Drama Part 6

Cast:

– Kim Rana (OC)
– Lee Hyukjae
– Kim Kibum

Genre: Romance

Length: (?)

Rating: PG-15

Go go go!!!

NO BASH NO PLAGIAT NO COPAS NO REBLOG W/O FULL CREDITS!!

————————————————–

Langit menggelap. Hening. Tak ada suara kendaraan, suara orang lalu lalang, hanya derik jangkrik menghiasi kediaman Kim Daesung. Tentu saja, lokasinya memang jauh dari pusat keramaian dan jalan raya.

Tak ada bedanya dengan keadaan di luar rumah, ruang tamu Kim Daesung juga sama heningnya. Kibum duduk di salah satu sofa di situ, dengan Daesung di depannya. Pria tua itu menatap Kibum penuh selidik, seakan lelaki di hadapannya tersebut baru saja ketahuan menghamili anak perempuannya.

” Jadi? ”

” Saya sahabat karib Kim Rana, Ahjusshi. Kami saling kenal delapan tahun yang lalu, di sekolah saya sekelas dengannya. Di OSIS saya adalah asisten pribadinya. ”

” Oh, begitu. Lalu? ”

” Ya… ”

Kibum super gugup saat ini, detak jantungnya berkejaran dengan keringat yang mengalir deras dari tepi keningnya. Ah, ini musim dingin, tapi dia berkeringat dingin sampai seperti ini.

” Tadi kami jalan-jalan sebentar, Ahjusshi. Mobil Rana akan diantarkan kemari sebentar lagi. ”

” Siapa tadi namamu? ”

” Ah, Kim Kibum, Ahjusshi. ”

” Kau, tertarik pada putriku? ”

” Ne? Ah, itu… Bagaimana… ”

” Matamu mengatakan itu semua. ”

Malu bercampur gugup, Kibum menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal sementara.

” Ah, ye… Sebenarnya sudah lama, Ahjusshi. Sudah lama sekali. ”

” Aku tak bisa serta merta percaya padamu, Kim Kibum. Meski aku tahu kau tak jahat, dan berbeda dari Lee Hyukjae. Aku juga tahu kaulah yang membantu putriku memenangkan gugatan cerainya kemarin. Tapi tentu saja aku harus lebih hati-hati, bukan? ”

Kibum mengangguk dengan kikuk dan sedikit ragu.

” Kalau begitu saya mohon diri, Ahjusshi. ”

Kibum berdiri, dan bermaksud membungkuk berpamitan. Dia lirik arloji di pergelangan tangan kirinya, sudah pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Sudah sekitar satu jam dia di sini, mengobrol dengan Kim Daesung. Well, ‘diinterogasi’, lebih tepatnya.

” Tunggu, Kim Kibum, Nak. ”

Ibu Rana muncul.

” Makanlah dulu. Kuharap kau lapar, eh? ”

” Ah, anu, tadi saya sudah.. ”

Ibu Rana menghampiri dirinya, dan menepuk punggungnya.

” Ayo makan dulu, ayo ayo. ”

Bahkan Kim Daesung juga mempersilakannya ke ruang makan keluarga.

Kibum mengekor di belakang suami istri itu dengan perasaan sungkan.

————————-

Kamar masih gelap. Rana masih bergelung di dalam selimutnya yang nyaman dan hangat. Sebenarnya dia sudah bangun sejak satu jam yang lalu, namun rasanya masih terlalu malas untuk sekedar meluruskan punggung dan beranjak ke kamar mandi.

Tangannya masih menggenggam ponselnya erat, sambil scrolling dan browsing, mencari ide untuk desain barunya nanti. Memang tak seperti biasa. Beberapa bulan mengurus perceraian membuatnya merasa buntu. Ide hampir tak datang sama sekali.

Sejenak ia lepaskan ponselnya ke dekat guling. Matanya mulai lelah memandangi layar ponsel. Rana duduk, mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. Pertama ia menemukan bahwa sekarang masih terlalu pagi, baru pukul lima dan tubuhnya sudah terlalu lelah untuk tidur. Kemudian pandangannya berhenti di sebuah paperbag biru pastel yang bertengger di atas meja riasnya.

