Affair 2

Ruang khusus untuk Kai si soloist muda itu lengang. Hanya lampu-lampu menyala, juga pakaian-pakaian yang tergantung di samping meja rias, serta alat-alat makeup menyaksikan keterdiaman dua manusia di ruangan itu dalam bisu.

Jongin tersenyum manis, yang entah kenapa malah menambah kadar emosi Rise pada pria itu.

” Kuharap kita bisa bekerja sama. ” ujarnya.

Rise memutar bola matanya malas.

👣👣👣

Genap dua bulan Rise bekerja, tapi ia merasa umurnya berkurang sepuluh tahun sekarang. Tidak, bukan lelah fisik. Kalau cuma itu dia masih bisa tahan. Nah masalahnya, batinnya tersiksa, jadi lelah psikis yang ia rasakan berkali lipat dibandingkan lelah tubuhnya.

” Tidak, ganti kostumku. Yang ini tak sesuai dengan konsep lagu yang nanti mau kutampilkan. ”

Entah sudah keberapa kalinya Jongin meminta ganti pekan ini. Ganti kostum lah, ganti gaya makeup lah, ganti aksesoris, ganti gaya rambut, ganti warna rambut, hingga rasanya kepala Rise mau meledak saking jengkelnya ia pada Jongin.

Biasanya kalau sudah keterlaluan gadis itu akan mengomeli Jongin keras-keras dan Jongin akan menuruti keputusan Rise. Namun hari ini hal itu tak bisa ia lakukan. Mereka sedang di gedung CJ Group, hendak rekaman comeback pertama Jongin tahun ini di program M! Countdown.

Gadis itu menggeram sebal, lalu mendekati wardrobe yang tadi dibawa dari gedung SM, memilah kostum-kostum di situ, sementara anggota tim Costume & Makeup yang lain sibuk menata rambut Jongin, juga memperbaiki riasan di wajah pria itu.

Rise mengambil dua set kemeja lain dengan warna berbeda, lengkap dengan rompi outer dan topi fedora pasangannya. Dia mengingat, lagu kali ini konsepnya American Country, dengan lirik yang sedikit dark. Gadis itu pun mengambil set yang warnanya lebih kalem, lalu mengangsurkannya pada anggota timnya. Maksudnya sih biar Jongin bisa lebih cepat mengganti kostumnya.

Mood nya yang mulai normal segera rusak mendengar perintah Jongin.

” Aku mau Rise yang membantuku ganti kostum. Tak ada bantahan. ”

Makeup dan hairdo sudah selesai, membuat tingkat ketampanan Jongin naik tiga kali lipat. Rise sempat terpana sebentar, namun emosinya kembali menguasai.

” Jangan seperti toddler, Jongin! Kau bukan lagi anak TK! ” omelnya.
(Anggota tim yang lain bergegas keluar, tak ingin telinga mereka dikotori perdebatan yang tak berujung.)

” Aku memang bukan toddler, Baby. Aku pria dewasa. ”

” Diam! ” urgh, seperti punya kepala berbahan bom dengan sumbu yang hampir terbakar habis dan siap meledak!

” Sekarang cepat ganti dengan ini! ”

Jongin menyeringai menyebalkan (walau tetap tampan, Rise akui itu), melepas tiga kancing teratasnya, mendekati Rise dengan santai. Gadis itu sudah mengangkat tinjunya, bermaksud mengemplang kepalanya agar bergegas. Jongin sigap menahan lengan gadis itu.

Dia berbisik di telinga Rise, ” Bantu aku melepasnya.”

Rise terdiam, tergeragap tak bisa menjawab. Dia gugup setengah mati, dia berani bersumpah!

” K-kkau-kau punya tangan sendiri, Jong…in…. ”

Rise mengumpat dalam hati: kenapa dia gagap? Jadinya ‘kan jadi aneh!

Pria itu tertawa, membawa tangan Rise yang tadi ditangkapnya ke kancing bajunya yang belum dia buka.

” Bukakan. Bantu aku ganti baju. ” perintahnya. ” Itu pekerjaanmu, kalau kau lupa. ”

Mau tak mau Rise menurut.

Mulai dari membuka kancing, melepas baju, memakai baju ganti, memakai aksesoris, semua dia lakukan. Jongin cuma diam, sesekali merentangkan tangannya, sesekali memainkan ujung rambut Rise dengan sengaja.

” Sudah selesai, Kai-ssi! ” tukasnya, dengan penekanan penuh di kata terakhir. ” Sekarang ganti kau yang bekerja! ”

Dia menahan tangan gadis itu, menatapnya tepat di manik mata almond yang besar jernih. Mata itu bagaikan oase baginya. Menyegarkan dan menghilangkan penat yang membuat dadanya sesak.

” Kim Jongin! Kau ngapain? Lepas!”

Rise mengibaskan tangannya tapi cekalan pria itu tak juga terlepas. Dia mulai risih dan takut.

” Rise, milikku. Kau milikku. Ingat baik-baik: hanya ada nama Kim Jongin di hatimu mulai detik ini.”

Gadis itu melongo. Pemuda di hadapannya ini sepertinya sudah tak waras. Sungguh-sungguh tak waras.

Dua menit mereka terpaku di posisi itu, kemudian di detik kelima dari menit ketiga Jongin bergerak. Wajahnya mendekat sementara Rise masih belum berkutik.

Chu~

Rise tak tahu apa yang terjadi. Dia cuma merasakan ada benda lembut dan hangat beraroma kopi menyentuh bibirnya. Menyesap dan melumat perlahan. Dia terlena.

“… Rise-ssi…”

Suara berat dan dalam di sela ciuman mereka menyambar kesadarannya. Kim Jongin! Kim Jongin mencuri ciumannya!

“!!!”

Gadis itu terlonjak. Pipinya merah, begitu juga bola matanya. Dia mundur. Dan perlahan, tetes demi tetes air matanya terjun membasahi pipi.

PLAK!

“… Brengsek!”

Jongin hanya menyeringai mengelus pipi kirinya yang terasa agak panas, sementara Rise berjalan cepat keluar dan membanting pintu.

Pria itu beranjak menuju studio di mana rekaman berlangsung. Dia tak ambil pusing dengan keberadaan gadis yang tadi diciumnya, nanti juga pasti dia menyusul. Gadis itu tak akan pergi begitu saja meninggalkan pekerjaan yang jadi tanggung jawabnya.

Manis sekali.

.

.

.

Rekaman hari ini berlangsung lancar. Jongin tampil dengan memukau, dan tumben-tumbennya dia tak bikin banyak kekacauan. Staf jadi lega. Setidaknya keributan di ruang make up tadi tidak berlanjut hingga siang. Mereka masih heran juga sebetulnya, tapi sekali-sekali hari damai begini bagus juga ‘kan?

Namun tidak demikian yang ada di benak Rise. Dia malah jadi curiga. Karena biasanya Jongin hobi bikin gadis itu marah. Tidakkah ini aneh, tiba-tiba saja (setelah insiden ciuman pagi tadi) Jongin adem ayem tak mengusik dia sama sekali? Seperti ada sesuatu yang sedang pria sialan itu rencanakan. Sesuatu yang, nampaknya bukan hal yang baik.

Rise mengamati Jongin dari samping panggung. Pria itu berdiam diri sebentar. Mengatur napasnya, mengabaikan para penggemar yang bersorak antusias.

Jelas: ada sesuatu yang buruk yang sedang pria itu rencanakan terhadapnya!

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s