KEI & BRAZE – – Chapter 7

Jadwal piket sudah dibagi, dan Kei dijadwalkan piket di lobi hari Selasa dan Sabtu. Dia satu grup dengan Martha (seperti biasanya), juga dengan Braze dan Syarif. Tadinya dia mau dijadwalkan hari Senin, tapi dia menolak mentah-mentah. 

Hari Senin jadwalnya upacara dan apel pagi, dan melihat track record nya, akan mustahil baginya untuk piket di hari itu. Dia susah bangun pagi, terlambat sekolah sudah jadi kebiasaan. Kalau dia tidak terlambat, biasanya itu pun lima menit sebelum bel masuk berbunyi.

” Kei, maem sik Nduk, wis ameh jam sanga mbengi ki lho. Ndhak weteng e lara! “

” Sedhela meneh Mbah.” 

Gadis itu tak segera keluar, dia masih membaca. Tinggal seperempat buku lagi dan dia bisa lanjut baca novel yang ketiga.

” Kei, ada telfon! ” 

Ibunya muncul di pintu kamar, membawa sepiring makanan di tangan kiri dan ponsel hitam milik Kei di tangan kanan. 

” Siapa Mih? ”

Ibunya mengangsurkan ponsel ke tangannya, juga piring ke meja belajarnya. 

” Braze–atau siapa lah itu. ” jawab sang ibu.  ” Braze tuh siapa, Kei? ” 

” Mahasiswa yang lagi PPL di sekolahku, Mih.” jawabnya. Dia membuka ponselnya.  ” Nggak biasanya Kak Braze nelfon.”

” Makan dulu gih. Udah Mamih ambilin.” 

” Iya, makasih Mih.” 

Ibunya keluar, sementara dia makan sambil mengirimkan SMS ke Braze. 
Sungguh, tidak biasanya Braze menelepon. Ada hal penting apa yang mau ia sampaikan? 


.

Braze lelah. Duduk di kasurnya bersandar di tembok. Dia banyak kerjaan, dan baru bisa dia selesaikan setengah jam yang lalu. Laporan PPL nya, laporan KKN nya, dan macam-macam lagi. Kemudian dia teringat Kei.

Apa yang sedang dia lakukan? Membaca buku tebal yang tadi? Membaca buku ensiklopedia? Mengerjakan tugas sekolah? Menyusun proposal untuk event berikutnya? Atau malah tidur?

 Tidak, dia anak yang biasanya tidur larut.” 

Braze menatap ponselnya agak lama. Memutar-mutar benda itu di tangannya. Tidak jelas.

” Galau, bro? ” tanya pemuda tinggi itu. 
Braze menggeleng pelan. 

” Entahlah.” 

Dia membuka-buka kontak telepon di ponselnya. Scrolling ke atas, scrolling ke bawah. Membaca daftar kontak secara acak. Lalu tangannya berhenti saat matanya membaca satu nama. 

Calon Istri ❤

Itu nomor telepon Kei. 

Tak sepenuhnya sadar dia menekan pelan keyboard ponselnya. Membuka detail kontak, menekan tombol hijau di pojok kiri atas. Juga mengaktifkan loudspeaker. 

Syarif memandangnya penuh rasa ingin tahu, ” Malem-malem gini nelfon siapa Braze?  ”

” Aku nelfon Kei.” masih setengah melamun dia menjawab. Syarif terkekeh. 

” Mau ngapain? Ngaku kalo kamu tresna sama dia? Ckckck nggak keren banget, confess kok lewat telfon. ” 

Sedetik berikutnya Braze terbelalak. Sontak memencet tombol merah di pojok kanan. 

” Aku ngapain sih?  ”

” Lah? Jarene ameh ngomong karo Kei. Nggak wani, ta? “

Braze mendecak. Super sebal. ” Katanya confess lewat telfon nggak keren. Piye toh karepmu ki?”

Dia menghela napas. ” Kenapa tadi aku nelfon ya? Emangnya apa yang mau aku omongin? ”

” Duh cuy, aku nggak ngerti deh. Wis ya, aku turu dhisikan. 

Braze tak menanggapi Syarif yang merapatkan selimut, meringkuk dan tidur di kasur sebelah. 

” Baru berapa jam nggak ketemu, rasanya udah kangen… Dek, kamu lagi ngapain? Mikirin aku juga kah? “

Dirasakannya ponselnya bergetar. Ada pesan masuk. 

