NO REGRET #14

Esok harinya Kei dan Braze disibukkan dengan kado-kado pernikahan yang menumpuk di tengah kamar. Keduanya membuka kado satu per satu, mengomentari isinya yang kadang nyeleneh. Pemberinya sudah tertebak: anak-anak OSIS dan PPL. Bukan hanya isinya saja, kartu ucapan dari mereka juga tak kalah anehnya. Sejauh ini sih yang paling aneh adalah hadiah dari Budi dan Syarif.

Budi memberi mereka hadiah berupa satu kardus test-pack, sangat kelihatan dia ingin sekali melihat pasangan ini punya banyak anak. Beda dengan Syarif, dia memberi hadiah seperangkat pakaian dalam hitam berbahan transparan. Dia menulis begini, ‘ Dipake ya Kei, si Braze seneng tuh liat istrinya pake ginian wkwkwk jan marah Braze, aku tau kamu seneng kok hahaha xD Aku tunggu hasilnya dalam bentuk keponakan baru yah ;D ‘.

” Astaga bocah itu. ” komentar Braze seraya menutup mukanya. Geli campur malu.

” Kayaknya kado dari temen-temen enggak ada yang bener deh. Nih liat,” sahut Kei. Braze menoleh dan dilihatnya sebuah buku bersampul merah tanpa gambar. Tertulis judulnya, ‘ Kama Sutra’. ” Istrinya geleng-geleng. ” Tau nggak dari siapa? Kak Hadi. Ampun deh. ”

” Seenggaknya kadonya Nana sama Aulia normal yah, baju couple sama seprai.”

” Oh thank God! ”

Keduanya terkekeh.

Kei memasukkan sampah-sampah bungkus kado ke kantong sampah kertas, sementara bekas bungkus kado yang masih bagus dan tidak banyak lecek dia lipat dan dia simpan di kotak khusus miliknya. Menurutnya, selain hemat pengeluaran (dia jadi tak perlu beli kertas kado lagi karena ada stok), setidaknya dia bisa mengurangi pemakaian kertas.

Masih sisa separuh tumpukan lagi, namun membuka kado sebanyak itu lumayan melelahkan juga rupanya. Jadi sepasang pengantin baru ini menyerah.

Keduanya beranjak ke sofa ruang keluarga. Menyalakan televisi besar, menonton Dora The Explorer yang entah kenapa ditayangkan lagi di saluran nickelodeon.

” Dek, besok ke manaa gitu yuk.” celetuk Braze. Kei menoleh.

” ‘Ke mana’ , ke mana?” dia bertanya.

” Dih, ya ke mana lah. Nginep, liburan gitu. Honeymoon. “

” Oh, bilang dong.” dan Braze mengacak rambutnya. ” Jadi berantakan ini, astaga.”

” Jadi? Mau nggak? ”

” Hmm, boleh sih. Tapi ke mana? ”

” ‘Kan Abang nanya, Sayang. Kamu pengennya ke mana? Nih jadi gemes ‘kan Abang. ”

Braze mencubit pipinya, sontak membuatnya salah tingkah tapi juga senang. Perasaan yang sama dengan dulu. Dia jadi mengerti sekarang, dia masih bisa menumbuhkan perasaan itu lagi, perlahan-lahan, mungkin bisa juga sambil menyembuhkan luka pasca tiadanya Haikal. Kei bersyukur dia menerima lamaran Braze.

Oh, omong-omong soal Haikal, sepertinya dulu ada yang aneh. Hmm, mungkin kutanyakan saja?

” Bentar deh Kak, aku boleh nanya sesuatu? ”

Braze memutar bola matanya, ” ‘Abang’, Dek, ‘Abang’, dih susah bener sih.”

” Malu, Kak, ah! Enggak biasa!” elak Kei. ” Boleh enggak nanya? ”

” Iya iya, apa? ”

” Dulu kita pernah marahan. Inget nggak? Tapi Kakak (” Dek, panggil ‘Abang’ dulu, ayo! “) –oke, oke, Abang inget? Waktu itu aku nanya sebabnya tapi Bang Braze enggak jawab. ”

Kei berani bersumpah demi bolong-bolong di tubuh Spongebob, dia mengabaikan rasa malu dan membiarkan wajahnya merah macam udang goreng.

