KEI & BRAZE – – Chapter 5

Putih. Suara deru motor dan orang-orang bercakap-cakap heboh. Juga tubuh yang penuh keringat.

Kei duduk perlahan. Dia masih lemas, tapi tubuhnya sudah sedikit lebih segar daripada tadi. Pusingnya sudah hilang dan mampet di hidungnya berkurang banyak.

Kemudian dia menyadari bahwa tiga kancing atas bajunya terbuka, jilbabnya juga tak menutupi kepalanya. Malah terlipat rapi di samping bantal.

Apa yang terjadi? ” pikirnya.

Samar-samar dia dengar, 
” Biar ku cek.” 

Aulia muncul dari rungan depan. Dia lihat Kei sudah bangun, duduk dan menatapnya penuh tanya.

” Aku kenapa, Kak? ” 

” Kamu tadi demam tinggi. ” jawab Aulia yang berjalan mendekat, menyentuh dahinya.  ” Sip, demammu sudah turun. ” 

Kei buru-buru mengancingkan bajunya, dan mengenakan jilbabnya.  ” Perpus! ” 

” Wah wah, sabar, Kei. Mau ke mana? ” 

” Ada buku yang harus dibalikin hari ini. ”

Aulia geleng-geleng. ” Sabar dong, kamu bisa kembaliin bukunya besok. Sekarang mending kamu pulang terus istirahat. ”

Braze mendengar ruangan belakang sedikit gaduh, sepertinya pasien di UKS hari ini sudah bangun. Jadi dia pun beranjak dari duduknya dan berjalan ke ruangan belakang. 

” Kamu udah bangun, Dek? ” celetuknya. Dia beralih ke Aulia,” Panasnya udah turun belum? ”

” Udah. ”

Kei tak terlalu mau mendengar obrolan dua orang mahasiswa di depannya ini. Yang dia butuhkan sekarang adalah tas dan buku-buku yang harus dia kembalikan ke perpustakaan. Maka dia turun dari kasur, bermaksud kembali ke kelas. 

” Dek, mau ke mana? Kamu tuh tadi demam lho, sampai pingsan segala. Istirahat dulu.” Braze mengingatkan. 

 Pingsan? Jadi aku tadi pingsan? Berarti… Yang naruh aku di tempat tidur, mereka?” batinnya terhenyak. Dia menoleh ke meja di samping tempat tidur; ada segelas air putih dan sebotol parasetamol di situ. Sudah pasti mereka juga yang tadi memberinya obat. 

” Ambil tas sama buku di kelas.” namun dia masih menjawab sekenanya, otaknya masih merangkai-rangkai. 

” Nggak perlu. Tas sama buku-bukunya tadi dibawain ke sini sama si Martha.”

” Di sini?” 

Braze mengangguk, memberi isyarat dengan gerakan kepalanya bahwa barang-barang Kei ada di ruang piket di depan. Kei paham. Dia jalan cepat-cepat, dan memang betul, tas serta buku-bukunya ada di meja. 

Kei menghitung jumlah bukunya. Dua ensiklopedi dan empat novel (entah bagaimana dia merayu ibu penjaga perpustakaan hingga bisa meminjam buku sebanyak ini), oke, sudah komplit.

” Mmm, Ka-Kak Braze, Kak Aul, makasih banget.” gagapnya.  ” Maaf juga, kalian pasti repot gara-gara aku.” 

” Jangan sungkan, Kei,” kata Aulia lembut. “Ya, ‘kan, Braze? ” 

Braze mengangguk mantap. 
Kei tersenyum senang. Orang-orang ini melampaui ekspektasinya. Atau mungkin kemarin dia terlalu skeptis? 

” Ke perpus dulu Kak, aku nitip tas bentar ya.” 

Braze tertegun. Senyum tulus gadis itu terlampau manis, membuat hatinya meledak-ledak.



.

Selang seminggu sejak Kei pingsan. Kei sudah sehat meski masih batuk. Setidaknya dia sudah tidak demam, pileknya juga sudah berhenti. Itu cukup mengembalikannya seperti sedia kala: heboh dan absurd. Dan masih suka telat ke sekolah. 

Hari ini juga begitu. Pas sekali saat Braze tugas jaga di ruang piket bersama Syarif. Tiga puluh menit yang lalu bel masuk berbunyi, baru sekarang Kei dan motornya muncul.

Gadis itu terlihat berlari dari parkiran menuju ruang piket, mau minta surat izin terlambat masuk.

” Halo Kak Braze.” sapanya. Napasnya berkejaran. Dia dengan cepat menyambar kertas surat dan pulpen, menulis nama dan kelasnya, serta alasan mengapa ia sampai terlambat.

” Aku nggak disapa nih Kei?” cetus Syarif tak sungguh-sungguh. Pemuda tinggi itu terkikik. ” Iya deh ya, yang keliatan cuma Braze doang.” 

” Oh, yah, halo, Kak Syarif. ” katanya lalu dia menulis lagi.  ” Oke, minta tanda tangannya Kak.” 

Dia mengulurkan kertasnya ke Braze, lantas terheran-heran, kenapa Braze tertawa.

” Dek, (Syarif nyeplos lagi, ” Duileh, manggilnya ‘Dek’! ” sambil ngakak) kamu lucu deh, masa’ gini amat alasannya? ‘Dipaksa sarapan’? ” 

” Loh, aku nggak bohong ya Kak. ” sanggahnya. ” Mamih tadi maksa aku buat sarapan dulu, padahal aku lagi buru-buru banget, aku udah telat, lagi make sepatu. ”

” Terus habis make sepatu kamu jadi terpaksa sarapan? ”

” Enggak, aku sarapan pas lagi make sepatu. ”

” Kok bisa? ”

” Disuapin Mamih. ”

Seketika Braze tergelak. Sudah sebesar itu masih suka disuapi, itu benar-benar lucu dan tak terduga. Tangannya yang sudah siap menorehkan tanda tangan jadi berhenti. Syarif juga terbahak mendengar jawaban Kei. 

Kei jadi malu, dia cemberut. ” Udah dong ketawanya! ”

” Dek, Dek. Kamu tuh, nggak terduga banget.” dia berkomentar.  ” Nih, surat izinnya.” 

” Ya deh, makasih loh ya. Daaah. ”

Braze masih saja tertawa. Aih, bahagia itu ternyata gampang ya? Di tengah-tengah kesibukannya PPL dan KKN secara bersamaan, melihat tingkah Kei tiap hari saja sudah jadi obat bagi rasa lelahnya.

” Braze, tenan lho, kamu tuh lagi naksir berat sama Kei. Kamu nyadar nggak? ”

” EHM! ” pemuda itu cuma berdeham keras. Pipinya merona. 

Braze tahu. Braze sadar sepenuhnya. 
Dia benar-benar jatuh cinta pada Kei. 

. TBC. 



Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s