REGRET #10

Pertengahan 2009 – 4 Rabu malam. Kei baru saja habis mandi, dan sedang duduk di depan komputernya. Dia hendak membenahi cerpen buatannya yang sedang memasuki part akhir. Sembari menunggu komputer booting, gadis itu meraih novel super tebal bersampul merah-hitam. Di sampulnya tertulis judul novelnya, ‘Nagasasra dan Sabuk Inten II’ karya SH Mintardja. Dia benar-benar penasaran…

REGRET #9

Pertengahan 2009 – 3 Putih. Suara deru motor dan orang-orang bercakap-cakap heboh. Juga tubuh yang penuh keringat. Kei duduk perlahan. Dia masih lemas, tapi tubuhnya sudah sedikit lebih segar daripada tadi. Pusingnya sudah hilang dan mampet di hidungnya berkurang banyak. Kemudian dia menyadari bahwa tiga kancing atas bajunya terbuka, jilbabnya juga tak menutupi kepalanya. Malah…

REGRET #8

Pertengahan 2009 – 2 Hari makin siang. Cuaca makin panas. Begitu pun Kei, tanpa ia sadari suhu tubuhnya makin panas saja. Kepalanya masih pening, tapi ia masih harus menemui Riri dan Waka Kesiswaan untuk minta tanda tangan. Habis itu menemui Kepala TU untuk mencairkan dana yang akan dipakai untuk class meeting. ” Ini hari yang…

REGRET #3

First Meet 2 Pertemuan dengan para mahasiswa PPL bisa dikatakan lancar. Mereka orang-orang yang cukup asyik menurut Kei. Termasuk Braze yang tadinya dia kira kaku. Sudah hampir dzuhur saat Kei, anggota OSIS, juga PPL menyusuri koridor di depan studio musik. Sembari berjalan, mereka bercakap-cakap ringan. ” Oh ya, gimana kalau bertukar nomor hape? Biar lebih…

REGRET #2

Pertengahan 2009 First Meet Hari sudah agak siang ketika Braze dan teman-temannya keluar dari ruang guru untuk menyapa para guru di sekolah itu. Di sampingnya ada Pak Purwono, guru mata pelajaran geografi sekaligus guru pembimbing kesiswaan. Usianya bisa dibilang masih muda, baru sekitar tiga puluh lima tahun. Perawakannya sedang, sedikit berisi, dengan kulit sawo matang…

REGRET #1

2022 Kota Yogyakarta sudah sibuk pagi-pagi begini, tak terlalu jauh beda dengan Jakarta tahun 2016 an. Jalan di mana-mana macet. Yogyakarta penuh dan penat. Padahal liburan baru saja usai. Seharusnya kota kecil itu lumayan longgar ditinggal penduduk asli yang kembali ke perantauan. Tapi tidak–para pendatang yang masuk ada banyak. Ada yang datang karena sekolah (Yogyakarta…

DIFFERENCE #13

Kilaa berjalan dengan bantuan dua kruk di tangannya. Dia berangkat lebih pagi, agar bisa sampai di sekolah tanpa terlambat. Hijab katun magentanya terjuntai sebelah, terlepas dari bros di bahunya.  Gadis itu menghela napas keras-keras. Dia menoleh kanan-kiri, mencari bangku terdekat di pedestrian way yang ia lewati.  ” Morning, Key! ” ” Kilaa-ssi, selamat pagi. ”…

DIFFERENCE #12

Hai ayem bek egennn ;*  Gue harap kalian ga bosen baca ini yah… Gue sadar gue ga pinter bikin konflik :’)  Jadi maaf banget kalo entar konfliknya kurang greget.. Tp gue usahain kok ttep, biar seru hehe ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Cuaca masih dingin, salju turun tiap malam, dan dua hari lagi Han Aquila sudah boleh pulang dari…

DIFFERENCE #11

Langit di atas Sungai Han tampak cantik dengan hiasan kembang api berbagai bentuk dan ukuran, membuat Kilaa seketika terpesona. Di Indonesia dulu dia tak punya kesempatan untuk nonton festival macam ini. Di samping karena jadwal mengajinya memang malam hari, dia juga malas berdesak-desakan dengan banyak orang. Kalau ada festival dan dia tak ada jadwal mengaji,…

Affair

Pagi itu entah kenapa rasanya lebih segar dari biasanya. Apa karena semalam hujan? Rise yakin bukan karena itu. Dia tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Dia merasa terlampau segar, terlampau bersemangat hingga dadanya berdebar. Oh, dia baru ingat! Ini hari pertamanya bekerja!  Gadis itu meletakkan nasi, acar, kimchi, tauge, juga lauk pauk di atas wadah-wadah terpisah…