NO REGRET #13

‘Lari! Lari! Jangan sampai tertangkap! Jangan sampai ketahuan!’

Gelap di mana-mana, pencahayaan minim. Kawasan yang seolah tak punya tanda-tanda kehidupan ini penuh dengan gang tanpa lampu. Keringat mengalir deras. Dia terus lari. Juga pria yang selalu di sampingnya. Mereka berlari terus.

‘ Belok kanan! Ya! Belok lagi! Biar mereka terkecoh! ‘

Mereka memacu mobil SUV berwarna hitam secepat mungkin, mereka sudah terlambat. Acara sudah mulai sejak tadi, dan dia salah satu narasumber yang setengah jam lagi sudah harus membawakan materi. Mereka tak boleh membuang waktu, semua orang menunggu sekarang!

DUARRR!

Tangannya lengket. Tubuhnya tak kunjung bergerak seberapa keras pun dia mencoba. Bau anyir dan bensin tumpah bercampur jadi satu. Menjijikkan.

” Dek… Dek…”

Semuanya tampak terbalik. Matanya buram. Suara sirine di kejauhan.

” Dek liat Abang!”

“..ei… Kei…”

Haikal bersimbah darah.

Suara ledakan, kaca pecah, dunia terbalik, sirine meraung, Haikal yang terluka parah. Haikal. Haikal yang begitu menyayanginya. Pandangannya mengabur dalam kegelapan.

Debar jantungnya menggila. Dia tak bisa berpikir!

” Tidak. TIDAKKK!”

” DEK! ”

Kei tergeragap. Wajahnya memutih, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Mimpi itu datang lagi. Mimpi itu… Kenapa? Kenapa tak pernah berhenti?

” Kamu nggak papa, ada Abang, ada Abang…”

Tadi Kei bergerak-gerak tak tenang dalam tidurnya. Braze yang memang sensitif langsung bangun. Istrinya itu mengigau, ” Lari! “, kemudian tertidur lagi. Tiga menit lewat gadis itu kembali berkerisik, mengigau lebih parah, ” Cepat! Cepat! ”

Braze tahu Kei pasti mimpi buruk. Maka dari itu dia berusaha membangunkan Kei. Gadis itu harus bangun agar mimpi buruknya pergi.

Dia memanggil-manggil namanya, dia menggoncang-goncangkan tubuhnya. Tapi Kei tetap terpejam. Igauannya juga semakin menjadi.

” Nggak! Jangan! ”

” Dek sadar Dek! Bangun! ”

” MAS HAIKAL! ”

” DEK BANGUN! HAIKAL NGGAK AKAN SUKA LIAT KAMU KAYAK GINI! BANGUN DEK! ”

Braze memeluk Kei prihatin. Dia sedih. Ada apa dengan wanitanya ini? Apa yang terjadi di masa lalu? Apa ada kaitannya dengan phobia yang Kei derita? Dia belum tahu sejauh itu. Ryuu tak banyak menceritakan hal-hal detail tentang Kei.

Perlahan tubuh yang dia peluk mulai lebih santai. Bahunya terasa basah. Istrinya menangis.

” Kei…” panggilnya lirih. Dia hanya mendengar gumaman. Istrinya itu sudah sepenuhnya terjaga. Maka dia melepas pelukannya. Merangkup bahu Kei dengan lembut.

Gadis itu terlihat lelah. Lelehan air mata masih terus menetes. Dia terisak-isak.

” M-ma-aff… Aku-aku lemah b-bang-nget..” sedunya.

Braze menggeleng. Dia kembali memeluk Kei. Menyalurkan kekuatan yang dia punya, menyalurkan sayang dan rindu pada gadis itu.

” Kamu nggak lemah, Dek. Kamu juga punya aku. Kamu bisa cerita apa pun biar kamu lebih lega. ”

Kei diam. Air matanya masih menetes deras. Dia capek. Kapan teror ini akan berakhir? Ini sudah delapan tahun, dan mimpi serta phobianya tak juga membaik.

” Abang udah janji bantuin kamu sembuh, dan Abang nggak akan lupa. Jadi nggar perlu khawatir. ” sambung suaminya itu sambil mengelus punggungnya. ” Pelan-pelan, nggak papa, kamu bisa cerita dikit-dikit. Oke? ”

Kei menatapnya dalam. Perlahan dia mengangguk. Jemarinya mencengkeram piyama Braze dengan erat. Napasnya mulai teratur. Dia ingin sekali tidur, namun tak berani, mungkin saja nanti mimpi buruknya kembali.

Dalam remang, Braze bisa melihat emosi yang istrinya itu rasakan. Otak cerdasnya berpikir, apa yang sebaiknya dia lakukan? Setidaknya agar fokus Kei teralih. Agar wanitanya ini bisa istirahat sejenak. Kemudian datanglah sebuah ide, ” Dek, kamu inget nggak, kamu pernah dateng pagi-pagi ke kontrakan yang Abang pake pas PPL? ”

” He? Masa’? ” sahut Kei spontan. Tepat seperti yang Braze maksud, perhatian gadis itu terpecah. Braze tersenyum.