From: Calon Istri ❤
Kakak td nelpon? Ada apa? 

Maaf br tau, td lg bc buku, ponselku ada di Mamih. 

From: PPL Kak Braze

Enggak papa. Tiba-tiba aja inget kamu, Dek… 

Wajah Kei memerah. Di otaknya berkelebat adegan yang sering dia baca di novel romansa maupun komik romantis. Juga terngiang ucapan Hadi, ” kayaknya Kak Braze ngincer kamu…”

” Hei, enggak lah, nggak mungkin…” lirihnya. 

Dia tak mau terlalu percaya diri. Bisa jadi dia salah. Bisa jadi yang dimaksud Braze bukan dalam artian romantis. Bisa jadi… Apa? Bisa jadi Hadi benar? Oh, tidak, tidak… Kei tidak mau bereaksi terlalu berlebihan. 

Meski begitu, hatinya terlanjur berdebar. Rasanya menyesakkan tapi juga membuatnya gembira. Tidakkah itu aneh? 
Sepertinya dia harus periksa ke dokter mengenai kesehatan jantungnya. 

Dia menghela napas, lalu membalas pesan Braze. Akan sangat tidak sopan jika percakapan berhenti di titik canggung seperti ini. 

Hahaha Kak Braze ada2 aja.. 

Udah malem nih Kak, Kakak nggak tidur? 

Dan selang dua menit kemudian ada balasan lagi. 

From: PPL Kak Braze

Lagi istirahat nih, hbs ngerjain laporan. 

Km sndiri nggak tidur Dek? Udh malem loh, kyk yg km bilang… 

Kei tertawa tanpa suara. Sudah dia duga Braze akan bilang begitu. 

To: PPL Kak Braze 

Aku lg bc buku. 

Ssh nih mau tdr awal.. Kalau nggak bc buku dl nggak bakalan bs tdr, tp kalau bc dl pasti ntar melek sampe malem.. Nah harus gmn cb? XD

From: PPL Kak Braze

Dih, kebanyakan begadang nggak baik loh Dek… Ntar km sakit gmn? Jd kesiangan jg kan bangunnya? Sekolah jd telat… 

Di poin ini pemuda itu benar. Ah, tapi apa tidak apa-apa mengungkapkan hal pribadi begini ke orang yang baru dia kenal? Kei sedikit ragu, namun sudah terlanjur. 

Dan lagi, status Braze sekarang sudah berubah. Bukan lagi orang yang harus diwaspadai.

Kei mengubahnya jadi ‘orang yang baik’. Jadi tak apa ‘kan, membuka diri sedikit? 

To: PPL Kak Braze

Hehe Kakak tau aja.. Biasa lah Kak, udh biasa sakit aku mah… 

Mslhnya aku insomnia kalau nggak bc buku dl. Jd gelisah, udh dimerem2in ttp nggak bs tdr. Udh bc2 wirid jg ttp nggak bs tdr. 

From: PPL Kak Braze

Matiin lampunya cb, ntar pasti bs tdr.. 

Lagi-lagi gadis itu tersenyum. Pipinya merona. 

To: PPL Kak Braze

Ntar mimpi buruk.. 

From: PPL Kak Braze

Ya udh gpp, tp jgn malem2 bgt ya tdrnya… Bsk kita piket di lobi, ‘kan? 

Aku nggak mau km sakit.. 

Met mlm Dek, nice dream 😉

 Astaga. Nggak mau aku sakit, katanya? Wah…” komentarnya sambil mengacak-acak rambutnya.  ” Kok aku jadi senang sih? ” 

To: PPL Kak Braze

Siap Bos! 

Met mlm jg.. 

Kei beranjak ke kasur. Berguling-guling sambil memeluk ponselnya kegirangan. Dia tak mengerti kenapa dia bisa sebahagia ini. 

Nafsu makannya seketika hilang, begitu pula nafsu membacanya. Dia berkali-kali scroll up-scroll down ponselnya, membaca percakapan pesannya dengan Braze berulang-ulang. 

” Argh! Aku bisa gila! ” 

” Kei, wis bengi, ora bengok-bengok, mbrebegki tanggane!” 

Kei terkikik. Dia bahagia sekali malam ini, dia juga tak sabar menantikan hari esok. 
Bagaimana besok akan berjalan ya? 

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s