KEI & BRAZE –Chapter 10

Sudah berhari-hari Braze menjauh dari Kei. Dia tak lagi sering mengirim pesan, tak lagi menyapa ramah, sering menghindar kalau kebetulan mereka melewati jalan yang sama. Kei sungguh bingung. Kenapa pemuda itu? Apa kesalahan yang sudah dia buat? Sebegitu parahkah kesalahannya hingga Braze menjauhinya?

Hari ini hari ketujuh Braze bersikap begitu. Kei jadi frustasi. Dia mengerang kesal.

” AAARGH!”

” Ya? Ada yang mau ditanyakan, Arundhati? ”

Kei tercengang, dia baru ingat ini masih jam pelajaran. Pak Baruddin–guru Bahasa Arab–menatapnya penuh selidik dari belakang. Sementara Braze menatapnya tanpa emosi.

” Mmm, enggak Pak, nggak ada… Maaf. ”

Terdengar sorakan-sorakan sesaat. Kei mengabaikan teman-temannya, berusaha kembali fokus pada pelajaran. Yah, meskipun sebenarnya dalam hati dia meraung.

” Kei, kamu kenapa sih? ”

Martha berbisik pelan. Dia khawatir, sudah berhari-hari ini sobatnya itu aneh. Tak seceria biasanya.

Kei menggeleng. Terlalu lelah buat cerita.

” Terjadi sesuatu? Haikal aneh-aneh lagi?”

” Astaga, kenapa Haikal? Nggak ada yang lain? ”

” Aku nanya beneran, Kei. Kamu tuh kenapa? Kamu aneh, tau nggak? ”

Kei menghela napas. ” Bukan Haikal, Mar, kita barengan cuma sebentar. Cuma beli gado-gado habis itu pulang. Dia juga langsung balik lagi. Nggak ada waktu buat marahan sama dia. ”

” Bener juga sih, kamu lagian nggak terlalu suka kalau sama dia lama-lama.” gadis tan itu menyeletuk. ” Terus apa dong kalau bukan Haikal? ”

Kei diam. Dia menunduk, tak peduli jilbabnya berantakan.

” Biar aku tebak deh, Kak Braze ya? ”

Gadis itu cuma menoleh saja. Tak menunjukkan reaksi apa pun.

” Kalian ngomongin saya? ”

Kei dan Martha terlonjak. Sejak kapan Braze berdiri di samping bangku?
Sontak mereka menggeleng.

” Kalau gitu ngobrolnya ditunda dulu. Lima belas menit lagi kalian bisa ngobrol sepuasnya, jadi sekarang belajar dulu yang bener. ”

” Eh, iya Kak, maaf.”
.

.

.

Sekolah hari itu benar-benar melelahkan. Pelajaran berlangsung hanya sampai pukul dua siang, tapi Kei ada ekstra paduan suara hingga pukul tiga, lanjut rapat anggota inti OSIS dan PPL. Rapat membahas class meeting yang tiga hari ke depan sudah dimulai. Besok masih ada rapat lagi dengan seluruh anggota untuk mengecek persiapan class meeting. Alat-alat yang diperlukan, konsumsi, dan sosialisasi ke setiap kelas.

Kei lebih pendiam. Itu terlalu aneh bagi yang lain karena memang biasanya dia banyak bicara. Mengeluarkan pendapatnya, memberi banyak usulan, juga mendebat usulan anggota lain yang menurutnya tidak masuk akal untuk direalisasikan.

” Kei, kamu sakit?” tanya Riri. Yang ditanya cuma menggeleng lemah, memaksa Riri ambil tindakan. ” Sofyan, ambil kotak P3K, bawa ke sini ya, buruan!”

” Oke Ri, buat Kei apa sih yang enggak.”

Kei tak menanggapi. Capek, perutnya juga tambah parah. Sudah sejak dhuhur tadi perutnya mulai sakit. Dia tahan-tahan karena jadwal hari ini padat dan tak bisa dia tinggal. Sekarang makin melilit rasanya.

” Kei, jujur deh sama Teteh. Kamu tadi sarapan enggak? ”

Kei meringis, ” Nteu…”

Riri menyentil dahi Kei, ” Tuh kan! Ck! Pasti nggak makan juga di kantin! Malah minum kopi! Bener nggak? ”

” Maaf, Teh..”

Riri masih mengomel, betapa dia sudah berkali-kali bilang kalau Kei tidak boleh melewatkan jam makannya. Tidak boleh minum kopi saat perutnya kosong. Dan mengomel lagi bahwa ini sudah kesekian kalinya Kei melanggar nasehatnya, lalu maag nya kambuh di sekolah.

Tak berapa lama Sofyan datang membawa kotak P3K, lalu menaruhnya di meja Kei.

Thanks, Kak Sof.”

Braze cuma diam. Dia jadi menyesal menghindari Kei sepekan ini. Pantas saja seharian ini gadis itu pucat. Dia tak habis pikir. Sudah sejak kapan maag nya kambuh? Berapa lama dia menahan sakit?

