My (Step) Mother Alternative End Part 9

Sudah pukul sepuluh malam saat Kibum tiba di rumah. Hyukjae menunggunya di ruang keluarga, berdiri dengan tangan terlipat di dada dan raut wajah yang tak bisa Kibum artikan.

” Aku pulang. ”

Hyukjae tak menjawab. Sibuk menahan amarah yang hampir meledak. Masih terbayang di kepalanya bagaimana Kibum dan Myunghee bercumbu begitu mesra. Bagaimana gadis cantik itu bersikap begitu berbeda dengan yang biasa dia lihat–atau lebih tepatnya, berbeda dengan biasanya Myunghee memperlakukan dirinya.

Hyukjae jatuh cinta pada gadis muda ini. Dia merasa diperlakukan begitu spesial. Myunghee yang lembut dan santun, melayani segala keperluannya, kadang merajuk kalau Hyukjae mulai menggodanya. Namun setelah dia melihat langsung bagaimana gadis itu berinteraksi dengan putranya, persepsinya langsung berubah.

Myunghee, gadis muda putri Lee Donghae, sahabatnya sejak SMA, memperlakukannya tak lebih dari seorang pasien.

Dia merasa dia menyedihkan.

” Dari mana saja? ” tanyanya dingin.

Putranya itu menatapnya heran.
” Sekolah, memangnya mau dari mana lagi? ”

Hyukjae menyeringai dengan mata berkilat-kilat.
” Sampai selarut ini? ” tukasnya. ” Bukan dari pantai dengan kekasihmu?

Sungguh, rasanya sakit sekali mengatakan hal itu. Dada pria itu sesak. Marah, sedih, dan cemburu memenuhi hatinya.

” Lho, kau punya kekasih, Kibum-ah? Kenapa tidak bilang-bilang? ” suara lembut memecah kebisuan, Gaeun muncul dari belakang membawa secangkir kopi untuk Hyukjae. ” Apakah dia cantik? Aah, harusnya kau ajak dia ke sini, kenalkan pada Appa dan Eomma. ”

Kibum mematung. Berarti ayahnya tahu kalau dia habis dari pantai. Tapi bagaimana bisa?

” Kibum, jelaskan pada Appa. ”

Gaeun terlihat bingung. Dia tak mengerti; di mana permasalahannya? Wajar ‘kan punya kekasih di usia segitu? Kenapa suaminya itu marah?

” Appa melihatmu, Kibum. Kau di pantai. Dengan seorang gadis. ” pria itu tercekat.
” Kalian berciuman. Jangan coba-coba berbohong. Appa lihat semuanya. ”

Kibum panik dalam diam. Rahangnya mengeras. Ayahnya tahu!

” Kau. Dan Myunghee. Appa lihat semua. Jelaskan pada Appa, Kibum! ”

Sekarang Gaeun yang terbelalak.

Kibum masih diam, dan itu membuat Hyukjae murka. Pria itu melayangkan tinjunya.

BUGH!

Gaeun memekik.

” JAWAB AKU, BOCAH! ”

” Oppa! ”

” Jangan ikut campur, Gaeun! Ini urusanku dengan bocah ini! ”

Kibum tersenyum.
” Aku… Menyukainya, Appa. Dia juga menyukaiku. Apa itu cukup? ”

Pria itu memukul rahang Kibum lagi.

” Beraninya! Kau! Kau–dia istriku, istriku! ”

” Appa, kau belum meng’klaim’nya, bagaimana bisa kau sebut dia istrimu? ” sindirnya, seraya mengelap darah yang menetes dari sudut bibirnya. ” Myunghee, dia milikku. Akan kurebut dia dari Appa. ”

” BOCAH SIALAN! TAK TAHU DIUNTUNG! ”

BUGH! BUGH!

Lagi, pukulan serta tendangan mampir di pelipis dan perut Kibum.

” TAK TAHU DIRI! TAK TAHU TERIMAKASIH! KALAU BUKAN KARENA KIM JONGWOON, AKU TAK AKAN MAU MENGAMBIL DAN MERAWATMU, BOCAH! DAN SEKARANG INI BALASANMU?! INI BALASANMU ATAS KEBAIKANKU?! ”

Kibum tak lagi menjawab. Badannya sakit, pikirannya berlomba mencerna setiap kalimat Hyukjae.