Paperbag? Dia bahkan tak merasa membeli sesuatu kemarin.
Gadis itu bangun, beranjak menuju meja riasnya. Tak lupa ia kenakan coat ungu pucat agar tak kedinginan.

Sebuah kartu ia temukan di dalam paperbag itu.

” Hadiah untukmu. Terima kasih sudah mau menemani PAmu ini berjalan-jalan. Maaf ya kalau tak sesuai seleramu. Tapi percaya deh, penampilanmu akan sangat tertolong berkat hadiahku ini ㅋㅋㅋㅋ tenang saja aku tetap akan setia jadi temanmu meski sebenarnya aku malu ㅋㅋㅋㅋ.

–Kim Kibum–

Rana tertawa kecil membaca kartu itu. Sohibnya memang kadang suka mengoloknya sembarangan. Namun Rana tahu Kibum hanya bercanda. Kalau pun tidak, yah setidaknya dia punya teman yang jujur.

Gadis itu mengeluarkan isi paperbag setelah menyimpan kartu tadi di dalam jurnal hariannya.

Sebuah dress cantik model pencil berwarna creme lembut berbahan full lace yang indah, berpasangan dengan cape berbahan silk beraksen lace di bagian pundak atas. Mewah sekali.

Rana melongo. Gaun pesta?

Matanya memicing. Dia merasa familiar. Sepertinya ia pernah melihat gaun itu entah di mana. Lalu dia mencari-cari labelnya. Di dalam gaun bagian pinggang, di resleting, lalu matanya menangkap tulisan kecil memanjang dengan warna keemasan di pojok kanan bawah boks warna khaki, boks yang tadi jadi tempat tinggal gaun itu.

PAOLO SEBASTIAN

Prom Night’s Memories

(by the way, gue lupa dress ini serialnya apa, jadi yah sembarang gue namain yah wkwk… Tapi designernya emg Paolo Sebastian :3)

” WHAT? PAOLO SEBASTIAN?! ”

Gadis itu terbelalak.
Pantas saja ia merasa familiar, karena gaun ini buatan salah satu desainer favoritnya! Dari mana pemuda itu tahu? Seingatnya ia tak pernah menyebut nama Paolo Sebastian pada Kim Kibum.

Suspicious…

Tunggu, ada dua boks di dalam paperbag tadi. Kalau yang satunya gaun, lalu satunya lagi apa?

Rana mengerutkan alisnya, mengeluarkan boks yang nampak lebih tebal itu dengan hati-hati. Boks berwarna keemasan dengan tulisan ‘Jimmy Choo’ di tengahnya itu sukses membuat matanya terbeliak.

Perlahan, Rana membuka tutup boks. Nampaklah sepasang heels silver yang memukau.

” Jimmy Choo?! Apa bocah itu sudah gila?! ”

Tadi gaun, dan sekarang sepatu! Dan dua-duanya sama-sama mahal berkali lipat dengan koleksi miliknya!
Well, tentu saja, koleksi Kim Rana memang khusus pakaian kasual. Meski harganya tak bisa dibilang murah juga.

Apa mau pemuda itu? Mengirimi barang branded kelas dunia untuknya tanpa bilang apa pun!

Rana duduk di pinggiran ranjang. Tangannya sibuk mengutak-atik ponsel. Sejenak kemudian, terdengar nada tunggu telepon cukup keras. Rupanya Rana mengaktifkan mode speaker.

” Wae, Ricchie-ya? Ini masih pagi sekali, ada apa? ”

” Kim Kibum, kepalamu terbentur ujung meja? Untuk apa gaun dan sepatu super mahal itu? ”

Terdengar kekehan dari seberang sana. Rana tambah kesal.

” Kau ini! Kenapa malah tertawa dan bukannya menjawab pertanyaanku, heh? ”

” Oh, kau sebegitu penasarannya ya? ”
Pemuda itu sekali lagi tergelak.