” Pernah, masa’ kamu lupa sih? Itu tuh, waktu sama Martha. Kamu dateng pagi-pagi. ”

” Hmm… Oh… Oh yang itu! ”

Ingatan keduanya menjangkau masa lalu, tiga belas tahun silam.

Pertengahan 2009

Selasa pagi, Kei sudah stand by di sekolah sekitar pukul enam. Dia memang agak kepagian berangkat, bangunnya lebih pagi dari biasanya. Dan seperti yang sudah dia duga, belum ada satu pun siswa (maupun guru) yang sampai di sekolah.

Gadis itu berjalan ke kelasnya, mengambil sapu dan mulai membersihkan kelas. Kebetulan hari Selasa juga jadwal piketnya di kelas.

Dia tak menyapu seluruh ruangan, masih dia sisakan separuh agar petugas piket yang lain juga kebagian lantai kotor yang perlu disapu.

Selang lima menit, Martha datang.

” Assalamu’alaikum,” gadis dengan kulit sawo matang itu menyapa. ” Pagi banget Kei? Kerasukan apaan nih?”

” Wa’alaikum salam. Kerasukan kamu ‘kali Mar. ” sahutnya tak ambil pusing.

” Eh, Kak Syarif sama Kak Braze belum dateng? Ini jadwal kita piket di lobi’ kan? ”

” Nggak tau juga sih. Coba deh kita liat.”
Keduanya meninggalkan tas-tas mereka di kelas. Mengecek lobi dan ruang piket, apakah orang-orang yang mereka cari ada di situ. Dan mereka mendapati ruang piket tak ada siapa pun.

” Apa perlu kita datangi?” tanya Martha. ” Aku tau di mana mereka tinggal selama KKN-PPL di sini. ”

” Haruskah?” Kei ragu-ragu. Tidakkah nanti mereka mengganggu?

” Ayolah, Kei, aku tau kamu pasti kepengen ‘kan? Pengen cepet-cepet ketemu, makanya kamu berangkat pagi. Ya’ kan? Hayo ngakuuu. ”

Martha tertawa menggodai, sementara Kei cemberut, tapi juga tak menyangkal. Dia tak menyahut, malah sibuk mengenakan headset dan menyalakan musik di ponselnya. Kemudian terputarlah lagu Fantasie Impromptu milik F. Chopin. Membantunya menenangkan diri.

” Oke, kita datengin aja. Yuk, keburu siang ini.”

Mereka berdua keluar area sekolah, menyeberang jalan, lalu memasuki perkampungan tempat di jalan masuk di seberang gerbang sekolah.

Rumah di mana para mahasiswa itu tinggal tidaklah begitu jauh masuk ke perkampungan, jaraknya cuma lima menit dari sekolah jika ditempuh dengan jalan kaki. Kei memandang sekeliling, di halaman rumah itu banyak pohon, jadi tidak sepanas rumah-rumah lain di sekitar situ. Kei tersenyum. Dia suka rumah yang punya banyak pohon rindang.

Lagu di ponselnya berganti dengan yang lebih ceria, Gavotte karya Brahms. Dia terkejut, lagu ini mengubah mood kalemnya jadi berdebar. Dadanya bergetar lagi. Bukan cuma karena pergantian musik, tapi juga menyadari bahwa Braze ada di rumah itu.

Gadis itu mengamati ponselnya, lantas mengganti lagu yang lebih tenang. Dia memilih musik waltz ciptaan Strauss yang terkenal, The Blue Danube.

” Assalamu’alaikum,” Martha berseru sementara dia menunggu dalam diam. Jujur saja, dia tak ingin ketahuan kalau dia grogi (karena suaranya pasti bergetar saking senangnya), maka dia berusaha agar tak terlalu menarik perhatian.

” Wa’alaikum salam. Loh, kalian? ” Syarif muncul di ambang pintu. Dia terlihat luar biasa tampan dengan celana hitam dan kemeja putih yang rapi macam orang kantoran.

Tapi aneh, hati Kei tidak jumpalitan seperti kalau dia melihat Braze.

” Siapa, Sya?”

Baru saja Kei membatin, orangnya nongol dari balik tubuh Syarif.

” Calon istri kamu tuh, siapa lagi emang? ” kekehnya. Martha ikut tertawa. Di sisi lain, Kei dan Braze tampak merona.

” Ehm! Mmm, udahlah, jangan diambil hati ya Kei, dia nih kalau ngomong emang suka nggak disaring dulu.” ujarnya mencairkan suasana. ” Masuk dulu yuk, aku masih siap-siap. ”

Martha mengedikkan kepalanya, memberi isyarat agar masuk ke dalam rumah itu. Kei mengekor, masih bertahan untuk tidak bersuara.

Keduanya masuk. Rumah itu sederhana, namun lumayan rapi. Tidak terlalu berantakan. Atau begitulah menurutnya. Mungkin karena kamarnya sendiri sering lebih berantakan dengan buku-buku yang berserakan di mana-mana.

