KEI & BRAZE – – Chapter 6

Rabu malam. Kei baru saja habis mandi, dan sedang duduk di depan komputernya. Dia hendak membenahi cerpen buatannya yang sedang memasuki part akhir. 

Sembari menunggu komputer booting, gadis itu meraih novel super tebal bersampul merah-hitam. Di sampulnya tertulis judul novelnya,  ‘Nagasasra dan Sabuk Inten II’ karya SH Mintardja. Dia benar-benar penasaran dengan kelanjutan ceritanya, dan jadi sangat menyukai sosok tokoh utamanya, Mahesa Jenar. Gara-gara itu pula, dia jadi sering menggunakan ‘Mahesa’ sebagai nama belakang tokoh dalam cerpennya.

Dia tak sabar ingin segera menyelesaikan novel ini untuk lanjut membaca terusan novel yang ketiga. Tapi tentu itu akan memakan banyak waktu sebab tiap bukunya terdiri dari kira-kira tujuh ratus hingga seribu halaman.

Sedang asyiknya dia membaca, ponselnya bergetar. Ada satu pesan masuk. 

From: PPL Kak Braze


Assalamu’alaikum.. 

Dek, bsk habis istirahat pertama kita rapat kecil, anggota inti OSIS yg lain dkabari ya…


 Dia membalas:
Wa’alaikum salam, wr wb. Oke Kak, makasih infonya. Mau bhs apa emgnya?


Dan belum ada semenit Braze sudah menjawab,
Pembagian jadwal piket pagi di lobi. Nanti lah detailnya. Kita kumpul di serambi musolla. 




Kei membalas singkat,

Oke siap.



Kemudian (tak dia acuhkan komputernya yang sudah menampilkan logo Windows XP) dia mengirimkan info  tadi ke ketua, wakil ketua, dan bendahara. Barulah dia menyentuh mouse. Membuka dokumen, dan mulai terlarut dalam cerita yang dia buat.

Paginya, Kei berangkat lebih pagi dari biasanya, dia berhasil mengelabui ibunya yang sedang mandi. Dia bergegas ke ruang OSIS, mengambil buku ‘Nagasasra dan Sabuk Inten II’ dari dalam backpack, juga sebungkus sandwich cokelat dan sebotol susu cair.

Sambil membaca, dia menyobek bungkus roti dengan giginya, lantas menggigitnya besar-besar. Tak peduli mulutnya penuh dan menggembung. Dia sibuk mengunyah dan membaca hingga tak menyadari bahwa Braze memperhatikannya dari depan pintu.

” Laper banget atau gimana, lahap banget kamu makan.” celetuk pemuda itu. 
Kei kaget, sedikit tersedak. Buru-buru dia meminum susu botol rasa melon untuk menghentikan batuk-batuknya.

” Ngagetin tau Kak.” omelnya. ” Ada perlu apa Kak? ”

” Nyamperin kamu harus banget ada perlu ya, Dek? ” tukas Braze. ” Cuma mau mastiin aja, udah kamu sampaikan belum ke yang lain? ”

” Udah, tapi aku nggak tau mereka udah baca apa belum. Makanya nih aku ke sini nunggu temen-temen. Mau aku kasih tau langsung aja. ”

” Eh, ngomong-ngomong, kamu tumben enggak telat? ” 

” Diem-diem berangkat tadi. Kalau nggak gitu ntar Mamih maksa sarapan. Padahal ‘kan bisa ya aku sarapan di sini.  ” cerocosnya. ” Udah gih, aku lagi sibuk. Sana sana! ”

Braze tertawa. Benar apa yang dia duga, gadis ini gila buku. Lihat saja yang dia bawa itu, Braze yakin siapa pun yang kejatuhan buku itu akan langsung gegar otak.

” Segitu serunya? ” dia tanya lagi, sukses membuat Kei monyong-monyong sebal. 

You wouldn’t know till you read. It’s pretty much interesting, you know? ” 



” Wow, I don’t know that you’re very good in English, both your grammar and pronunciation.”  sahutnya. ” Well it should be amazing if you say so.” 


” Well we just know each other for several days. What are you hoping for?  “


Lagi, Braze terbahak.

” Udah ah, nanti aku capek ketawa ngobrol sama kamu. Jangan lupa, jam kelima, oke? Duluan, Dek. ”

Pemuda itu keluar, pergi ke ruang piket (yang sementara ini jadi markas PPL) melewati jalur yang berbeda dari dia datang tadi. 

Kei, kembali menyelami novelnya, namun dia tak bisa lagi konsentrasi. Dia tak tahu kenapa bisa begitu. Dia bisa merasakan dia kelewat senang, tapi dia tak mengerti kenapa bisa begitu. Tidakkah ini terasa aneh? Tak ada sesuatu yang terjadi akan tetapi dia jadi bahagia begini.

” Assalamu’alaikum! ” Martha datang ketika dia meletakkan novelnya di atas meja (” Wa’alaikum salam,” dia jawab.) ” Kei? Kok esuk banget? Ndingaren.” 

Jero, Bos, jero banget omonganmu. Ngalem po nyindir e? ” 


Martha nyengir saja. 
 Lantas menyusul pula Riri, Nita sang bendahara, juga Hadi, wakil ketua OSIS.

” Assalamu’alaikum.” 

” Wa’alaikum salam.” 

” Teh, semalem aku SMS Teteh lho, Teteh udah baca? ”

Riri menggeleng, begitu juga Nita dan Hadi. 

” Kakak-kakak PPL minta ketemuan sama kita, habis istirahat pertama di musolla. Mau ngomongin jadwal piket pagi di lobi, katanya. ” 

” Tau dari mana, Kei? ”

” Semalem Kak Braze SMS aku. ”

” Lah, cuma kamu to yang di SMS? Padahal dia ‘kan punya nomer anak OSIS yang lain juga.  ”

” Entah? ”

” Hayoooo, Kei, kamu ada apa-apa yah sama Kak Braze? ”

” Martha! Apaan sih? Enggak kok! ” elaknya.” Lagipula baru berapa hari kenal juga.  ”

Riri tersenyum meledek, begitu pula Nita dan Hadi. 

” Hati-hati loh Kei, Kak Braze kayaknya ngincer kamu. ”

” Kak Hadi! ”

Mereka seru mengobrol, membahas progress persiapan class meeting dua minggu lagi. Dana sudah didstribusikan untuk membeli keperluan class meeting, untuk pesan konsumsi, juga untuk hadiah bagi kelas yang menang nanti.

” Nanti kita bahas sekalian aja sama PPL. Mereka belum ambil bagian. Biasanya kan PPL ikut terlibat.” usul Martha. Yang lain mengangguk setuju. 

” Kamu yang ngomong lah Kei, biar lebih gampang ngebahasnya sama Kak Braze.” goda Nita. 

” Nita, mulai lagi deh ya, kenapa sih kalian? ”

Namun dalam hati Kei mulai meragu, benarkah mahasiswa satu itu tertarik padanya? 

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s