DIFFERENCE #14

Kelas lengang, hanya ada suara gesekan pena yang beradu dengan lembaran kertas. Beberapa murid ada yang tertidur, sementara yang lainnya sibuk menyalin materi pelajaran dari papan tulis.

Kilaa melamun. Tangannya berhenti beraktifitas. Dia masih memikirkan perkataan Kibum pagi tadi.

Jujur, dia bingung. Dia bukan ustadzah, bukan pula mubaligh. Kalau selama ini dia sering menjelaskan ini-itu seputar Islam pada teman-temannya, ‘kan mereka duluan yang bertanya. Ada satu topik yang dibahas. Nah, kalau Kibum bilang mau mempelajari Islam, dari mana Kilaa harus mulai membantunya?

Sempat terpikir olehnya mengajak Kibum ke rumahnya, ikut menonton siaran ngaji streaming gurunya. Lantas Kilaa ingat, ngajinya pakai Bahasa Indonesia, dan sering sekali diselingi Bahasa Jawa. Kibum mana mungkin paham.

Mungkin kalau ada subtitle Bahasa Inggris persoalannya akan lebih mudah. Tinggal beri dia link ke page ngaji komunitasnya.

Aku pusing.

Oh! Benar juga, kenapa dia tidak tanya Yixing?

Kilaa jadi ingat kalau Yixing berhutang penjelasan padanya.

” Nona Han, hei. ”

Kim Kibum hari ini duduk tepat di belakang bangkunya persis, dan sekarang pemuda itu mengetuk-ngetuk meja memanggilnya pelan.

” Apa? ”

” Boleh aku minta file dua bacaan tadi? ”

” Nanti bisa kukirimkan lewat LINE atau e-mail. “

” Terima kasih banyak, Kilaa-ssi. ” dia tersenyum (meski tentu Kilaa tak tahu karena dia sama sekali tak menoleh ke belakang). ” Oh ya, apa kau punya terjemahannya juga? Jadi aku bisa mendengarkan sambil membaca terjemahannya. ”

” Kita bicarakan ini nanti dengan Yixing, Kim Kibum-ssi. Sekarang masih jam pelajaran. ”

Call!

Kibum tersenyum senang. Dia tak tahu kenapa, tapi rasanya hatinya ringan dan hangat. Dia bahagia sekali. Bahkan dia lupa dengan tujuan awalnya datang ke Itaewon empat tahun yang lalu.

Waktu berlalu lambat bagi Kibum, namun sebaliknya yang dirasakan Kilaa. Belum lagi dia selesai menemukan ‘calon’ solusi (dan perkiraan tentang keislaman Yixing), kelas sudah bubar. Gadis itu mendecak, lalu mengemasi alat tulisnya ke dalam tas.

Kruk dipasang di kedua perpotongan lengannya, dan dengan sedikit kesulitan dia menjalan. Kibum sudah menunggu di dekat pintu. Mereka berjalan bersisian menuju kelas Yixing yang terletak di lantai bawah. Menuruni tangga sedikit memperlambat mereka, Kilaa tak bisa cepat.

” Oh ya, untuk latihan besok lusa, kita sudah putuskan akan perform One More Chance milik Super Junior sebagai lagu utamanya. ” celetuk pemuda bergigi rapi itu. ” Lagu keduanya For Life milik EXO. ”

Jadi memang sesi-sesi latihan sebelum Kilaa kecelakaan itu mereka sudah mencoba banyak lagu, bahkan dengan genre selain pop-ballad. Mereka juga banyak berdebat karena masing-masing punya preferensi sendiri. Kilaa dari kemarin-kemarin sih menurut saja, dia tak terlalu mempermasalahkan lagu mana yang mau ditampilkan. Asalkan ada partitur musiknya, dia bisa main.

” Akhirnya sepakat, eh? ” jawabnya. Dia berhenti sebentar agar tak terlalu ngos-ngosan. ” Setidaknya dua lagu itu genrenya pop. Kalau diganti lagu Dream nya Baekhyun dan Suzy, aku akan sedikit kesulitan. ”

Kibum tertawa kecil.

” Yeah, jazz dengan segala kerumitannya. ”

Masih tersisa lima anak tangga lagi. Gadis itu santai, namun setelahnya dia tak tahu lagi.

BRAK BRAK!!

” Kilaa-ssi! Astaga! ”

Bunyi besi beradu dengan lantai berkelontangan.
Kibum panik; Kilaa terguling ke bawah!

Dia turun dengan tergesa, menghampiri Kilaa yang masih tersungkur di bawah anak tangga. Kruk dan tasnya terlempar berantakan, dua meter di depan gadis itu.