” Jawab saja apa susahnya! ”

” Well, aku baru mau mengirimkan undangannya padamu. Teman kita mengadakan pesta pertunangan malam nanti, dan undanganmu masih kubawa. Aku lupa memberikannya pekan lalu, maaf ya? “
Rana menghela nafas.

” Kenapa tidak cerita sejak kemarin, Bodoh? ”

” Aku lupa, hehe. Mmmm, bagaimana kalau nanti kita pergi bersama? Kau keberatan? “

” Kurasa aku memang tak ada pilihan lain, bukan? Call. Jam berapa kau akan menjemputku? ”

————————————————-

Cushion ivory. Dia tak perlu concealer dia kira. Sedikit shading dan highlight, juga blush on oranye. Kemudian tangan Rana memulaskan pena eyeliner tipis-tipis di kelopak matanya yang sudah pink sedikit salem. Setelahnya, dia mengaplikasikan maskara. Bibirnya lalu dia warnai dengan liptint peach, yang masih dia lapisi lagi dengan lipstik glossy oranye.

Rana melirik jam dinding. Setengah jam lagi Kibum akan menjemputnya. Dia bergegas berdiri.

Sedikit buru-buru, gadis itu ganti baju. Mengenakan gaun pemberian Kibum, memasangkan kalung dan anting-anting sederhana. Juga gelang dan cincin agar penampilannya lebih lengkap.

Rambutnya sudah tergelung rapi. Dia memungut ponsel dan clutch suede miliknya. Memeriksa apakah ada pesan dari Kibum. Dan benar, sekitar sepuluh menit yang lalu Kibum mengirim pesan bahwa seperempat jam lagi dia akan sampai.

” Oh, berarti lima menit lagi? Astaga! ” pekiknya panik. Dia berlari keluar kamar sembari mengenakan sepatu, lalu duduk dengan tenang di ruang tamu.

Lima menit kemudian terdengar deru mesin dari halaman. Rana berjalan ke arah pintu masuk, membuka pintu, dan mendapati Kibum sedang menutup pintu mobilnya dan melangkah menghampirinya. Pria itu mengenakan setelan mahal berwarna burgundy, dengan kemeja pink kotak-kotak kecil dan dasi hitam polos. Rana terpesona.

‘ Wow…’

” Hei, kau sudah siap ternyata.” pria itu tersenyum, setelah sesaat sempat terdiam. ” Kita pergi?”

Tangannya terulur, dan dengan hati berdebar Rana menyambut. Keduanya pun pergi.

—————————————–

Ramai. Bising. Celotehan, kikik tawa, denting gelas dan kelotakan piring memenuhi ruangan. Rana masih mengobrol dengan rekan-rekan lamanya, termasuk si empunya pesta, Oh Sehun. Sekretaris kepercayaannya di OSIS dulu. Mereka mengobrol hal-hal random. Dan kebetulan, tunangannya juga salah satu murid di sekolahnya. Jadi tak heran kalau sebagian besar tamu Rana dan Kibum mengenalinya.

” Ah, tapi Queen, well, kabarnya Queen bercerai dari Hyukjae Hyung? ” tanya Sehun. ” Di grup alumni heboh sekali. Mungkin Queen tak tahu karena seingatku Queen tidak masuk di grup.”

Teman-temannya yang lain memandangnya penasaran. Rana cuma tertawa canggung. ” Tak kusangka kalian tahu. ”

Harin, tunangan Sehun, menimpali, ” Tapi aku malah bersyukur. Jujur saja, sedikit disayangkan kalau Queen ending nya dengan Hyukjae Sunbae. Dari dulu bukannya reputasi pria itu tidak bagus? Maksudku, kupikir Queen harusnya dapat bersama seseorang yang sama hebatnya. Sama kerennya. Seseorang yang sekaliber. Kau mengerti maksudku, Oh Sehun? ”

Sehun manggut-manggut. Kibum merangkul Rana, memberi kalimat penutup agar hal ini tak dibahas lagi, ” Que sera, sera, oke guys? Nah, bagaimana kalau sekarang, mari kita lupakan hal itu, dan kita nikmati saja pestanya sekarang? ”

Kibum meraih gelas sampanye, mengangkatnya ke udara, dan bersorak pelan, ” Untuk kalian, Oh Sehun dan Jung Harin, semoga bahagia dan kekal. Dan untuk kawanku Kim Rana, semoga yang terbaik untukmu, mate. Salute!

