My (Step) Mother Alternative End Part 8

Hari sudah larut saat Myunghee sampai di apartemennya. Wajar lah, dia dan Kibum pulang dari pantai kira-kira pukul delapan malam, dan perjalanan ke rumah memakan waktu sekitar dua jam. Langit sudah benar-benar gelap, dan itu cukup membuat Myunghee ketar-ketir.

Bagaimana kalau Hyukjae sudah di apartemen? Bagaimana kalau dia tanya macam-macam? Dan bagaimana reaksinya kalau Hyukjae tahu–kalau Hyukjae tahu bahwa istrinya ini menghabiskan waktu seharian (bahkan hari-hari sebelumnya juga begini) dengan anak lelakinya? Bagaimana kalau pria itu tahu kalau anaknya menaruh hati pada istri mudanya?

Akankah dia marah?

Dalam hati dia banyak-banyak berdoa, semoga Hyukjae tidak ke apartemennya hari ini.

” Myunghee, kuantar sampai dalam, oke? ” Kibum berujar memecah kebisuan.

Keduanya masuk ke dalam lift yang terletak di ujung lantai basement, lantas Kibum menekan angka delapan. Di situlah letak apartemen Myunghee.

” Noona–ah, tidak, sudah kuputuskan aku tak akan memanggilmu Noona lagi–Myunghee-ya, aku tak tahu apakah aku terlambat atau tidak, tapi aku sedang berusaha memenangkanmu. ” katanya lagi. Lift terus bergerak naik.

” Aku tak peduli meski saat ini kau terikat janji perkawinan dengan ayahku. Aku tak peduli dianggap sebagai perusak rumah tanggamu dengan Appa. Yang kutahu hanyalah perasaanku bukan main-main. Aku serius denganmu. Aku serius menyukaimu, Lee Myunghee. Dan demi itu pula, menantang Appa pun akan kulakukan. ”

Myunghee diam. Dia bingung.

Sebagian hatinya melonjak kegirangan mendengar ini, sebagian lagi terasa campur aduk. Gugup, bingung, takut, dan merasa bersalah. Dia tahu dia menikah dengan Hyukjae murni karena ingin menolong pria itu sembuh dari sakitnya yang super aneh. Bahkan pernikahan mereka tidak didaftarkan ke pencatatan sipil meski sudah dua tahun berlalu. Namun bagaimana pun dia tetap istri Hyukjae, bukan?

Tapi…

Tanpa sadar dia sudah mulai bergantung pada Kibum. Semua hal yang dia alami seolah selalu terhubung dengan pemuda itu. Dan itu sungguh menyiksanya. Terhimpit rasa bersalah, juga perasaan bahwa merindukan pemuda itu adalah hal yang wajar, indah, menyenangkan, sekaligus menyesakkan dada.

Keduanya keluar dari lift, lalu berbelok ke arah kanan. Dan tak lama kemudian, sampailah mereka di depan pintu 871, apartemen Myunghee.

” Aku pulang dulu, Myunghee-ya. Sampai jumpa besok pagi. Jangan sampai insomnia gara-gara merindukanku ya, kau bisa kesiangan. ” katanya, mengecup pelan puncak kepala gadis itu. ” Oh, tapi bagus juga, aku jadi punya alasan untuk menyelinap ke kamarmu, bukan? ”

” Kibummie! ”

Laki-laki itu tertawa.

” Masuklah. ”

Myunghee menurut. Dia menekan sebuah kombinasi angka, lantas membuka pintu dan masuk. Dia melambaikan tangannya.

” Sampai jumpa besok, Kibum-ah. ”

Gadis itu menutup pintu. Lampu-lampu otomatis menyala, dan betapa leganya ia tak mendapati sepasang sepatu kerja yang biasanya dipakai Hyukjae. Dia menghela napas kesenangan, lalu masuk ke kamarnya untuk ganti baju.

Dia bersenandung. Lampu-lampu ruang tengah dia matikan. Dengan sebungkus keripik kentang di tangan kiri dan ponsel di tangan kanan, dia duduk di sofa depan televisi. Siap marathon, menonton drama favoritnya beberapa episode sekaligus.

.

.

.

.

Myunghee terbelalak, netranya tak menangkap apa pun kecuali kegelapan. Bibirnya barusan terasa basah, seperti sedang bertautan dengan sesuatu yang lembut.

Tidak, bukan cuma bertautan, tapi sesuatu itu juga melumat bibirnya.

Ada seseorang yang menciumnya dalam, dan sialnya (atau untungnya) tanpa sadar bibirnya menyambut. Lantas telinganya menangkap deru napas berat, sukses menyadarkan pikirannya.

” Urgh! ” gadis itu mengerang, menjauhkan tubuh seorang laki-laki dari atas tubuhnya yang telentang di sofa.