Apakah…

Aku bukan anak mereka?

” PERGI DARI RUMAH INI, BRENGSEK! JANGAN KEMBALI LAGI SEBELUM KAU INTROSPEKSI DIRI! ”

Tertatih, pemuda itu berdiri dan berjalan ke kamarnya. Mengemasi baju-baju dan barang-barangnya yang ia rasa penting. Menyambar coat panjang secara asal dan memakainya sembarangan. Dia tersenyum miris.

Samar-samar di telinganya terdengar percakapan orang tuanya–atau entah siapa mereka, dia tak bisa lagi mendeskripsikan.

“… Mereka berciuman? Kibum dan Myunghee? Oppa, kau tak salah lihat? Jangan-jangan itu bukan mereka… “

” Kau tak dengar apa yang dia bilang? Dia mau mengambil Myunghee untuk dirinya sendiri! Kau pikir aku bisa mengampuninya setelah apa yang dia lakukan?! “

” Oppa, dia anak kita, kumohon jangan begini… “

” Dia BUKAN anak kita, Han Gaeun! Dia anak Kim Jongwoon! “

Hening sesaat. Kibum tertawa pahit. Ternyata benar.

” Aku akan dinas ke Spanyol, Gaeun. Ada yang harus kuurus di anak cabang perusahaan di sana. Mungkin sebulan. Aku perlu menenangkan diri. “

” Bagaimana dengan Kibum? “

” Aku tak peduli! Biar dia merefleksi tindakannya.

Kau ikut aku, Gaeun. “

Kibum beranjak, menyeret dua koper besarnya keluar kamar. Dan tanpa menoleh ke belakang, pemuda itu keluar dari rumahnya. Menuruti kakinya, ke mana mereka melangkah membawanya.

.

.

.

.

Matahari sudah tinggi saat Myunghee membuka mata. Dia mengerjap beberapa kali, merasa sedikit aneh karena ada yang memeluknya saat tidur. Saat melirik ke perutnya, dia melihat tangan Kibum melingkar di situ.

Oh iya, Kibum memang menginap untuk beberapa hari ke depan. Aku baru ingat.

Gadis itu mencoba menyingkirkan lengan Kibum yang jauh lebih besar daripada lengannya. Bagaimana pun dia harus bangun lebih dulu, menyiapkan sesuatu yang bisa dimakan. Orang pasti lapar saat bangun tidur, bukan? Akan sangat menyenangkan kalau ada makanan begitu bangun dari tidur.

Myunghee bermaksud turun dari ranjang setelah terbebas dari pelukan Kibum. Dia bergerak perlahan-lahan, tak mau membuat laki-laki itu terbangun karena dirinya.

” Lee Myunghee, kau mau ke mana, Sweetheart?
Kibum bangun.

” Kibummie, kau butuh sesuatu untuk dimakan. Aku mau masak. ” sahutnya. Pemuda itu malah menguap, lantas bertanya keheranan.

” Kukira semalam kau bilang bahan makanan sudah habis? ”

Gadis itu menepuk dahinya dan meringis.
” Aku lupa. ”

” Kita siap-siap sekolah dulu, nanti di jalan kita bisa mampir sarapan. Mumpung hari masih pagi, jadi masih ada waktu untuk makan sebentar. ”

Well, okay.
Myunghee mengangguk, menghampiri lemarinya. Mengambil sepasang seragamnya dan menaruhnya di atas kasur. Kemudian membuka koper-koper Kibum, mencari seragam sekolah pemuda itu.

” Kau termasuk rapi untuk ukuran laki-laki. ” komentarnya. ” Oke, ini kemejanya, celana, blazer, sweater, oh, dan dasi juga. Nice!

Kibum berjalan menghampirinya, ” Tidak sekalian celana dalamku? ”

Pervert!

Dan dalam waktu setengah jam, mereka sudah siap dan keluar dari basement dengan Repsol kesayangan Kibum. Masih ada waktu satu jam sebelum masuk, dan jarak ke sekolah cuma lima belas menit. Kibum menelusuri ingatannya, di mana mereka bisa sarapan di sekitar sekolah dengan waktu paling lama empat puluh lima menit.