” Ouch! ” Kilaa mengaduh pelan. Dia memegangi kakinya yang masih jauh dari kata pulih. Badannya nyeri, paha kirinya perih dan ngilu luar biasa. Roknya terasa agak lengket; dia yakin darah merembes dari salah satu lukanya.

” Kau baik-baik saja, Kilaa-ssi? ”

Kilaa diam tak menjawab. Tak mampu mengeluarkan suara. Sakit yang melanda kakinya tak tertahankan, dan membuka mulut adalah hal yang tak akan dia lakukan saat ini.

” Key! ”

Yixing muncul dari pintu nomor dua. Pemuda itu berlari, menghampiri Kilaa yang masih menunduk memegangi kakinya.

” Kau jatuh? Bagaimana ceritanya? ” tanyanya. ” Mana yang sakit? ”
Kilaa tercekat. Rasa sakit tak mau pergi hingga air matanya jatuh begitu saja.

” Paha, Yi. ” ujarnya hampir tak kedengaran. ” Jahitannya. Sepertinya terbuka. ”

Yixing menggendongnya dengan sigap, tak merasa jijik sedikit pun dengan darah yang mengenai lengannya. Mendahului Kibum (yang sebenarnya hampir saja menggendongnya juga) tertohok dan kecewa.

” Ketua Kim, bisakah kau bawakan tas dan kruk Kilaa? Kita ke ruang kesehatan dulu. ” pinta Yixing. ” Kilaa pingsan. Kita harus cepat. ”

Kibum mengangguk, mengesampingkan cemburu di dadanya. Keselamatan gadis itu lebih penting saat ini.
Dia memungut tas dan kruk, lalu mengikuti Yixing yang sudah berlari jauh di depan.

πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘Œ

Putih. Dan bau obat. Hal pertama yang Kilaa rasakan saat membuka mata. Dan nyeri di pahanya.

” Key. ”

Gadis itu menoleh. Ada Yixing, dan Kibum. Dua laki-laki itu tampak sangat khawatir dan lega di saat yang bersamaan.

” Kita di rumah sakit. Benar katamu, jahitan di pahamu terbuka lagi. Untunglah tidak semuanya. Ouh, kalau itu terjadi, mungkin kau sudah pendarahan dan harus rawat inap lagi. ”

Dia tersenyum, ” Terima kasih, Kawan. ”

” Bagaimana bisa jatuh tadi? Kulihat kau hati-hati waktu turun dari tangga. ” tanya Kibum penasaran.

Kilaa cuma meringis. Dia tak mungkin bilang kalau tadi ada yang mendorongnya hingga dia jatuh begitu; dia tak punya bukti.

” Terpeleset, kurasa. ” ujarnya. ” Ah, aku bisa langsung pulang, ‘kan? Bagaimana kalau kalian ke rumahku, kita diskusi. Banyak yang harus kita bahas. Terutama kau, Zhang Yixing. ”

Yixing tertawa.

” Aku luang. Jadi oke. Kau bagaimana, Kim Kibum? ”

That’s fine. Aku tak ada rencana apa pun hari ini. ”

.

.

.

Kilaa duduk di ruang tamu rumahnya. Bajunya sudah berganti, dari seragam sekolah jadi sebuah gaun longgar lengan panjang warna biru gelap berbahan satin dan hijab warna mint yang ukurannya sedikit lebih besar dari yang biasa dia pakai di sekolah. Ibunya duduk di sampingnya, dengan coat abuabu panjang dan daster batik besar, juga hijab terusan yang lebih praktis. Wanita itu tersenyum ramah pada dua pemuda di depannya. Zhang Yixing, dan satu lagi yang sering menjenguk putrinya di rumah sakit. Ibu Kilaa pelupa, dia ingat pemuda itu tapi lupa namanya siapa.

Kibum duduk dengan gugup. Yang di hadapannya saat ini adalah ibu dari gadis yang ia sukai; mungkin bisa juga dia sebut calon mertuanya (dan pemikiran ini membuat pipinya memerah). Seperti sedang menunggu hasil persidangan dengan dia sendiri sebagai tersangka, benar-benar tak terkatakan bagaimana perasaannya saat ini.

Tapi rumah Kilaa termasuk mewah juga, menurut Kibum. Halaman depan dan samping kanan-kirinya luas dengan beberapa pohon besar yang membuat rumah ini nampak begitu sejuk.