Orang itu berdiri sedikit oleng. Dalam kegelapan, Myunghee tak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas, dia hanya bisa menebak-nebak dari siluet tubuh dan rambutnya.

” Myunghee… ”

Suara familiar itu…

” Lee Kibum? ”

Myunghee buru-buru berlari menyalakan lampu. Seisi ruangan jadi terang, dan di dekat sofa tampak Kibum berdiri dengan koper di sampingnya. Wajah pemuda itu luka-luka.

” Kibummie! Apa yang terjadi padamu? ”
Pemuda itu tersenyum. Terseok mendekat, lalu mendekapnya sambil tertawa pelan.

” Kibum-ah, ada apa? Apa yang terjadi? ”

Kibum melepaskan dekapannya.

” Appa melihat kita, Myunghee. ” ujarnya tanpa beban. Myunghee terkejut, badannya langsung panas dingin. ” Dia melihat kita berciuman di pantai. ”

Gadis berambut sepunggung itu masih diam. Dia menelan ludahnya kepayahan.

” Dia menginterogasiku. Dia marah saat kubilang kita ada rasa satu sama lain. Kukatakan padanya aku akan merebutmu darinya, akan kujadikan kau sepenuhnya milikku. Dan inilah yang kudapat. ”

Jarinya menunjuk ke luka dan lebam di wajahnya.

” Dia memukulmu? ”

Kibum tertawa lagi.

” Sedikit. Dan sekarang ini aku dilarang pulang ke rumah. Maka di sinilah aku. ”

Myunghee tak mampu berkomentar. Hatinya kalut. Dia menyambar ponselnya dengan panik.

49 missed calls from Hyukjae Oppa.

7 unread messages.

_Aku tahu ada sesuatu denganmu dan Kibum.

_Aku juga tahu dia pasti ke apartemenmu karena kuusir.

_Jangan coba jelaskan apa pun.

_Aku di Spanyol sebulan ini.

_Aku mengawasi kalian, apa pun yang kalian lakukan selama Kibum di situ aku pasti akan tahu.

_Kuharap kau punya cerita bagus saat aku pulang nanti.

_Aku mengawasimu, ingat.

Keringat dingin mengalir di pelipis Myunghee. Gadis itu mengusap wajahnya kasar. Dia menghela napas untuk yang kesekian kalinya hari ini. Tak mau lagi memikirkan Hyukjae-inilah-Hyukjae-itulah; kalau dia pikirkan terus dia yakin kepalanya pasti meledak.

” Larut sekali kau ke sini. ” jam di ponselnya menunjukkan pukul tiga dini hari. ” Hampir pagi, malah. ”

Laki-laki di depannya itu mengedik.

” Kita bahas masalah ini nanti. Sekarang, kita lanjutkan dulu kegiatan kita yang tertunda. ”

Kibum mendorong Myunghee ke sofa, menciuminya lagi. Tak lama, sebab gadis itu menghentikan aksinya.

” Bicara apa kau ini? Kegiatan apa, haish… ” wajahnya merah padam selagi bilang begitu. Dia kemudian beranjak dari duduknya. ” Masuklah ke kamar tamu, akan kubuatkan kau makanan. ”

Tidak mau. ” bibir pemuda itu mengerucut. ” Aku susah payah ke sini, badanku penuh luka, dan kau menyuruhku tidur di kamar tamu. Ck, teganya kau. ”

Myunghee geli.

” Lalu di mana? Kamar ayahmu? Aku jahat sekali kalau menyuruhmu menempati kamar itu. ”

Gadis itu berjalan ke dapur. Sementara Kibum duduk di pantry, menunggu dan mengamati acara masaknya.

” Sebegitu tak inginnya kau kamar itu dipakai orang lain? Sesayang itukah kau padanya? Lalu kau anggap aku apa? ” selorohnya seraya melepas jaket yang ia kenakan.

” Jangan bicara yang aneh-aneh, Lee Kibum. ” sahutnya malas. ” By the way, kau tak alergi udang, ‘kan? Aku masak udang, hanya ini bahan yang tersisa di kulkas. ”

Kibum menggeleng, ” Itu makanan favoritku. ”

Myunghee memasukkan udang-udang yang sudah dikupas dan dicuci bersih ke penggorengan. Tangannya dengan cekatan menaburkan garam dan lada, lalu mengaduknya, menimbulkan wangi sedap yang menggugah selera. Aroma udang berpadu dengan bawang bombay dan paprika segera menyebar.

Gadis itu mengecilkan api. Sambil menunggu masakannya matang benar, dia membuka microwave yang dua menit lalu sudah berdenting. Baked potato ia keluarkan, kemudian dia tata di piring yang sudah dia siapkan sebelumnya.
Selanjutnya dia mematikan kompor, lantas menuang udang tumisnya di ramekin oval berukuran tanggung.