” Hmm? Ah, sebelum kamu sakit itu? ”

Kei mengangguk antusias.

2009

Menjelang pukul tujuh, Braze membubarkan petugas piket lobi. Satu per satu kembali ke ruangan masing-masing (mahasiswa PPL mulai hari ini akan berbagi ruangan dengan anggota OSIS), tertinggal Kei yang sibuk mengangkat ponselnya yang berdering sejak tadi.

” Dek, nggak ke kel- ”

” Mamih, nggak mau! Kok Mamih maksa sih? ” gadis itu memukul tembok dengan frustasi. ” Bukan kayak gini yang Papih maksud, Mih! Nggak ada orang ta’aruf yang jalan berdua sebelum mereka nikah! Terus apa bedanya dong sama pacaran kalo gitu? ”

Braze menautkan alisnya.

Gadis itu bilang lagi, ” Mih, coba deng-enggak! Kei nggak mau! Kei banyak kerjaan di OSIS! ”

Pemuda itu kebingungan. Dia jadi ragu hendak ke ruang OSIS atau tidak.

” Kei udah bilang Kei enggak mau ketemu sama Haikal! Jangan paksa Kei! ”

Gadis itu mematikan sambungan teleponnya. Menoleh, mendapati Braze yang masih memandangnya kebingungan. Dia tersenyum kecut, lalu pergi ke kelasnya tanpa kata-kata.

Sementara Braze merasakan firasat buruk. Batinnya dipenuhi satu pertanyaan: siapa Haikal?


Matahari menggantung di sisi barat. MAN 5 Yogyakarta sudah sepi, hampir semua penghuni sekolah sudah pulang. Tinggal beberapa anggota OSIS, beberapa mahasiswa PPL, dan penjaga sekolah.

” Martha, aku nginep aja ya di rumahmu? Plis? ”

” Nggak, Kei. Mamih pasti nyariin kamu ntar.”

” Tapi… ”

Kei tak ingin pulang sekarang. Atau setidaknya sampai besok atau lusa. Dia tak mau bertemu Haikal.

” Kei, pulang deh. Kasian loh, dia nyempat-nyempatin dateng padahal dia sibuk banget. Jauh lagi, rumahnya. ”

Kei menghela napas pasrah. Mau tak mau dia harus pulang. Dia tak setega itu membiarkan Haikal menunggu. Apalagi pria itu jauh-jauh datang dari kabupaten sebelah.

Gadis itu mengenakan jas almamater khusus OSIS miliknya yang berwarna turquoise. Tasnya yang berat penuh buku disampirkannya ke bahu. Dia merogoh kantong roknya, mencari-cari kunci motor di sana.

” Ketemu!”

Dia berjalan ke parkiran di belakang ruang OSIS.

” ASTAGHFIRULLAH!”

Seseorang memeluknya erat, ” Kei, kangen~”

” Mas Haikal! Lepas! Belum muhrim! ”

Sosok yang dia panggil Haikal itu menjauhkan dirinya. Menggaruk tengkuknya yang tak gatal, memasang senyum bersalah di bibir.

” Sori, lupa. ”

Pria itu mengenakan setelan kerja PNS berwarna biru gelap. Tinggi menjulang, dengan potongan tubuh yang sempurna dan wajah yang mempesona. Matanya besar, dia terlihat keren dan menggemaskan di saat yang bersamaan. Tak kalah menawan dari Syarif.

” Ayo, bareng aku aja. Mobilku di halaman.” ajak pria itu.

” Mas, aku bawa motor. Kalau bareng kamu motornya gimana dong? ”

” Mm, gimana ya? Oh, masih ada Martha kan? Suruh bawa pulang dia dulu aja. Terus kamu pulangnya sama aku. Oke? ” dia mengerling genit, dengan senyuman paling manis yang dia punya.

Kei mendengus. Pria ini. Kebiasaan anehnya itu–kata Kei–masih saja belum berubah (yang menurut dia hal itu charming tingkat nasional).

” Kamu bakalan maksa sampe aku mau kalau nggak diiyain.” sahutnya seraya berjalan kembali ke ruang OSIS.