Rana tersenyum simpul. Apa Kibum kebetulan seorang ahli legilimency? Kenapa dia selalu tahu apa yang Rana pikirkan? Apa yang Rana rasakan? Bahkan setelah bertahun-tahun mereka tak berjumpa. Apakah Kibum memang selalu mengerti, atau dia saja yang tak banyak berubah?

Sambil menikmati hidangan, mereka terus asyik mengobrol. Rana masih sedikit canggung, pasalnya hingga saat ini mereka masih membicarakan dirinya.

Lee Sungmin, bendaharanya dulu, menyeletuk, ” Ah, mendadak aku jadi punya ide. Kalian mau dengar?”

Yang lainnya merapat ketika Sungmin melanjutkan, “Kau, Kim Kibum, dan kau, Kim Rana–Our Queen–kenapa kalian tidak menikah saja?”

” Uhukk!”

Rana tersedak sampanye yang baru saja hendak dia telan. Sementara Kibum sudah salah tingkah namun tetap menepuk-nepuk punggung Rana, membantu gadis itu meredakan batuk-batuknya.

” Sungmin-ssi–”

” Tidak, biar kujelaskan. Dengarkan aku dulu.” potongnya. ” Queen, sejujurnya kami kaget sekali ketika tahu bahwa kau menikah dengan Lee Hyukjae. Kami selalu mengira pada akhirnya kalian berdua pasti menikah. Karena sejak awal, sejak sebelum kalian masuk OSIS, kau dan Kibum sudah jadi partner. Dibanding dengan Lee Hyukjae, bond dan chemistry dengan Kibum lebih kuat. Kalian selalu bersama-sama. Kalian juga decision maker utama di OSIS. Adalah hal yang aneh kalau kalian tidak jadi suami-istri. ”

” Emmmm, well, entahlah… ” kata Rana pelan.

” Aku masih bingung, Sungmin-ssi, dan aku juga yakin Kim Rana sama bingungnya denganku. ”

” Yah, tak perlu buru-buru. Tapi tolong pikirkanlah usulan tadi baik-baik. Dan itu bukan cuma pendapatku saja; semua anggota OSIS kita juga berpendapat seperti aku.”

Rana dan Kibum tersenyum kikuk. Rana meneguk gelas sampanye kedua, Kibum menyendok asal salad buah di depannya. Memakannya tanpa pikir panjang, kemudian wajahnya mengerut. Dia memakan anggur yang masih segar, asamnya masih ada, dan rasa asamnya bertambah berkali lipat karena mayonnaise yang ikut termakan banyak sekali.

Rana memandang Kibum. Dia jadi kepikiran usulan Sungmin tadi. Dia tak pernah tahu bahwa hampir semua temannya berharap dia akan menikah dengan Kim Kibum. Dia tak pernah tahu.

Dan pemikiran itu sama sekali tak pernah mampir di kepalanya. Yah, sejak dulu dia tak pernah punya relationship serius selain dengan Hyukjae. Dia paham bahwa sesungguhnya dia lebih nyaman dan santai saat bersama dengan Kibum, namun ide menikah dengan Kibum belum pernah terpikir sama sekali. Sama sekali belum pernah, hingga akhirnya Sungmin mengatakan hal itu tadi.

” Ricchie-ya? Ada apa? ”

” Ah, emm, eh, tidak kok…” sahur gadis itu kaget.

Kibum tahu Rana berbohong, dan dia bukan tipe orang yang menahan penasarannya. Apalagi dengan Rana. Jadi, dia menukas, ” Kau bukan pembohong yang bagus. Katakanlah. Ada apa? ”

Well… Sebenarnya a– ”

Kalimat-kalimat yang tadinya hendak dia ucapkan tertahan di kerongkongan. Tenggorokannya terasa terganjal batu, perutnya bergejolak.