” Kuharap rasanya sesuai seleramu. ” ujarnya, menyodorkan piring kosong lengkap dengan garpu, pisau, dan serbet bersih ke hadapan Kibum. Tak lupa kentang dan udang hasil masakannya juga dia hidangkan.

” Aku tahu masakanmu enak. ” laki-laki tampan itu tersenyum. ” Appa selalu gembar-gembor soal itu di rumah. ”

Myunghee tak menjawab. Dia beranjak, mengambil segelas air putih dan sebotol madu. Menaruhnya di pantry. Lalu duduk di hadapan Kibum, mengamati pria itu makan dengan lahap.

” Ini super enak! Kau harus coba juga. Buka mulutmu. ”

Sesendok kentang dan udang menggantung di udara.
” Aku kenyang, Kibum-ah. ”

Namun karena laki-laki itu tetap ngotot akhirnya sesendok kentang dan udang tumis itu masuk juga ke mulutnya. Tidak buruk, sama seperti biasa.

” Beruntung sekali ya, ayahku itu. Pantas saja dia marah besar saat tahu aku mau mengambilmu darinya. ” katanya lagi dengan mulut penuh. ” Kau perhatian, masakanmu enak. Wah, bisa kau bayangkan betapa bahagianya aku kalau berhasil membuatmu jadi istriku? ”

” Lee Kibum, setelah kenyang sekarang kau mulai mengantuk rupanya. ”

Piring Kibum sudah kosong, begitu juga air putih yang ia teguk setelah menelan dua sendok madu.
” Bagaimana kau bisa tahu kebiasaanku setelah makan? ”

Gadis itu mengedik. Dia sibuk lagi; mengambil air dingin, antiseptik, kapas, dan heparin. Dia menaruh mangkok air dingin di pantry, meneteskan antiseptik, lalu mulai membersihkan luka-luka Kibum. Menempelkan kapas yang ia beri antiseptik lagi agar luka cepat kering, juga mengoleskan heparin ke beberapa luka memar.

” Yap, selesai sudah. Kau bisa tidur sekarang, Kibum-ah. ”

Biarkan aku tidur di kamarmu, Myunghee-ya. ”

Myunghee menggeleng.

Please. Aku ingin mengobrol sedikit. ”

Myunghee menghela napas, ” Oke. Tapi cuma malam ini. Dan tak ada skinship. “

Kibum tersenyum senang.

Keduanya beranjak ke kamar Myunghee yng terletak di sebelah ruang keluarga. Dan seperti yang Kibum bayangkan, ruangan itu didominasi warna mint blue. Ruangannya luas; Kibum tebak ini adalah kamar tidur utama.

Pemuda itu melepas sendal dan langsung berbaring di kasur. Dia mengambil tempat di sebelah kanan, menepuk-nepuk tempat kosong di kirinya.

” Myunghee, sini. Ada yang ingin kuceritakan padamu. ”

Gadis itu mematikan lampu. ” Aku tak bisa tidur dengan lampu menyala.”

Dia berbaring di sebelah kiri, siap mendengarkan.

” Kau tahu? Menyenangkan bisa bersama-sama denganmu begini. Berbincang, bercanda, semuanya. Aku bahkan bersyukur Appa memergoki kita. Aku jadi bisa berdua denganmu begini. ”

Myunghee menatap langit-langit.

” Bukankah seharusnya kau panik? Aku was was malah, sedari tadi. ”

” Tadinya, ya, tapi positifnya, aku bisa menjauhkan Appa darimu. Dan bisa memonopolimu selama Appa tak ada. ”

Myunghee tertawa kecil.
” Benar. Kegelisahanku juga hilang entah ke mana. ”

” Omong-omong, tadi Appa mengatakan hal yang aneh. ”

” Apa? ”

Kibum memeluk Myunghee dari samping.

” Dia bilang begini saat mengusirku: ‘Bocah tak tahu terima kasih! Kalau bukan karena Kim Jongwoon, aku tak akan mau mengambil dan merawatmu!’. Kau paham maksudnya? ”

Myunghee terbelalak.

” Aku hanya bisa menduga-duga; kurasa, aku bukan anak kandung Appa dan Eomma, Myunghee-ya. ”

TBC

Okeee, akhirnya bisa update lagi. Udh bbrp minggu ini gue sakit-sakit lagi, demam, sembuh, demam, sembuh. Mohon maklum ya, jd ga bs segera update..

This won’t be a long story, bbrp chapt lagi end kok… Jd harap bersabar, mohon dukungannya juga… 😘😘😘

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s