” Bagaimana kalau kita ke kedai di depan sana? ” tawarnya pada Myunghee. ” Masakannya enak, aku bisa jamin. Kita bisa makan bulgogi untuk sarapan, atau bisa juga kimbab. ”

” Boleh. Apa pun tak masalah. ”
Maka melajulah mereka menuju kedai yang dimaksud Kibum.

Tak sampai lima menit motor sudah terparkir di depan kedai sederhana. Mereka pun masuk dan memesan seporsi bulgogi (Myunghee tidak habis makan seporsi sendirian, dan Kibum dengan senang hati menawarkan untuk makan semangkuk berdua) serta dua gelas kecil teh tawar. Keduanya mengobrol sambil menunggu makanan mereka datang.

” Jadi, kenapa kau menyimpulkan kau bukan anak Hyukjae-emm, Hyukjae-ssi dan Gaeun-ssi? ”

Kibum mendesah,” Aku tahu kau pasti akan menanyakan itu. ”

Then?

Kibum menceritakan apa yang ia dengar semalam. Suaranya sedikit bergetar; Myunghee yakin pemuda ini terlalu shock dengan fakta yang baru saja ia ketahui. Terlebih lagi, fakta itu belum sepenuhnya lengkap, melainkan masih sepotong-sepotong.

” Dan Han Gaeun-ssi ikut ke Spanyol? Sebulan? Kalau begitu di rumahmu sama sekali tak ada orang? ”

Kibum menggeleng lemah. ” Bahkan Appa meliburkan Bibi Jang dan Paman Sun. Itu yang kudengar dari Eomma–maksudku Gaeun Ahjumma dari SMS terakhirnya. Yah, bahkan kami tak boleh berkomunikasi sebulan ini. Aku jadi tak bisa menanyai soal Kim Jongwoon. ”

Myunghee menatapnya prihatin, lalu mengelus pipi Kibum penuh sayang.

It’s fine. You still have me. I won’t leave you alone.

Pemuda berparas rupawan itu tersenyum. Dia sedikit lebih tenang sekarang.

.

.

Keduanya tiba di sekolah tepat sebelum gerbang ditutup. Setelah memarkirkan motornya di samping kanan sekolah keduanya berlari menuju kelas mereka yang ada di lantai dua gedung sekolah.

” Oh, Myunghee-ya, aku lupa bawa buku Sosiologi. Kau ada jam Sosiologi ‘kan, jam pertama dan kedua? ” celetuk Kibum sedikit ngos-ngosan. Mereka berhenti berlari di koridor depan kelas Myunghee.

” Aku tahu kau mau pinjam.” potong gadis itu.

” Ayolah, jam keempat dan kelima di kelasku Sosiologi, kau tahu sendiri Hong Saem seperti apa. ” mohonnya. ” Nanti di pergantian jam ketiga kuambil, oke? Dan sebagai gantinya kau akan kuberi hadiah kejutan. Oke? Jebal, Myunghee-ya… ”

Myunghee menggeleng-geleng tak habis pikir.” Kau sengaja meninggalkannya di rumah ya? ”

” Sori. ” pemuda itu nyengir salah tingkah. ” Dulunya aku memang sengaja, tapi sekarang malah jadi kebiasaan. ”

” Haihh, sudah kuduga. Well, apa boleh buat. ”

Kibum tertawa senang, lantas berpamitan pada gadisnya itu.

” Aku ke sini lagi nanti. See ya!

Dan setelah mengecup keningnya dengan lembut, pemuda itu pun pergi ke kelasnya sendiri. Sementara Myunghee (yang wajahnya dihiasi semburat merah muda) masuk, lalu duduk di bangkunya yang terletak di tengah kelas.

” Hei, Lee Myunghee. Mood mu hari ini sedang bagus, ya? Ada sesuatu yang terjadi? ”

Song Minji–teman dekatnya yang duduk di sebelah kanan bangkunya tampak benar-benar penasaran.

” Hmm? Entahlah. Hehe…”

” Wah, masih tak mau mengaku? Meskipun aku sudah lihat Lee Kibum mencium keningmu di koridor tadi? Wow, sungguh, kau penuh rahasia bahkan dengan sahabatmu sendiri.”
Myunghee terdiam dengan wajah yang lebih merah lagi.

” Kau dan dia…. Lovebirds, benar? ”

Myunghee masih diam. Dia super malu.
Lovebirds, ya….

Aaaaaa molla! ”

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s