Bangunannya sendiri perpaduan antara rumah tradisional dan modern dengan bahan dasar kayu dan kaca, sedikit tembok permanen, dan itu sukses membuat rumah ini mempesona, berbeda, dan terlihat benar-benar outstanding dibanding rumah lainnya. Dia tak tahu apakah keluarga Han ini kekayaannya sebanding dengan milik keluarganya atau tidak, tapi rumah ini mengagumkan. Segar dipandang mata, dan dia berani jamin, di musim panas Kilaa tak akan kepanasan di rumah. Karena meski banyak kaca besar di sini, namun sekelilingnya banyak pohon besar.

” Jadi? ” suara keibuan itu membuyarkan lamunan Kibum tentang kekagumannya terhadap rumah keluarga Han. ” Kalian pasti ada pembahasan yang serius. Tapi sebelum itu, ayo makan dulu. Kalian pasti lapar. ”

” Eh, tapi Ahjumma… ”
Kibum sungkan, mau menolak takut tidak sopan meski, ya, dia sudah lapar.

” Ayo, ayo. Makan dulu. Aku tak menerima penolakan. ” senyumnya lagi. ” Kau juga, Yixing-ah, tempo hari kau tidak mau ‘kan? Eomoni tidak mau ada alasan lagi kali ini. ”

Eomoni? pikir Kibum. Dia merasa janggal, ini tak semestinya. Sudah sedekat apa mereka hingga Lay memanggil ibu Kilaa dengan sebutan ‘eomoni’ ?

Dan dengan langkah-langkah setengah ragu, ketiganya mengikuti ibu Kilaa ke ruang makan.

Hidangan yang tersaji belum pernah Kibum lihat sebelumnya, kecuali makanan pendampingnya. Kimchi, beberapa sayur rebus, juga asinan taoge. Selain itu dia tak tahu.

” Makan yang banyak, kids! Oh, Kilaa sayang, Mami ke kamar dulu ya.”

Ibu Kilaa menghilang ke ujung kanan, meninggalkan tiga remaja itu.

Kilaa mempersilakan yang lain mengambil makan sambil menjelaskan, ” Ini tempe, ini tahu, ah, lalu yang itu ingkung ayam. ”

” Apa? ”

Kibum dan Yixing bertanya berbarengan, Kilaa jadi tertawa geli.

” Aku tak begitu paham bagaimana proses memasaknya atau pun bumbunya. Yang jelas, itu salah satu menu tradisional khas Jogja. Kalian harus coba, rasanya enak! ”

Acara makan berlanjut. Sambil makan mereka bercengkerama ringan. Kilaa memberitahu dua laki-laki di hadapannya itu tentang tempe, proses pembuatannya, dan bahwa tempe adalah lauk yang paling umum dijumpai di Indonesia. Selain karena lezat, kandungan gizinya juga tinggi.

Anyway, Yi, aku menunggu-nunggu ceritamu.” tukas Kilaa. ” Kalian berdua.”

Yixing bertukar pandangan dengan Kibum, lalu katanya, ” Oke, Han Aquila, aku muslim. Aku muslim sejak lahir.”

” Lalu? Kenapa kau tak bilang? Kau juga, Kibum-ssi. Sejak kapan kau tahu? Kenapa tak satu pun memberitahuku? ” cercanya lagi.

Kibum menghela napasnya.

” Kira-kira satu setengah bulan yang lalu, aku melihat Lay memimpin ibadah di Masjid Itaewon. ” ceritanya.” Percayalah, Kilaa-ssi, aku juga terkejut, dan sebenarnya aku sangat ingin menceritakan hal itu, tapi pemuda bodoh ini menyuruhku diam. Aku tak tahu apa alasannya. ”

” Aku punya alasan. Jangan tanyakan apa, aku belum siap. ”

Gadis itu masih ingin menggali lebih dalam lagi. Dia menahan diri, takut kalau-kalau Yixing malah tak mau membeberkan semua hal yang ingin dia tahu. Jadi dia diam saja, mengamati Yixing penasaran.

” Auh Key, jangan begitu, jantungku hampir meledak kau lihati.”

Kilaa acuh tak acuh.

Kibum menggeram pelan. Dia tak suka ini. Seolah dia cuma obat nyamuk, seolah dia cuma lalat yang numpang lewat di situ. Maka, dia berusaha mengalihkan pembicaraan, ” Jadi bagaimana denganmu, Kilaa-ssi? Kau bilang dalam agamamu, laki-laki dan perempuan bahkan tak boleh saling menatap terlalu lama–apalagi berdekatan dan bersentuhan, bukan?”

” Dan?”

” Kenapa kau diam saat Lay membetulkan hijabmu? Dia bukan anggota keluargamu. ”

Kilaa terdiam. Apa yang harus dia katakan?

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s