Kibum mengikuti arah pandang Rana, lalu terdiam saat melihat seseorang menghampiri meja mereka. Memberi selamat kepada pasangan pemilik pesta malam ini.

Lee Hyukjae. Bersama perempuan penyebab rusaknya rumah tangga Rana, Shin Hyewon.

” Ricchie-ya. Ayo pulang. ”

Tanpa berpamitan, Rana menurut saja digandeng Kibum pergi dari situ.

*

Sepanjang jalan, Rana sama sekali tak bersuara. Kepalanya penuh. Rasanya seperti mau meledak–yah, tidak sampai separah itu juga sebetulnya. Dia hanya merasa buntu sekali.

Pertama, melihat Hyukjae tadi membuat lukanya yang mulai menutup jadi terbuka lagi. Dia tak mengelak. Dia tak tahu, mungkin karena rasa sakit dikhianati itu begitu membekas, atau itu tadi hanya sisa-sisa efek perceraiannya atau bagaimana. Itu saja sudah memenuhi kepalanya. Ditambah lagi usulan teman-teman sekolahnya dulu.

Menikah dengan Kim Kibum?

Dia tak ingin terburu-buru mengambil keputusan. Pernikahan bukan masalah sepele. Ini tentang memilih orang yang akan menemani menghabiskan hari tua bersama. Dan perjalanan menuju ‘hari tua’ bukanlah waktu yang sebentar. Setidaknya suaminya haruslah menyenangkan, dan yang paling penting lagi, bisa menjadi ayah yang baik bagi anak-anak mereka kelak. Tak bisa asal-asalan memilih.

Tidak, bukan berarti Kibum kurang baik untuknya. Dia hanya berpendapat bahwa menilik pengalaman yang kemarin, dia harus mempertimbangkan segala sesuatunya dengan lebih hati-hati. Dia hanya tak ingin pernikahannya kandas di tengah jalan seperti sebelumnya.

Dan untuk menikah lagi, dia tak tahu. Dia tak ingin memikirkannya dulu.

” Ricchie-ya, kau diam saja sejak tadi. Ada apa?” tiba-tiba Kibum bertanya. Rana agak kaget, sehingga gugup saat menjawab.

“Oh? Emm, anu, emm itu..”

” Pasti obrolan dengan teman-teman tadi, ya?” pemuda tampan itu tersenyum. ” Santai saja, Ricchie-ya, pelan-pelan. Tak perlu buru-buru. ”

” Kau selalu memahamiku, bagaimana caramu melakukannya? Jangan-jangan kau cenayang?” sahut Rana seraya tersenyum. Kibum tertawa.

” Hahaha, tidak lah! Aku tak tahu hal-hal semacam itu. ”

” Benar juga. Emm, lalu, menurutmu bagaimana? ”

” Apanya yang ‘bagaimana’? ”

” Ya, itu tadi, usulan teman-teman… ”

” Hmm. Aku akan pikir ulang, sejujurnya. ” dia tertawa lagi. ” Begini, kau ini punya banyak kebiasaan buruk, dan kadang kau bossy. Misalnya, kalau ngantuk, kau bisa tidur di mana pun kapan pun tak peduli kau sedang di mana. Juga kalau sudah tidur, kau susah sekali dibangunkan. Kalau sudah memutuskan sesuatu, kau suka menyuruh-nyuruh. ”

Rana menautkan dua alisnya, agak tersindir. Dia baru mau protes ketika Kibum menambahkan, ” Itu fakta, Nona. Namun, poin positifmu juga tak bisa diabaikan begitu saja. Kau partner yang baik dan tak membosankan, dan aku juga tahu kau bisa jadi ibu yang baik bagi anak-anakku kelak. Jadi, bagiku, aku tak masalah menikah denganmu. ”

Rana tak menyangka Kibum berpendapat seperti itu tentangnya. Hatinya menghangat.

” Menurutku begitu. Kalau kau, bagaimana? ”

” Aku? AKU?! ”

-TBC-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s