Tak sampai lima menit, gadis itu sudah kembali. Keduanya pun berjalan ke halaman sekolah di mana mobil Haikal berada.

.

.

.
Sementara itu, Braze yang sedang menyusuri koridor di depan studio musik terpaku di tempat.

Gadisnya, calon istrinya, calon ibu dari anak-anaknya, naik mobil berdua dengan pria muda yang–sebenarnya dia benci mengakui ini–lebih tampan darinya.

Atmosfer di sekitar mereka terlihat berbunga-bunga dan segar di mata Braze, yang mana itu benar-benar membuatnya kesal. Dia ingin sekali menyeret pria itu menjauh dari gadisnya. Tapi dia juga sadar, dia bukan siapa-siapa bagi Kei. Bukan kakaknya, bukan ayahnya, bukan pula suaminya (meski dia berharap dia akan jadi suami gadis itu beberapa tahun mendatang).

Braze meremas ujung jas hijaunya kuat-kuat.

Siapa laki-laki itu?”

Ingin rasanya Braze menginterogasi Kei. Kepalanya sudah mau pecah dipenuhi pertanyaan. Siapa laki-laki tadi? Siapa Haikal? Dan juga, siapa dirinya di mata gadis itu? Itu yang terpenting, bukan?

Jangan-jangan statusnya tak lebih dari seseorang yang sudah-dianggap-sebagai-kakak-sendiri? Kalau iya, betapa kejamnya gadis itu padanya.

Pemuda itu bersembunyi di balik pilar, tak ingin keberadaannya diketahui Kei. Dia pun tak paham kenapa dia melakukan itu meski tak ada kesalahan yang dia buat.

Setelah beberapa menit menunggu, mobil semi sedan keluaran baru berwarna hitam itu perlahan meninggalkan sekolah. Bersama Braze yang masih terdiam dengan sorot mata terluka.

.

.

.

Kei menatap ponselnya. Aneh. Biasanya Braze mengiriminya pesan. Ada apa dengan pemuda itu?

” Kei, nonton yuk? Udah lama kita nggak nonton berdua.”

Ucapan Haikal menghentikan lamunannya.

” Makan aja terus pulang, besok ‘kan Mas kerja.”

” Beneran nggak mau nonton? ”

Kei menggeleng.

Malam itu berlalu begitu saja tanpa ada komunikasi antara dia dan Braze.

Dia tak tahu kenapa. Yang dia tahu, dadanya perih, macam luka menganga yang ditaburi garam.

Luar biasa sakit


Sudah berhari-hari Braze menjauh dari Kei. Dia tak lagi sering mengirim pesan, tak lagi menyapa ramah, sering menghindar kalau kebetulan mereka melewati jalan yang sama. Kei sungguh bingung. Kenapa pemuda itu? Apa kesalahan yang sudah dia buat? Sebegitu parahkah kesalahannya hingga Braze menjauhinya?

Hari ini hari ketujuh Braze bersikap begitu. Kei jadi frustasi. Dia mengerang kesal.

” AAARGH!”

” Ya? Ada yang mau ditanyakan, Arundhati? ”

Kei tercengang, dia baru ingat ini masih jam pelajaran. Pak Baruddin–guru Bahasa Arab–menatapnya penuh selidik dari belakang. Sementara Braze menatapnya tanpa emosi.

” Mmm, anu, enggak Pak, nggak ada… Maaf. ”

Terdengar sorakan-sorakan sesaat. Kei mengabaikan teman-temannya, berusaha kembali fokus pada pelajaran. Yah, meskipun sebenarnya dalam hati dia meraung.

” Kei, kamu kenapa sih? ”

Martha berbisik pelan. Dia khawatir, sudah berhari-hari ini sobatnya itu aneh. Tak seceria biasanya.

Kei menggeleng. Terlalu lelah buat cerita.

” Terjadi sesuatu? Haikal aneh-aneh lagi?”

” Astaga, kenapa Haikal? Nggak ada yang lain? ”

” Aku nanya beneran, Kei. Kamu tuh kenapa? Kamu aneh, tau nggak? ”

Kei menghela napas. ” Bukan Haikal, Mar, kita barengan cuma sebentar. Cuma beli gado-gado habis itu pulang. Dia juga langsung balik lagi. Nggak ada waktu buat marahan sama dia. ”

” Bener juga sih, kamu lagian nggak terlalu suka kalau sama dia lama-lama.” gadis tan itu menyeletuk. ” Terus apa dong kalau bukan Haikal? ”

Kei diam. Dia menunduk, tak peduli jilbabnya berantakan.

