udara. Kemudian memeluknya hingga jatuh bergulingan di atas pasir. 
Mereka tertawa. 

” Hari yang sungguh menyenangkan, Myunghee-ya. Terima kasih. ”

Mereka masih berbaring di pasir. Tak peduli seragam mereka basah dan kotor. 
Myunghee tersenyum senang. 

” Kau benar. Hari yang benar-benar hebat, hari ini. ” jawabnya. Dia memejamkan mata, merekonstruksi adegan demi adegan sejak dia bangun. Memasak sarapan, mandi, sarapan bersama Hyukjae, berangkat sekolah dengan Kibum, dan… Oh… Myunghee ingat lagi kejadian yang sempat dia lupakan tadi. 

Pernyataan Kibum. 

” Kibum-ah… ” panggilnya. Dia menoleh ke sebelah kiri, di mana Kibum berbaring di sampingnya. 

” Hmm? ”

Kibum memejamkan mata, merasakan hembusan angin menerpa wajahnya.

” Kau… Tadi pagi… Yang kau bilang itu, kau serius, Kibummie? ”

” Noona, masihkah kau tak percaya? ” 
Dia memutar tubuhnya. Badannya tengkurap, sekarang baju bagian depan juga ikut kotor dan basah. 

” Bukan begitu. Aku hanya… Entahlah. ”

Myunghee terlihat bingung. Dan di mata Kibum, itu membuatnya terlihat sangat sangat menggemaskan. 

Dan tanpa bisa dikendalikan lagi, pemuda rupawan itu beralih. Memosisikan dirinya di atas Myunghee, lalu mencium bibir gadis itu. Melumatnya dengan lembut, menyalurkan semua emosi dan perasaannya. 

Dan tanpa mereka tahu, seratus meter dari tempat mereka berbaring, seorang pria menatap mereka dengan hati terluka. 

Lee Hyukjae. 

–TBC–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s