My (Step) Mother Alternative End Part 7

Langit mulai gelap. Angin laut juga semakin kencang berhembus. Namun belum ada tanda-tanda Kibum dan Myunghee beranjak dari situ. Keduanya masih santai berbaring, tak menyadari bahwa seratus meter di kejauhan ada Hyukjae yang bertanya-tanya kenapa istri mudanya berduaan saja dengan putranya. Di tempat sepi, dan sangat jauh dari rumah. 

Dari sudut pandang Hyukjae, dua muda mudi sebaya itu tampak akrab. Keduanya sesekali tertawa. Menyulut cemburu yang selama ini dia tahan-tahan. 

Mungkin Kibum dan Myunghee tak menyadari, tapi Hyukjae sudah menduga ada sesuatu di antara mereka. Hyukjae tak tahu apakah Kibum yang jatuh cinta pada Myunghee atau sebaliknya, atau malah dua-duanya saling jatuh cinta. Tapi jelas, mereka berdua sering bertemu–sering kencan, Hyukjae bilang. Dan itu sangat mengganggu, kalau dia mau jujur. Dia hanya tak menampakkannya ke permukaan. Dia pria dewasa, umurnya sudah 37 tahun, dan menurutnya menampakkan kecemburuannya itu kekanak-kanakan. 

Kibum tampak berguling mendekat ke Myunghee, dari telentang jadi tengkurap. Mereka membicarakan sesuatu-entah-apa yang tak Hyukjae tahu. Kesal dan marah mulai menguasainya. 

Pria itu sedang berjalan mendekat ke arah keduanya saat pergerakan Kibum mengejutkannya. 

Anak itu merangkak ke atas Myunghee, lantas mencium gadis itu dengan antusias. 

Hyukjae mematung, terlalu shock hingga langkahnya terhenti. Matanya membeliak.  Hatinya serasa dijatuhkan dari atap gedung tingkat sepuluh. 

Kenapa ? Sudah sejauh mana? 


Kibum terengah. Dia melepaskan tautan bibirnya dengan Myunghee, kehabisan napas. Pemuda itu duduk dan menundukkan wajahnya. 

Myunghee yang masih mencerna kejadian barusan ikut duduk. Wajahnya memanas. Semburat merah muncul di tulang pipinya, lalu menjalar ke seluruh wajah dan tubuhnya. 

” Kau, benar-benar serius ya, Kibummie… ” celetuk gadis itu, malu setengah mati.  

”  ‘Kan sudah kubilang. ” jawab Kibum.  Dia menatap Myunghee penuh damba. Kekehannya keluar, lantas dia berdiri. Menepuk-nepuk tangan dan kakinya yang penuh pasir. Setelahnya dia julurkan tangan kanannya ke Myunghee. 

” Kau tahu, Myunghee-ya? Aku amat, sangat, senang, detik ini. ”

” Oh? Kenapa? ”

Myunghee menyambut uluran tangannya, lalu berdiri dan membersihkan roknya. Tapi Kibum tak mau lepas, malah menarik tangannya, dan sekali lagi tubuhnya membentur tubuh Kibum. Dan lagi-lagi, pemuda itu memeluknya dengan erat. 

” Persentase kau membalas perasaanku meningkat dengan signifikan, Myunghee-ya. Kau tadi membalas ciumanku bukan? ” seringainya, sementara Myunghee mencengkeram bagian belakang kemeja Kibum dengan erat. Detak jantungnya berpacu. 

” Kibummie kau… Itu refleks… Jadi…  ” tergagap-gagap Myunghee menjawab, tak menyangka Kibum akan menyadari hal itu. 

” Oh ya, aku lega kita menyudahi ciuman itu setelah bermenit-menit. Aku bisa saja melakukan hal yang lebih jauh padamu kalau kita tidak berhenti. ”

” KIBUM-AH! ”
Kibum tertawa. 

” Sekarang mari kita pulang, Sweetheart. Hari sudah gelap. ”

Keduanya kembali ke motor, mengenakan sepatu, dan pulang. 

Kibum melajukan motornya perlahan. Selain karena baju mereka belum kering benar, dia juga masih ingin bersama-sama dengan Myunghee. Dia paham sepenuhnya, sesampainya gadis itu di apartemen nanti, Myunghee akan kembali jadi milik ayahnya. Kembali jadi orang yang mustahil dia miliki. Dan pemuda itu tak ingin hal itu segera terjadi. 

” Kibum-ah, kau bilang kau menyukaiku jauh sebelum aku dan ayahmu menikah, benar? Lalu kenapa kau, tidak, menghalangi… Kau tahu lah maksudku… ”

Gadis itu berpegangan, mendekap Kibum dengan kuat dari belakang. 

” Aku protes, sejak awal, Myunghee. Tapi sindrom aneh itu juga menghantui hidupku. Aku tak ada pilihan. ” jawabnya pelan. ” Aku menginginkanmu untuk jadi milikku, bukan orang lain. Dan sekarang, memilikimu secara utuh hampir-hampir mustahil. Kau tahu betapa selama ini aku tersiksa? Betapa aku menahan diri untuk tidak menghajar ayahku sendiri gara-gara mencumbu gadis yang kusukai selama bertahun-tahun? ”

” Maafkan aku, Kibum-ah. ”

” Kenapa kau minta maaf? Itu bukan sepenuhnya salahmu. Aku juga salah,  sebelum itu terjadi harusnya kau kuklaim lebih dulu. ” 

” Aku salah, harusnya aku tahu… ”

Kibum terkekeh senang. Usahanya tak sia-sia, setelah akhir-akhir ini dia menempel dengan Myunghee seperti permen karet. Lebih gigih bahkan dibandingkan dulu. Dulu tak se-bold ini.   Waktu SMP mereka pernah satu kelas, satu kelompok kerja juga. Kibum sering melontarkan kode-kode, tapi gadis ini kelewat dense. Tak paham bahwa Kibum begitu menyukainya. 

Dan kelegaan itu bertambah besar saat pemuda itu tahu, Lee Hyukjae belum ‘mengklaim’ Myunghee sebagai wanitanya. Sehingga kesempatan untuknya terbuka lebih lebar lagi. 

Dia punya banyak celah untuk membalikkan hati gadis itu agar berubah menyukainya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s