” Biar aku tebak deh, Kak Braze ya? ”

Gadis itu cuma menoleh saja. Tak menunjukkan reaksi apa pun.

” Kalian ngomongin saya? ”

Kei dan Martha terlonjak. Sejak kapan Braze berdiri di samping bangku?
Sontak mereka menggeleng.

” Kalau gitu ngobrolnya ditunda dulu. Lima belas menit lagi kalian bisa ngobrol sepuasnya, jadi sekarang belajar dulu yang bener. ”

” Eh, iya Kak, maaf.”
.

.

.

Sekolah hari itu benar-benar melelahkan. Pelajaran berlangsung hanya sampai pukul dua siang, tapi Kei ada ekstra paduan suara hingga pukul tiga, lanjut rapat anggota inti OSIS dan PPL. Rapat membahas class meeting yang tiga hari ke depan sudah dimulai. Besok masih ada rapat lagi dengan seluruh anggota untuk mengecek persiapan class meeting. Alat-alat yang diperlukan, konsumsi, dan sosialisasi ke setiap kelas.

Kei lebih pendiam. Itu terlalu aneh bagi yang lain karena memang biasanya dia banyak bicara. Mengeluarkan pendapatnya, memberi banyak usulan, juga mendebat usulan anggota lain yang menurutnya tidak masuk akal untuk direalisasikan.

” Kei, kamu sakit?” tanya Riri. Yang ditanya cuma menggeleng lemah, memaksa Riri ambil tindakan. ” Sofyan, ambil kotak P3K, bawa ke sini ya, buruan!”

” Oke Ri, buat Kei apa sih yang enggak.”

Kei tak menanggapi. Capek, perutnya juga tambah parah. Sudah sejak dhuhur tadi perutnya mulai sakit. Dia tahan-tahan karena jadwal hari ini padat dan tak bisa dia tinggal. Sekarang makin melilit rasanya.

” Kei, jujur deh sama Teteh. Kamu tadi sarapan enggak? ”

Kei meringis, ” Nteu…”

Riri menyentil dahi Kei, ” Tuh kan! Ck! Pasti nggak makan juga di kantin! Malah minum kopi! Bener nggak? ”

” Maaf, Teh..”

Riri masih mengomel, betapa dia sudah berkali-kali bilang kalau Kei tidak boleh melewatkan jam makannya. Tidak boleh minum kopi saat perutnya kosong. Dan mengomel lagi bahwa ini sudah kesekian kalinya Kei melanggar nasehatnya, lalu maag nya kambuh di sekolah.

Tak berapa lama Sofyan datang membawa kotak P3K, lalu menaruhnya di meja Kei.

Thanks, Kak Sof.”

Braze cuma diam. Dia jadi menyesal menghindari Kei sepekan ini. Pantas saja seharian ini gadis itu pucat. Dia tak habis pikir. Sudah sejak kapan maag nya kambuh? Berapa lama dia menahan sakit?

Kei menyambar Mylanta cair, lalu meneguknya–garis bawahi, dia minum TANPA SENDOK–seolah sedang minum air biasa. Anggota OSIS lain cuma menghela napas. Sudah biasa Kei begini. Di lain pihak, mahasiswa PPL membelalak tak percaya.

” Lagi-lagi persediaan Mylanta cair kamu habisin. Harus ganti rugi loh Kei, ini udah botol keempat bulan ini.” ceplos Sofyan setengah memprotes.

Sik, sik, botol keempat? ” Faiz menyela. ” Kamu kecanduan obat maag apa gimana? Mosok sebulan udah ngabisin empat botol? ”

Gadis itu cuma tersenyum. Obat itu baru setengah jalan. Sakit sudah berkurang tapi belum sepenuhnya, jadi dia memilih tak menyahut.

” Wah, Bro, kalau gitu mulai sekarang biasain ada stok obat flu sama obat maag di rumah ya, buat persiapan. ”

Syarif menepuk bahu Braze, seketika yang lain tertawa kecuali Kei–kadang dia memang lemotnya tak ketulungan–dan Sofyan yang air mukanya keruh seketika.