Oke, Kei mengakui dia memang malas. Dia lebih suka menghabiskan waktunya di rumah untuk membaca buku atau duduk di depan komputer; mengerjakan proposal atau meneruskan cerita yang ia buat, atau melihat-lihat chord gitar untuk lagu yang sedang dia sukai, yang cukup mudah dimainkan untuk seorang pemula sepertinya (dia menghindari kunci-kunci yang menggunakan empat jari, dia masih kesulitan).

” Maaf banget ya, Dek, berantakan.” kata Braze. Pemuda itu mondar-mandir, mengambil dasi lah, mengambil jas almamater, terakhir dia mengambil kacamata.

” Nggak papa kok, ini sih rapi. ” jawab Kei. Dia menoleh ke setiap sudut. Dan matanya menangkap sebuah gitar di samping pintu kamar Braze. ” Gitar siapa Kak? ”

Braze mengemasi tasnya, sambil bilang, ” Punya Faiz tuh Dek. Sengaja dibawa biar nggak suntuk. Tapi endingnya malah nggak sempat main.”

” Pinjam ya? ”

Tanpa menunggu jawaban, gadis itu mengambil gitar tersebut. Mencoba memainkannya, namun sebentar kemudian dia mencebik.

” Gitarnya fals.”

Kei mencoba men- stem, tapi tak jadi-jadi. Fals nya terlalu jauh, terlebih dia baru bisa stem gitar belum lama ini.
Dia meletakkan lagi gitar itu.

” Bisa main gitar toh Dek? ” tanya Braze sedikit terkejut. Dia tak menyangka sama sekali. ‘Kan biasanya, yang pintar main gitar itu laki-laki. Perempuan kebanyakan main biola atau piano.

” Bisa dikit, masih belajar juga.” jawab gadis itu.

Lalu mereka sama-sama ke sekolah. Sambil mengobrol ini-itu, bercanda, dan mengorek banyak info (khusus Braze, soalnya dia ingin tahu lebih banyak lagi tentang Kei).

” Aku lagi suka lagunya Michael Jackson yang judulnya Earth Song. Kak Braze tahu lagu itu? Keren banget lagunya, terus kuncinya juga nggak terlalu susah.” celotehnya.

Braze tersenyum.

” Braze nggak terlalu tahu Kei, anak pondok macam dia tuh kudet. Taunya cuma Chrisye sama Rhoma Irama. ” Faiz menyahuti, setengah mengolok Braze.

” Kak Braze mondok? Wah, di mana Kak? ”

Bertolak belakang dengan apa yang dibayangkan para mahasiswa itu, Kei terdengar antusias. Bahkan kalau diperhatikan, bola matanya terlihat sparkling, seperti menemukan oasis di tengah padang pasir.

” Oh? Di Wahid Hasyim. Kamu tau? Nggak terlalu jauh dari sini, nggak nyampe setengah jam naik motor. ”

” Ah, di situ. Pondok bagus tuh, kata temen-temen lamaku.”

Syarif dan Faiz bertukar pandang dengan seringai jahil di bibir.

” Ohoi, ohoi ohoooi! ”

” Nah iya! Kalian dateng berdua doang! Dalihnya sih, udah mulai siang tapi kita-kita pada belum dateng. Tapi Abang tau loh, sebenernya kamu cuma kangen aja ‘kan sama Abang? Ngaku deh… ”

Kei langsung duduk, wajahnya bersemu. Dia mangap-mangap kelabakan, berusaha menyangkal.” Itu, itu ‘kan, itu ‘kan– Martha yang– anu– ”

Braze tertawa jahil, mengecup bibir istrinya gemas,” Udah deh, jujur aja, Abang tau kok. ”

” Ap– A–, ” gadis itu gelagapan lagi, lalu cemberut. ” Sengaja ya? Iseng ih dasar!”

” Ayolah, ngapain menghindar? ‘Kan bener yang Abang bilang, iya ‘kan? Nggak usah malu, toh udah halal ini.” dia mengelus kepala Kei dengan sayang.

Sementara Kei menutup mukanya dengan bantal, dan menggumam, ” Iya iya ngaku deh ya, waktu itu aku emang, emm, emang, emm, kangen… ”

” Hahaha nah ngaku juga sekarang, ” lagi-lagi Braze terkekeh.

Pria itu menyingkirkan bantal dari wajah Kei. Mereka tiduran lagi. Dipeluknya sang istri, dia kecup kening dan mata istrinya itu.

” Dek, Abang sayang banget sama kamu. ” tuturnya. ” Kamu tau? Sebelumnya, juga sesudahnya, Abang belum pernah suka sama cewek. Pas begitu kita ketemu, Abang langsung ngerasa ‘deg!’ gitu. Abang seketika ngerti, suatu saat nanti kamu bakalan jadi pendamping Abang. Dan bener ‘kan, penantian Abang nggak sia-sia. ”

Wanitanya itu tersenyum. Matanya basah. Tiga belas tahun. Tiga belas tahun tidak bisa dikatakan sebentar. Dan selama itu pula pria ini menunggunya.

Dia memeluk prianya erat-erat.

Tak lama setelahnya, mereka berdua tidur dengan nyenyak.

-TBC-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s