Kei menyambar Mylanta cair, lalu meneguknya–garis bawahi, dia minum TANPA SENDOK–seolah sedang minum air biasa. Anggota OSIS lain cuma menghela napas. Sudah biasa Kei begini. Di lain pihak, mahasiswa PPL membelalak tak percaya.

” Lagi-lagi persediaan Mylanta cair kamu habisin. Harus ganti rugi loh Kei, ini udah botol keempat bulan ini.” ceplos Sofyan setengah memprotes.

Sik, sik, botol keempat? ” Faiz menyela. ” Kamu kecanduan obat maag apa gimana? Mosok sebulan udah ngabisin empat botol? ”

Gadis itu cuma tersenyum. Obat itu baru setengah jalan. Sakit sudah berkurang tapi belum sepenuhnya, jadi dia memilih tak menyahut.

” Wah, Bro, kalau gitu mulai sekarang biasain ada stok obat flu sama obat maag di rumah ya, buat persiapan. ”

Syarif menepuk bahu Braze, seketika yang lain tertawa kecuali Kei–kadang dia memang lemotnya tak ketulungan–dan Sofyan yang air mukanya keruh seketika.

Pemuda berkacamata bulat itu tertawa canggung.

” Udah yuk, dilanjut rapatnya. Bisa ‘kan Dek? Masih sakit? ” ujarnya. Dia khawatir. ” Apa mau pulang duluan aja? Biar dianter salah satu dari kita.”
Kei menggeleng. Dia sudah baik-baik saja. Sakitnya sudah reda, jadi tak ada alasan untuk meninggalkan rapat.

” Oke, sampai mana tadi? Ah, Hadi, gimana alat-alat yang diperluin? Udah lengkap semua? ”

” Siap semua Ri, udah kebeli semua. Nanti kalo ada kurang aku udah bilang ke PJ masing-masing bagian buat lapor ke aku, kita bisa beli dadakan. Tapi kalo alat-alat pokok udah ada semua, tinggal pasang aja. ”

Riri mengangguk senang,” Bagus! Kamu gimana Nis? ”

Nisa–PJ konsumsi–menjawab,” Beres Ri, aku udah pesen makanan ringan buat penutupan, aqua gelas udah ready.

Langit sudah berubah ungu. Rapat berakhir. Masing-masing bubar, pulang sendiri-sendiri. Masih tersisa Kei yang memberesi buku-bukunya. Dan Braze yang memang sengaja menunggu gadis itu siap-siap pulang.

” Kei, kamu masih ada waktu? ”

” Aku lumayan luang. Kenapa? ” gadis itu mengedik acuh tak acuh. Menenteng backpack nya yang penuh buku dan berat. ” Udah cukup perang dinginnya?”

” Kita bicarain ini baik-baik, oke? ” pinta pemuda itu seraya membetulkan kacamatanya.

Kei menghela napas pasrah,” Ya udah, oke. ”

” Mmm, kita duduk dulu gimana?”

Keduanya duduk di balkon depan ruang OSIS. Angin berhembus lembut, ujung-ujung jilbab yang Kei kenakan berkibar. Namun tak sekalipun dia terganggu dengan itu.

” Dek, Kakak bener-bener minta maaf udah nyuekin kamu. Maafin Kakak ya Dek, please?

Gadis itu tak segera menjawab. Dia masih kesal.

” Kei, please, kamu mau maafin Kakak, ‘kan?”

” Bisa kasih aku alasan kenapa Kakak kayak gitu kemarin-kemarin? Aku udah nyoba sms, telpon, nggak satu pun Kak Braze tanggapin. Aku bahkan nggak tahu salahku ke Kakak apa! Bisa Kakak bayangin sebingung apa aku seminggu ini? ”

Braze jadi bimbang. Haruskah dia mengaku? Tapi kalau dia cerita, nanti gadis itu tahu bagaimana perasaannya. Ugh, tidak. Kalau cuma sebatas memberi kode-kode dia masih oke. Kalau langsung ketahuan, no, dia belum siap.

” Mmm, soal itu… Duh, gimana harus jelasinnya yah?”

So you can’t give me a proper answer?”

Kei sudah hampir menangis. Frustasinya seminggu ini menumpuk, siap jebol saat itu juga.

” Udah lah Kak, udah gelap. Aku pulang duluan. Bye. “

Gadis itu merapatkan jaketnya. Angin senja mendera, ditambah keringat dingin mengucur di sekujur tubuh Kei. Perutnya mulai sakit lagi. Ah, menyebalkan.

” Tunggu bentar Dek…”

Kei berhenti, membalik badan dan berkata agak malas, ” Apalagi? ”

” Maafin Kakak, kemarin itu… Sebenernya…”

Gadis itu masih diam, menunggu Braze melanjutkan kalimatnya. Pemuda tampan di hadapannya itu tampak berpikir keras. Kei bosan dan capek jadinya.

” Masih ada banyak waktu, Kak. ”

Kei jalan lagi. Menahan sakit yang mendera seluruh tubuhnya.

” Arundhati Kei! Tunggu! Kakak mau tanya satu hal!”

Gadis itu limbung. Bahkan sebelum Braze sempat melanjutkan omongannya.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s