Pemuda berkacamata bulat itu tertawa canggung.

” Udah yuk, dilanjut rapatnya. Bisa ‘kan Dek? Masih sakit? ” ujarnya. Dia khawatir. ” Apa mau pulang duluan aja? Biar dianter salah satu dari kita.”
Kei menggeleng. Dia sudah baik-baik saja. Sakitnya sudah reda, jadi tak ada alasan untuk meninggalkan rapat.

” Oke, sampai mana tadi? Ah, Hadi, gimana alat-alat yang diperluin? Udah lengkap semua? ”

” Siap semua Ri, udah kebeli semua. Nanti kalo ada kurang aku udah bilang ke PJ masing-masing bagian buat lapor ke aku, kita bisa beli dadakan. Tapi kalo alat-alat pokok udah ada semua, tinggal pasang aja. ”

Riri mengangguk senang,” Bagus! Kamu gimana Nis? ”

Nisa–PJ konsumsi–menjawab,” Beres Ri, aku udah pesen makanan ringan buat penutupan, aqua gelas udah ready.

Langit sudah berubah ungu. Rapat berakhir. Masing-masing bubar, pulang sendiri-sendiri. Masih tersisa Kei yang memberesi buku-bukunya. Dan Braze yang memang sengaja menunggu gadis itu siap-siap pulang.

” Kei, kamu masih ada waktu? ”

” Aku lumayan luang. Kenapa? ” gadis itu mengedik acuh tak acuh. Menenteng backpack nya yang penuh buku dan berat. ” Udah cukup perang dinginnya?”

” Kita bicarain ini baik-baik, oke? ” pinta pemuda itu seraya membetulkan kacamatanya.

Kei menghela napas pasrah,” Ya udah, oke. ”

” Mmm, kita duduk dulu gimana?”

Keduanya duduk di balkon depan ruang OSIS. Angin berhembus lembut, ujung-ujung jilbab yang Kei kenakan berkibar. Namun tak sekalipun dia terganggu dengan itu.

” Dek, Kakak bener-bener minta maaf udah nyuekin kamu. Maafin Kakak ya Dek, please?

Gadis itu tak segera menjawab. Dia masih kesal.

” Kei, please, kamu mau maafin Kakak, ‘kan?”

” Bisa kasih aku alasan kenapa Kakak kayak gitu kemarin-kemarin? Aku udah nyoba sms, telpon, nggak satu pun Kak Braze tanggapin. Aku bahkan nggak tahu salahku ke Kakak apa! Bisa Kakak bayangin sebingung apa aku seminggu ini? ”

Braze jadi bimbang. Haruskah dia mengaku? Tapi kalau dia cerita, nanti gadis itu tahu bagaimana perasaannya. Ugh, tidak. Kalau cuma sebatas memberi kode-kode dia masih oke. Kalau langsung ketahuan, no, dia belum siap.

” Mmm, soal itu… Duh, gimana harus jelasinnya yah?”

So you can’t give me a proper answer?”

Kei sudah hampir menangis. Frustasinya seminggu ini menumpuk, siap jebol saat itu juga.

” Udah lah Kak, udah gelap. Aku pulang duluan. Bye. “

Gadis itu merapatkan jaketnya. Angin senja mendera, ditambah keringat dingin mengucur di sekujur tubuh Kei. Perutnya mulai sakit lagi. Ah, menyebalkan.

” Tunggu bentar Dek…”

Kei berhenti, membalik badan dan berkata agak malas, ” Apalagi? ”

” Maafin Kakak, kemarin itu… Sebenernya…”

Gadis itu masih diam, menunggu Braze melanjutkan kalimatnya. Pemuda tampan di hadapannya itu tampak berpikir keras. Kei bosan dan capek jadinya.

” Masih ada banyak waktu, Kak. ”

Kei jalan lagi. Menahan sakit yang mendera seluruh tubuhnya.

” Arundhati Kei! Tunggu! Kakak mau tanya satu hal!”

Gadis itu limbung. Bahkan sebelum Braze sempat melanjutkan omongannya.

-TBC-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s